PERTARUNGAN 1000 ROH

PERTARUNGAN 1000 ROH
BAB 27 : KEHANCURAN IBUKOTA


__ADS_3

"Ibu, apakah menurutmu ayah sehat di ibukota?", tanya Jirfa yang sedang berada di kereta kuda bersama seorang wanita berambut putih berusia sekitar 50 tahun dari wajahnya.


Sekarang sudah tepat 1 tahun berlalu sejak Jirfa bersama ibunya pergi dari ibukota dan tinggal di desa, selama waktu itu Jirfa sama sekali tidak menurunkan semangat latihannya melainkan ia menjadi semakin semangat berlatih untuk menunjukkan perkembangan kekuatannya kepada ayahnya selama setahun mereka tidak bertemu.


Ibu Jirfa berkata ringan "Ayahmu adalah pembunuh terkuat di ibukota, menurutmu apa yang bisa terjadi kepadanya? Bahkan jika ia dikepung 100 prajurit sekalipun, ayahmu masih mampu melarikan diri hidup-hidup. Selain itu bukankah kita sekarang sedang menuju ibukota untuk melihat kondisi ayahmu dan berkumpul bersama lagi? Kau bisa memastikan sendiri nanti bahwa ayahmu pasti tetap sehat seperti sebelumnya".


Jirfa mengangguk lalu menunjukkan wajah khawatir lagi "Tetapi ayah sudah tidak mengirim surat 2 bulan belakangan ini, padahal sebelumnya ayah selalu mengirim surat setiap bulannya, ada juga waktu dimana ayah mengirim 2 surat pada waktu 1 bulan".


"Bukankah di surat terakhir ayahmu menuliskan bahwa ia akan menjadi sibuk? Aku yakin ia lupa mengirim surat akibat terlalu sibuk terhadap pekerjaannya, oleh karena itu kau tak perlu khawatir, Jirfa!", kata sang Ibu berusaha membuat Jirfa untuk berhenti merasa khawatir.


Jirfa mengangguk lalu berhenti berbicara, ia hanya mengarahkan wajahnya menuju ibukota yang masih jauh serta sama sekali belum terlihat dengan wajah penuh rasa khawatir. Walaupun ia selalu berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ayahnya pasti berada di keadaan baik, begitu juga ibunya yang selalu membujuknya, tapi Jirfa selalu memiliki firasat buruk yang tidak menghilang dari pikirannya.


"Ayah, jaga dirimu! Sebentar lagi Jirfa bersama ibu akan datang ke sana", kata Jirfa yang belum menghilangkan rasa khawatir miliknya.


.....


Ketika mereka mendekati ibukota menggunakan kereta kuda yang digerakkan oleh kusir, tiba-tiba mereka melihat asap hitam yang terlihat dari kejauhan.


2 kuda yang menarik kereta berhenti secara mengejutkan yang membuat kereta berguncang, ibu Jirfa membuka jendela lalu bertanya penuh rasa khawatir "Apa yang terjadi? Kenapa kereta kudanya berhenti?".


Kusir kuda juga terlihat panik, ia berusaha menghentikan 2 kuda yang terus mencoba melarikan diri. Apabila bukan karena ia yang terus menarik 2 kuda secara paksa, para kuda ini pasti telah melarikan diri.


Kusir kuda berkata panik "Nyonya saya juga bingung terhadap apa yang terjadi! Saat kita semakin mendekati ibukota, kuda mulai menjadi semakin khawatir. Setelah itu, mereka seperti sekarang yaitu menolak terus mendekati ibukota. Maaf nyonya, aku tidak tahu apa yang terjadi, namun berdasarkan asap hitam di kejauhan serta sikap panik kuda ini, aku sarankan agar kita tidak mendekati ibukota lagi. Bagaimanapun hewan mampu mendeteksi bahaya lebih baik dari manusia, aku yakin ada sesuatu yang berbahaya di ibukota".

__ADS_1


"Bagaimana mungkin aku pergi sewaktu suamiku masih berada di--", Ibu Jirfa berhenti berbicara, bukan karena ia takut melainkan ia mengingat ada anak perempuannya disini yaitu Jirfa. Ia tidak akan ragu-ragu mati selama bisa bertemu suaminya, tapi bagaimana mungkin ia membiarkan anak perempuannya ikut menuju bahaya?


Ragu-ragu sebentar, Ibu Jirfa akhirnya memutuskan "Berbalik, mengingat bahaya di ibukota sekarang, lebih baik jangan mengambil resi--".


"Brak!".


Pintu kereta terbuka lalu sosok Jirfa yang bergegas turun dari kereta kuda menuju ibukota lewat, tanpa memperdulikan sekitarnya, Jirfa lari secepat mungkin ke arah ibukota yang terbakar.


Dengan kekuatan yang dimiliki Jirfa sekarang, ia dapat berlari menuju ibukota dengan waktu sekitar 1 jam.


Ketika sampai di ibukota, Jirfa penuh akan keringat.


Walaupun berkeringat, Jirfa mengabaikan semua keringat yang berada di tubuhnya sebab seluruh perhatiannya terpusat kepada ibukota di depannya yang berubah menjadi seperti reruntuhan serta terbakar oleh api.


Bagaimanapun belum ada kabar mengenai pasukan yang sedang menyerang ibukota belum lagi posisi Ibukota berada di pusat Kerajaan Alv sehingga tidak mungkin musuh menyerang tanpa diketahui oleh orang-orang.


Menggelengkan kepalanya, Jirfa mengabaikan semua kebingungan yang ia miliki serta bergegas menuju ke arah rumahnya di ibukota.


Sebagai pembunuh terbaik di bawah raja, rumah mereka berada di posisi utama ibukota sebab ada kemungkinan ayahnya dipanggil pada situasi darurat untuk melindungi raja. Karena alasan tersebut, rumah mereka cukup dekat dari istana supaya ayahnya bisa datang tepat waktu.


Ia melewati rumah-rumah yang ia kenal dan telah berubah menjadi reruntuhan dengan cepat, ada banyak sekali mayat di sepanjang jalan, bahkan ia merasa seluruh ibukota sudah berubah menjadi merah.


Saat ia sampai di dekat rumahnya, Jirfa mendengar suara pertarungan.

__ADS_1


Tanpa ragu, ia berlari menuju rumahnya serta membuka gerbang rumahnya yang sangat besar hingga menutupi seluruh halaman.


Di halaman, Jirfa menemukan ayahnya yang sedang menggunakan pakaian berwarna hitam dan masker hitam yang menutup mulut hingga hidungnya, lalu ia juga menggunakan 2 belati berwarna hitam gelap.


Ada banyak luka di seluruh tubuh ayahnya, matanya juga terlihat kelelahan serta seluruh tubuhnya ditutupi oleh keringat.


Di depan ayahnya terdapat seorang wanita cantik dengan rambut merah panjang yang diikat ke belakang, wanita tersebut memegang sebuah tombak berwarna perak dan aura menakutkan menutupi seluruh tubuhnya.


Bahkan Jirfa yakin, dibandingkan aura ayahnya, aura wanita berambut merah ini jauh lebih menakutkan.


Sebelum Jirfa mengatakan apapun ayahnya bersama wanita tersebut mulai bertarung.


Tombak dan 2 belati mereka saling bertabrakan sengit, namun terlihat bahwa wanita berambut merah berada di atas angin.


Tiba-tiba wanita tersebut menggumamkan sesuatu kepada ayahnya, Jirfa berada di jarak yang cukup jauh sehingga ia tidak mendengar apa yang dikatakan wanita tersebut dengan jelas melainkan ia hanya mendengar "--, Semua sudah berakhir! Maaf rekanku, pada akhirnya aku gagal melindungi kalian, yang mulia, pangeran maupun seluruh kerajaan. Beristirahatlah dengan damai, rekanku!".


"Stab!".


Di depan mata Jirfa, tombak wanita tersebut menusuk tepat di badan ayahnya. Jirfa tahu berdasarkan pengetahuan yang diajarkan ayahnya bahwa tombak tersebut menusuk tepat di jantung.


"Ayah!", teriak Jirfa yang bergegas lari ke arah mereka tanpa peduli lagi terhadap bahaya pertarungan.


Baik ayah Jirfa dan wanita berambut merah tersebut baru menyadari kedatangan Jirfa, mata mereka semua langsung jatuh ke Jirfa.

__ADS_1


Tanpa ragu, energi yang kuat mengalir ke 2 belati ayah Jirfa. Setelah energi yang kuat selesai berkumpul, ayah Jirfa menebas menuju wanita berambut merah itu memakai seluruh kekuatannya, ia yang tadi telah mendekati kematiannya berteriak keras "Lari, Jirfa! Pergi sekarang!".


__ADS_2