
Myro perlahan-lahan sadar dari pikirannya, ia menatap ke arah langit sebelum menghela nafas "Kedamaian di medan perang ya? Aku rasa aku akan menyesali keputusan yang aku buat setelah ini, namun aku rasa aku akan lebih menyesal jika tetap diam sekarang. Aku juga tidak tahu apakah ia benar-benar melakukan suatu kejahatan seperti yang dikatakan prajurit tadi, tapi setidaknya aku percaya dengan senyuman yang ia tunjukkan waktu itu, senyuman tersebut bukan sesuatu yang akan ditunjukkan oleh penjahat! Nampaknya aku memang orang yang mudah dibodohi, aku harap aku tidak akan terlalu menyesali keputusan yang aku buat kali ini".
Pria muda yang menjadi Myro tidak mendengarkan apa yang Myro katakan barusan dengan jelas sebab suara Myro yang terlalu kecil, oleh karena itu ia bertanya penuh rasa penasaran "Apakah kau mengatakan sesuatu, Myro?".
Mengalihkan pandangannya dari langit, Myro menatap ke arah pria muda yang selalu bermimpi ke medan perang ini sebelum berkata "Padahal aku selalu memberitahumu supaya tidak pergi ke medan perang, para akhirnya aku sendiri yang kembali menuju tempat yang paling aku benci tersebut. Dengar ini baik-baik, aku tidak berhak lagi melarangmu pergi ke medan perang sebab aku sendiri berencana menginjakkan kaki di sana, namun aku tetap akan memberimu sebuah nasihat, jangan pernah datang ke sana kecuali kau sudah siap mati".
Pemuda itu berdiri diam di tempat dengan wajah bodoh, ia belum memahami maksud perkataan Myro sepenuhnya.
Tetapi Myro mengabaikan pemuda yang bingung tersebut, ia bergegas menuju rumahnya lalu membuka sebuah tombak yang sudah lama tertutup oleh kain.
Melihat sebuah tombak berwarna hitam dengan jejakdarah yang menakutkan di seluruh bagian tombak, Myro menarik nafas sebelum mengambil tombak beserta busurnya "Lama tak bertemu, teman lama! Mulai hari ini, kalian ditakdirkan melihat cahaya matahari lagi".
.....
Jauh di tengah hutan, seorang wanita muda berusia sekitar 20 tahun dengan rambut merah panjang sedang berlari cepat, ia melompat dari pohon ke pohon sedangkan ada puluhan orang yang mengejar di belakangnya.
Wanita muda yang sedang berlari tidak lain adalah Mili, ia berusaha melarikan diri dari pengepungan musuh yang hampir menutup semua jalan di sekitarnya.
__ADS_1
Di antara puluhan orang yang mengejar Mili, terdapat 2 orang yang paling menarik perhatian yaitu seorang pria berusia sekitar 40 tahun dengan sebuah pedang di tangannya dan seorang wanita berusia sekitar 25 tahun, ia memegang 2 buah belati yang terlihat seperti pembunuh.
Pria mempunyai rambut berwarna perak pendek yang berubah akibat usia serta wajah tegas, sedangkan wanita tersebut memiliki rambut hitam sepundak.
Mereka menggunakan baju besi yang sama seperti Mili, bahkan lambang pada baju besi mereka sama yang menunjukkan bahwa mereka berasal dari wilayah ataupun kerajaan yang sama. Bagaimanapun, lambang pada baju besi seorang prajurit umumnya menandakan asal mereka.
Alasan kenapa 2 orang itu sangat menarik perhatian yaitu mereka memiliki aura yang sama seperti Mili yang tidak lain adalah aura milik roh, 2 orang ini merupakan sosok roh yang sama seperti Mili.
Menatap Mili yang terus melarikan diri, sang pria berkata lebih dulu "Nona Mili, aku sarankan untuk menyerah! Pasukan tuan kami telah mengepung seluruh hutan, tidak ada jalan bagimu melarikan diri".
Mili sama sekali tidak terbujuk oleh perkataan pria itu, ia tetap berlari secepat mungkin sambil berkata "Holuka, Jirfa, aku tidak pernah menyangka 2 jendral sombong seperti kalian menyerah kepada orang lain selain raja, apakah kalian melupakan kehormatan kalian sebagai prajurit kerajaan".
Mata Jirfa menjadi dingin akibat perkataan Mili, ia berkata penuh rasa dendam "Omong kosong, kerajaan kita telah lama menghilang, selain itu bukankah kau yang membunuh semua orang di kerajaan? Oleh karena itu, kami tidak keberatan membuang tekad prajurit yang kami miliki selama kami dapat membunuhmu! Karena alasan tersebut, kami memutuskan mengikuti seorang Marquis yang mempunyai kekuasaan untuk membantu kami menangkapmu".
"Memang berat mengakuinya, namun selama aku bisa membunuhmu, aku tidak keberatan walaupun harus diganti memakai hidupku sendiri", kata Holuka dengan mata penuh dendam yang menunjukkan ia memiliki dendam yang begitu besar pada Mili "Waktumu habis, Nona Mili! Sekarang anda tidak bisa melarikan diri lagi karena kau akan mati!".
Tiba-tiba Holuka yang paling dekat dari Mili dibandingkan puluhan orang lainnya melompat, ia berada di udara dan mendekat cepat menuju Mili yang berlari.
__ADS_1
Merasakan krisis dari belakangnya, Mili tahu kalau ia terus berlari maka serangan pedang Holuka pasti melukainya. Apabila ia memiliki kekuatan penuh, ia yakin dapat menahan serangan ini sambil terus berlari, masalahnya kekuatan yang ia miliki belum pulih.
Menggertakkan giginya, Mili berbalik serta menusukkan tombaknya.
Menghadapi serangan Mili, Holuka tidak berani meremehkannya sedikitpun. Ia yang masih berada di udara dan sudah sangat dekat dari Mili mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, api bergegas menutupi pedangnya lalu ia berteriak "Semangat Api!".
"Booooom!".
Pedang dan tombak saling bertabrakan, api pada pedang Holuka berusaha memakan tombak Mili, namun Mili sama sekali tidak terlihat panik menghadapi api di depannya.
Menambah kekuatan di tombaknya, ia membuat Holuka mundur sejauh puluhan meter sebelum mendarat di tanah. Meskipun berhasil memukul mundur Holuka, Mili tidak terlihat senang sebab Jirfa bersama puluhan prajurit lainnya berhasil mengepung dirinya dengan memanfaatkan waktu yang diulur Holuka, sekarang Mili menjadi semakin sulit untuk melarikan diri dari sini.
Holuka yang dipukul mundur kaget, ia menatap ke arah Mili dengan berbagai emosi aneh yaitu kebencian, dendam serta rasa hormat dan kagum "Nona Mili, bahkan saat kekuatan anda menurun akibat racun, kekuatan anda masih begitu menakutkan. Seandainya anda mampu menggunakan kekuatan penuh anda, kami yang bergabung sekalipun mungkin bukan lawan anda, tapi untungnya anda sedang melemah sekarang yang merupakan kesempatan besar bagi kami".
Walaupun keadaannya sangat merugikan, Mili tidak menunjukkan kepanikan sedikitpun di wajahnya. Ia menatap sekitar dengan dingin, mengawasi setiap orang yang mencoba menyerangnya "Aku tidak keberatan kalian menyerangku secara bersamaan, namun biarkan aku memberitahu kalian 1 hal, selama kalian mencoba maju menyerangku maka kalian harus siap kehilangan hidup kalian".
"Di tengah keadaan buruk sekalipun, kau tetap bersikap begitu sombong, padahal kau yang sedang diracuni bukanlah lawan kami", kata Jirfa marah "Kalau begitu ayo kita lihat, siapa yang akan kehilangan hidupnya kali ini".
__ADS_1
Ketika 2 pihak siap saling bertarung sampai mati, sebuah teriakan menarik perhatian semua orang "Berhenti sampai disana!".
Mendengar teriakan tersebut, semua orang yang akan bertarung langsung menghentikan langkah mereka dan menatap ke arah asal teriakan penuh rasa penasaran.