
"Aku tidak menyangka pertarungan disini juga sudah selesai, padahal aku datang kesini untuk membantumu, nampaknya kau tak membutuhkan bantuan apapun lagi, tuan", sebuah suara wanita yang lembut terdengar dari samping Myro.
Myro melihat ke arah asal suara untuk menemukan seorang wanita berambut merah yang diikat ke belakang mendekati dirinya, ada beberapa jejak darah serta luka pada tubuh wanita tersebut, namun ia masih dapat tersenyum ringan yang membuat Myro yakin bahwa kondisinya cukup baik mengingat wanita yang mendekat adalah Mili, sosok roh kuat yang mempunyai kemampuan regenerasi menakutkan.
Bahkan sebagai seorang prajurit, Myro mampu merasakan kekuatan Mili berasa jauh di atas Jirfa, itu bukan sesuatu yang sanggup Myro lawan.
"Aku menang bukan karena bertarung secara adil, melainkan aku memanfaatkan kelemahan yang ada di senjatanya, hanya itu", kata Myro yang mulai menutupi perban di tangan kanannya lagi.
Mili berdiri di samping Myro, ia melihat ke arah bola kegelapan dimana Jirfa berada "Siapa yang peduli? Pada akhirnya menang tetaplah menang sedangkan kalah berarti kalah, tak perlu menambahkan alasan apapun. Memanfaatkan kelemahan bukan sesuatu yang salah di pertarungan hidup dan mati, bukankah sebagai prajurit tentu nya kau memahami hal ini? Namun aku cukup kaget, kau mampu menyadari rahasia tersembunyi pada belati miliknya, padahal jebakan yang diberikan ayahnya dulu sangat tersembunyi, bahkan aku belum menyadarinya sampai bertarung secara langsung melawan ayahnya".
Myro tiba-tiba menatap ke arah Mili "Apakah kau kenal ayahnya?".
"Bukan hanya kenal, kami merupakan rekan yang bertarung bersama di masa lalu. Ayahnya merupakan salah satu pembunuh terbaik di kerajaan, raja juga sangat mempercayai dirinya. Lebih tepatnya bukan hanya raja, banyak petinggi kerajaan mempercayai dirinya, di antara mereka aku juga orang yang menganggapnya sebagai rekan yang bisa diandalkan", kata Mili menghela nafas sedih "Selain itu ia juga mati di tanganku, karena ia memilih jalan yang salah".
Mendengar apa yang dikatakan Mili serta wajah sedihnya, Myro berhenti mengatakan apapun sebab ia mengerti kemungkinan besar jalan yang salah dari perkataan Mili barusan berhubungan dengan ayah Jirfa yang mencoba mencari cara untuk umur panjang.
__ADS_1
Di sisi lain, Jirfa yang berada di kolam kegelapan menemukan dirinya berada di kegelapan tanpa ada cahaya apapun di sekitar. Baik Myro ataupun Mili, ia sama sekali tak dapat melihat mereka dari bola kegelapan tersebut.
Selain itu Jirfa menemukan daerah sekitarnya juga sama seperti sedang berada di air kecuali ia tetap bisa bernafas disini, jadi Jirfa bertindak seperti berenang untuk berjalan ke sekitar "Dimana ini? Kenapa ada kegelapan aneh yang muncul dari belati milikku yang hancur, apakah perkataan pria tadi benar? Tidak, ayah tak mungkin melakukan itu, ini pasti cara pria tadi untuk menipu diriku".
Jirfa yang terus bergerak tanpa akhir segera menghentikan gerakannya, ia berdiri diam di tempat penuh rasa kaget sebab ia menemukan sosok yang terlihat mirip seperti ayahnya di depan dirinya sekarang.
Baik dari segi tinggi ataupun bentuk tubuh, orang yang beberapa meter di depannya mirip seperti ayahnya kecuali seluruh tubuhnya berwarna hitam yang membuat Jirfa tidak dapat melihat wajahnya.
"Ayah?", Jirfa ragu-ragu sebentar sebab alasan ia percaya sosok di depannya merupakan ayahnya bukan hanya melalui bentuk tubuhnya melainkan aura pria di depannya ini sangat mirip dengan aura ayahnya. Apabila bukan karena wajahnya yang berupa kegelapan kosong, ia pasti tahu apakah sosok di depannya benar-benar ayahnya atau bukan.
"Ayah!", setelah mendengarkan apa yang dikatakan pria gelap tersebut, Jirfa membuang semua keraguannya terhadap pria bayangan ini. Baik bentuk tubuh maupun senyuman mungkin mampu menipunya, namun ia yakin dari suara tadi bahwa sosok di depannya merupakan ayahnya.
Jirfa memeluk pria kegelapan tersebut tanpa mengingat sedikitpun perkataan Myro sebelumnya "Ayah, kenapa kau ada disini? Padahal aku berencana memenangkan Pertarungan 1000 Roh sehingga kita, aku, ayah serta ibu akan berkumpul bersama lagi. Meskipun sekarang baru ayah dan aku, aku pasti akan memenangkan Pertarungan 1000 Roh untuk membuat keluarga kita kembali lagi".
"Anak yang baik, kau sangat peduli pada orang tuamu, ayah bangga kepadamu", kata bayangan kegelapan itu tersenyum aneh "Kalau begitu sebagai anak yang baik, kau perlu melakukan 1 hal penting lagi untuk ayah".
__ADS_1
"Apa itu?", tanya Jirfa yang mengangkat kepalanya untuk menatap ayahnya yang sedang ia peluk sambil tersenyum lembut, ia sama sekali tidak menyadari keanehan apapun yang terjadi.
"Kau tahu kenapa ayah tak keberatan mati menahan Mili dulu untuk dirimu?", kata pria tersebut memegang wajah Jirfa dengan hati-hati "Alasannya mudah sebab dibandingkan tubuh ayah yang sudah cukup tua dulu serta mendekati batas hidupnya, tubuh muda milikmu adalah apa yang ayah butuhkan, apalagi ayah sudah menyiapkan dirimu agar ketika ayah memakai tubuhmu, ayah mampu menjadi pembunuh hebat lagi sekalipun kau adalah wanita. Tetapi di kehidupan sebelumnya, belati yang kau pakai tak pernah hancur sehingga ayah sedikit kecewa. Untungnya di kehidupan ini ada kesempatan, sekarang ayah akan mengambil semuanya dan bangkit kembali! Kau tak perlu memikirkan Pertarungan 1000 Roh lagi Jirfa sebab ayah yang akan memenangkan pertarungan tersebut, lalu ayah akan mendapatkan hidup selamanya dari kemenangan Pertarungan 1000 Roh ini".
"Apa yang ayah maksud--", Jirfa yang belum memahami maksud perkataan ayahnya berencana bertanya mengenai perkataan tadi, namun ia tiba-tiba merasakan seluruh sakit di tubuhnya, terutama kepalanya yang sakit seperti akan pecah.
"Ayah, ayah! Sakit! Kekuatan yang mengalir dari tangan ayah membuat kepalaku sakit", teriak Jirfa yang mencoba melepas tangan ayahnya dari kepalanya.
Ayah Jirfa tentunya tidak akan melepaskan tangannya yang akan membuat proses pengambilan tubuh yang ia lakukan akan gagal, ia berkata penuh rasa dingin yang belum pernah di dengar oleh Jirfa sebelumnya "Jangan khawatir, setelah ayah menguasai seluruh tubuhmu, kau tidak perlu merasakan rasa sakit apapun lagi, kau dapat terbebas dari dunia ini lalu bertemu bersama ibumu lagi! Oleh karena itu, mati lah untuk mimpiku, Jirfa!".
Senyum yang ditunjukkan ayahnya sekarang membuat seluruh tubuh Jirfa gemetar ketakutan, sepanjang hidupnya ia belum pernah melihat ayahnya tersenyum semenakutkan itu. Bahkan ia merasa semua yang ada di depannya seperti sebuah kebohongan yang terjadi, tapi Jirfa tentu menyadarinya bahwa semua yang terjadi di depannya adalah kebenaran, sosok di depannya adalah ayahnya meskipun hanya sebuah jiwa tanpa tubuh.
Masalahnya bukan itu yang paling penting sekarang melainkan ia harus mencoba melepaskan tangan ayahnya dari kepalanya, tetapi tak peduli seberapa keras Jirfa berjuan, tangan ayahnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan lepas melainkan Jirfa merasa dirinya semakin lama menjadi semakin lemah.
"Sudah ayah katakan, jangan melakukan perlawanan apapun! Sejak awal ayah telah mempersiapkan semuanya untuk merebut serta menguasai tubuh milikmu, kau tidak mempunyai kesempatan untuk menang", kata ayah Jirfa penuh kesombongan.
__ADS_1