
"Lirisa-- Tidak, apakah ini adalah bayangan sebelum kematian? Kau seharusnya sudah tidak ada disini lagi, apakah aku sedang bermimpi sebelum mati?", gumam Holuka merasa dirinya telah gila sebab ia melihat Lirisa yang sudah lama mati.
Lirisa berlari mendekati Holuka, di sisi lain Holuka juga menyadari bahwa kolam darah di sekitarnya telah berubah menjadi halaman rumah mereka dulu di Ibukota Kerajaan Alv.
Lirisa menggenggam tangan Holuka yang masih berdiri diam mematung di tempat "Aku tahu sulit percaya bagimu tentang keberadaan ku ini, aku pun juga tidak mengerti dengan apa yang terjadi sekarang. Namun aku senang sebab aku mempunyai sesuatu yang dari dulu berencana aku katakan kepada, terima kasih karena telah berjuang untukku selama ini dan maaf sebab kau harus menanggung rasa sedih serta kesepian selama puluhan tahun setelah kepergianku. Aku tahu kau berjuang sangat keras setelah aku tak ada, oleh karena itu aku tidak akan marah sekalipun kau berhenti membalaskan dendam ku. Kau tahu, dibandingkan berharap kau membalaskan dendam ku, aku lebih berharap kau hidup bahagia lalu suatu hari nanti, ayo bertemu lagi apabila takdir mempertemukan kita. Tunggu, kenapa kau menangis seperti ini, Holuka? Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa pria harus tetap kuat?".
Holuka saat ini sedang menangis dan Lirisa terus menghapus air matanya dengan lembut, Holuka memegang tangan lembut Lirisa. Ia tak peduli apakah semua ini kenyataan ataupun mimpi dirinya yang sudah gila akibat hampir mati "Lirisa, maaf karena aku gagal melindungimu, seandainya waktu itu aku tidak keras kepala dan tetap berada di sampingmu seperti yang kau katakan, semuanya pasti tidak menjadi seperti ini. Aku tahu ini mungkin sedikit terlambat untuk dikatakan mengingat kau telah menungguku terlalu lama, tapi bisakah kau menungguku sedikit lebih lama lagi? Aku mempunyai sesuatu untuk dikatakan kepada Nona Mili, setelah itu ayo pergi bersama".
Lirisa langsung mengangguk tanpa ragu "Aku sudah menunggumu selama puluhan hingga ratusan tahun, menunggumu selama beberapa jam bukan masalah besar bagiku. Tidak, bahkan jika itu selamanya, aku akan tetap menunggumu, jadi selesaikanlah semua hal yang perlu kau selesaikan".
Lalu Lirisa melepaskan tangan Holuka yang memegangnya, ia berlari menjauh sebelum berbalik dengan senyum lebar "Walaupun begitu aku harap kau tidak membuatku menunggu begitu lama lagi, Holuka, sebab aku juga merasa sedikit kesepian tanpa dirimu".
Perlahan-lahan sosok Lirisa mulai menghilang.
Setelah Lirisa menghilang sepenuhnya, Holuka menutup matanya sambil tersenyum damai "Aku tahu, aku pasti akan menemuimu secepat mungkin".
__ADS_1
Ketika Holuka membuka matanya lagi, ia telah berada di kolam darah kembali.
Holuka menatap ke arah Mili yang berdiri diam menatap dirinya. Menarik nafas, Holuka berkata dengan banyak sekali emosi yang ada di dirinya baik itu kesedihan, penyesalan, rasa bersalah maupun kedamaian "Nona Mili, anda tidak perlu merasa bersalah sebab aku tahu anda bukan orang yang berdarah dingin seperti itu, bagaimanapun kita telah menjadi rekan selama beberapa tahun di medan perang. Masalahnya aku tidak dapat menerimanya, kenapa orang sebaik Lirisa harus mati secara kejam? Apabila Lirisa di penuhi oleh dosa, maka kenapa bukan orang seperti diriku yang terbunuh secara kejam mengingat berapa banyak dosa berdarah di tanganku? Karena alasan tersebut, aku tidak bisa menerima alasan kematian wanita baik seperti Lirisa. Sekalipun sampai akhir yaitu sekarang aku akan mati, aku juga belum tahu kenapa Lirisa perlu mati, setidaknya aku bisa mati tanpa terlalu banyak rasa sedih sebab dia sudah menungguku".
Sekarang hanya tinggal kepala Holuka yang belum tenggelam. Walaupun Holuka terlihat tidak memiliki permusuhan terhadap dirinya lagi, Mili tak berencana melepaskan Holuka sebab ia tahu Holuka juga bersial akan hal ini.
Ragu-ragu sebentar, Mili memutuskan untuk mengatakan "Karena kau juga akan mati sebentar lagi, aku tak keberatan memberitahumu sebuah rahasia yang selalu aku bawa hingga menuju kematian diriku, alasan kenapa Lirisa serta orang-orang di ibukota harus mati yaitu--".
"Zrash!".
Sewaktu Mili selesai berbicara, Holuka membuka matanya lebar-lebar penuh rasa terkejut "Ternyata begitu, sekarang aku mengerti kenapa orang sebaik Nona Mili sampai bertindak haus darah seperti itu-- Tidak, sejak awal anda tidak pernah menjadi haus darah melainkan anda tetap orang yang baik hingga memutuskan untuk menanggung beban berat seperti itu sendiri. Maafkan aku Nona Mili, sebagai rekanmu bukannya aku membantu dirimu meringankan beban tersebut atau membaginya agar terasa lebih ringan bagimu, tetapi aku menambah rasa berat pada dirimu. Nona Mili, aku rasa aku tidak pantas lagi untuk mengatakan ini kepadamu, tapi sebagai rekanmu di masa lalu izinkan aku menyampaikannya. Hancurnya Kerajaan Alv bukan salahmu, ini salah seluruh orang yang ada di kerajaan".
"Jadi anda tidak perlu menanggung semua beban kesalahan itu sendiri, selain itu anda tak perlu berusaha memenangkan Pertarungan 1000 Roh hingga mempertaruhkan hidup anda bagi kerajaan lagi, melainkan menanglah untuk harapan anda sendiri. Kalau anda sudah melepaskan rasa bersalah di masa lalu sehingga anda tidak mempunyai tujuan lagi untuk memenangkan Pertarungan 1000 Roh, maka tinggalkan pertarungan ini lalu hiduplah bahagia tanpa terikat apapun lagi. Aku mengingatkan anda sebagai rekan masa lalu-- Selamat tinggal, Nona Mili! Aku harap anda bisa mencapai kebahagiaan anda yang sebenarnya, bukan hidup diikat oleh kesetiaan serta rasa bersalah--".
Holuka yang tinggal kepalanya mulai menutup matanya, ia menghembuskan nafas terakhirnya akibat kolam darah dari Serangan Inti Mili.
__ADS_1
Tanpa perlu menenggelamkan musuh sepenuhnya, kolam darah ini mampu membunuh orang yang tenggelam disini secara perlahan-lahan layaknya racun.
Holuka membuka matanya lagi, ia menemukan dirinya berada di sebuah taman bunga dan seorang wanita sedang berdiri diam melihat bunga-bunga yang ada di sekitar.
Holuka tersenyum dan berjalan mendekati wanita tersebut "Ayo pergi, Lirisa".
Lirisa berbalik untuk melihat ke arah Holuka "Apakah masalahmu telah selesai?".
Holuka mengangguk "Aku sudah mengatakan apa yang perlu aku katakan, sisanya tergantung kepada Nona Mili sendiri, jalan apa yang akan ia pilih. Aku hanya dapat berharap, jalan apapun yang ia pilih di masa depan, ia mampu hidup tanpa penyesalan serta dipenuhi kebahagiaan".
"Kalau begitu ayo pergi", jawab Lirisa yang menggenggam tangan Holuka lagi, mereka meninggalkan taman bunga itu dan pergi menuju ke tempat yang tak diketahui.
...----------------...
Di sisi lain, Mili menatap ke arah Holuka yang saat ini telah kehilangan hidupnya, air mata jatuh dari wajah sebelah kanan miliknya hanya sekali "Beristirahat dengan damai, Rekanku Holuka".
__ADS_1