
Myro bangun pada pagi hari sebelum matahari terbit akibat suara ayunan tombak di lapangan depan rumah. Ia berjalan dan melihat melalui pintu yang terbuka bahwa Mili sedang sibuk berlatih mengayunkan tombaknya di lapangan kosong depan rumah Myro.
Walaupun telah melihat kemampuan penyembuhan luka kecepatan tingkat gila milik Mili sejak kemarin, Myro tetap terkejut mengetahui Mili sudah bisa mengayunkan tombak yang begitu berat dengan hanya 1 malam. Padahal apabila itu orang normal, mereka membutuhkan waktu 1 minggu sebelum mampu berjalan.
Mili yang sedang berlatih nampaknya menyadari kedatangan Myro, ia meletakkan tombaknya ke tanah sambil menghapus keringat di wajahnya dan tersenyum ramah "Maaf, apakah latihan yang aku lakukan membuatmu terbangun?".
Myro melambaikan tangannya "Tidak masalah, aku juga sering bangun sepagi ini untuk pergi ke ladang, aku akan menyiapkan sarapan".
Tanpa menunggu jawaban Mili, Myro berjalan ke dapur.
Mendengar sarapan sedang disiapkan, Mili berhenti berlatih. Ia datang ke ruang utama yang cukup luas sehingga kemarin malam Myro tidur cukup jauh dari Mili.
Mili duduk di tengah ruangan serta keringatnya terus jatuh, ia berkata kepada Myro yang sibuk menyiapkan sarapan "Aku akan pergi nanti siang, lagipula luka milikku sudah sembuh dan tidak ada masalah untuk bertarung maupun lari dari kejaran musuh. Belum lagi seperti yang kau katakan sebelumnya, aku dikejar oleh musuh-musuh yang apabila mereka mengetahui kau membantuku, kehidupan damai milikmu pasti hancur. Jadi aku akan pergi secepat mungkin selagi mereka belum sadar".
"Baguslah", kata Myro yang menyerahkan semangkuk bubur lagi kepada Mili sebagai sarapan "Semakin cepat kau pergi, maka semakin aman juga diriku".
"Kau tetap dingin", kata Mili tersenyum tidak peduli "Namun, apakah kau yakin untuk tidak ikut pertarungan para roh, Myro? Kau tahu, banyak orang yang bermimpi ikut pertarungan para roh dan pergi ke Gunung Emas. Kesempatan ada di depan matamu, kesempatan yang banyak orang impikan".
"Aku sudah bilang, kehidupan damai adalah apa yang aku butuhkan", kata Myro yang terus memakan buburnya tanpa terpengaruh bujukan Mili.
__ADS_1
"Kau mungkin belum tahu apa arti dari pertarungan para roh dan Gunung Emas yang membuat kau tetap menolak, tapi kalau kau tahu arti sebenarnya serta alasan kami, kau mungkin menyesali keputusanmu hari ini! Sebagai temanmu, aku akan memberitahumu arti dari petarungan kami para roh yang menuju Gunung Emas, jangan menyesal atas keputusan yang telah kau buat", kata Mili "Siapapun roh yang berhasil mengalahkan semua roh lalu sampai ke Gunung Emas, roh dan tuannya akan diberikan 1 kesempatan untuk mengatakan harapan mereka, setelah itu harapan yang mereka katakan pasti akan menjadi kenyataan! Itu adalah arti dari perang para roh, semua roh dan orang-orang saling bertarung untuk mewujudkan mimpi mereka menjadi kenyataan!".
Myro yang dari awal tidak terpengaruh kali ini menghentikan gerakan sendoknya, ia menatap ke arah Mili penuh rasa penasaran "Semua harapan akan diwujudkan? Bagaimana menghidupkan orang mati? Apabila berhasil mengalahkan semua roh dan mencapai Gunung Emas, pemenangnya dapat menghidupkan orang yang sudah mati sekalipun?".
"Tentu bisa, bahkan orang yang telah mati sejak ribuan tahun yang lalu, mereka bisa muncul di waktu sekarang", kata Mili semangat "Kekuatan terkuat, mengulang waktu, menghidupkan yang sudah mati, semua itu bisa terjadi selama kau menenangkan pertarungan 1000 roh lalu berangkat menuju Gunung Emas! Bagaimana? Apa kau tertarik sekarang, Myro?".
Myro terdiam sebentar sebelum menggelengkan kepalanya "Semua yang kau katakan terdengar layaknya mimpi palsu, sebuah kebohongan belaka! Bagaimana aku bisa mempercayainya? Selain itu, aku tidak mengetahui darimana kau mengetahui informasi tersebut".
Mili mengangguk "Kau benar, semua orang yang mendengar tentang Pertarungan 1000 Roh pertama kalinya pasti menolak percaya juga, tapi biarkan aku beritahu kepadamu kenapa aku percaya tentang hadiah pemenang pertarungan ini yaitu keberadaanku sendiri disini adalah sebuah hal yang seharusnya tidak bekerja. Baik itu aku atau roh yang lain, kami tidak berasal dari zaman ini, melainkan kami semua dari zaman yang lain! Mungkin bisa dikatakan, kami adalah orang yang seharusnya sudah mati sejak lama. Apakah kau sekarang menyesal menolak ajakan menjadi tuanku? Kau mungkin tidak tertarik terhadap uang dan kekuasaan, tapi setiap orang pasti mempunyai hal lain yang membuat mereka tertarik. Berdasarkan pertanyaan yang kau ajukan sebelumnya, apakah kau tertarik menghidupkan orang yang telah mati, Myro?".
Melihat Mili dengan wajah datar, Myro menggelengkan kepalanya "Aku tetap belum percaya baik harapan apapun yang menjadi kenyataan serta kalian para roh berasal dari zaman lain. Setelah selesai makan, segera pergi dari sini, orang yang mati tidak akan pernah hidup lagi aku tidak akan tertipu oleh bujukan bodoh yang kau berikan. Aku akan pergi ke ladang, kita tidak akan pernah bertemu lagi mulai sekarang, jaga dirimu".
Menurutnya pertemuan bersama Mili hanya sebuah kejadian pada hidupnya serta tidak akan mempunyai dampak apapun sebab ia berencana menganggap mereka belum pernah bertemu sebelumnya, oleh karena itu Myro bergegas pergi ke ladang.
Mili menatap bagian belakang tubuh Myro sebelum bergumam "Pada akhirnya ia menolak untuk percaya, lagipula memang sulit percaya pada hal yang tidak mungkin terjadi seperti itu. Tetapi apapun yang terjadi, aku tetap berhutang hidup padanya. Selama aku memenangkan Pertarungan 1000 roh, aku akan membalas kebaikan yang ia berikan".
.....
Pada hari ini Myro bekerja di ladang seperti normal, walaupun ia kemarin bertemu Mili dan membantunya menghindari kematian, namun sikap Myro sama sekali tidak berubah sehingga orang-orang di ladang tidak menyadari keanehan apapun juga dari Myro.
__ADS_1
Myro bekerja di ladang, makan siang, lalu berhenti setelah hari mencapai sore. Ia membersihkan kakinya yang dipenuhi lumpur, setelah itu berjalan menuju rumahnya sambil membawa peralatan berladang miliknya.
Di tengah jalan, Myro menatap ke arah hutan di sisi kanan jalan dengan suram karena ia menemukan beberapa jejak kaki manusia disana.
Meskipun jejak kaki tersebut terlihat cukup tipis, hal itu membuat Myro semakin suram sebab jejak kaki yang hampir tidak terlihat itu menunjukkan bahwa musuh adalah ahli, paling tidak mereka bukan penduduk melainkan para prajurit yang sudah sering bergerak cepat di hutan serta memburu orang lain.
Berpikir sebentar, Myro menggelengkan kepalanya "Walaupun dia tertangkap sekalipun, aku tidak ada hubungannya. Dari jejak kaki disini, nampaknya mereka menuju ke arah pelabuhan Lamore yang berjarak beberapa kilometer dari sini, aku harap ia beruntung untuk lepas dari kejaran musuh".
Myro yang selesai berpikir mulai berjalan lagi menuju rumahnya, ia menolak terus ditarik ke masalah milik Mili.
Sewaktu tiba di rumahnya, Myro membuka pintu untuk menemukan rumah yang kosong.
Padahal Myro hidup sendirian selama bertahun-tahun sedangkan Mili baru datang 1 hari, namun Myro merasa sedikit kosong yang mengejutkan dirinya.
Myro menggelengkan kepala dengan keras kepala "Aku terlalu banyak berpikir, pokoknya hidup damai merupakan yang terbaik".
Mencoba berhenti memikirkan masalah ini, Myro berencana membuat bubur untuk makan.
Tetapi langkah Myro terhenti dan matanya terfokus pada 1 sisi, yaitu di sudut ruangan terdapat sebuah tombak yang tertutup oleh sebuah kain berwarna abu-abu serta sebuah busur dengan 50 anak panah.
__ADS_1