
Ledakan yang keras terjadi akibat serangan pedang Holuka, sosok Mili muncul dari balik asap hitam akibat ledakan dimana mengakibatkan tubuhnya terbang sejauh puluhan meter lalu mendarat di tanah.
Mili yang baru mendarat di tanah memuntahkan seteguk darah, ia menatap tajam ke arah 10 penyihir yang berdiri di bagian paling belakanb dari pihak musuh. Meskipun yang terkuat di antara mereka hanya penyihir rank 4, tapi sebab jumlah mereka yang cukup banyak sehingga mampu membuat rantai yang mengganggu Mili. Benar, rantai yang menahan Mili barusan serta membuat dirinya terlambat selama sedetik merupakan ulah dari para penyihir ini.
"Melawan 2 roh, para Ksatria dan kelompok penyihir di waktu yang sama benar-benar merepotkan. Seandainya kekuatanku tidak berkurang seperti ini, aku pasti sudah membunuh mereka semua", kata Mili sedikit kesal, ia meludahkan seteguk darah lagi "Tetapi tidak buruk juga, setidaknya sebagai seorang prajurit, aku bisa mati di tengah medan perang yang merupakan peti mati terbaik bagi seorang prajurit, bukan seperti kematianku di kehidupan sebelumnya".
Holuka di sisi lain menemukan ada sebuah luka goresan baru di wajahnya yang kemungkinan besar berasal dari serangan Mili, hal tersebut membuat ia semakin takut terhadap kekuatan Mili dan bertekad untuk membunuhnya disini.
Bagaimanapun Mili telah diperlambag memakai serangan rantai kejutan dari para penyihir, namun selama waktu yang singkat itu juga, Mili tetap berhasil memberikan luka tambahan kepada Holuka yang menunjukkan seberapa menakutkan kekuatan yang ia miliki.
Memanfaatkan Mili yang terluka akibat serangan ledakan miliknya barusan, Holuka berteriak "Jirfa, jangan menahan diri lagi, gunakan kekuatan penuh milikmu! Kita akan membuka Serangab Inti kita bersama-sama untuk membunuh Mili! Apabila kita tidak membunuhnya sekarang serta membiarkan dia melarikan diri dari sini hingga racun di tubuhnya pulih, kita tidak akan mempunyai kesempatan untuk membunuhnya lagi! Oleh karena itu, apapun yang terjadi, kita akan membunuhnya disini! Jadi jangan ragu dan Buka Serangan Inti milikmu".
"Aku mengerti", kata Jirfa yang sedikit pulih dari lukanya akibat dorongan serangan Mili, mata Jirfa dipenuhi tekad dan ia menggenggam 2 belatinya dengan kuat, siap menggunakan Serangan Inti.
Setiap roh mempunyai serangan unik mereka masing-masing yang saling berbeda, serangan tersebut disebut sebagai Serangan Inti dan merupakan serangan terkuat yang dimiliki oleh setiap roh. Jika seorang roh sampai menggunakan Serangab Inti mereka, maka berarti mereka sedang menggunakan seluruh kekuatan mereka.
Umumnya setiap roh hanya bisa memakai Serangan Inti sebanyak sekali setiap harinya atau bahkan lebih lama lagi sebab ketika selesai memakai Serangan Inti, para Roh akan kelelahan sehingga membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk memulihkan kekuatan mereka lagi sampai dapat menggunakan Serangan Inti berikutnya.
Oleh karena itu, para roh akan menggunakan Serangan Inti mereka setelah memperhitungkan nya dengan hati-hati sebab mereka tidak bisa menggunakan yang ke 2 kalinya dengan waktu singkat.
Disini Holuka dan Jirfa berencana menggunakan Serangab Inti mereka masing-masing yang menunjukkan seberapa besar tekad mereka mencoba membunuh Mili.
Holuka menarik nafas, ia bergumam "Buka Serangab Inti--".
__ADS_1
Sebelum Holuka selesai menggunakan Serangab Inti miliknya, sebuah panah terbang dari hutan dengan cepat lalu bergegas menuju dirinya.
"Slash!".
Holuka memotong panah yang mencoba menusuknya memakai pedang dengan mudah, ia berkata "Panah lemah seperti ini sama sekali tidak akan memberikan luka--".
"Booooom!".
Sebelum Holuka menyelesaikan perkataannya, suara ledakan terdengar, panah yang ia tebas tadi berubah asap berwarna putih yang segera menutupi area di sekitarnya.
"Bom asap?", kata Jirfa yang menemukan ia benar-benar tidak bisa melihat keadaan sekitarnya.
Di bawah penutup asap, puluhan panah kembali berterbangan dari berbagai arah.
Para prajurit mulai berkumpul di sekitar sang Marquis untuk melindunginya sedangkan prajurit yang lain ataupun Holuka dan Jirfa menghancurkan panah yang mencoba menyerang mereka dengan mudah, walaupun asap mengganggu penglihatan mereka, baik Holuka ataupun Jirfa dan yang lainnya masih dapat merasakan arah pergerakan panah memakai kekuatan mereka sehingga semua panah berhasil dihentikan.
Namun ada juga beberapa prajurit yang tidak beruntung, mereka terlambat merespon yang mengakibatkan panah tersebut melukai mereka sampai-sampai ada panah yang berhasil membunuh prajurit Marquis secara langsung.
Holuka yang menebas panah ke 4 musuh berteriak "Jangan panik, kekuatan musuh hanya rank 2! Selama kalian berhati-hati terhadap asap di sekitar, panah ini tidak akan melukai kalian!".
"Baik!", jawab Jirfa bersama para prajurit lain yang mulai lebih memperhatikan gerakan panah di sekitar. Sejak mereka menjadi lebih berhati-hati, tidak ada seorangpun yang terluka akibat panah lagi.
Tetapi tanpa diketahui semua orang, tujuan anak panah itu bukan untuk membunuh mereka melainkan mengalihkan perhatian mereka.
__ADS_1
Di bawah penutup asap serta tembakan anak panah, sebuah sosok seorang pria bergerak cepat menuju ke arah Mili yang terluka.
Mili yang sedang terluka sedang kebingungan, ia belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi disini, terutama siapa yang tiba-tiba datang menembakkan anak panah untuk mengganggu pertarungan mereka.
Sosok seorang pria muncul di depan Mili, ia mengambil sesuatu yang nampaknya seperti sebuah perban, Mili tidak melihat dengan jelas sebab tertutup oleh asap.
Lalu pria tersebut menghentikan pendarahan di lengan kanan Mili memakai perban "Lukamu cukup berat, apakah kau bisa berjalan? Untuk sekarang kita harus pergi dari sini dulu sebelum musuh mulai menyadari gerakan yang aku lakukan".
Mendengar suara pria yang berdiri di depannya, Mili membuka mata lebar-lebar penuh rasa tidak percaya sebab ia mengingat suara itu.
Suara pria di depannya adalah milik seorang pria yang membawa ia dari krisis hidup dan mati kemarin, selain itu ia memang mengingat ada busur serta anak panah yang tersembunyi di sudut ruangan pria tersebut.
Masalahnya pria itu seharusnya tidak datang kesini karena dari wajahnya pria tersebut, Mili mengetahui seberapa besar pria itu membenci medan perang, karena alasan tersebut pria itu seharusnya tidak datang kesini.
"Kenapa kau datang kesini, Myro?", tanya Mili bingung.
Benar, sosok yang menembakkan panah serta bom asap agar menghentikan pertarungan Mili melawan musuh adalah Myro.
Tanpa membuang waktu, Myro menarik Mili yang masih bingung lalu membawanya lari dari sini "Apakah penting alasan kenapa aku datang kesini? Apa yang paling penting sekarang yaitu segera melarikan diri sebelum musuh sadar, setelahnya kita dapat mengobrol lagi".
Mili kembali sadar, ia mengangguk terhadap perkataan Myro "Kau benar, apapun alasanmu datang kesini, aku mengucapkan terima kasih Myro! Kalau kau tidak datang, aku mungkin akan mati lagi".
Myro yang terus membawa Mili lari menjauh berkata dengan suara rendah supaya tidak terdengar musuh "Terlalu cepat untuk berterima kasih, kita sekarang belum lepas dari serangan musuh".
__ADS_1