PERTARUNGAN 1000 ROH

PERTARUNGAN 1000 ROH
BAB 33 : AKU BILANG PERGILAH


__ADS_3

"Tang! Tang! Tang! Tang! Tang!".


Mili terus menerus menahan serangan terbang yang menyerangnya memakai tombak, ia bergerak cepat memutar-mutar tombaknya untuk menghentikan serangan pedang terbang yang ada di sekitar.


Walaupun telah berusaha sekuat tenaga, Mili gagal menghentikan semua serangan pedang terbang sepenuhnya. Perlahan-lahan luka tebasan di tubuh Mili menjadi semakin banyak.


Mili memang mempunyai kemampuan penyembuhan cepat sebagai roh, tapi bukan berarti ia tak terkalahkan sebab energi maupun tenaga yang ia miliki sangat terbatas. Terutama setiap luka yang ia terima berarti ia kekurangan sebagian darahnya, hal tersebut akan membuatnya menjadi semakin cepat lelah.


Di tengah serangan tanpa henti dari 4 terbang, sosok Holuka berlari mendekati ke arah Mili lalu menebasnya dengan semangat yang berapi-api, seluruh tubuhnya dilapisi oleh api yang menjadi penerangan bagi ruangan yang gelap ini akibat mati lampu.


Kali ini Mili benar-benar tidak siap terhadap serangan dadakan Holuka, lagipula semua perhatiannya tertuju untuk menahan serangan pedang api terbang.


"Slash!".


Untungnya kecepatan reaksi Mili masih sangat baik, ia menahan pedang Holuka yang akan menusuk jantung nya lalu memukul pedang tersebut ke arah lain agar tak membunuh dirinya.


Tetapi kekuatan Mili yang sudah kelelahan sama sekali bukan lawan dari kekuatan Holuka yang berada di posisi terkuatnya sebelum mati, bagaimanapun ia telah hampir mati sejak awal sebelum menggunakan api untuk menahan luka fatal nya, jika ia kehabisan tenaga maupun kehilangan energinya, semua kekuatan api yang mendukung tubuhnya akan menghilang serta ia pasti langsung mati.


Meskipun berhasil menghindari serangan yang mematikan, pedang Holuka masih menebas luka Mili yang lukanya cukup berat.


Mili melompat mundur sambil menatap luka tusukan di tangannya yang terus menjatuhkan darah dengan wajah suram, lukanya tidak mematikan namun akan mempengaruhi pergerakannya selama bertarung.


Sebenarnya Mili berencana mengambil selembar kain dari pakaiannya untuk mengikat luka di tangannya, tapi Holuka sama sekali tidak memberikan kesempatan sedikitpun.

__ADS_1


4 pedang api terus berterbangan menyerang dirinya serta memberikan lebih banyak luka tambahan, Mili terus mencoba menahan serangan pedang sambil mengulur waktu.


Melihat apa yang dipikirkan Mili, Holuka tersenyum mengejek "Aku tahu apa yang kau pikirkan, kau mencoba mengulur waktu hingga api milikku padam sehingga aku akan mati tanpa perlu kau repot-repot membunuhku bukan? Ide yang kau miliki memang tepat, tapi aku tak akan membiarkannya terjadi".


Holuka mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, setelah itu api mulai terbentu di sekitar pedangnya yang membentuk seperti sebuah pusaran api.


Perlahan-lahan suhu di ruangan ini meningkat dengan cepat, banyak besi dari mesin yang ada di sekitar meleleh atau bahkan langsung terbakar.


Mili kaget dengan 4 pedang api terbang yang selalu mengganggunya mulai mundur, 4 pedang tersebut berkumpul di sekitar pedang Holuka yang bergabung menjadi 1 pedang bersama pedang dk tangan Holuka.


"Booooom!".


Suara ledakan terdengar dari pedang Holuka sewaktu semua pedang tersebut bergabung, api yang ada di sekitar menjadi semakin panas serta besar hingga melelehkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya.


"Sssss!".


Suara mendesis terdengar, aura darah di seluruh tubuh Mili menunjukkan tanda-tanda terbakar maupun meleleh juga yang membuat wajah Mili semakin suram. Padahal ia belum terkena api Holuka secara langsung, tapi aura darahnya sudah menunjukkan tanda-tanda meleleh yang berarti selama api Holuka mengenai dirinya, ia akan mati.


"Aku tak tahu kenapa kau menolak melawan diriku memakai seluruh kekuatanmu, Mili! Apakah kau meremehkan kekuatan ku atau memang ada alasan lain, aku tidak peduli terhadap apapun alasan yang kau miliki, suatu hal yang pasti adalah aku akan memakai seluruh kekuatan ku untuk membawamu mati bersamaku", kata Holuka penuh tekad "Persiapkan dirimu, ini adalah serangab terkuat yang aku miliki, Badai Api Kematian!".


Holuka menebas pedangnya menuju Mili yang membuat pusaran api raksasa di sekitar pedang bergegas menuju Mili.


Melihat pusaran api dengan kekuatan menakutkan, Mili membuka matanya penuh tekad. Ia memang membenci memakai Serangan Intinya sebab setiap kali ia menggunakan Serangan Inti, maka ia pasti mengingat masa lalu yang pahit lagi.

__ADS_1


Tetapi sekarang berbeda, di tengah keadaan hidup dan mati ia tak boleh ragu lebih lama lagi.


Mili memegang tombaknya memakai 2 tangan, ia meletakkan kaki kiri di depan serta kaki kanan di belakang.


Setelah memasang kuda-kuda bertarung yang tepat, Mili menarik nafas dan membuka matanya yang sekarang bersinar dengan warna putih. Bukan hanya mata Mili, melainkan seluruh tubuh Mili ditutupi oleh cahaya putih "Buka Serangan Inti--".


Mili yang akan membuka serangan Inti tiba-tiba melihat seperti sosok seorang pria muda berusia 20 tahun yang bertemu dengannya di istana, pria tersebut melambaikan tangannya serta tersenyum lebar "Jendral Mili, kau ada disini!".


"Pergilah!", teriak Mili dipikirannya saat sedang fokus menggunakan serangab inti.


"Bzzzzzt".


Gambar dari pria muda di istana tersebut berubah menjadi sebuah tempat latihan bagi prajurit khusus ibukota, pria tersebut sedang membersihkan keringat yang terus jatuh dari wajahnya memakai handuk serta meletakkan senjatanya ke samping lalu berkata "Kau berkata kenapa aku perlu berlatih pedang padahal ada banyak orang yang akan melindungiku? Bukankah jawabannya sudah jelas, aku tidak berharap menjadi orang yang dilindungi oleh dirimu melainkan aku berharap menjadi orang yang melindungi dirimu, Mili".


"Pergilah!", kali ini suara Mili bukan hanya dipikirannya lagi melainkan ia juga berguman kecil dengan suara penuh rasa kesal.


"Bzzzzzt".


Gambar pria muda yang tersenyum cerah di tempat lain berubah lagi menjadi seorang pria yang sedang duduk di atas tahta, perubahan utama dari pria muda itu adalah aura di sekitarnya. Apabila sebelumnya ada banyak sekali aura cerah di seluruh tubuh pemuda tersebut, namun sekarang aura nya berubah menjadi gelap suram.


Ia menatap ke arah Mili dengan senyum yang sama tapi pada akhirnya berbeda dari senyum di masa lalunya "Mili, lihat! Aku bisa memberikanmu apapun yang kau butuhkan sekarang, baik harta, kekuasaan, atau bahkan seluruh kerajaan ini!".


Mili mengatakan sesuatu yang langsung membuat wajah pria tersebut kecewa "Mili, apakah ada yang kurang dari semua yang aku lakukan padamu? Apakah ada pria yang memperlakukanmu lebih baik dariku di dunia ini? Aku dapat memberimu semua hal yang kau butuhkan".

__ADS_1


"Aku bilang pergilah!", kali ini Mili berteriak keras yang menunjukkan seberapa marah dirinya.


__ADS_2