
Tepat setelah 7 bulan sejak Lirisa diketahui hamil.
"Holuka, apakah kau benar-benar perlu pergi? Aku memiliki firasat buruk bahwa sesuatu akan terjadi, apakah kau tidak dapat tetap tinggal disini hingga anak kita lahir? Aku yakin atasan mu pasti mengerti", kata Lirisa penuh rasa khawatir menatap Holuka yang sedang menyiapkan barangnya, terutama senjata.
Senyum lembut muncul di wajah Holuka, ia memegang kepala Lirisa dengan lembut "Jangan khawatir, kami dikirim sebab ditemukan ada pasukan iblis dengan jumlah kecil yang lewat di dekat ibukota. Tujuan utama kami bukan membunuh mereka melainkan memeriksa kebenaran berita tersebut, apabila jumlah iblis tersebut benar-benar sedikit maka kami akan membersihkan mereka. Tetapi kalau ternyata jumlah mereka banyak, kami akan segera mundur untuk melaporkannya menuju ibukota. Oleh karena itu, kau terlalu khawatir. Selain itu, misi ini paling lama hanya memakan waktu sebulan, aku pasti kembali dan berada di sisimu saat anak kita lahir".
Lirisa mengangguk berat, ia berhenti keras kepala sebab dirinya sudah mengetahui Holuka telah membuat keputusannya "Aku tahu kau merupakan orang yang keras kepala, apalagi selama itu menyangkut masalah perang dan kesetiaan kepada kerajaan. Karena alasan tersebut, aku tak akan mencoba menghentikan mu lagi. Tetapi kau perlu berjanji 1 hal kepadaku, kau akan kembali kesini dengan keadaan sehat, aku mempunyai firasat buruk bahwa kita tidak akan bertemu lagi".
"Lirisa, jangan bicara sembarangan!", kata Holuka tetap lembut serta penuh kepedulian "Kau jadi terlalu banyak berpikir yang aneh-aneh karena sedang hamil serta akan melahirkan, aku mengerti apa yang kau khawatirkan. Masalahnya kau perlu ingat, kau sekarang sedang mengandung anak kita. Apabila kau terlalu khawatir, hal tersebut mungkin berpengaruh pada anak kita. Kau perlu tetap menjaga pikiranmu supaya jangan berpikir yang aneh-aneh, aku pasti kembali sebelum anak kita lahir, percayalah padaku! Tugasmu cukup menjaga kesehatan mu, apakah kau mengerti?".
Lirisa mengangguk berat, Holuka tahu masih berat bagi Lirisa untuk menerima sehingga ia memeluk Lirisa "Jangan khawatir, aku akan kembali secepat mungkin! Sekalipun misi belum selesai, aku pasti akan berlari menuju ibukota untukmu".
.....
Seperti yang dipikirkan oleh Holuka, mereka menyelesaikan tugas yang diberikan kerajaan dengan waktu selama sebulan. Mereka memang menemukan iblis jauh di hutan dekat ibukota, jumlah iblis itu kurang dari 50 orang dan sebagian besar dari mereka hanya iblis yang lemah, jadi mereka berhasil membersihkan pasukan iblis tanpa masalah.
Tetapi ketika sampai di ibukota, 100 pasukan yang berangkat bersama Holuka membeku, mereka kaget menemukan seluruh ibukota Kerajaan Alv yang makmur berubah menjadi reruntuhan. Tembok kota yang selalu tampak megah dan tak tertembus, kini ada banyak sekali lubang serta bagian yang hancur pada tembok kota, bahkan gerbang besi yang tebal telah hancur dan jatuh ke tanah.
Di bagian atas tembok kota terdapat banyak sekali mayat prajurit yang seharusnya berjaga di sana, darah para prajurit tersebut mewarnai tembok kota menjadi merah darah.
__ADS_1
Selain itu beberapa bagian ibukota masih terbakar oleh api, hal ini membuat seluruh anggota serta rekan Holuka menjadi terdiam sampai-sampai tidak mampu mengatakan apapun.
Salah satu dari mereka membuka mulutnya yang gemetar ketakutan dan bingung "Sebenarnya apa yang terjadi disini? Bagaimana mungkin Ibukota Kerajaan Alv kita yang makmur berubah menjadi reruntuhan seperti ini-- Tidak, sebenarnya siapa yang melakukan semua ini?".
Kerajaan Alv merupakan salah satu kerajaan terkuat di seluruh dunia, ada banyak sekali petarung kuat disini yang membuat mereka tak pernah berpikir bahwa hanya dengan waktu kurang dari sebulan mereka pergi, ibukota sudah berubah menjadi reruntuhan.
Holuka yang terkejut tiba-tiba mengingat Lirisa yang tersenyum menunggu dirinya. Sewaktu mengingat Lirisa, ia tanpa ragu berlari menuju ibukota yang berubah menjadi reruntuhan.
"Holuka, jangan gegabah! Mungkin masih ada musuh kuat yang dapat menghancurkan ibukota di sana--", seorang prajurit berusaha mengingatkan Holuka tentang bahaya menuju ibukota sekarang.
Tetapi apa yang ada dipikiran Holuka sekarang hanya Lirisa, karena alasan tersebut ia mengabaikan perkataan rekannya.
Mengabaikan semua mayat di tanah, Holuka bergegas menuju rumahnya yang sebagian mengalami kehancuran juga seperti atap rumah.
Menendang pintu rumahnya tanpa ragu, Holuka berlari ke ruang tamu sambil berteriak keras "Lirisa!".
Seluruh tubuh Holuka membeku, ia menatap semua yang ada di depannya penuh rasa tidak percaya.
Di depan mata Holuka sekarang, ruang tamu dimana Lirisa selalu menunggunya hingga kembali dari pekerjaan hancur sepenuhnya sebab sosok Lirisa berbaring di tanah penuh dengan darah.
__ADS_1
Luka di seluruh tubuh Lirisa cukup banyak, terutama jejak sesuatu seperti tombak yang menebas lehernya.
Holuka maju selangkah demi selangkah mendekati mayat Lirisa yang berbaring di tanah, ia terus bergumam menolak percaya apa yang terjadi di depannya "Tidak mungkin, ini pasti tidak mungkin! Semuanya hanya mimpi!".
Holuka jatuh berlutut di sebelah Lirisa, ia menyentuh Lirisa dengan tangan gemetar sebelum air mata jatuh dari matanya sebab ia menemukan tubuh Lirisa yang dulu hangat sudah menjadi dingin, tak ada jejak kehidupan sedikitpun pada tubuhnya. Holuka langsung memeluk tubuh Lirisa, seluruh tubuhnya yang merupakan seorang prajurit kuat gemetar akibat menangis sewaktu memeluk tubuh Lirisa.
"Aaaaa! Lirisa! Seandainya aku waktu itu tidak keras kepala pergi memburu iblis! Seandainya aku waktu itu percaya terhadap perkataanmu mengenai firasat buruk, semua ini pasti tak akan terjadi! Maaf! Maaf Lirisa! Aaaaa!", teriakan memilukan Holuka terus terdengar dari ruangan tersebut.
Air mata terus jatuh dari wajah Holuka yang berlutut di tanah sambil memeluk mayat Lirisa, ia menggigit bibirnya hingga darah mengalir jatuh akibat terlalu sedih.
Seorang prajurit yang merupakan rekan Holuka datang ke rumah tersebut akibat mendengar tangisan Holuka.
Langkahnya sempat berhenti ketika menemukan Holuka yang memeluk Lirisa, sebagai teman Holuka, tentunya ia mengetahui sosok yang berada di tangan Holuka adalah istrinya.
Berjalan mendekat, prajurit itu berkata hati-hati sebab takut membuat Holuka menjadi gila akibat kehilangan orang yang berharga baginya "Holuka, aku dan kapten tadi menemukan seseorang yang masih hidup selama kurang lebih 2 menit sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ia memberitahu kami siapa yang melakukan semua ini meskipun belum sempat menceritakan apa yang sebenarnya terjadi sebab ia sudah mati lebih dulu".
Holuka langsung berdiri setelah meletakkan tubuh Lirisa dengan lembut ke tanah, ia memegang pundak rekannya cukup kuat serta berkata penuh aura dendam di matanya "Siapa? Siapa yang melakukan semua ini? Apakah itu iblis? Atau kerajaan lain? Siapapun yang melakukannya, aku pasti membunuh mereka semua! Bahkan aku tak keberatan menghancurkan seluruh kerajaan mereka".
Prajurit tersebut merasakan sakit di pundaknya sebab genggaman Holuka terlalu kuat, tapi ia juga mengerti bahwa Holuka sekarang sedang bersedih yang membuat ia melakukan itu tanpa sadar "Pelaku yang menghancurkan ibukota serta membunuh seluruh orang di kerajaan, sebelum mati prajurit itu mengatakan bahwa pelaku sebenarnya adalah Jendral Terkuat Kerajaan Alv, Jendral Milier Lux".
__ADS_1