
Di Ibukota Kerajaan Alv, seorang anak perempuan berusia sekitar 5 tahun sedang duduk di tanah menangis, ia bersembunyi di sebuah gang kecil antara perumahan agar tidak menarik perhatian siapapun.
Tiba-tiba seorang pria berusia sekitar 40 tahun datang ke gang tersebut, ia berjalan mendekati anak perempuan yang menangis sambil berkata "Jirfa, apakah kumpulan anak laki-laki itu mengganggumu lagi?".
Jirfa yang masih berusia 5 tahun kaget terhadap kedatangan pria tersebut, ia mengangkat kepalanya untuk melihat pria yang datang dengan matanya yang masih berair sebelum berlari memeluk kaki pria itu "Ayah, mereka lagi-lagi mengganggu dan mengatakan aku merupakan anak pembunuh, mereka bahkan melempari ku memakai batu".
"Apa? Mereka berani menggunakan batu? Ayah pasti akan membuat mereka menyesal! Bagaimana keadaanmu, Jirfa? Apakah ada bagian yang luka?", kata pria tersebut menatap seluruh tubuh Jirfa dengan rasa khawatir.
Jirfa menggelengkan kepalanya "Aku tidak apa-apa, karena teknik menghindar yang ayah ajarkan, aku berhasil menghindari semua batu yang mereka lemparkan".
"Benarkah, untunglah kalau begitu! Jika sampai mereka berani membuat luka apapun padamu, ayah pasti akan membunuh seluruh keluarga mereka", kata Ayah Jirfa penuh rasa dingin serta tegas, tidak ada sedikitpun jejak keraguan pada setiap kata-katanya "Untuk sekarang ayo kembali dulu, ibumu telah menyiapkan makan malam favoritmu. Jangan khawatir, nanti ayah akan mengajari mereka pelajaran supaya berhenti mengganggumu".
Jirfa mengangguk namun masih ada beberapa jejak kesedihan di wajahnya "Ayah, kenapa tak ada orang yang berteman denganku? Apakah aku memang menakutkan?".
Melihat kesedihan anaknya, ayah Jirfa langsung mengangkat Jirfa lalu meletakkannya duduk di pundaknya "Apa yang kau katakan? Jirfa merupakan anak ayah serta perempuan paling cantik di dunia, mereka hanya belum mengerti tentang hal tersebut. Suatu hari nanti, kau pasti menemukan banyak orang yang akan berteman denganmu serta memahami mu".
"Benarkan?", kata Jirfa yang masih anak-anak dengan penuh semangat.
"Benar, apakah kau pikir ayah akan berbohong? Karena alasan tersebut, jangan khawatir terhadap apa yang terjadi hari ini, suatu hari nanti pasti ada orang yang dapat memahami dirimu", kata Ayah Jirfa.
Jirfa merupakan seorang anak yang terlahir dari seorang ibu yang merupakan penduduk ibukota normal serta ayahnya adalah salah satu pembunuh terkuat milik Raja Kerajaan Alv.
__ADS_1
Berbeda dari prajurit, Ayah Jirfa bertugas membunuh semua orang yang diperintahkan oleh raja untuk membunuh tanpa harus berperang lebih dulu. Jadi, orang-orang di sekitar sering kali menganggap remeh ayah Jirfa maupun menganggapnya sebagai pembunuh, bahkan anak-anak penduduk sekitar ikut mengganggu Jirfa.
Walaupun begitu, Jirfa tidak pernah sedih terhadap perlakuan orang di sekitarnya. Berbeda dari cerita-cerita dimana keluarga pembunuh merupakan keluarga kejam yang membuat semua anak mereka saling membunuh untuk membuat pembunuh terkuat, ayah Jirfa adalah orang yang sangat baik hingga ia bingung kenapa ayahnya memilih menjadi pembunuh.
Sejak kecil ia sering mengajak Jirfa bermain maupun jalan-jalan, ia juga menolak mengajari Jirfa menjadi pembunuh pada awalnya.
Ayah Jirfa menolak anak perempuannya menutupi tangannya dengan darah. Meskipun pernah ada perintah dari raja untuk membawa Jirfa ke tempat pelatihan pembunuh sebab sebagai anak salah satu pembunuh terbaik di Kerajaan Alv, tentunya Jirfa dianggap mempunyai potensi besar untuk menggantikan ayahnya.
Tetapi ayah Jirfa selalu menolak tawaran tersebut, ia menganggap Jirfa menjadi orang yang menentukan masa depannya sendiri.
Pada usia 4 tahun, Jirfa yang kagum kepada ayahnya mulai memaksa ayahnya agar mengajari dirinya bagaimana cara menjadi pembunuh.
Pada awalnya ayah Jirfa menolak keras hal tersebut, namun di bawah sikap keras kepala Jirfa maka ayahnya memutuskan untuk menyerah serta mulai mengajarinya dengan harapan Jirfa akan menyerah di tengah jalan.
Melihat semangat serta bakat Jirfa, sang ayah yang tadinya hanya melatih dengan setengah tekad memutuskan untuk melatih nya secara sungguh-sungguh sejak Jirfa berusia 7 tahun.
Sekalipun dilatih sebagai pembunuh serta diajarkan banyak teknik bertarung kuat, ayahnya tidak pernah mengajak Jirfa untuk membunuh seseorang secara langsung.
.....
Pada usia 19 tahun, Jirfa sedang berlatih melempar pisau pada target yang telah ditentukan di halaman rumahnya sejak pagi hari sebelum matahari terbit.
__ADS_1
Ketika matahari mulai terbit, pintu halaman rumahnya terbuka yang membuat Jirfa menghentikan latihannya.
Ia bergegas menuju pintu halaman sebab ia tahu siapa yang datang "Ayah!".
Ayah Jirfa yang baru kembali dari misi segera menghapus wajah lelah dan khawatir di wajahnya saat menatap Jirfa, ia tersenyum lembut "Bagaimana latihanmu selama aku pergi, Jirfa? Apakah ada masalah dari latihan melempar pisau?".
"Ayah, semuanya berjalan lancar! Aku yakin mampu melempar pisau secara akurat dengan mata tertutup sebulan lebih cepat daripada target yang ayah berikan", kata Jirfa penuh semangat.
"Benarkah? Anak ayah memang hebat, sebentar lagi kau pasti akan lebih kuat daripada ayah", kata Ayah Jirfa memuji anak perempuannya.
Jirfa tersenyum senang terhadap pujian ayahnya, tapi perkataan berikutnya dari sang ayah membuat Jirfa bingung "Latihan memang penting, namun ayah rasa kau harus berhenti dulu berlatih selama beberapa hari Jirfa sebab mulai besok kau dan ibu akan pergi ke Desa Horofa".
"Desa Horofa? Kenapa aku perlu pergi ke tempat yang cukup jauh dari ibukota tersebut?", sebagai seorang pembunuh, Jirfa sudah diajarkan oleh ayahnya mengenai wilayah serta medan di sekitar kerajaan. Paling tidak untuk melakukan pembunuhan, informasi wilayah serta medan lokasi target merupakan hal yang sangat penting.
"Keadaan di ibukota mulai menjadi aneh, sampai ayah benar-benar yakin terhadap apa yang terjadi, kau serta ibu harus tinggal di sana. Ayah harap dengan kekuatan yang ayah ajarkan kepadamu, kau bisa melindungi ibumu di sana, apakah kau mengerti?", kata Ayah Jirfa penuh rasa khawatir.
"Aku mengerti, ayah dapat mengandalkan ku", kata Jirfa percaya diri, tapi ia memikirkan sesuatu "Apakah berarti ayah tak akan pergi bersama kami?".
Ayah Jirfa mengangguk berat "Ada yang perlu ayah lakukan disini!".
Wajah Jirfa berubah menjadi sedih sehingga ayahnya mulai membujuknya "Kau terlalu khawatir, paling lama kita akan berpisah selama setahun, setelah itu kita akan tinggal bersama lagi di ibukota ya?".
__ADS_1
Jirfa berhenti menjadi keras kepala, ia mengangguk "Aku tahu sebagai salah satu pembunuh kepercayaan yang mulia, ayah pasti memiliki banyak tugas penting disini sehingga tidak dapat meninggalkan ibukota. Namun ayah harus selalu menghubungiku dan ibu, paling tidak memakai surat setiap bulannya!".
Menemukan Jirfa akhirnya setuju, sang ayah tersenyum lega "Ayah mengerti, ayah pasti akan selalu menghubungi kalian sesering mungkin sebab ayah juga akan sangat khawatir terhadap keadaan kalian selama kita terpisah jauh".