
Bersamaan dengan teriakan Myro, Rune Kuno pada tombak Myro bersinar, es langsung menutupi seluruh tombak Myro lalu menyebar dengan cepat ke arah belati Jirfa yang membuat senjata mereka saling bergabung.
Jirfa kaget menemukan senjatanya yang tersambung dengan tombak Myro akibat es, ia berusaha memecahkan es pada belati nya serta menjaga jarak dari Myro sebab seorang pembunuh seperti dirinya akan dirugikan kalau bertarung secara langsung melawan prajurit tombak seperti Myro.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu lari? Sejak awal aku membekukan belati milikmu bersama tombak ku adalah untuk menghentikan agar kau tidak melarikan diri, persiapkan dirimu", kata Myro penuh semangat.
Myro menarik tombaknya sehingga Jirfa yang masih memegang 2 belati nya dengan keras kepala ikut tertarik ke arah Myro sebab 2 belati nya masih menempel pada Myro.
Melihat Jirfa yang terlempar ke arah dirinya dengan keadaan tidak siap, tangan kanan Myro lepas dari tombak lalu suhu dingin menutupi seluruh tangannya "Tinju Es!".
Setelah Jirfa ditarik sampai ke jarak serangan tinjunya, Myro memukul tinjunya yang sudah ditutupi oleh es ke arah Jirfa.
.....
Di sisi lain kapal yaitu pada dek bagian atas, pertarungan Mili bersama Holuka tentunya menarik perhatian penumpang yang ada di atas, belum lagi ada banyak sekali penumpang yang berkumpul di sana untuk melihat lautan.
Wajah seorang penjaga muda yang bertugas menjaga kabin atas kapal menjadi suram, ia berjalan mendekat "Tuan dan nona, apabila kalian memounyai masalah, harap jangan selesaikan disini, kalian lihat sendiri ada banyak sekali penumpang lain disini. Belum lagi ada beberapa kemungkinan sihir kalian mengenai bagian penting kapal yang akan menyebabkan kita tenggelam--".
Mili menatap pria tersebut dengan dingin "Kalau kau masih berencana untuk tetap hidup, aku sarankan kau tidak lebih mendekat daripada itu, bahkan lebih baik kau menjauh atau jangan salahkan aku apabila salah satu serangan kami membunuhmu".
"Apa--", penjaga muda itu tidak habis pikir penumpang yang berkelahi di kapal berani membantah dirinya, bagaimanapun ia tentunya mempunyai beberapa kemampuan sehingga dipercaya menjaga ketertiban kapal. Menarik pedangnya, pria muda tersebut mulai meledakkan kekuatan rank 2 miliknya "Karena kalian menolak mendengarkan, jangan salahkan aku--".
Berbeda dari Mili yang masih memberi peringatan, Holuka benar-benar mengabaikan pria tersebut.
Ia bergegas menuju Mili dengan api menakutkan yang mengalir layaknya api pada pedangnya "Semangat Api!".
"Booooom!".
Ledakan besar terjadi di atas kapal, beberapa penumpang berteriak ketakutan lalu memegang pagar pada sekitar mereka agar tidak terlempar akibat ledakan, sedangkan beberapa penumpang lain telah melarikan diri ke lantai bawah yaitu kabin istirahat.
Mili menghentikan pedang Holuka dengan mudah, tapi api pada pedang Holuka menyebar melalui tombak Mili dan bergegas menuju ke arah tangannya untuk membakar dirinya.
__ADS_1
Melihat api yang mendekat, Mili menarik tombaknya tanpa ragu lalu menebas ke arah Holuka dari sisi kanan.
Holuka membelokkan tubuhnya ke belakang yang membuat ia berhasil menghindari tebasa tombak, tapi Holuka kaget menemukan tombak sama sekali tidak melewati tubuhnya melainkan berhenti tepat di atas tubuhnya yang sedang membelok ke belakang.
"Kena kau!", kata Mili yang menjatuhkan tombaknya tanpa ragu ke arah Holuka seperti palu penghakiman.
"Tang!".
Holuka dibuat jatuh ke tanah oleh tombak Mili, namun untungnya ia bergerak tepat waktu sehingga ia terhindar dari tebasan tombak milik Holuka.
Holuka yang menahan kekuatan tombak Mili sambil berbaring di tanah tersenyum mengejek "Siapa yang berpikir orang berdarah dingin seperti dirimu masih dapat memperdulikan kehidupan orang lain, kenapa kau tidak menggunakan kepedulian yang kau miliki ini sewaktu kau membunuh banyak orang di ibukota dulu? Jika kau peduli sekalipun hanya sedikit waktu itu, maka semuanya--".
"Kau terlalu banyak bicara!", kata Mili dingin, ia menekan tombaknya yang ditahan oleh pedang Holuka hingga tepat menyentuh lehernya "Menyerah, setidaknya dengan cara itu aku akan membiarkanmu hidup! Kau sadar bukan sekarang kau berada di dekat kematian? Selama aku menggerakkan tombak ku sedikit lagi hingga menusuk lehermu, kau akan menjadi mayat".
Holuka tersenyum pahit "Begitu, aku lupa bahwa sejak awal tidak ada kesempatan bagi kita untuk berdamai! Milier Lux, aku mengakui bahwa kau merupakan seorang jenderal yang hebat, namun mulai dari detik ini, aku akan menggunakan seluruh kekuatanku, persiapkan dirimu! Meledak lah, bom semangat api!".
"Booooom!".
Api yang kuat melapisi seluruh pedang Holuka, ia menghindari serangan tombak Mili yang berusaha menghentikannya lalu memanfaatkan celah dari Mili yang masih melompat mundur serta belum mendarat ke tanah, ia menusuk pedangnya menuju Mili.
Mili mengubah arah tombaknya dengan gesit, ia menarik tombaknya ke depan tubuhnya yang menghentikan pedang Holuka.
"Tang!".
Ketika tombak Mili dan pedang Holuka saling bertabrakan, api pada pedang Holuka menyebar dengan cepat dan membakar ke arah Mili.
"Kena kau!", teriak Holuka senang sebab Mili akhirnya jatuh menuju api miliknya.
Apa yang mengejutkan Holuka yaitu Mili mengabaikan api yang membakar dirinya, Mili mengulurkan tangannya yang langsung menangkap wajah Holuka lalu berkata "Aura Darah!".
"Aaaaa!", Holuka berteriak kesakitan melangkah mundur lalu jatuh berlutut ke tanah.
__ADS_1
Ia menusukkan pedang di tangan kanannya ke tanah sedangkan tangan kirinya memegang wajahnya, setelah itu Holuka menggertakkan giginya dengan kuat agar tidak berteriak lagi.
Semua penumpang yang belum melarikan diri juga gemetar ketakutan, alasannya saat ini wajah Holuka meleleh. Kulit di wajahnya meleleh yang membuat daging dan darah pada wajahnya mulai terlihat.
Menahan rasa sakitnya, Holuka berdiri sambil menebaskan pedangnya pada Mili "Aku belum kalah!".
Mili menahan tangan kanan Holuka yang memegang pedang memakai tangan kirinya lalu melemparkannya ke samping tanpa masalah, setelah itu ia mengayunkan tombaknya dari bawah.
"Slash!".
Walaupun mencoba menghindar, Holuka masih telat 1 langkah akibat rasa sakit di wajahnya yang membuat reaksi Holuka melambat. Sebuah luka besar tebasan pedang terbentuk di tubuh Holuka akibat tombak Mili, bahkan baju besi milik Holuka hancur dengan mudah seperti kertas di bawah serangan tombak tersebut.
Holuka mundur sejauh 2 langkah, darah terus mengalir dari luka tebasan tombak di tubuhnya.
Tanpa peduli terhadap Holuka yang kesakitan, Mili menusukkan tombaknya ke arah wajah Holuka.
Kali ini Holuka siap, ia menahan tombak Mili memakai pedang miliknya dimana api pada pedang sudah sangat melemah.
"Brak!".
Holuka yang melemah sama sekali tidak mampu menahan kekuatan tombak Mili, ia terlempar hingga menabrak pagar yang menahan dirinya dari terjatuh ke laut.
Memuntahkan seteguk darah, Holuka berusaha berdiri sebab Mili mulai berjalan mendekatinya lagi.
Tetapi tak peduli seberapa keras Holuka berusaha, tubuhnya sama sekali tidak bergerak, lebih tepatnya tubuh miliknya menolak mengikuti perintahnya.
"Menyerah, tubuhmu telah mencapai batasmu! Tetap bertahan hidup dengan luka seberat itu sudah merupakan keajaiban", kata Mili yang berdiri tepat di depan Holuka, ia mengangkat tombaknya "ini akhirnya, aku harap kau beristirahat dengan damai, Rekan ku Holuka!".
Tanpa jejak keraguan sedikitpun di wajahnya, Mili menjatuhkan tombaknya menuju Holuka.
Holuka yang tak bisa bergerak lagi sama sekali tidak dapat menghentikan serangan tombak Mili, jadi ia menutup matanya dengan putus asa "Apakah pada akhirnya aku akan mati disini?".
__ADS_1