
Myro yang berusia 7 tahun perlahan-lahan membuka matanya untuk menemukan dirinya sedang berada di sebuah tempat tidur berwarna putih layaknya rumah sakit, tentunya sebagai seorang anak yang hidup miskin sepanjang hidupnya, Myro belum pernah datang ke tempat yang disebut sebagai rumah sakit ini, apa yang ia ketahui tentang rumah sakit berasal dari cerita orang-orang yang ia kenal.
"Apakah kau sudah bangun nak? Untunglah, aku benar-benar khawatir kau tak akan bangun lagi mengingat luka yang kau terima cukup berat. Walaupun aku sudah menyiapkan tangan pengganti untukmu, namun masih ada resiko besar kematian akibat kehabisan darah, untungnya kau sadar sekarang yang berarti kau tetap hidup", kata seorang pria yang cukup tua.
Myro menatap ke arah asal suara dengan mata kosongnya untuk menemukan seorang pria berambut putih pendek serta kumis berwarna putih, ia memakai jas putih bersih dan terlihat seperti seorang pria berusia 50 tahun.
Ia berjalan mendekati Myro dengan membawa sebuah mangkuk yang memiliki asap berwarna putih "Ini adalah bubur yang baru aku masak, kau baru sembuh sehingga aku menyarankan untuk makan-makanan yang ringan dulu sebelum lukamu pulih sepenuhnya".
Ia mengambil sesendok bubur sebelum mendekatkan sendoknya ke mulut Myro "Ayo, kalau kau tidak makan maka lukamu akan menjadi semakin sulit untuk sembuh".
Myro menatap pria itu dengan wajah kosong "Aku berterima kasih kau telah merawat ku, tapi aku sarankan kau agar berhenti melakukan hal yang sia-sia. Bagaimanapun keberadaan ku tidak diharapkan oleh siapapun, bahkan ayah maupun ibuku. Oleh karena itu, jangan buang-buang waktu milikmu untuk keberadaan yang tidak diharapkan oleh dunia sepertiku".
__ADS_1
Pria tersebut sedikit mengangkat matanya akibat perkataan Myro, ia meletakkan mangkuk bubur ke meja di samping "Begitu, aku sudah merasakan bahwa kau mempunyai masa lalu yang buruk dari mata suram mu sebelum kau kehilangan kesadaran, untunglah aku membawamu ke ruang perawatan milikmu. Kalau kau berada di tempat perawatan umum para prajurit, mereka pasti akan mengabaikan dirimu lalu kau akan mati di keputusasaan seperti yang terjadi sekarang. Tetapi tidak diharapkan dunia ya? Apabila kau berpikir begitu, aku akan bertanya kepadamu nak, siapa yang mengatakan kau perlu hidup atas harapan orang lain? Aku rasa seseorang tak akan mati jika tidak ada yang mengharapkan dirinya".
"Jangan hidup di bawah harapan orang lain, hal tersebut hanya akan membawa beban bagi dirimu sendiri melainkan hiduplah sesuai harapan dirimu sendiri. Lagipula hidupmu adalah milikmu, karena alasan tersebut jangan hidup sesuai harapan orang lain melainkan hiduplah dengan bebas".
"Hidup bebas?", kata Myro dengan mata kosong, namun kali ini ada sedikit cahaya redup di matanya "Apakah aku benar-benar boleh hidup tanpa diharapkan oleh orang lain? Selain itu, hidup seperti apa yang harus aku jalani untuk hidup bebas".
"Tentunya kau boleh tetap hidup, sedangkan apa itu hidup bebas maka hidup lah sesuai apa yang kau rencanakan", kata pria tua tersebut "Masalahnya kau masih anak-anak sehingga cukup sulit untuk hidup bebas secara mandiri ya? Aku tahu, bagaimana kalau kau hidup bersamaku hingga kau cukup dewasa lalu memilih hidupmu sendiri? Aku akan merawat mu sampai cukup dewasa, aku juga akan memberikanmu makanan serta pakaian yang kau butuhkan-- Tidak, kau boleh menganggap ku sebagai keluarga sendiri, bagaimana mulai dengan menyebutku sebagai kakek? Jika kau belum mampu hidup bebas dan butuh harapan orang lain untuk tetap hidup, maka aku adalah orang yang mengharapkan mu supaya tetap hidup, bagaimana? Apakah kau tetap berencana mati?".
"Kakek? Keluarga?", gumam Myro yang berusia 7 tahun, air mata jatuh dari matanya yang diikuti oleh tangisan keras.
"Myro, Myro Aras!", teriak Myro yang terus menangis.
__ADS_1
Girfen sedikit kaget mendengar nama Myro "Ternyata kau juga mempunyai nama keluarga Aras, benar-benar sebuah kebetulan yang hebat. Hari ini hingga ke depannya sampai kau bisa hidup bebas, kita adalah keluarga, Myro".
.....
Pada saat Myro berusia 17 tahun, ia berdiri di depan Girfen yang sedang duduk dengan tembok di belakangnya, seluruh bangunan di sekitar hancur, selain itu Girfen tertutup oleh darah di seluruh tubuhnya.
Girfen yang berada di akhir hidupnya menatap Myro sambil tersenyum meskipun darah mengalir dari mulutnya "Ayolah, kau telah dewasa dan berusia 17 tahun sekarang, jangan menangis begitu seperti anak kecil".
"Kakek, aku tidak mengerti!", tanya Myro yang memegang kuat tangan kanan berwarna hitam seperti besi yang menjadi pengganti tangan kanan miliknya sewaktu ia kehilangan tangan kanan pada usia 7 tahun "Kenapa kau terus menjaga tangan terkutuk ini? Selain itu, kenapa kakek memberikan tangan terkutuk ini padaku? Aku tahu kakek tak pernah bermaksud buruk padaku, tapi tangan kanan yang kakek berikan ini hanya membawa perang dan nasib buruk, bahkan kakek jadi berakhir seperti ini akibat tangan kanan yang ada padaku sekarang. Kenapa? Kenapa kakek tidak membuang tangan kanan terkutuk ini sejak awal sehingga semua hal buruk tidak akan terjadi? Tangan ini hanya membawa malapetaka!".
"Tangan kanan itu adalah sebuah artefak, artefak yang diwarisi secara turun-temurun oleh keluarga kakek, oleh karena itu sekalipun tangan tersebut merupakan tangan kutukan, aku tidak akan bisa membuangnya", kata Girfen tersenyum pahit "Selain itu, tangan kanan hitam yang kau miliki bukan hal yang buruk, jika digunakan dengan tepat maka tangan kanan itu bukan membawakan malapetaka melainkan kekuatan untuk melindungi orang-orang yang berharga bagimu. Myro, aku tahu bahwa kakek sejak dulu mengatakan kau harus hidup dengan bebas, tapi apakah kau dapat melakukan sesuatu untuk kakek? Ini adalah harapanku sebelum aku mati".
__ADS_1
Myro menangis, ia berjalan mendekat lalu memegang tangan Girfen dengan lembut "Selama itu adalah keputusan kakek, aku tidak keberatan harus mati sekalipun".
Girfen tersenyum lembut sedangkan tubuhnya semakin melemah "Bagaimana mungkin aku membiarkan kau mati? Kau pikir aku orang yang kejam seperti itu? Kau tetap perlu hidup dengan bebas, jangan terikat oleh beban apapun. Sedangkan harapan kakek, kau boleh mengabaikannya jika kau merasa hal ini merebut kebebasan milikmu. Myro, tangan kanan yang kau anggap sebagai tangan kutukan tersebut, gunakanlah untuk melindungi orang lain! Lebih tepatnya, lindungilah oleh orang-orang yang pernah bernasib sama seperti dirimu yaitu mereka yang menganggap diri sendiri tidak pernah diharapkan ada di dunia ini. Dengan cara tersebut, kau akan mengerti bahwa tangan kanan hitam yang diwariskan oleh keluarga kita serta yang kau anggap sebagai tangan kanan terkutuk bukanlah sebuah kutukan, melainkan tangan kanan yang kau miliki mampu memberi harapan bagi dirimu atau orang lain, kekuatan untuk melindungi orang-orang yang kau coba untuk lindungi, mereka yang kau anggap berharga!".