
"Kau memang benar, tapi aku memutuskan untuk tetap menyampaikan terima kasih lebih dulu sebab tidak peduli apakah kita berhasil lari disini hidup-hidup atau tetap mati akibat tertangkap musuh, aku sudah berhutang sebanyak 2 kali kepadamu, hutang melindungi hidup", kata Mili tegas sekalipun tubuhnya terus berdarah akibat terluka dari serangan Holuka sebelumnya, bahkan ia cukup kesulitan untuk berlari cepat.
Myro menatap Mili dan tidak berbicara banyak lagi, mereka terus berlari mencoba melarikan diri dari sini.
Di sisi lain, Holuka segera merasakan keanehan. Serangan panah dari tadi hanya ditembakkan oleh kekuatan rank 2, sedangkan sebagian pasukan Marquis terdapat rank 4 atau bahkan rank 7, jadi sejak awal musuh tidak mempunyai kesempatan membunuh sang Marquis maupun mereka semua.
Masalahnya musuh masih berani mencoba menyerang mereka, yang berarti tujuan musuh sejak awal bukanlah membunuh mereka semua menggunakan panah, melainkan--
Holuka yang menyadari kebenaran berteriak keras "Periksa seluruh daerah di sekitar kalian, tujuan panah dan bom asap ini bukan mencoba membunuh kita melainkan mengalihkan perhatian selagi ia membantu Mili! Sialan, aku tidak tahu siapa di dunia ini yang mencoba melindungi wanita haus darah tersebut, namun apapun yang terjadi kita tidak boleh membiarkan mereka lari dari sini! Terutama Mili, ia harus mati!".
Semua orang langsung sadar tujuan sebenarnya dari serangan asap dan panah, mereka mulai berjalan ke sekitar mencoba mencari keberadaan Mili di bawah penutup asap.
Berbeda dari orang-orang lain, Holuka dan Jirfa yang merupakan roh sama sekali tidak mencari ke sekitar melainkan menutup mata mereka dan merasakan daerah sekitar. Mereka merasakan suara dan perubahan udara di sekitar untuk menentukan keberadaan musuh, terutama Holuka, ia mulai menggambarkan semua yang terjadi di pikirannya melalui apa yang ia dengar atau angin yang ia rasakan.
Perlahan-lahan Holuka menangkap suara jejak kaki, ia menarik pedangnya sebelum berlari ke arah asal suara "Disana! Jangan pikir untuk lari dari tanganku".
Api membara di pedang Holuka, ia menebas ke arah asal sumber suara langkah kaki tanpa ragu.
Dari balik asap, sebuah tombak milik Mili muncul yang langsung bertabrakan bersama pedang Holuka.
"Booooom!".
Mili yang sudah melepaskan tangan Myro dan menghentikan pedang Holuka mundur sejauh 5 langkah akibat tabrakan senjata mereka, ia memuntahkan seteguk darah lagi yang menunjukkan lukanya memburuk akibat tabrakan senjata mereka barusan.
Lahipula Mili melemah akibat racun, selain itu ia sempat terluka akibat pedang Holuka, jadi lukanya semakin memburuk akibat tabrakan ini.
__ADS_1
Holuka juga tidak begitu unggul, ia dibuat mundur sejauh 7 langkah akibat tabrakan tombak Mili.
Myro yang melihat semua kejadian tersebut menyimpan busurnya ke belakang lalu mengambil tombak, ia siap membantu Mili sebelum sesuatu yang mengejutkan terjadi.
"Stab!".
Myro merasakan rasa sakit dari perutnya sehingga ia menunduk untuk menemukan sebuah belati menusuk perutnya dari belakang hingga tembus ke depan, sebuah aliran darah jatuh dari mulut Myro serta ia memuntahkan seteguk darah lagi sebab luka yang diterima bukanlah sebuah luka ringan.
Di bawah mata Myro, bagian belakangnya yang tadi kosong perlahan-lahan muncul sosok Jirfa yang merupakan orang yang menusuk Myro dari belakang.
Jirfa menarik belatinya dari tubuh Myro dan berkata dingin "Dari sikapmu, aku yakin kau adalah seorang prajurit yang telah melalui banyak medan perang, seandainya kau melawan orang lain bahkan rank 5 sekalipun, aku yakin kau mungkin dapat melarikan diri. Tetapi biarkan aku memberimu nasihat, tidak peduli seberapa kuat dirimu, jangan ikut di pertarungan antara roh atau kau akan kehilangan hidupmu! Apalagi aku melihat kau dan Mili bukan tuan serta rohnya! Aku rasa tidak ada gunanya juga memberimu saran ini, bagaimanapun kau akan mati".
Setelah belati dilepas dari tubuhnya, Myro jatuh ke tanah dan sebuah kolam darah kecil terbentuk di bawah tubuh Myro yang jatuh. Mata Myro yang tadinya bersinar mulai menjadi redup, tanda-tanda kehidupan di seluruh tubuh Myro mulai melemah.
"Myro!", Mili berteriak panik serta marah, ia berlari menuju Myro dan bersiap membunuj Jirfa yang masih berdiri di samping tubuh Myro.
Di sisi lain, Mili yang merasakan serangan Holuka langsung mengabaikannya. Mili tahu ia akan mati disini, setidaknya Mili tidak yakin dengan kondisinya sekarang, ia bisa melarikan diri dari pengawasan 2 roh.
Meskipun begitu, sebelum mati Mili bertekad membunuh Jirfa, alasan utamanya yaitu sebuah balas dendam bagi Myro yang sudah membantunya sebanyak 2 kali.
Jirfa mengangkat belatinya, bersiap menghentikan serangan Mili. Ia cukup percaya diri mampu menghentikan tombak Mili kali ini sebab Mili sudah banyak melemah akibat terluka, belum lagi serangannya kali ini begitu gegabah yang membuat Jirfa semakin yakin untuk menghentikannya.
Di sisi lain, pedang Holuka sangat dekat dari Mili, selama 1 serangan Mili gagal membunuh Jirfa, maka pedang Holuka pasti langsung membunuhnya yang membuat serangan Mili menjadi sia-sia karena ia gagal membunuh Jirfa.
Oleh karena itu, Jirfa bertekad menghentikan 1 serangan Mili ini lalu membiarkan Holuka membunuhnya.
__ADS_1
Jirfa benar-benar merasakan tekanan yang besar dari serangan Mili, apalagi perbedaan kekuatan mereka cukup besar.
Mili mengangkat tombaknya tanpa ragu lalu sedikit berputar sebelum menebas ke arah leher Jirfa dari sisi kanan tanpa ragu, kekuatan yang besar dapat dirasakan dari serangan Mili ini yang membuat Jirfa berkeringat dingin.
Pada keadaan hidup dan mati, Jirfa mengingat apa yang ayahnya katakan dulu, ayah Jirfa adalah seorang pembunuh hebat serta guru dari Jirfa sendiri yang mengajari hampir semua cara bertarung Jirfa sekarang.
.....
"Dengar baik-baik, Jirfa!", kata seorang pria berusia sekitar 50 tahun yang tersenyum ramah tanpa ada sedikitpun jejak yang menunjukkan ia adalah seorang pembunuh "Kita sebagai pembunuh yang menggunakan 2 belati pasti akan dirugikan apabila menghadapi serangan langsung dari tombak maupun pedang musuh, terutama jika kekuatan mereka lebih kuat daripada kita. Karena alasan tersebut, biarkan ayah mengajarimu sebuah cara kalau kau perlu menghadapi serangan kuat dari musuh! Caranya adalah jangan menahan serangan mereka melainkan--".
.....
Jirfa perlahan-lahan membuka matanya dan berteriak dipikirannya "Melempar serangan musuh lalu mengubah arah serangannya!".
Jirfa mendorong 2 belarinya sekuat tenaga yang bertabrakan keras bersama tombak Mili.
"Tang!".
Baik Mili ataupun Holuka kaget menemukan Jirfa berhasil membelokkan tombak Mili ke sisi kanannya, paling banyak tombak Mili hanya menggores baju zirah milik Jirfa.
"Kerja bagus, Jirfa! Sekarang, serahkan semuanya padaku. Semangat Api!", dengan teriakan Holuka, api yang menutupi seluruh pedangnya semakin membara layaknya mendapatkan bahan bakar baru, ia menebas menuju Mili dari belakang tanpa ragu.
Menyadari ia gagal membunuh Jirfa serta serangan Holuka menunggu di belakangnya, Mili mengerti ia terlalu gegabah akibat ditutupi kemarahan dari kematian Myro.
Walaupun begitu Mili tidak menyesal, sejak awal ia tidak mempunyai kesempatan melarikan diri dari sini, jadi apa bedanya mati lebih lambat ataupun sedikit cepat.
__ADS_1
Menutup matanya, Mili bergumam "Pada akhirnya aku akan mati disini, maaf Myro! Padahal kau sudah banyak membantuku, tapi aku tidak pernah bisa melakukan apapun untuk membalasmu, bahkan aku gagal membalaskan dendammu".
Pedang api Holuka segera jatuh menebas Mili.