
Myro dan Mili sama sekali tidak bisa melihat apapun yang terjadi di bola kegelapan, tapi mereka masih dapat mendengar semua suara Jirfa serta ayahnya sehingga mereka kurang lebih tahu apa yang terjadi yaitu ayahnya mulai mencoba merebut tubuh Jirfa.
"Tuan, aku rasa sudah waktunya untuk mulai membunuh mereka. Kalau ayahnya berhasil merebut tubuh Jirfa, semuanya akan menjadi semakin merepotkan. Bagaimanapun aku pernah melawan ayahnya secara langsung, kekuatannya berkali-kali lipat di atas Jirfa. Apapun yang terjadi, kita tak boleh membiarkan ia sampai berhasil merebut tubuhnya. Bukan berarti aku tidak bisa mengalahkannya jika ia berhasil, tapi ada kemungkinan aku juga akan kalah", kata Mili dengan hati-hati, lagipula hingga sekarang ia masih memiliki alasan kenapa dirinya belum memakai kekuatan penuhnya. Apabila tidak memakai kekuatan penuh, Mili kurang yakin mampu mengalahkan Ayah Jirfa "Oleh karena itu, siapa yang akan membunuhnya? Jika tuan merasa keberatan harus membunuh seorang wanita, aku tidak keberatan untuk melakukannya. Bagaimanapun tuan memang seorang prajurit, tapi aku merasa tuan sedikit seperti Ksatria yang berjiwa keadilan".
"Seperti Ksatria ya?", gumam Myro sedikit terkejut sebab di Kerajaan Barga dulu ia terkenal sebagai pembunuh berdarah dingin oleh orang-orang dari Kerajaan Talem, kecuali hanya 1 orang yang mengatakan ia juga mirip kayaknya Ksatria, sama seperti yang dikatakan Mili tadi "Aku dulunya juga seorang pembunuh berdarah dingin, tak jauh berbeda dari Jirfa maupun ayahnya, tapi seseorang benar-benar membuatku berubah. Siapa yang berpiki, seorang prajurit yang berjuang hidup dan mati di medan perang selama puluhan tahun berubah oleh seorang wanita muda yang bahkan belum pernah melihat dunia? Meskipun begitu, aku tetap tidak akan menyerahkan tugas membunuh musuhku kepada orang lain, lagipula sejak awal pertarungan di mulai maka aku sudah siap membuat tanganku tertutup oleh darah".
Myro berjalan mengambil tombaknya yang terlempar sewaktu pertarungan tadi, ia berjalan mendekati bola kegelapan tanpa ragu sedikitpun.
Mili menatap Myro yang terus melangkah maju mendekati bola kegelapan dengan langkah tegas sebelum bergumam "Itulah kenapa aku mengatakan dirimu seperti seorang ksatria, sampai sekarang sekalipun kau tetap menganggapku sebagai seorang wanita muda yang perlu dilindungi hingga menolak membuatku membunuh Jirfa dan membuat tanganku penuh darah, padahal kau sendiri tahu seberapa berdarah diriku di masa lalu. Yah, aku rasa karena sifatnya yang seperti Ksatria itu, aku memutuskan untuk mengakuinya sebagai tuanku".
Mili bergumam dengan suara kecil sehingga Myro sama sekali tidak mendengar apapun yang ia katakan, apalagi sekarang semua perhatian Myro tertuju pada bola kegelapan tersebut.
Menarik nafasnya, Myro berdiri di depan bola kegelapan sambil memegang tombaknya dengan kuat "Ini adalah medan perang, pemenang akan tetap hidup sedangkan yang kalah akan terbunuh, jadi jangan salahkan diriku".
Myro yang sedang mencari keberadaan Jirfa di bola kegelapan akhirnya memutuskan sebuah lokasi, Myro menyadarinya bukan dari melihat posisi Jirfa di bola kegelapan melainkan ia mendengarkan suara mereka lalu menebak arah dimana mereka berada.
Setelah yakin atas posisi Jirfa, Myro memutuskan untuk menyerang. Namun ketika sedang mengayunkan tombaknya dan kekuatan es mulai mengalir di seluruh tombak, langkah Myro berhenti akibat mendengar percakapan antara Jirfa dan ayahnya.
__ADS_1
Dibalik bola kegelapan, Myro mendengar suara Jirfa yang penuh kesakitan "Ayah, kenapa? Apakah selama ini Jirfa belum cukup baik? Apakah Jirfa gagal menjadi seorang anak? Apakah Jirfa melakukan kesalahan sehingga membuat ayah marah?".
Myro benar-benar mendengar rasa sakit yang kuat dari suara Jirfa, bagaimanapun ia sedang sakit secara fisik dimana tubuhnya sedang direbut serta jiwa sebab ayah yang ia percaya rupanya selama ini hanya merawat dirinya sebagai wadah.
Suara ayah Jirfa yang penuh rasa dingin terdengar "Salah? Kau sama sekali tidak salah apapun Jirfa, bahkan kau merupakan anak yang baik. Tetapi sejak awal baik aku ataupun ibu tak mengharapkan apapun kepadamu, kami tidak mengharapkanmu sebagai anak kami melainkan sejak awal kami sudah mengharapkan dirimu sebagai wadah pengganti bagi diriku agar terus hidup. Jadi kau tidak salah apapun melainkan sejak awal kami tidak berharap kau menjadi anak kami, harapan kami adalah agar kau menjadi wadah yang tepat bagiku, sekarang kau telah melaksanakan tugasmu dengan baik, ayah benar-benar senang".
Myro benar-benar menghentikan tombaknya sebab perkataan ayah Jirfa tadi mengingatkan Myro akan masa lalunya, lebih tepatnya itu adalah ayah dan ibu Myro sendiri.
.....
Di siang hari sekalipun, ia sedang meminum minuman keras hingga mabuk tanpa peduli pada keadaan sekitarnya.
Ketika ia sedang sibuk meminum minuman keras, seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun berjalan mendekatinga sambil membawa uang di tangannya "Ayah, lihat! Aku membawa uang lebih banyak kali ini, ada banyak orang yang memberikanku uang lebih dari sebelumnya, dengan ini ayah bisa membeli lebih banyak makanan dibandingkan hati-hati sebelumnya".
Pria tersebut langsung berhenti meminum minuman keras pada botol kaca miliknya, ia menatap ke arah uang yang ada di tangan anak tersebut sebelum melempar botol kaca miliknya penuh kemarahan ke kepala Myro "Myro Aras, Anak bodoh, berapa kali aku bilang jangan memanggilku ayah! Selain itu uang yang kau bawa masih belum cukup, ayah belum bisa cukup minum dengan uang segitu! Dasar anak tidak berguna, sejak awal baik aku ataupun ibumu sama sekali tidak berharap melahirkanmu. Bahkan ibumu meninggalkan diriku dan kau lalu pergi bersama pria lain, sejak awal keberadaanmu tidak diharapkan oleh kami".
Akibat lemparan botol di kepalanya, Myro tentu jatuh ke tanah dengan kepala berdarah.
__ADS_1
Sebagai anak berusia 5 tahun, Myro tentunya langsung menangis akibat kejadian tersebut.
Tetapi ayahnya mengabaikan tangisan Myro, ia mengambil uang yang jatuh ke tanah sebelum menendang Myro sekali dan berjalan pergi "Selain menangis, apakah tidak ada hal lain yang bisa kau lakukan? Daripada menangis seperti itu, pergi cari uang! Dengan uang segini, aku hanya dapat membeli sebotol anggur!".
Ayahnya pergi tanpa memperhatikan Myro yang terus menangis. Tidak diketahui berapa lama waktu berlalu, Myro berdiri dari tanah, menghapus jejak air mata di wajahnya sebelum pergi untuk mencari uang lagi sebab ia tak mempunyai siapapun lagi selain ayahnya.
.....
Pada usia 7 tahun, seluruh kota dimana Myro berada hancur ataupyn terbakar.
Myro sedang duduk dengan tembok rumah di belakangnya, ada banyak darah di seluruh tubuh Myro serta tangan kanannya lepas dari tubuhnya, seorang prajurit Kerajaan Talem yang menyerbu kota ini menebas tangan kanan Myro tanpa ragu tidak peduli apakah ia anak-anak atau bukan.
Myro menatap tubuh ayahnya yang berbaring di tanah tak jauh dari sana, ada banyak darah di tubuhnya serta kemungkinan besar sudah mati.
Menghela nafas, Myro menatap ke arah langit yang gelap akibat asap dari pembakaran kota "Kenapa aku tidak pernah mengalami kebahagiaan ataupun keberuntungan apapun sejak aku hidup? Tidak, lebih tepatnya apa yang ayah katakan mungkin benar, sejak awal aku bukan sesuatu yang diharapkan untuk ada di dunia ini, karena itu hidupku selalu bernasib buruk".
Myro yang perlahan-lahan kehilangan kesadarannya hanya me dengar suara orang yang tidak dikenal "Disini, ada seorang anak yang masih hidup tapi lukanya cukup berat! Kalau tidak segera diobati, ia mungkin mati! Cepat, panggil kelompok penyembuh".
__ADS_1