PERTARUNGAN 1000 ROH

PERTARUNGAN 1000 ROH
BAB 32 : INI UNTUK LIRISA


__ADS_3

Holuka terus mendekat sambil berkata mengejek "Kenapa kau hanya diam tanpa mengatakan apapun? Apakah kau mengakui kekalahan mu?".


Saat Holuka terus berjalan mendekat, ia bersiap menunggu celah untuk membunuh Mili selama ia sibuk menghadapi 4 pedang miliknya.


Tetapi setelah jarak Holuka tinggal 4 meter dari Mili, akhirnya Mili yang sibuk menahan 4 pedang terbang membuka mulutnya dan terus menghalangi 4 pedang terbang yang mencoba membunuhnya tanpa memberi kesempatan untuk melarikan diri lagi "Kau benar tentang aku yang sedang terdesak sekarang, namun kau tahu, sebenarnya orang yang menunggu kesempatan untuk menang sekarang adalah aku. Walaupun aku tak tahu apakah ia berhasil atau tidak, namun aku hanya perlu percaya padanya, seperti dia yang percaya padaku dan melindungi hidupku berkali-kali".


"Apa yang kau maksud--", Holuka berencana menanyakan perkataan Mili tadi sebab ia sama sekali tidak mengerti, tapi pertanyaannya langsung terhenti lalu Holuka merasakan sakit dari seluruh tubuhnya.


Holuka jatuh berlutut serta memuntahkan seteguk darah, ia merasa kekuatan di tubuhnya melemah.


Menatap darah di tanah, Holuka kebingungan ia tak mengerti kenapa dirinya terluka serta melemah secara mendadak, tapi ia memikirkan sesuatu "Tidak mungkin, jangan bilang sesuatu terjadi kepada tuan?".


Berbeda dari Holuka yang masih bingung, Mili merasa senang sebab 4 pedang api yang daritadi menyerang akhirnya jatuh ke tanah.


Sebenarnya selama berada di ruang mesin tadi sebelum Holuka datang, Mili menemukan tumpukan salju di bawah kakinya membentuk sesuatu yang aneh. Ketika ia melihatnya dengan hati-hati, Mili menyadari bahwa itu merupakan tulisan yang memberitahunya bahwa Myro akan memberi kesempatan ia membunuh Holuka dengan cara Myro terlebih dulu membunuh tuan mereka untuk melemahkan Holuka.


Kalau itu orang lain, Mili belum tentu percaya terhadap rencana yang ia tawarkan karena ada resiko besar direncana ini. Resikonya apabila ia sedang sibuk menarik perhatian Holuka agar mendekat, namun Myro gagal membunuh Marquis Bonjer maka orang yang akan mati adalah dirinya.


Oleh karena itu, ia tidak akan percaya dengan mudah jika orang lain yang menawarkan rencana, masalahnya Myro berbeda, ia percaya pada Myro yang merupakan tuannya serta datang berkali-kali mengambil resiko untuk melindungi dirinya.


Mili tentunya tidak membuang kesempatan yang ada di depan mata, melainkan ia telah menunggu kesempatan ini.


Dengan jatuhnya semua pedang api, Mili berlari menutup jarak dirinya dengan Holuka. Lalu ia menebas tombaknya tanpa ragu ke arah Holuka yang masih berlutut di tanah.

__ADS_1


Kali ini wajah Holuka benar-benar panik, bukan sesuatu yang dibuat-buat seperti sebelumnya.


Ia berusaha menghentikan pedang Mili memakai pedangnya, tapi kematian Marquis Bonjer benar-benar menjadi masalah besar baginya, kekuatan ia sangat melemah sampai-sampai mengangkat pedang pun sudah sangat sulit bagi dirinya.


Tepat sebelum Holuka mengangkat pedangnya, tombak Mili menebas tubuhnya.


"Slash!".


Luka tebasan Mili benar-benar fatal, darah berterbangan dari luka tebasan tersebut.


Mili yang berada di belakang Holuka mengayunkan tombaknya sehingga semua darah yang ada di tombak langsung terbuang, ia menatap tubuh Holuka yang jatuh ke tanah dan yakin luka fatal yang ia berikan pasti membunuh dirinya.


Bagaimanapun Mili telah melalui banyak medan perang di masa lalu, ia tahu luka mana yang akan membunuh orang lain maupun luka yang belum cukup fatal.


"Sekalipun aku menggunakan Kekuatan Inti, pada akhirnya aku masih kalah?", gumam Holuka dipikirannya, matanya menjadi semakin redup yang menunjukkan ia mendekati akhir hidupnya "Padahal musuh juga belum memakai Serangan Intinya, tapi aku tetap kalah, apanya yang balas dendam? Apa gunanya latihan yang aku jalani di kehidupan sebelumnya hingga aku mati? Pada akhirnya aku tetap kalah. Lirisa, maaf, pada akhirnya aku mengecewakan dirimu serta gagal membalaskan dendammu--".


Holuka mulai menutup matanya yang sudah terasa berat dari tadi, darah di tubuhnya terus menyebar ke tanah yang membentuk sebuah kolam darah kecil.


Di bawah keadaan tak sadar, Holuka melihat sosok Lirisa yang berlari dengan senyum lebar di wajahnya, ia berbalik untuk melihat ke arah Holuka yang masih berbaring di tanah "Holuka!".


Lalu ia menyadari tempat di sekitarnya berubah menjadi ruang makan, Lirisa meletakkan sarapan bagi dirinya yang akan berangkat kerja "Ayok makan bersama, Holuka!".


.....

__ADS_1


Mata Holuka yang telah menjadi redup perlahan-lahan kembali terbuka, jejak api terlihat melalui matanya.


Pada awalnya itu hanya api kecil, tapi perlahan-lahan api di matanya menjadi semakin besar hingga membara di seluruh matanya. Bukan hanya itu, api menyebar ke seluruh tubuhnya yang membuat seluruh tubuh Holuka tertutup oleh api, bahkan pedang api yang telah padan serta jatuh ke tanah mulai berputar-putar serta terbang lagi.


Mili tentunya menyadari keanehan tersebut, ia berbalik lalu menatap tajam ke arah Holuka yang berbaring di tanah "Apakah kau belum mati? Keras kepala sekali, padahal hidupmu tidak lama lag--".


"Slash!".


Sebuah pedang api terbang tepat di samping wajah Mili yang membentuk sebuah goresan pada wajahnya, Mili benar-benar kaget sebab gerakan pedang tadi terlalu cepat. Meskipun Mili memang belum siap, ia seharusnya tetap menyadari gerakan pedang terbang Holuka.


Darah mengalir dari goresan di wajah Mili, ia tidak panik melainkan bergumam kesah "Nampaknya kecepatan serta kekuatan mu meningkatkan, apakah ini adalah peningkatan kekuatan sebelum mati? Sangat merepotkan, kenapa kau begitu keras kepala setelah mendekati kematian?".


Holuka berdiri secara perlahan-lahan, semua pedang terbang mulai berputar-putar di sekitar dirinya untuk melindungi Holuka yang berdiri.


Sebenarnya luka di tubuh Holuka fatal hingga akan membunuh dirinya, tapi api yang membakar tubuh Holuka saat ini sedang menahan lukanya supaya berhenti memburuk sehingga membuat Holuka mampu hidup lebih lama.


Holuka menatap ke arah Mili dengan mata uang dilapisi oleh api yang membara "Walaupun aku perlu mati, aku pasti membunuhmu sebagai bentuk balas dendam ku! Aku akan membawamu ikut mati bersamaku, Milier Lux, ini untuk Lirisa!".


Wajah Mili juga menjadi berhati-hati ia merasakan perbedaan kekuatan yang besar antara Holuka yang dulu serta sekarang. Jika dibandingkan, Holuka yang sekarang bisa melawan dirinya dari segi kekuatan maupun kecepatan.


Ketika Mili baru bersiap menyerang, 4 pedang terbang mulai bergegas menuju Mili


"Tang!".

__ADS_1


Gerakan pedang terbang kali ini lebih cepat daripada sebelumnya, Mili hanya berhasil menghentikan 2 pedang terbang sedangkan 2 pedang terbang yang lain berhasil memberikan luka goresan pada tangan kiri serta kaki kanannya.


__ADS_2