PERTARUNGAN 1000 ROH

PERTARUNGAN 1000 ROH
BAB 34 : SERANGAN INTI MILI


__ADS_3

"Krak!".


Gambar pria tersebut dipikiran Mili langsung retak hingga hancur sepenuhnya, Mili membuka matanya lagi dengan ada sedikit jejak kesedihan pada matanya "Buka Serangan Inti--".


Mili yang akan membuka mulutnya menemukan seluruh mulutnya bergetar, ia sama sekali tidak bisa mengucapkan kalimat selanjutnya.


Perlahan-lahan seluruh aura di tubuh Mili yang sebelumnya bersinar terang berubah menjadi warna merah darah, bola matanya yang bercahaya ikut berubah kembali menjadi merah yang sedikit bersinar layaknya sebuah rubi di bawah sinar cahaya.


Mulut Mili berhenti bergetar, ia lanjut berkata penuh rasa tegas serta di sisi lain ada jejak kepahitan pada setiap perkataannya "Jendral Tirani!".


Suhu ruangan yang panas berubah menjadi suhu normal dengan sekejap mata, selain itu apa yang mengejutkan Holuka adalah ia tak lagi berada di ruangan mesin melainkan ia berada di sebuah tempat yang hanya ada warna merah kecuali dirinya serta Mili.


Holuka menatap ke arah langit dimana seluruh langit hanya sebuah warna merah tanpa awal, sedangkan di bawah kakinya seperti sebuah kolam air yang berwarna merah.


Tidak, apa yang ada di bawah kakinya sama sekali bukan air, alasan Holuka yakin akan hal tersebut bukan karena air di bawah kakinya berwarna merah melainkan ia merasakan aroma yang sering ia temui dulu selama di medan perang. Apa yang Holuka rasakan yaitu aroma dari darah di medan perang dimana ada banyak sekali mayat serta darah yang tersebar sehingga menyebabkan aroma busuk yang tidak akan pernah Holuka lupakan.


Rasa terkejut Holuka belum berhenti sampai di situ, ia mulai menemukan tumpukan darah di bawah kakinya bergetar dengan hebat.


Semua darah menyebar membentuk sebuah gelombang seperti tsunami setinggi 100 meter yang berhadapan langsung melawan tornado api miliknya.


"Brak!".


Ombak darah serta badai api saling bertabrakan, pada awalnya badai api masih mencoba melawan ombak darah. Tetapi di bawah serangab ombak darah, badai api langsung tertelan oleh ombak.

__ADS_1


"Booooom!".


Setelah menelan badai api, ombak darah jatuh ke tanah yang menimbulkan suara ledakan.


Dengan sekali kekuatan ombak, serangan penuh dari Holuka hancur dengan mudah yang membuat Holuka sedikit kesulitan untuk mempercayainya.


Holuka menatap ke arah tempat dimana ombak sebelumnya jatuh yang mana ia menemukan 4 pedang terbang api miliknya berada diantara kolam darah.


Alasan serangan badai api tadi sangat kuat adalah gabungan dari 4 pedang terbang ini, namun dengan menghilangnya badai api maka sosok 4 pedang ini kembali terlihat.


Holuka berusaha menarik kembali 4 pedang api miliknya.


Masalahnya sebelum mampu menarik pedang api, Holuka menemukan sebagian dari kakinya tenggelam ke kolam darah. Bukan hanya itu, tubuhnya semakin jatuh ke kolam darah seiring berjalannya waktu seakan-akan kolam darah berusaha memakan dirinya.


Di sisi lain, Mili tetap berdiri diam di tempat menatap Holuka yang semakin tenggelam dengan wajah tak peduli seakan-akan ia tidak melihat Holuka.


Mengabaikan keberadaan Mili, Holuka berusaha menarik kembali 4 pedang terbang miliknya.


"Kenapa 4 pedang milikku tidak memberikan respon apapun?", teriak Holuka panik "Kembali! Kembali!".


Tak peduli seberapa keras Holuka berteriak, 4 pedang api sama sekali tidak memberikan tanggapan apapun melainkan terus semamin tenggelam di kolam darah.


"Kalau sudah begini, biar aku bakar seluruhnya!", teriak Holuka penuh kepanikan, api yang kuat langsung membakar dirinya.

__ADS_1


Namun Holuka yang memperkuat api di sekitar tubuhnya menyadari bahwa seiring waktu, api di sekitarnya bukan menjadi lebih kuat melainkan semakin melemah, terutama kolam darah di bawah kakinya membuat dirinya lebih tenggelam.


Setelah tubuhnya tenggelam sebanyak setengahnya, Holuka menyadari ia telah kalah. Apalagi ia telah tidak menerima respon dari 4 pedang api miliknya yang berarti hanya 1 hal, 4 pedang api itu sudah hancur atau menghilang akibat kolam darah.


Walaupun tahu dirinya kalah tanpa kesempatan menang, Holuka berteriak tak terima "Kenapa? Kenapa aku belum bisa menang? Padahal aku sudah berlatih selama puluhan tahun tanpa henti, tapi kenapa perbedaan kekuatan kita masih sejauh ini? Kenapa aku bahkan belum mampu mengejar bayanganmu, Milier Lux? Kenapa aku belum cukup kuat untuk melindungi Lirisa? Jawab aku, Nona Milier Lux! Apa hal yang salah dari semua yang aku lakukan!".


Wajah Mili yang daritadi terlihat mengabaikan Holuka akhirnya menunjukkan jejak kesedihan, ia berjalan perlahan-lahan mendekati Holuka yang semakin tenggelam ke lautan darah.


Melihat Mili yang terus mendekat, Holuka berteriak "Apakah dendam ku kurang? Apakah perasaanku pada Lirisa kurang? Apakah karena aku masih terlalu baik? Apakah aku masih kurang haus darah seperti dirimu hingga aku belum bisa menang? Aku mohon, jawab aku, Nona Mili. Bagaimana aku memberikan penjelasan kepada Lirisa kalau aku bertemu dengannya tanpa berhasil membalaskan dendam padanya?".


Meskipun dirinya diejek, Mili yang berdiri di depan Holuka membungkukan badannya "Holuka, maafkan aku atas semua yang aku perbuat! Seandainya aku tidak terlambat hari itu, semuanya pasti tidak terjadi. Apabila menyalahkanku dapat membuatmu menjadi damai, maka jangan ragu untuk menyalahkanku. Namun biarkan aku memberitahumu 1 hal, Lirisa adalah wanita yang baik, ia pasti tak akan menyalahkanmu karena gagal membalas dendam atau apapun. Aku yakin, dibandingkan menyalahkanmu, ketika ia bertemu denganmu lagi maka Lirisa akan mengatakan bahwa ia sudah menunggumu sejak lama".


Di tengah kematian dengan leher yang telah hampir tenggelam ke kolam darah, Holuka akhirnya menjatuhkan air mata "Jangan berbicara seakan-akan kau memahami Lirisa! Orang yang membunuh Lirisa seperti dirimu mana bisa memahami apa yang dia pikirkan? Aku adalah prianya, tapi aku gagal melindunginya--".


"Karena aku adalah orang yang membunuh Lirisa, aku paham apa yang dia rasakan!", teriak Mili yang mengangkat kepalanya, ada jejak kesedihan berat di mata merah Mili namun ia tetap menahan diri agar tak menangis "Kau tahu apa yang dia katakan pada saat-saat terakhir? Sewaktu dia bukan dirinya lagi, dia masih mengingatmu. Lirisa tetap mengatakan kepadaku pada waktu-waktu terakhirnya bahwa kau tidak bersalah, dia berharap kepadaku supaya membiarkan kau terus hidup, dia berkata kepadaku sebelum mati bahwa satu-satunya penyesalan dia sebelum mati yaitu belum bertemu denganmu serta melahirkan anak kalian!".


Holuka akhirnya tidak dapat menahan air matanya lagi, ia menangis sambil berteriak "Lirisa! Lirisa! Aku--".


"Holuka!".


Mendengar suara teriakan itu, tubuh Holuka membeku.


Ia membalikkan kepalanya penuh kesulitan, meskipun terganggu oleh kolam darah yang menenggelamkan dirinya, Holuka tetap keras kepala membalikkan kepalanya untuk melihat wanita bergaun putih murni yang berdiri di belakangnya dengan senyuman lembut.

__ADS_1


__ADS_2