
Saat ini Holuka sedang berdiri di samping sebuah makam yang tak lain merupakan makan Lirisa, mata Holula yang dulu bersinar terang penuh harapan sekarang terlihat gelap serta kosong.
Seorang pria yang terlihat cukup tua berusia 70 tahun disertai banyak pengawal berjalan mendekat "Holuka, apakah kau yakin untuk benar-benar pergi dari militer? Walaupun ibukota telah hancur dan semua keluarga kerajaan di ibukota terbunuh, Kerajaan Alv sama sekali belum berakhir! Selama bangsawan dan para pejabat seperti kita bergabung, bukan tidak mungkin membangun ibukota lagi. Selain itu dengan semua jasa yang kau miliki selama ini, setelah ibukota di bangun kembali, maka kau akan mendapatkan jabatan yang--".
"Kapten", Holuka langsung memotong perkataan pria tua tersebut sedangkan matanya terus menatap ke arah makam Lirisa "Aku berterima kasih atas perawatan anda selama ini, aku juga tahu bahwa anda berusaha membujuk ku agar aku tak melakukan tindakan bodoh, jadi aku sangat berterima kasih atas semua perhatian anda selama ini. Namun aku yang sekarang sudah tidak bisa kembali lagi, aku tinggal sendirian di dunia ini, tanpa ada satupun keluargaku yang tersisa. Bahkan aku sedikit merasa lelah untuk hidup, apabila bukan untuk membalas dendam atas kematian Lirisa, aku mungkin telah mengakhiri rasa lelah ini sejak lama".
Pria tua itu terkejut terhadap perkataan Holuka, sebagai kapten Holuka sejak awal, ia mengetahui orang seperti apa Holuka. Bahkan di tengah situasi putus asa sewaktu mereka melawan iblis, Holuka tetap semangat dan pantang menyerah yang ikut membuat rekan lainnya menjadi semangat, oleh karena itu Holuka dijuluki Semangat Api. Bukan hanya karena nama kekuatannya, melainkan ia sendiri seperti api yang tak pernah kehilangan semangatnya di situasi apapun.
"Holuka, aku mengerti apa yang kau rasakan, semua orang tentunya kehilangan keluarga mereka juga. namun orang yang melakukan semua ini adalah Jendral Milier Lux, kita sama sekali bukan lawannya sekalipun saling bekerja sama. Di sisi lain, Jendral Milier Lux juga telah menghilang sejak kejadian hancurnya ibukota. Kelompok pencarian dengan jumlah yang besar sudah mencarinya kemana-mana, tapi sama sekali tidak ada sedikitpun jejak yang ia tinggalkan berhasil ditemu--", kapten berusaha membujuk Holuka sekali lagi sebab mereka sudah lama menjadi rekan di medan perang. Apalagi ia menganggap Holuka bukan hanya sekedar prajurit bawahannya melainkan ia menganggap Holuka sebagai rekan hidup dan mati.
Menghadapi bujukan kaptennya, Holuka menatap makam Lirisa untuk yang terakhir kalinya sebelum berjalan pergi "Kapten, aku tahu apa yang sedang anda lakukan serta kenapa anda sampai melakukan semua ini, anda melakukannya untuk diriku. Walaupun Jendral Milier Lux menghilang tanpa jejak, aku akan mencarinya. Aku mungkin bukan lawannya serta gagal membalaskan dendam Lirisa untuk membunuhnya, namun paling tidak aku bisa menanyakan sesuatu kepada sang jendral yaitu kenapa harus Lirisa yang mati?".
"Apabila aku yang dibunuh, aku dapat menerimanya. bagaimanapun tanganku dipenuhi oleh darah, baik itu orang jahat ataupun baik, selama ada perintah dari Kerajaan Alv maka aku akan membunuhnya. Tetapi Lirisa berbeda, ia sama sekali tidak bersalah. Bukan hanya itu, ia belum pernah membunuh orang lain sebelumnya. Baik ia ataupun ayahnya adalah orang baik yang mencoba mengajari anak-anak miskin agar menjadi cerdas lalu mengubah nasib mereka. Oleh karena itu, sekalipun gagal membunuh Mili, aku akan bertanya padanya, kenapa Lirisa harus mati? Kenapa ia membunuh Lirisa sedangkan aku tetap hidup?".
Setelah itu, Holuka berjalan pergi meninggalkan sang kapten yang berdiri diam di tempat dengan wajah sedih. Ia masih berencana menghentikan Holuka, masalahnya ia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Holuka tadi sehingga ia tetap terdiam sampai sosok Holuka menghilang sepenuhnya.
Ketika dirinya mati, Holuka belum pernah menemukan Mili sehingga jawaban dari pertanyaannya belum juga ditemukan sampai akhir.
__ADS_1
.....
Kembali ke Holuka yang wajahnya telah hancur dan tombak Mili sedang jatuh ke arah dirinya, selama tombak tersebut jatuh maka Holuka pasti benar-benar mati.
Di tengah keputusasaan, Holuka tiba-tiba melihat sosok Lirisa yang sedang berada di antara taman bunga.
Meskipun ada banyak sekali bunga di sana, mata Lirisa terfokus kepada 1 bunga yang tidak lain merupakan bunga mawar.
Melihat Lirisa yang perhatian terhadap bunga mawar daritadi, Holuka berjalan mendekat "Ada apa, Lirisa? Nampaknya kau terlihat sangat tertarik kepada bunga mawar tersebut".
Mendengar panggilan Holuka, Lirisa kembali sadar. Ia menatap ke arah Holuka dengan senyuman lembut "Aku merasakan bahwa kau sedikit mirip dengan mawar, Holuka".
Lirisa memegang bunga mawar merah yang ada di taman tersebut penuh kehati-hatian "Aku rasa warna merah pada mawar sama seperti warna merah pada kekuatan api milikmu, selain itu seperti mawar, api milikmu mungkin berbahaya seperti sebuah mawar yang mempunyai duri. Namun tak dapat disangkal juga, mawar adalah bunga yang sangat cantik sekalipun terdapat duri-durinya. Lagipula duri pada mawar memiliki arti lain terhadap pendapatku kepadamu, bukankah itu mirip seperti dirimu yang selalu melindungiku sedangkan duri pada batang bunga mawar bertujuan melindungi bunganya? Aku yakin kau tidak akan kalah, siapapun orang yang kau lawan sebab kau adalah Ksatria mawar yang selalu melindungiku".
Holuka yang tengah putus asa membuka matanya lagi, ada jejak api pada mata yang tadinya dipenuhi keputusasaan, ia bergumam "Benar, aku tidak boleh kalah sebab aku adalah Ksatria mawar Lirisa, aku akan selalu melindunginya! Di Pertarungan 1000 Roh ini pun, aku pasti membawa kembali Lirisa ke dunia ini juga!".
Holuka memegang pedang yang belum terlempar sejak awal dari tangannya kuat-kuat, ia menghela nafas yang berupa asap putih sebelum berkata "Bunga Serangan Inti, Pelindung Cincin Mawar Api!".
__ADS_1
Mili yang berencana menenas Holuka sampai mati kaget menemukan sebuah pedang api terlempar dengan cepat menuju ke arah dirinya, kecepatan pedang itu sangat cepat tanpa diketahui darimana asalnya.
Jika Mili mengabaikan pedang tersebut serta fokus membunuh Holuka, pedang api itu akan membunuhnya lebih dulu yang menunjukkan seberapa cepat gerakan pedang tersebut.
Oleh karena itu, Mili menarik tombaknya lalu menusuk ke arah pedang api yang terbang mendekat.
"Booooom!".
Ledakan keras terjadi, Mili terlempar mundur sejauh 5 meter dan ada sedikit jejak terbakar pada pakaiannya, padahal sejak awal pertarungan di mulai, api milik Holuka tidak pernah berpengaruh maupun melukai dirinya.
Saat ini Mili mengabaikan pakaiannya yang sedikit terbakar, ia fokus menatap Holuka yang sedang ditutupi asap putih akibat ledakan tadi.
Perlahan-lahan sosok Holuka muncul dari balik asap putih. Berbeda dari sebelumnya, saat ini ada 4 pedang api yang terbang berputar-putar di sekitar Holuka seperti makhluk hidup yang berusaha melindungi tuannya.
Jarak Holuka dan Mili cukup jauh, tapi Mili merasakan panas yang berasal dari 4 pedang Holuka di jarak yang begitu jauh sehingga membuatnya sedikit berkeringat.
Holuka menatap Mili dengan mata berwarna merah layaknya api, ia tidak merasakan sakit lagi dari wajahnya yang hancur serta berkata dingin "Pertarungan yang sebenarnya baru di mulai, Mili! Persiapkan dirimu, mulai sekarang aku akan menggunakan semua yang aku punya untuk membunuhmu".
__ADS_1
Mili menarik nafasnya lalu memasang posisi bertarung, ia memegang tombaknya menggunakan 2 tangannya sambil tersenyum "Sepertinya pertarungan kali ini akan sangat merepotkan! Maaf tuan, aku mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama untuk melawan musuh ini".