PERTARUNGAN 1000 ROH

PERTARUNGAN 1000 ROH
BAB 25 : MANUSIA VS ROH


__ADS_3

Beberapa saat sebelum Marquis Bonjer, Holuka dan Jirfa pergi ke Dermaga Vaghol untuk mengejar Myro serta Mili, Holuka sempat bertanya mengenai informasi Myro kepada sang Marquis.


Menghadapi pertanyaan Holuka, Marquis Bonjer menatap ke arah langit, sepertinya mengingat masa lalu "Walaupun aku belum pernah berhadapan langsung dengannya, aku mendengar banyak sekali kabar tentang Myro selama di medan perang. Kalian tahu apa yang paling ditakuti dari Myro? Sesuai nama julukannya, ia mempunyai sihir es yang sangat hebat, namun apa yang paling orang-orang takuti bukanlah sihir es miliknya, bukan juga kemampuan memakai tombak yang ia miliki. Jika seseorang yang sering berada di medan perang dari Kerajaan Talem pasti bukan mengenalnya sebagai Myro Aras sang Penyihir Es Abadi, melainkan mereka akan mengenalnya dengan nama Myro Aras sang Tangan Kanan Hitam!".


Mendengar julukan lain Myro, Jirfa bertanya bingung "Apa yang begitu hebat dari tangan kanan hitam? Kenapa bisa lebih terkenal dari julukan es abadi?".


Marquis Bonjer menggelengkan kepalanya "Aku juga tidak tahu sebab aku belum pernah berhadapan langsung melawan Myro, tapi berdasarkan apa yang dikatakan temanku yang pernah melawannya secara langsung hingga kehilangan mata kiri dan kaki kiri, ia memberiku sebuah pesan yaitu ketika melawan Myro, berhati-hati terhadap tangan kanan miliknya karena apa yang paling berbahaya dari dia adalah tangan kanannya".


.....


"Krak!".


Es yang tajam menyebar dari tinju Myro yang langsung menusuk ke arah Jirfa. Karena 2 belatinya masih tersangkut pada tombak Myro, Jirfa benar-benar terjebak.


Sekarang Jirfa mempunyai 2 pilihan yaitu meninggalkan belatinya lalu melompat mundur agar terhindar dari es tajam tinju Myro atau tetap memegang pedangnya namun sebagai gantinya, ia harus siap melawan es tajam dari tinju Myro.


"Jirfa, lepaskan belati milikmu! Jangan khawatir, aku membawa belati cadangan untuk kau gunakan", kata Marquis Bonjer berusaha memberi Jirfa saran.

__ADS_1


Marquis Bonjer berpikir Jirfa menolak melepaskan belatinya karena tidak mempunyai senjata lain, tapi sebenarnya apa yang ia pikirkan salah.


Jirfa menatap ke arah 2 belati hitam di tangannya yang sudah terlihat sangat tua namun masih sangat kuat. Apabila itu belati lain, ia akan melepasnya tanpa ragu, masalahnya belati di tangannya ini berbeda sebab 2 belati ini merupakan senjata milik ayahnya dulu.


"Aku lebih baik kehilangan hidupku daripada kehilangan belati ini!", kata Jirfa dingin, ada tekad yang sangat kuat di matanya "Bawa semua yang ada di sekitarmu menuju kegelapan tanpa akhir, Ruang Hitam!".


Untuk sesaat Myro merasa seluruh area di sekitarnya menjadi hitam, bukan hanya Myro melainkan Bonjer juga. Hal tersebut hanya berlangsung selama kurang dari sedetik, setelah Myro mampu melihat lagi maka ia menemukan es yang menahan tombak miliknya bersama 2 belati milik Jirfa sudah hancur.


Setelah es yang mengikat belati miliknya hancur, Jirfa melompat mundur menghindari es tajam dari tinju Myro.


"Brak!".


Walaupun berhasil menghindar, seluruh tubuh Jirfa dipenuhi oleh keringat, ia juga bernafas dengan berat yang menunjukkan kemampuan tadi banyak menghabiskan kekuatan miliknya.


Myro mengayunkan tombak miliknya sehingga sisa es yang masih ada di sana semuanya jatuh ke tanah, ia mengamati Jirfa yang terlihat kelelahan "Bukankah kau sudah lelah? Kenapa kita tidak menghentikan pertarungan ini? Bagaimanapun sejak awal tujuan kami bukan bertarung melainkan pergi ke Gunung Emas, tapi kalian yang terus mengejar kami dengan keras kepala sehingga kami tidak mempunyai pilihan lain selain menyerang juga. Aku rasa lebih baik kita berhenti bertarung lalu fokus menuju Gunung Emas, setelah itu pertarungan terakhir baru bisa dilaksanakan".


Meskipun berada di posisi menguntungkan, Myro tetap memilih untuk berdamai. Alasan utamanya adalah Myro tahu, Jirfa belum menggunakan kekuatan penuh miliknya sebagai seorang roh, oleh karena itu Myro tidak tertarik mengambil resiko. Lagipula sudah ada banyak orang yang memberi Myro nasihat di masa lalu, manusia sama sekali tidak dapat mengalahkan roh.

__ADS_1


"Menyerah dan pergi? Apabila itu orang lain aku mungkin akan melakukannya mengingat kekuatan kalian yang memang kuat", kata Jirfa penuh tekad membunuh "Namun Mili berbeda, apapun yang terjadi aku akan membunuhnya sekalipun itu akan membuatku kehilangan hidupku sendiri".


Jirfa yang sedang bersiap berhadapan melawan Myro dan menolak untuk membuang lebih banyak waktu dengan mengobrol bersamanya mulai menatap ke arah tangan kanan Myro penuh rasa tertarik "Kenapa kau menutup tangan kananmu memakai perban? Apakah benar seperti yang mereka katakan, ada kekuatan tersembunyi pada tangan kananmu? Sang tangan kanan hitam"


Myro sama sekali tak mengubah wajahnya terhadap apa yang dikatakan Jirfa untuk mempengaruhinya, ia hanya berkata ringan "Itu kesalahpahaman, tangan kananku terluka saat berada di medan perang sehingga aku memutuskan untuk menutupnya dengan perban, tidak ada apapun yang disembunyikan".


"Terluka? Apakah benar begitu? Aku rasa tak masalah, baik itu kau menyembunyikan kekuatan ataupun tangan kananmu memang terluka bukan untuk disembunyikan, aku akan membuktikannya sendiri dengan kekuatanku sendiri! Aku akan menyerangmu hingga kau perlu menggunakan tangan kanan itu!", kata Jirfa tersenyum percaya diri.


"Aaaaa!".


Saat Myro dan Jirfa berencana memulai pertarungan mereka berikutnya, suara teriakan Holuka yang terdengar kesakitan terdengar dari kabin bagian atas, tepat pada waktu ini merupakan waktu dimana Mili memakai kekuatannya untuk menghancurkan wajah Holuka.


Wajah Marquis Bonjer dan Jirfa langsung berubah. Sejak awal rencana mereka adalah Holuka akan mengulur waktu melawan Mili sedangkan mereka akan mengalahkan Myro, oleh karena itu jika mereka belum mengalahkan Myro selama Holuka dikalahkan oleh Mili, maka rencana mereka akan gagal.


Marquis Bonjer adalah orang yang berteriak lebih dulu "Jirfa, kita tidak dapat membuang waktu lagi! Aku tahu kalian memang sering menolak memakai seluruh kekuatan, tetapi kita yang sekarang sama sekali tidak mempunyai pilihan lain. Kalau terus membuang waktu serta Holuka kalah dari Mili, kita akan kehilangan kesempatan menang kita".


Jirfa ragu-ragu beberapa saat sebelum memutuskan "Sebenarnya aku tidak tertarik melakukan ini, masalahnya keadaan membuatku perlu melakukannya. Myro bukan? Aku menghormati dirimu sebagai seorang prajurit, rencana awalku adalah mengalahkanmu tanpa memakai kekuatan khusus terkuat milik roh sebagai bentuk rasa hormat dan pengakuan ku terhadap kekuatanmu. Sekarang situasinya berubah, aku perlu mengalahkanmu secepat mungkin".

__ADS_1


Jirfa mulai memasang kuda-kuda bertarung, ia memegang 2 belatinya dengan kuat lalu menutup mata.


Ketika Jirfa membuka matanya, aura kegelapan yang sangat kuat meledak hingga menutupi seluruh ruangan, ia berkata dingin "Mulai dari sekarang, aku akan menggunakan kekuatan penuh ku sebagai roh, Buka Serangan Inti--".


__ADS_2