Pertemuan di bus kota

Pertemuan di bus kota
11.Kabur sama cewek mana


__ADS_3

"Itu Mak, aya beli seorang 2 kilo sama Sabri."Jawab Raid.


"Emang lu punya duit bakal beli tong?"tanya bu Sharifah.


"Ada Mak, aya di kasih duit sama wak Asep. Katanya buat ongkos pulang aya berdua Sabri, ke Jakarta. Wak Asep baik banget Mak orang nya, kagak sombong." Raid sengaja bicara yang baik-baik tentang pak Asep. Sebab ia tidak ingin babak nya kepikiran yang tidak-tidak. Raid juga pura-pura tidak tahu tentang tanah warisan babak nya yang di ambil kakak nya.


Sementara pak Kamil, bersyukur anaknya datang ke sana kaga di usir oleh kakaknya. Apa lagi ini pertama kali nya mereka berjumpa. Dan mereka tetap merahasiakan sesuatu dari dirinya dan anaknya.


"Syukur lah, kalau wak Asep baik sama lu. Namanya baru ketemu, jarang-jarang juga orang baik. Soalnya Mak dengan dia itu, galak dan sombong. Tapi denger lu ngomong begitu, hati emak lega rasanya. Ternyata wak lu baik banget ama lu, apa lagi muka lu nih. Kagak buang sekali dari babak lu, foto copy nya dah."Ucap bu Sharifah.


"Bak, mau tape? nih aya suapin ya?"tanya bu Sharifah, di jawab anggukkan oleh pak Kamil.


Kemudian bu Sharifah menyuapi suaminya dengan lembut. Yang di suapin pun tersenyum senang **** cuma di dalam hatinya. Karena sakit stroke selama hampir tujuh tahun ini. Jangan makan sendiri tersenyum pun sangat sulit di lakukan.


Pak Kamil menatap wajah anak kesayangannya yang begitu mirip dengan dirinya. Tidak ada yang boleh menyakiti nya, selagi ia sehat dulu. Meski pun ia sendiri kalau lagi marah sulit di kendalikan.


Raid tersenyum melihat babak nya menatap dirinya. Raid tidak ingin babak kepikiran tentang dirinya, saat di kampung kemarin.


"RAID...., ID, RAID....." Suara bu Suha.


Yang mendengar Raid sudah pulang, karena tadi saat cucu-cucunya berteriak. Bu Suha masih berzikir, sehingga ia menyelesaikan tugasnya lebih dahulu.


"Iya Nyai Raid di mari."Sahut Raid segera ia berdiri dan menghampiri neneknya.


Bu Suha bukan menerima uluran tangannya Raid, melainkan meraih telinga Raid. Karena Raid yang fokus untuk menyalami tangan neneknya. Tidak sempat menghindar, sehingga pedes juga telinga nya.


"LU YA PERGI DARI RUMAH NGAPA KAGAK PAMIT AMA ORANG TUA HA....." Berhenti marah karena Raid dengan cepat menyuapi mulut neneknya dengan tape.


Waktu hendak menyalami tangan neneknya tadi, tangan kiri Raid masih memegang tape. Karena telinga nya di tarik, dan di marahi. Maka dengan cepat tangan kanan mengambil tape yang di tangan kiri. Lalu menyuapi neneknya yang dengan posisi mulut sedang mangap.


"Dah Nyai makan tape Bandung bareng Aya sini. Dari pada marah-marah terus, nanti nyai cepat tua gimana? ntar kagak bisa lihat cicitnya."Kata Raid dengan menuntut neneknya untuk duduk bersama emak dan babak nya.


"Bener juga apa kata lu, tapi lu dari mana? kok bisa bawa tape Bandung segala?"tanya bu Suha, yang sudah adem kagak jadi marah.

__ADS_1


Ya Raid paling bisa bikin nenek ke dan emaknya yang marah langsung adem. Maka banyak yang merasa iri pada Raid, sebagai cucu yang menjadi kesayangan.


Akhirnya semua kumpul di rumah Raid menikmati manisan dan tape. Lalu bu Syarifah membagikan pisang tanduk yang baru mulai matang. Menjadi oleh-oleh dari Kuningan Jawa barat.


...****************...


Keesokkan harinya Raid di sambut dengan ledekkan dari para supir pribadi. Para supir itu adalah teman-teman Raid di tempat ia bekerja.


"Wah kawan kamu dari mana saja?" tanya Joni orang asal Palembang.


"Raid lu ke mana aja? kabur sama cewek mana lu?" tanya Leman asal Jakarta.


"Iya man kamu sudah bikin geger dan kalang kabut orang-orang saja."Kata Bandi asal solo.


"Id, emang lu pergi kemana? Emak lu kemarin sampai nangis nyariin lu?"tanya Ahmad asal Jakarta.


"Iya Raid, kalau pergi pamit dulu. Jangan ngilang begitu aja. Kasihan emak kamu nangis-nangis nyariin kamu. Bahkan membuat bos ikut kalang kabut. Besok-besok kalau pergi pamit dulu sama emak kamu. Untung kamu gak kualat, karena sudah bilang emak kamu nangis-nangis."Nasehat pak Kasiman teman kerjanya berasal dari kebumen.


"Saya habis dari Kuningan Jawa barat, kampung babak saya pak. Saya tadinya main tempat Sabri, dan dia mendadak mengajak pulang kampung."Jawab Raid.


"Ya kali aja gitu pergi sama cewek, lu sudah ke temu cewek. Dan yang bisa membuat mu klepek-klepek."Kata Leman.


"Lu pikir gua ayam mau mati klepek-klepek." Kata Raid sedikit kesal.


"Yah.... Itu seumpama Id, kayak perempuan mau datang bulan aja sensi."Kata Leman.


"Terserah lu Man, gua mau kerja."Langsung mengambil sapu lidi dan pergi dari pos. Yang bersebelahan dengan gudang penyimpanan barang-barang dan alat-alat kebersihan.


"Kenapa dia itu gampang sekali sensi ya, kan maksud kita jangan terlalu serius."Ucap Leman.


"Kamu itu mas, yang tidak tau situasi dan kondisi. Ini jam santai untuk kita, tapi jam kerja untuk dia. Itulah yang ku suka dari dia, profesional dalam bekerja. Profesi dia beda dengan kita, yang bisa bercanda di segala sesuatu."Kata Joni.


"Betul itu yang di ucapkan Joni, Raid itu jika bercanda punya waktu tertentu. Mungkin juga saat ini dia lagi banyak pikiran, atau masih dalam situasi penuh emosi. Kan habis pergi, dan baru pulang mungkin saja dia di marahin atau apa gitu." Timpal Ahmad.

__ADS_1


"Ah itu dia yang rindu pada Raid, rindu tidak cekcok, hahahaha." Kata Bandi.


"Bisa jadi...."Terpotong ucapan Ahmad.


"Sudah pasti, kagak biasanya dia ngilang." Kata Leman, yang langsung motong ucapan Ahmad.


****************


Beberapa bulan berganti bulan, Dara Ki kerja di perumahan elit yang saat terkenal di tahun 2000 an. Yang berada di kembangan Jakarta barat, tidak jauh dari rumah Raid. Karena masih dalam satu kelurahan, dengan rumah Raid.


Dara menjadi pengasuh anak usia 9 dan 11, anak perempuan dan laki-laki. Anak itu masih sekolah dasar, kelas 3 dan 5 SD swasta. Di sekolah Kristen protestan xxx, daerah kembangan.


Setiap setengah tujuh Dara mengantarkan sekolah, dan pulang 12:30. Maka Dara hanya mengantar saja kemudian ia pulang membersihkan rumah. Dara tidak hanya jadi pengasuh tapi jadi pembantu juga.


Dari mulai nyuci nyuci mobil, nyuci baju, nyapu ngepel, masak. Tapi kalau masak Dara berdua dengan majikannya. Kalau sekalian mau ke pasar belanja bulanan. Maka mereka mengantarkan sekolah dengan mobil. Tapi kalau belanja hari-hari Dara naik sepeda, seperti saat ini.


"Dara kamu ke pasar ya, tadi bapak minta masak sayur asem. Sekalian kamu beli ikan kakap merah ya, Sinta mau ikan kakap merah bakar. Ingat tidak tempat saya beli ikan?"tanya bu Risa.


"Insya Allah saya ingat bu, sebelah tukang daging sapi kan?"tanya Dara.


"Iya betul, takut nya kamu beli dekat daging b*bi lagi." Kata bu Risa.


"Mana mungkin saya beli di tempat yang ibu tidak pernah beli. Nanti kalau tidak ada bagaimana? soalnya ini sudah siang bu?"tanya Dara.


"Kalau tidak ada kamu langsung pulang saja ya. Jangan lupa bumbu dapur jangan lupa, sayur asem kamu pilih sendiri. Jangan yang sudah di racik ya."Ujar bu Risa.


"Baik bu, mana uangnya?"Dara langsung meraih uang di tangan bu Risa. Berangkat ke pasar dengan sepeda mini yang di sediakan oleh majikannya.


Perjalanan 5 menit dari rumah, sampai Dara menuju parkiran motor. Dengan gerakan cepat ia masuk pasar, dan mencari pesanan majikannya. Ikan tujuan pertama, kebetulan masih ada dua ukuran satu kg. Kemudian menuju bagian tukang sayur, memilih sayur asem lengkap.


Yaitu; Jagung manis, labu Siam, pepaya muda, jagung putri, kacang panjang, daun melinjo, melinjo, kacang tanah kupas yang masih basah, asem. Lalu di ambil bumbu dapur, yang sudah di bungkus tapi masih seger. Kemudian ia membayar harganya tersebut, total 10 ribu.


Segera ia menuju parkiran untuk mengambil sepeda, ia membayar parkir 500 rupiah. Langsung pulang, takut kesiangan karena jam 12:30 harus jemput sekolah.

__ADS_1


*****Bersambung.....


__ADS_2