
"Tapi mungkin ada benarnya, apa yang di ucapkan kakaknya. Kamu harus hati-hati, siapa tahu pacarmu itu playboy. Playboy itu selalu pandai bersilat lidah Dara, kalau pacaran selalu main rapih. Dan para perempuan yang di pacari tidak akan ada yang tahu kalau dia itu penjahat wanita."Kata bu Risa.
"Mungkin karena saya belum kenal dia yang sebenarnya bu. Tapi aku jalani saja dahulu, kalau memang ia orang yang baik. Maka kedepannya pun akan baik, jika ia tidak baik pun juga akan terlihat."kata Dara, yang sebenarnya ia ada perasaan was-was juga.
Sebab ia sudah sangat mencintai pacarnya, bahkan mereka berencana beberapa bulan lagi akan nikah. Apa lagi Dara merasa pacaran di belakangan ini sudah tidak sehat lagi. Terakhir kemarin, pacarnya sudah berani mencium lebih dari kening dan pipinya. Mendengar perkataan majikannya, ia jadi kepikiran.
"Apa mungkin yang di katakan mas Tri dan bu Risa benar adanya. Itu namanya sudah keterlaluan, kalau sampai dia ingkari janjinya. Itu artinya aku sudah di khianati oleh dua orang bejat." Kata Dara dalam hati.
Ya Dara memang sudah pernah di khianati oleh pacar pertama nya yang memilih dengan perempuan yang lebih aduhai dari dia. Lebih tepatnya lagi yang suka memakai pakaian kurang bahan. Ketimbang Dara yang masihrj agak tertutup, karena tidak berpenampilan modis.
Hal itu membuat Dara menjadi was-was, jika sampai ia kehilangan sosok orang yang sudah mengambil hati nya. Yang mana sekarang ia sudah benar-benar mencintai pacar nya.
"Iya bu, terima kasih sudah memberikan saya nasehat. Apa saya boleh libur Bu sebulan sekali?" tanya Dara, ragu-ragu takut tidak di bolehkah.
"Iya boleh Dara, itu kan sudah ada dalam perjanjian saat kamu masih kerja kemarin. Ya walau pun tidak ada hitam di atas putih. Saya juga ingin kamu bisa represing, juga ada libur kerja. Terserah kamu mau libur kemana, mau ketemu pacar mu atau mungkin teman-teman mu." Kata bu Risa.
"Terima kasih bu, tapi mungkin nanti saya mau balik ke yayasan buat ambil beberapa barang saya. Sekalian ambil KTP saya, setelah itu saya tidak akan balik lagi ke yayasan."Kata Dara.
"Lah terus balik kesini atau tidak? dan kenapa tidak balik lagi kesana?"tanya bu Risa.
"Seminggu lagi kontrak saya di yayasan selesai bu. Setelah itu saya bebas mau kerja di mana pun. Tidak akan ada ikatan lagi dengan yayasan. Saya masih kerja dengan ibu, tentu saja saya balik lagi ke sini. Dengan membawa barang-barang saya, boleh kan bu?" tanya Dara.
__ADS_1
"Oh begitu, ya boleh lah. Emang kontrak nya kemarin berapa lama?" tanyanya lagi.
"Tiga bulan dengan KTP sebagai jaminan di pegang yayasan selama tiga bulan. Setelah itu bebas boleh balik boleh tidak kalau sudah lewat tiga bulan."Jawab Dara.
"Ya sudah kalau begitu, tapi emang kamu betah di sini?"tanyanya.
"Alhamdulillah betah bu, mungkin nanti sampai saya mau nikah baru saya keluar."Jawab Dara dengan senyum malu-malu.
"Ya sudah. Ivan, Sinta, ayo istirahat dulu. Setelah itu kalian les matematika sama Miss Silvi." Ajak bu Risa pada anak-anaknya.
"Ma kenapa harus les lagi sih? aku males tau."Keluh Ivan, yang sudah paling Jenuh jika di suruh belajar.
"Tidak ada bantah Van, kamu kalau tidak les nanti tidak nak kelas. Apa lagi nilai mu yang hancur begitu. Dulu kamu selalu dapat peringkat. Tapi kenapa giliran kelas 4 merosot jauh. Apa lagi sekarang kamu peringkat sepuluh dari belakang di antara 40 murid. Toh mama tidak menyuruh kamu saja dedek juga les bareng kamu."Omel bu Risa.
Sore Dara mengantarkan Ivan dan Sinta les, yang mana tempatnya tidak jauh. hanya berbeda blok saja, dengan tempat dara kerja.
Selama Dara menunggu anak-anak les yang kurang lebih 1 jam. Maka Dara juga ngobrol dengan sesama Art.
...****************...
Beberapa berlalu Dara mengambil hari libur yang ke tiga bulan ini. Saat ini ia berada di daerah pasar baru Jakarta pusat.
__ADS_1
Dara sudah berada di warkop tempat pacarnya yaitu warkop Artanto. Di sana ternyata ada teman-teman Arta juga pada datang. Hari ini adalah hari minggu, jadi banyak yang libur kerja.
"Wah..., Dara kamu datang sendirian aja?"tanya Yanto yang dulu juga sempat suka pada Dara.
Tapi keduluan Artanto yang nembak Dara, dan Dara pun menerima Arta. Akhirnya ia hanya menjadi pengagum Dara saja. Dan baik Dara dan Arta tidak tau jika Yanto suka sama Dara.
"Iya mas, aku ingin ketemu dengan mas Arta." Jawab Dara dengan senyum malu.
"Hah? kamu serius? tak kira kalian ini baru balik dari kampung." Dara hanya menggeleng kepala tanda ia bingung terlihat dari raut wajah kaget.
"Waktu hari minggu kemarin dia pamit dan minta doa restu. Dia bilang selasa mau nikah, dari sini langsung ke kampung ceweknya. Kami pikir cewek itu kamu, lalu dia nikah sama siapa?" tanya Yanto.
Deg
Sesak dada Dara, bagaikan tersambar petir di siang bolong. Dara duduk di kursi yang ada di luar warkop, tepat di samping Yanto. Masih ada jarak setengah meter, Dara menunduk. Tidak ada air mata yang bisa ia keluarkan, namun pikiran Dara mengingat apa yang di ucapkan bu Risa dan mas Tri.
"Aku sudah lama mas tidak ketemu, bulan kemarin pun aku kesini malah dia sudah pulang. Karena cuaca yang sedang tidak baik aku langsung balik." Jawab Dara.
Dara menangis dalam hati saja tak mengerti kenapa mendengar pacarnya menikah dengan orang lain. Hidup nya seakan tidak ada lagi artinya, menangis pun tidak akan bisa mengubah keadaan. Antara percaya dan tidak, karena ia belum mendengar langsung dari mulut pacarnya langsung. Baru dia berniat akan minta no telepon pacar, karena sekarang ia sudah punya hendphone.
Yanto yang melihat Dara hanya diam saja, meski pun berbicara padanya. Namun tatapan Dara kosong menatap jalanan, tak menangis sekali pun. Ia juga heran biasanya cewek mendengar cowoknya menikah dengan cewek lain akan menangis meraung-raung.
__ADS_1
*****Bersambung.....