
Apa lagi dirinya seorang sarjana, yang memiliki wawasan luas di bandingkan Dara yang hanya lulusan SMA. Pengalaman pahit ini memang tidak akan bisa di lupakan untuk siapa pun yang mengalami.
"Ini dek bajaj nya sudah ada. Ayo kalian naik, ini martabak manis buat kalian."Penjual martabak, menyerahkan satu kotak martabak yang sudah di bungkus plastik putih.
"Tapi mas kami tidak bisa bayar ini martabak manis nya."Kata Dara dan Lisna bersamaan.
"Ini martabak sudah di bayar sama bapak tadi. Dan ini untuk kalian, pasti kalian lapar kan. Ayo sekarang naik biar saya bantu bawa barangnya."Kata penjual martabak itu langsung mengangkat tas milik Dara dan Lisna.
Setelah Dara dan Lisna berada di dalam bajaj itu. "Ini kartu nama saya, dan ini uang untuk kalian pegang."menyerahkan pada Lisna karena Lisna yang ada di depan pintu bajaj.
"Bang Tolong Antar Mereka Berdua Sampai Ke Tujuan. Ini saya sudah saya bayar, saya kasih lima puluh ribu. Tapi kalau Abang tidak antar sampai tempat tujuan. Abang saya laporkan ke polisi, apa lagi saya sudah tahu tempat tinggal Abang."Kata penjual martabak manis itu.
"Baik mas, saya akan antar sampai tempat."Jawab supir bajaj.
"Kalian berdua hati-hati ya, kalau ada apa-apa jangan sungkan telepon ke saya."Pesan penjual martabak manis itu.
"Iya mas terima kasih bantuan nya. Saya tidak bisa membalas kebaikan mas, semoga Allah yang membalas."Kata Dara dan Lisna bersamaan.
"Sama-sama." Hanya itu yang keluar dari mulut penjual martabak. Sambil tersenyum manis, pada kedua gadis yang bernasib malang itu.
Di perjalanan tukang bajaj tidak banyak bicara, selain menanyakan alamat tidak ada kata-kata yang keluar. Karena dia tidak berani macam-macam dengan gadis dua ini. Sebab sudah di jamin oleh pemuda tadi, apa lagi pemuda tadi sudah tahu siapa dirinya.
Sang supir bajaj itu adalah pemain wanita, ia juga orang perantau tempat ia ngontrak. Di dekat lapak penjual martabak, dan penjual martabak tersebut juga sudah hafal dengan nya.
Karena tidak ada yang bisa mengantar gadis itu, mendengar ada seorang gadis yang akan ia antar pun semangat. Tapi sayang, gadis itu sudah di jamin oleh penjual martabak. Yang membuat ia tidak berani adalah ancamannya.
__ADS_1
Setelah perjalanan kurang lebih 20 menit, akhirnya mereka berdua sampai. Karena suasana malam semakin larut, jadi jalan pun sudah sepi. Perjalanan harusnya 30 menit, sudah sampai di menit ke 20.
"Terima kasih ya bang."Ucap keduanya.
"Sama-sama dek."Langsung memutar balik, dan meninggalkan yayasan penyalur pembantu dan baby sitter.
Setelah kepergian supir bajaj itu, Dara dan Lisna mengetuk pintu yayasan. Namun tidak ada yang membuka pintu, sang pemilik yayasan mungkin mengira bukan mereka. Secara mereka keluar dari rumah majikannya tidak memiliki uang. Sebab Sania sudah memberitahu ke yayasan, jika mereka kabur dari rumahnya.
Hujan deras kini mengguyur daerah Bintaro, Lisna dan Dara berada di teras tepat di depan pintu. Mereka sudah capek-capek memanggil nama pemilik rumah. Akhirnya mereka berdua duduk di teras dan menikmati martabak manis rasa kacang coklat susu.
"Alhamdulillah ya teh, kita masih bisa berada di teras ini dan makan martabak ini. Toh kalau kita naik yang ada kita harus berbagi dengan yang lain. Setidaknya kita kenyang dulu lah baru dapat izin masuk."Kata Dara ada syukur nya juga gak langsung dapat pintu.
"Iya mungkin ini maksudnya Allah kita di suruh makan dulu rejeki kita. Ini kan memang buat kita, kalau kita di dalam bisa-bisa cuma kebagian setengah potong ini. Belum pas ketemu bu haji, pasti di minum tu sebagai. Secara ini martabak mahal bukan yang biasa, seperti di lapak depan."Ucap Lisna.
"Aku pun sama ini masih dua potong buat nanti saja jika kita masih berada di sini. Atau buat yang beruntung nanti, kalau dapat pintu."Ucap Lisna.
"Aku ngantuk teh, perut kenyang enak nih tidur. Tapi sayang kita di luar, mana banyak nyamuk lagi."Kata Dara, karena banyak nyamuk yang dari tadi terganggu dengan suara bising nyamuk.
"Iya, tapi mau bagaimana lagi Dara mau tidak mau kita tidur di sini."Kata Lisna, Yang sudah bisa menerima kenyataan pahit ini.
Mereka berdua ngobrol lebih dari dua jam. Dari jam 12 belas kurang sampai jam 2 pagi baru di bukain pintu oleh pemilik yayasan.
Karena sang pemilik yayasan itu tidak bisa tidur lagi, setelah beberapa jam lalu ada yang ketuk pintu. Samar-samar terdengar suara orang ngobrol di depan rumahnya.
Penasaran ia melihat dari jendela, hanya terlihat kakinya saja. Tapi ada rasa takut untuk membuka pintunya, akhirnya menguping di balik pintu. Setelah paham arah pembicaraan dan ada jengkel juga dengan mereka berdua.
__ADS_1
Iya berjalan menuju kantor tempat mereka mengurus tenaga kerja. Dan membuka pintunya pelan-pelan, karena ingin melihat siapa yang berada di depan pintu rumahnya. Setelah melihat baru dia bersuara, den itu mengagetkan mereka berdua.
"Apa yang kalian lakukan di situ." Sambil bertolak pinggang.
Mereka berdua yang sedang tiduran di lantai teras itu, langsung duduk dan mengelus dada.
"Astaghfirullah..... Alhamdulillah ibu haji keluar juga."Ucap keduanya bersamaan.
"Kenapa kalian nekat kabur dari rumah nona Sania?" todong pemilik yayasan penyalur tenaga kerja itu.
"Kami tidak kabur bu haji, tapi kami keluar dari rumah bu Sania."Jawab Dara, tidak terima di bilang kabur.
"Tadi setengah sepuluh nona Sania telepon ke saya. Masih ada mpok Hilda juga di sini, dia bilang kalau kalian kabur." Mengatakan apa yang sudah di katakan oleh Sania.
"Demi Allah bu kami ini tidak kabur. Yang jelas kami keluar secara paksa, karena tidak kuat dengan peraturan bu Sania."Jawab Dara.
"Tapi perbuatan kalian ini sudah merugikan yayasan tahu! lalu kalian kesini naik apa kan sudah tidak ada angkot?"tanya pemilik yayasan, penasaran juga, menurut laporan dari Sania kedua tenaga kerja ini tidak punya uang lagi karena tidak di gaji. Secara kemarin mau berangkat, juga orang baru masuk yayasan. Sudah pasti tidak punya uang, lalu mereka sampai dengan cara apa.
"Kami sepakat jalan bu, dari perumahan Bu Sania. Sampai di pasar Kebayoran lama, kami di tolong oleh orang baik. Akhirnya kami di cari kan bajaj, untuk sampai sini."Jawab Lisna, dan di angguki oleh Dara.
"Orang baik apa orang baik?"Bu pemilik yayasan antara percaya dan tidak.
"Ya orang baik bu. Kalau mereka bukan orang baik, mana mungkin kami sampai di sini dengan selamat. Dan kalau kami kenapa-kenapa di jalan tadi, kami di suruh telepon mereka. Dan mereka mengancam tukang bajaj itu kalau kami tidak sampai di yayasan."Jawab Dara panjang lebar, menjelaskan pada pemilik yayasan.
*****Bersambung....
__ADS_1