Pertemuan di bus kota

Pertemuan di bus kota
42.Kasih kucing aja


__ADS_3

Raid sendiri tidur di lantai kamar itu juga tidak di kasur. Karena ia juga lebih senang tidur di lantai beralas tikar atau tidak. Dari pada tidur di kasur, memang ia tidur di dekat Dara. Bu Sharifah membiarkan itu, sebab Raid juga tidur tidak memeluk Dara. Namun bu Sharifah tidak tidur hanya pura-pura tidur. Karena ia tidak percaya dengan Dara, yang saat ini tidur di sampingnya. Takut ketika ia pules, Dara berbuat sesuatu yang di luar kendali.


Tapi sampai sholat dzuhur, ternyata Dara belum bangun juga. Akhirnya bu Sharifah bangun lebih dulu dan meninggalkan anaknya dan Dara di kamar.


Berjalan menuju kamar mandi, untuk mandi dan mengambil air wudhu. Tidak berapa lama bu Sharifah kembali ke kamar tadi untuk melaksanakan sholat dzuhur. Mereka sepasang kekasih itu bermimpi indah, namun sudah berpindah posisi.


Dara yang semula membelakangi Raid, kini sudah celentang. Sedangkan Raid yang semula tengkurap, kini sudah miring menghadap Dara. Meski mereka berbeda tempat, yang satu di lantai dan satu di kasur. Tetap harus waspada, namanya berdua di kamar pasti akan ada godaan yang tanpa mereka sadari. Sebab keduanya sama-sama tidur dan tidak sadar dengan apa yang akan terjadi.


Bu Sharifah yang akan sholat pun pikiran jadi tidak tenang lantaran mereka berdua. Lalu bu Sharifah berpikir sejenak bagaimana ia sholat dengan khusyuk. Tidak ada pilihan lain selain membangun Raid yang masih tidur, dengan menggoyangkan tubuhnya.


Raid yang merasakan tubuhnya bergoyang pun membuka matanya. Melihat emaknya yang sedang memakai mukenah, warna putih. Raid langsung duduk mengucek matanya, mengedarkan pandangannya pada sosok gadis yang sedang tidur di kasur.


Kemudian ia menatap emaknya, kemudian ia ingat bahwa saat ini sudah waktunya sholat zhuhur. Lalu ia beranjak dari tempat tidur, setelah itu pergi keluar kamar. Menuju kamar mandi untuk buang hajat dan mengambil air wudhu.


Setelah itu ia berjalan masuk ke rumah dan kamar, melaksanakan sholat setelah emaknya. Selesai sholat ia membangunkan Dara dengan mengusap-usap pipinya Dara.


Merasa ada yang menguap pipinya dara membuka matanya. Melihat Raid dan bu Sharifah duduk di atas kasur. Membuat Dara langsung duduk, antara malu dan tidak enak hati dengan bu Sharifah.


"Maaf bu, bang, saya tidur terlalu lama ya." Ucap Dara sambil menatap jam dinding.

__ADS_1


"Tidak apa-apa sayang, ini sudah dzuhur sholat dulu. Nanti setelah itu ikut abang ya, abang pengen ajak kamu ke suatu tempat." Kata Raid.


"Iya bang, Dara sholat dulu ya." Langsung beranjak dari tempat kasur dan pergi ke kamar mandi. Untuk ambil wudhu dan sholat dzuhur, yang sudah lewat setengah jam lalu.


Setelah selesai sholat dzuhur, Raid pun pamit pada emaknya buat ajak Dara pergi ke pasar Cengkareng Jakarta barat. Mereka tidak naik motor lagi, sebab sudah di bawa pergi oleh Thomi.


Saat seperti ini Raid kesal, karena Raid paling kesal dengan abangnya itu. Di saat ia mengisi bensin, Thomi membawa untuk menjemput pacar dan pasti pulang malam. Tadi bensin hampir habis, dia bilang tidak akan bawa motornya kemana-mana.


"Kebiasaan ni Thomi, giliran ada bensin aja buru-buru bawa kabur. Gua isi dua liter buat pergi sama Dara malah dia bawa. Untungnya abang, kalau bukan sudah ku habisin dari dulu." Ocehan Raid, yang di dengar oleh saudara saudari nya sekaligus Dara.


"Sudah tong, lu yang ngalah. Emang begitu tabiatnya abang lu."Kata bu Sharifah, yang bingung harus bagaimana dengan kedua anaknya yang tidak pernah akur.


"Ya sudah, aya pergi dulu. Ayo Yang." Pamit Raid pada emaknya, lalu menggandeng tangan Dara berlalu begitu saja.


"Kalau tidak enak kasih kucing aja, Yang." Canda Raid, yang tersenyum.


"Eh abang kok mala bercanda sih, aku kan tanya serius bang."Ujar dara sedikit manyun.


"Udah ah tidak usah di pikirkan, lagian kamu tidak salah apa-apa. Jangan manyun gitu bikin abang gak tahan, pengen cium bibir mu."Berbisik di kalimat terakhir.

__ADS_1


"Ye bulan puasa pikiran nya ngaco. Batal lo puasanya."Kata Dara, sedikit menatap sedikit kesal.


"Kalau pun batal, bukan hanya abang sayang. Itu karena kamu yang pancing iman abang."Ujar Raid sambil mengusap kepala Dara rang tertutup kerudung segi empat.


"Siapa yang pancing abang sih?"tanya Dara dengan raut wajah datar.


"Tadi itu manyun bibirnya, seperti minta abang cium. Sesekali boleh lah, abang belum pernah ciuman bibir. Kan jadi pengen rasain juga bagaimana rasanya enak atau tidak." Kata Raid setengah berbisik, sebab mereka sedang di tempat umum alias pinggir jalan. Untuk nunggu angkot, tujuan pasar Cengkareng.


Dara menatap Raid yang tersenyum manis pada Dara "Bulan puasa bang, tinggal beberapa jam lagi berbuka puasa. Masak mau aku batalkan karena marah sama abang." Kata Dara dengan nada kesal pada Raid.


"Ya ya maaf, itu mobil sudah ada jangan manyun lagi."Ucap Raid yang sudah melihat mobil angkot yang mau mereka naikin.


Mereka berdua pun naik ke dalam angkot tersebut. Tidak ada pembicaraan lagi, tapi Dara pun sudah tidak lagi marah. Setelah beberapa menit mereka sampai di tempat tujuan. Semua penumpang pun langsung turun, dan tujuan mereka sampai.


Dara di gandeng oleh Raid untuk menyebrangi jalan raya itu. Lalu masuk tempat belajar sebuah minimarket yang lengkap dari berbagai macam makanan dan pakaian dewasa dan bayi. Dara memilih baju tunik berwarna biru muda, dengan motif bordir. Ia mengambil dua baju yang satu warna hitam. lalu pilih celana dari bahan warna hitam. dan rok warna hitam. Kerudung segi empat warna biru muda dan putih.


Setelah itu memilih sendal yang sederhana, namun bukan jelek. Apa yang di pilih Dara tidak luput dari perhatian Raid. Sungguh ia kagum dengan Dara yang tidak memilih harga yang mahal-mahal. Ia sudah menyiapkan THR nya khusus untuk Dara. Hal itu sudah di bicarakan oleh emaknya, ingin berikan pada Dara. Bu Sharifah pun tidak bisa berkata apa-apa lagi, harus mulai terbiasa untuk mengikhlaskan anaknya menafkahi anak orang.


Lalu Raid menarik tangan Dara menuju bagian boneka "sayang suka yang mana, boleh pilih tapi jangan yang gede abang takut kurang duitnya." Kata Raid, dengan senyum kikuk.

__ADS_1


Dara langsung berbinar dari Arta dia tidak pernah dapat apa-apa. Sedangkan Raid yang penghasilannya kecil, selalu membuat ia senang. Dara tidak perlu berlama-lama untuk memilih boneka yang ia suka.


*****Bersambung.....


__ADS_2