Pertemuan di bus kota

Pertemuan di bus kota
45.Seperti anak kecil!


__ADS_3

Setelah sampai di kamar Dara, mengeluarkan baju dari tas. Lalu mengambil baju ganti nya, dan langsung pergi ke kamar mandi yang berada di belakang rumah. Dengan bilik yang dari bambu, sebagai dinding kamar mandi. Dara yang sudah lama tidak menimba air pun dengan malas dia harus menimba jika mau mandi.


Setelah menimba kurang lebih 10 ember, buat nyuci dan mandinya. Mau tidak ia harus lelah dulu baru bisa pakai air. Karena dalam nya air yang harus di ambil kurang lebih 13 meter. Dara duduk dengan nafas yang masih ngos-ngosan ia mulai mencuci pakaian kotor kemarin dan hari ini.


Setelah jam kemudian Dara sudah selesai dengan kegiatan nya. Lalu ia pun memilih untuk bersantai di memainkan boneka kelinci kesukaan nya. Yang di berikan oleh Raid kemarin, waktu belajar di pasar Cengkareng.


Pak Kasiran tidak suka dengan tingkah dara yang kayak anak kecil. Ia pun langsung menegur Dara dengan nada tinggi. Sehingga terdengar oleh telinga tetangga kanan dan kiri. Hal itu membuat Dara kesal dan sedih, namun ia tidak tampak kan di depan orang tuanya.


"Dara kamu itu jangan seperti anak kecil!,, kamu itu sudah dewasa, sudah tidak pantas main boneka seperti itu lagi! apa tidak malu sama umurnya?" tanya pak Kasiran dengan nada tinggi.


"Di Jakarta banyak yang seusia ku main boneka. Apa lagi kalau boneka itu pemberian pacar tercinta." Dara langsung masuk ke kamar dan memilih tidur toh sudah jam sebelas. Meninggalkan bapaknya yang kesal dengan Dara yang semakin sulit di atur baginya.


Bukan Dara yang tidak bisa di atur, tapi Dara yang sudah lelah dengan semua itu. Sejak kecil ia harus menurut, mengalah dan tidak pernah bisa ia menolak. Sejak yang namanya perjodohan itu mulai, sejak itulah Dara memberontak. Hingga pergi ke Jakarta untuk mencari hidup sendiri. Tidak pernah lagi ia mau pulang dalam waktu dekat, dua tahun ia kini baru pulang.


Di malam hari Dara ikut taraweh di musholla yang terdekat dari rumah. Tidak sengaja ia bertemu dengan Irawan yang kini berada tepat di depan Dara. Memang tampak tampan dengan baju koko dan sarung serta peci hitam. Dara hanya menatapnya sebentar kemudian masuk musholla duluan.


Sementara Irawan melihat perempuan yang sangat ia cintai. Sudah dua tahun tidak bertemu dengan Dara, membuat tersenyum manis saat Dara menatapnya. Walau pun hanya sekilas Dara menatapnya tanpa menegurnya pun. Sudah membuat hatinya bahagia, karena rasa rindunya kini terobati.


Sholat tarawih sudah selesai Dara lebih dulu keluar dari musholla itu. Sehingga ia bisa segera sampai dan terhindar dari Irawan tentunya. Seperti main kucing-kucingan saja Dara, sambil berjalan kerumahnya ia tersenyum. Karena membayangkan, kalau Irawan menunggu dirinya di depan pintu musholla.

__ADS_1


Benar dugaan Dara Irawan menunggu Dara di depan pintu musholla sampai orang tidak ada lagi. Ia tersadar di saat tetangga menepuk pundak nya dan menegurnya.


"Wan kamu nunggu siapa?"tanyanya tetangga sekaligus seorang ustadz.


"Oh ini mas, nunggu Dara tapi kok tidak ada ya. Apakah aku salah lihat, atau bagaimana ya. Tadi waktu masuk mau sholat, aku lihat dia di sini. Bahkan dia menatap aku, walau cuma sebentar saja." Jawab Irawan panjang lebar, menceritakan tentang dirinya yang bertemu dengan Dara.


"Oh Dara, memang ia dia sudah pulang tadi aku lihat dia naik ojek jam 8 pagi kalau tidak salah. Mungkin dia pulang duluan buat menghindari mu, karena tidak ingin bertemu lagi dengan mu." Kata ustadz tersebut.


"Jadi beneran aku gak salah lihat?" memastikan pada ustadz tersebut, dan di jawab dengan anggukan.


"Alhamdulillah,,,,, kirain aku udah gila beneran. Karena berhalusinasi terus, melihat dirinya sehingga aku selalu melihat sosoknya." Kata Irawan.


"Katakan saja mas, tidak usah gak enak sama aku." Kata Irawan yang tau arah pembicaraan ustadz tersebut.


"Aku ini memang orang lain, tapi istri ku adalah bibi nya Kasiran yang jauh. Tapi sudah tau karena anak-anaknya, sebab sering ngobrol di rumah. Karena itu aku sarankan jangan selalu berharap pada Dara. Apa lagi dia sudah kenal Jakarta, kehidupan kota yang lebih menarik untuk nya. Dara juga paling tidak suka jika di ajak di sawah atau ladang. Berbeda dengan Nina dia sangat menyukai pertanian, luwes kalau bekerja di sawah." Ujar Ustadz tersebut.


"Ya wajar sih mas, orang cantik kebanyakan memang tidak mau di ajak susah. Ya biar bagaimana pun aku sangat mencintainya." Kata Irawan dengan bangga nya.


"Apa yang bisa kamu nikmati dari pernikahan mu jika punya istri seperti Dara. Lagian kamu itu mencintai orang yang salah. Ingat ya, jika jodoh, rejeki, maut itu sudah di tetapkan oleh Allah SWT. Maka dari itu sejauh apa pun kamu mengejar Dara. jika tidak berjodoh maka sampai kapan pun tidak akan bersatu. Coba nanti kamu bicara sama Kasiran." Nasehat Ustadz pada Irawan.

__ADS_1


"Ya mas, nanti tak coba bicara sama mas Kasiran. Bagaimana jika aku menikahi Nina saja, itu juga kalau dara kekeh nolak aku mas. Kalau dara berubah pikiran aku pasti akan menikah dengan Dara." Kata Irawan, yang masih mengharapkan Dara yang menjadi istrinya.


"Terserah kamu lah Wan, semoga berhasil mendapatkan salah satu anaknya Kasiran. Jadi kamu gak itu tidak jadi bujang lapuk."Ejek ustadz tersebut.


"Iya mas, biar begini aku bukan tak laku ya mas. Tapi aku yang gak mau sama perempuan lain selain Dara." Kata Irawan, bela diri sendiri dan membanggakan bahwa dirinya di sukai banyak perempuan.


Sementara Dara yang kini lagi makan ia tersedak dengan makanan yang ia makan.


"Uhuk uhuk uhuk." Sampai keluar air mata.


" Uhuk uhuk uhuk"


"Kenapa gak pelan-pelan kalau makan?"tanya bapaknya.


"Halah paling ada yang lagi ngomongin yang jelek-jelek, sehingga batuk sampai kayak gitu. " Ujar nenek Paimah yang sering di panggil nek Imah.


Dara yang nafasnya ngos-ngosan dengan mata memerah hidung pun merah. Sebab tersedak, sampai wajah nya merah padam. Dengan tangan kiri Dara mengusap air matanya yang sudah membasahi pipinya. Setelah itu ia meminum air, setelah itu lanjut dengan makanya.


"Huh wanine ngerasani Nang mburi ae (huh beraninya ngomongin di belakang aja)."Ucap Dara, di sela-sela makannya.

__ADS_1


*****Bersambung....


__ADS_2