Pertemuan di bus kota

Pertemuan di bus kota
Antara haru dan sedih


__ADS_3

"Teteh itu ngomong apa sih, mana bisa aku melindungi teteh. Kita ini sama-sama sedang berjuang untuk mendapatkan yang terbaik untuk masa depan kita teh. Sebagai teman sudah sepantasnya untuk saling menjaga satu sama lain. Aku terlihat kuat itu juga karena ada teteh. Bisa saja kalau tadi saya jalan sendiri, belum tentu seperti ini. Oh ya ini kita isi perut dulu teh, jalan juga butuh energi. Supaya kita sampai di yayasan yang masih jauh entah berapa kilo meter lagi." Dara memberikan dua bungkus roti dan segelas air kemasan.


Mereka berdua makan roti sebagai penambah tenaga untuk melanjutkan perjalanan. Di cuaca dingin ini dan lelah, mereka jadi merasa lapar.


Setelah selesai makan Dara dan Lisna segera meninggalkan tempat itu. Sebab mereka melihat ada dua orang yang sedang mabuk berjalan ke arahnya.


Hujan sudah berhenti, tapi masih terlihat gerimis kecil. Dara dan Lisna berjalan ke arah pasar Kebayoran lama. Setelah berjalan 15 menit, mereka sampai di pertigaan. Tepat di pasar Kebayoran lama, Dara dan Lisna berjalan. Semua toko sudah tutup, yang masih buka hanya tukang martabak manis.


Ya kios itu yang masih ada antrian pembeli. Sementara di sebrang kios itu ada beberapa bapak-bapak nongkrong ronda. Mereka melihat kanan dan kiri, kendaraan tampak sudah sepi karena malam semakin larut.


"Kita tanya tukang martabak itu saja Dara, jalan ke Bintaro arah mana."Kata Lisna, yang memang ia tidak hafal jalan nya dan tidak memperhatikan saat berada kemarin.


"Dara ingat kalau dari jalan ini ke kanan teh, soalnya kemarin mobil yang kita naikin belok kiri. Tapi untuk ke sana nya tidak ingat banget."Kata Dara, yang dia perhatikan jalan nya cuma dari pasar kebayoran lama.


"Sudah lebih baik kita tanya saja."Kata Lisna, sebab dirinya juga bingung.


"Iya teh, bismillah....," Dara setuju dengan Lisna.


Keduanya menyebrang jalan raya itu menuju tukang martabak manis. Semua mata tertuju pada mereka berdua, sebab seorang perempuan cantik. Dengan baju basah kuyup, malam hari membawa tas besar.


"Permisi mas saya mau tanya."Kata Lisna.


"Iya dek, mau tanya apa?"tanya pemuda yang tidak lain adalah pemilik kios martabak manis tersebut.


"Apa Bintaro masih jauh dari sini?"tanya Lisna, dengan mata berkaca-kaca.


"Wah, itu masih jauh dek, kenapa malam begitu mau kesana mau ngapain?"tanya penjual martabak.


"Kami ingin pulang ke yayasan penyalur pembantu mas."Jawab Lisna dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.

__ADS_1


Semua orang yang mendengar jawaban Lisna, kaget dan merasa iba. Dua perempuan nekat keluar dari tempat kerja di malam begini.


"Apa kalian kabur?"tanya penjual martabak.


"Tidak mas, kami nekat keluar dari rumah itu."Jawab Dara.


Penjual martabak itu, langsung mengambil dua kursi plastik. Kemudian memberikan pada Dara dan Lisna, dan menyuruhnya duduk.


"Sini duduk dulu," langsung kembali di bagian bok minuman. Mengambil dua botol minuman, berjalan menuju ke Dara dan Lisna.


Dara dan Lisna duduk di kursi yang di berikan oleh penjual martabak manis itu. Dara dan Lisna bersyukur, masih ada orang yang perduli padanya.


"Ini minum lah dulu, istirahat dulu nanti saya bantu cari bajaj. Karena taksi dan angkot tidak ada lagi, ini sudah jam sebelas lebih. Jangan jalan, karena ke tempat yayasan kalian tuju masih jauh, bahkan lebih dari 5 KM."Ucap pedagang martabak.


"Iya dek cerita saja sama kami supaya kami bisa membantu." Kata yang sedang menunggu pesanannya.


"Kami sudah tidak sanggup mas kerja di sana. Kami nekat keluar, dari sana. Kami berjalan karena tidak punya uang. Yang ada uang milik saya yang mau untuk ongkos di minta nya."Jawab Dara dan tumpah pula air matanya saat di mendapat perhatian dari orang-orang baik. Antara haru dan sedih menjadi satu, sehingga air mata tak dapat di tahan lagi.


"Saya dari rawa belong kebon jeruk pak."Jawab Dara.


"Ya Allah itu jauh dari sini, tadi jalan jam berapa?"tanya bapak itu, yang melihat dua gadis dengan basah kuyup. Hatinya perih, apa lagi yang ia tau daerah gadis ini kerja.


"Jam setengah sepuluh pak, tadi sempat istirahat setelah lampu merah."jawab Dara lagi.


"Apa yang membuat kalian memilih keluar malam begini kenapa tidak besok pagi saja. Kalian ini perempuan, apa tidak takut ada bahaya di jalan?" tanya penjual martabak.


"Kami kerja dari subuh sampai malam mas, tapi kami hanya di berikan maka saat siang hari. Itu pun sudah lewat jam makan siang, tidak sarapan atau pun makan malam. Kami kerja juga butuh tenaga dan energi, dan tidur yang cukup. Sementara kami hanya makan sekali sehari, bagaimana kami kerja nyaman. Bahkan kami menahan rasa lapar setiap hari. Semakin lama kami di sana yang ada kami bisa sakit. Karena itu kami putuskan keluar malam ini juga. Apa lagi sikap majikan kami tidak baik, saya rasa tidak akan ada yang sanggup kerja di sana mas."Jawab Dara.


"Kalau kami selama kerja di sana juga. Biar bisa kuat sarapan yang kami beli sendiri mungkin roti di warung yang dekat rumah itu."Timpal Lisna.

__ADS_1


"Astaghfirullah... kejam amat itu orang." Ucap penjual martabak.


Lalu ia berjalan ke bagia yang buat martabak yaitu adiknya. Mengambil pesanan bapak pelanggan yang sedang menunggu di atas motor dekat Lisna dan Dara.


"Ini pak pesanan sudah siap."Memberikan pesanannya.


"Masih gak adonan nya?" tanyanya.


"Sebentar tak lihat pak," langsung menoleh ke adiknya.


Adiknya yang mengerti dan mendengar samar-samar " masih satu mas." Adiknya menyahut.


"Apa bapak mau nunggu lagi mau rasa apa?"tanya penjual martabak.


"Kasih kacang coklat susu ya, nanti kalian kasih kan." Jawabnya dengan memberi kode melirik pada dua gadis.


"Baik pak, terima kasih, nanti akan saya sampai kan."Kata penjual martabak.


"Dek nanti hati-hati saya duluan."Kata bapak itu, pergi dari sana bersama anaknya yang sejak tadi diam di motor.


"Iya pak."Jawab Lisna dan Dara.


"Kalian tunggu di sini jangan kemana-mana ya. Saya cari bajaj untuk antar kalian ke yayasan."Kata pedagang itu.


"Iya mas," jawab keduanya.


"Alhamdulillah ya Allah sudah memberikan pertolongan pada kita. Tempat ini tidak akan aku lupakan pula, semoga Allah membalas kebaikan nya."Ucap Dara.


"Iya Dara, Aamiin. Bagaimana bisa kita bisa melupakan semua kejadian ini. Ini akan menjadi sejarah kehidupan seorang perempuan. Demi hidup yang lebih baik, dari sebelumnya telah sengsara." Kata Lisna, bagi patut untuk di jadikan sejarah kehidupan seorang perempuan.

__ADS_1


Apa lagi dirinya seorang sarjana, yang memiliki wawasan luas di bandingkan Dara yang hanya lulusan SMA.


*****Bersambung....


__ADS_2