
Semakin hancur berkeping-keping hati Dara, yang mendengar ucapan itu langsung dari mulut Arta. Apa sudah tidak menganggap dirinya pacarnya lagi. Tapi setidaknya selesai dengan baik-baik, karena pacaran juga di awali dengan baik. Kenapa harus ia rasakan saat ini, semakin tidak tahan jika harus bertahan di tempat itu.
"Arta memang kamu sekarang ngontrak dan kerja daerah mana?" tanya Aji, yang memang di sini dia yang paling tua.
"Di Senen mas, baru tadi malam pindah. Tapi untuk kerjaan belum dapat yang baru. Mungkin masih ikut di Cengkareng kalau di izinkan sama istri."Jawab Arta dengan mata melihat Dara sama sekali tidak berbicara sejak tadi. Ia mengatakan itu pun di sengaja apa respon Dara.
Yang lain pada bingung dengan apa yang di lakukan Arta. Mereka yakin jika Dara pasti terluka dengan ucapannya.
Sementara Dara benar-benar sudah tidak tahan. Ia memutuskan untuk melupakan Arta dan tidak mudah percaya dengan semua laki-laki. Yang hanya mengatakan cinta padanya, jika berujung membuangnya begitu saja.
Dara mematikan handphone nya, dan memasukkan ke dalam tasnya. Lalu berdiri sambil pamitan sama Aji, bahwa dirinya ingin pulang.
"Mas Aji, terima kasih minum nya aku pulang ya."Pamit Dara, langsung hendak melangkah. Namun di tahan oleh Arta dengan menarik tangan Dara dengan lembut.
"Mau kemana dek?"tanya Arta menatap Dara yang dari tadi membelakangi dirinya.
"Aku mau pulang tempat kerja."Dengan menghentak tangan Arta dengan kasar.
"Itu mau hujan dek, sini duduk dulu ada yang mas mau katakan padamu."Ucap Arta berusaha menahan Dara.
Namun semua itu tidak di gubris oleh Dara. Dara melangkah dengan cepat, sambil mengusap air matanya. Ia berjalan agak cepat, tidak menoleh sama sekali. Ia ingin tahu apa Arta akan mengejarnya atau tidak. Setelah di ujung gang, dan sudah belok kanan Dara berhenti sejenak.
Menangis sesenggukan, di pinggir jalan itu. Meratapi nasibnya yang selalu di khianati oleh orang yang ia cintai. Setelah satu menit tidak ada Arta yang mengejarnya. Kini ia bersumpah tidak ingin bertemu dengan Arta lagi. Dan tidak ingin lagi berhubungan dengan laki-laki yang mengajak ia pacaran.
Sementara di warkop, para teman-temannya pada memojokkan Arta. Yang tega dengan Dara, yang polos itu. Harus patah hati, dan status yang tidak jelas. Karena di antara Arta dan Dara belum putuskan hubungan.
__ADS_1
Saat Dara pergi, tidak menghiraukan ucapan Arta. Mereka melihat Dara berjalan dengan cepat, sambil mengusap wajah nya. Dapat di pastikan bahwa saat ini Dara menangis, karena perlakuan Arta.
"Kenapa kamu tidak kejar Ta?"tanya Yanto.
"Iya kenapa kamu membiarkan Dara pergi begitu saja?"tanya Aji.
"Kamu tega sekali dengan Dara, dia menerima mu dari pada Yanto. Padahal kamu tau kalau Dara itu polos, dan kamu rayu dia. Pada saat itu kamu juga tau, kalau Yanto sudah kenal lebih dulu. Dan mereka sering ngobrol bareng, tapi tiba-tiba kamu datang merebut Dara dari Yanto." Kata Yandi yang kesal dengan sikap dan perilaku Arta pada Dara.
"Kami kira kamu menikah dengan Dara, maka kami menyapa dirinya sebagai istri mu. Sedangkan kami ini tidak tau, siapa yang kamu nikahi. Karena kami taunya Dara lah pacar mu selama ini. Bahkan selama ini perlakuan manis mu hanya dengan Dara. Sebelumnya tidak ada perempuan yang kamu perlakuan seperti itu."Ucap Yanto, yang menyampaikan ketidaktahuannya, dan di angguki oleh lain.
"Itu lebih baik untuk dirinya, lagian mas ku juga tidak setuju jika aku dengan Dara."Dengan raut wajahnya yang sedih penuh dengan penyesalan.
"Memang dengan istri mu mas mu setuju?"tanya Budi, tapi di jawab dengan gelengan.
"Lalu kenapa kamu bisa menikahi dia? kenapa tidak memperjuangkan Dara. Kalau memang kamu mencintai Dara?" tanya Budi lagi.
"Nah bener tu, kenapa?" timpal Sofyan teman yang sejak tadi cuma jadi pendengar.
"Karena dia sudah hamil anak ku."Jawab Arta, dengan lesu.
"APA?" semua melotot ke arah Arta.
Tidak menyangka Arta begitu mudah nya berbuat seperti itu. Dengan perempuan lain selain Dara, bahkan masih berstatus pacaran dengan Dara.
"Jadi selama ini kamu menduakan Dara, makanya kamu ganti nomor telepon itu?" tanya Yanto, dengan sedikit emosi.
__ADS_1
"Kalau nomor telepon itu aku ganti karena terblokir. Bukan karena istri ku, dia tidak tau kalau aku mempunyai hubungan dengan Dara."Jawab Arta.
"Lagian Dara tidak hamil anak ku saat ini, jadi tidak akan menuntut aku untuk bertanggung jawab. Aku tau dia tidak suka jika di duakan, dengan dia pergi begitu. Aku sudah tau jika Dara membenci ku. Dia tidak pantas dengan ku yang tidak bisa setia ini."
"Jika aku setia, tidak mungkin aku bisa goyah dengan istri ku. Dara juga masih sangat muda, berbeda dengan ku yang memang sudah dewasa. Sangat butuh pelepasan, sedangkan istri ku ini juga sudah matang. Apa lagi aku sangat mudah menemui nya dari pada Dara."Lanjut Arta.
"Memang kamu br*ngsek Ta, ku pikir kamu sudah berubah setelah bertemu Dara. Ternyata Dara jadi korban bej*tmu juga, semoga kamu bahagia dengan keluarga mu. Dan kamu tidak akan kena karma, karena terlalu banyak perempuan yang kamu sakiti.
Bukan nya kamu sudah berencana ingin menikah dengan Dara. Tapi malah menikah dengan perempuan lain, itu membuat Dara menderita." Yanto melupakan emosi nya pada Arta, dengan memakinya.
"Kalau kamu memang perduli dengan Dara, sana kamu kejar saja. Tidak usah memaki saja bisanya Yan, kamu pikir itu juga yang aku mau. Bahkan aku juga masih ragu, dengan bayi yang di kandung istri ku."Ungkap Arta yang sudah terpojok oleh teman-temannya.
"Itu urusan mu Ta, siapa suruh jadi laki-laki br*ngsek. Ini baru permulaan, belum karma dari janji-janji manis mu pada Dara. Semoga saja itu tidak terjadi beneran, tapi jika Allah menghendakinya. Itu akan lebih baik, sehingga kamu tidak akan menyakiti perempuan lagi."Ucap Aji, yang mendengar ucapan janji Arta pada Dara.
Flashback on
Saat itu Aji dan Yanto menjadi saksi, tanpa sepengetahuan Dara dan Arta. Arta sedang memeluk Dara dengan mesranya. Dan mereka juga menyaksikan Arta mencium bibir nya Dara dengan begitu dalam. Dan Dara menerima bahkan hanyut dalam suasana.
Karena tidak ingin menyaksikan yang lebih intens lagi, mereka berdua mengagetkan kedua nya. Dengan tertawa ngakak di depan pintu dan kemudian masuk. Dengan memasang wajah kaget, memergoki kedua sejoli. Sehingga keduanya melepaskan ciumannya, dan merapikan pakaiannya Dara.
Yang sudah sempat di terobos oleh tangan Arta. Tapi Arta tidak melepaskan pelukannya pada Dara. Karena pada saat itu Dara yang malu kepergok Aji dan Yanto. Menyembunyikan wajahnya si dadanya Arta, malu atas perlakuan manis Arta di saksikan keduanya.
Flashback off
"Jadi saat itu kalian tidak karena memergoki aku dan Dara. Tapi sengaja mengagetkan aku dan Dara yang......?"tanya Arta yang malu karena kepergok.
__ADS_1
*****Bersambung....