
"Ada yang ingin abang bicara kan sama kamu boleh minta izin sebentar lagi gak sama majikannya." Jawabnya Raid.
"Coba nanti saya bisa ke pak Jhon, ayo kita ke sana." Ajak Dara.
"Malam pak, bu," sapa Raid pada kedua majikannya Dara.
"Ya malam." Jawab keduanya.
Lalu bu Risa langsung masuk ke dalam rumah karena anak-anak sudah pada ngantuk.
"Apa sudah dari tadi menunggu Dar?"tanya pak Jhon.
"Lumayan pak, hampir setengah jam. Pak izin ngobrol sebentar boleh tidak?" tanya Dara.
"Bukan kalian pergi bersama ya apa masih ada yang mau di selesaikan?" tanya pak Jhon, yang paham maksud dari obrolan tersebut.
"Kami tadi memang pergi bersama pak. Tapi kita ngobrol pas jalan pulang ini."Jawab Dara apa adanya.
"Ya sudah, saya kasih waktu sampai jam sepuluh. Silahkan ngobrol di teras ya, tidak enak kalau di luar pagar. Saya masuk dulu, orang kamu orang mana?" tanya pak Jhon, pada Raid.
"Saya orang kembangan sini pak, RW 03."Jawab Raid.
"Dekat berarti ya, mari masuk silahkan duduk. Dara ambil kan minum ya jika haus." Kata pak Jhon.
"Iya pak nanti saya kan."Kata Dara.
Lalu keduanya duduk di kursi yang ada di teras. Yang memang tersedia dua kursi dan meja kecil satu.
"Abang mau minum apa dingin apa biasa?"tanya Dara, dan akan ke dalam ambil minum untuk Raid.
Raid menarik tangan Dara dengan lembut dan mendudukkan di sampingnya.
__ADS_1
"Tidak usah saya bisa ngobrol dengan kamu sudah cukup." Jawab Raid dengan senyum.
"Emang apa yang ingin abang bicara kan dengan saya?" tanya Dara, sambil menatap wajah Raid.
Raid melihat tatapan mata Dara, langsung tersenyum manis. Lalu tangan kirinya memegang ujung rambut Dara.
"Boleh saya lihat rambut mu? panjang nya seberapa dan buka tali rambutnya?" tanya Raid.
"Boleh, tapi rambut saya tidak panjang bang." Jawab Dara, sambil membuka ikat rambutnya.
Sekarang rambut Dara sudah terurai sebahunya, ia menyisir dengan jarinya. Dengan rambut bergelombang indah warna hitam pekat.
Terlihat manis di mata Raid, kemudian tangan Raid mengusap kepala Dara merasakan halusnya rambut itu. Dari atas hingga ujung rambut tersebut, lalu menyelipkan ke belakang telinga.
"Sangat cantik." ucapnya Raid dengan senyum manisnya.
Dara tersenyum mendengar ucapan Raid "Saya ini tidak cantik kali bang, masih banyak yang lebih cantik dari saya." Kata Dara.
"Saya ngomong apa adanya, kamu itu cantik luar dalam." Ucap Raid, mengatakan sesuai dengan apa yang ia lihat selama bersama dara seharian ini.
"Saya serius. Jujur saya suka dan sayang sama kamu, mau gak jadi pacar dan istri saya?" tanya Raid sambil menggenggam kedua tangannya Dara.
"Abang serius, kita kan baru bertemu?" Dara balik bertanya, karena tidak percaya dengan ungkapan hati Raid pada dirinya.
"Saya serius. Bagi saya tidak perlu lama mengenali mu, cukup hari ini saja saya sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Maka dari itu saya berusaha untuk bisa mengantar mu pulang ke sini. Dan bisa mendapatkan hati mu itu yang lebih penting lagi."Jawab Raid meyakinkan Dara bahwa dirinya sungguh-sungguh menyukainya.
"Saya ini tidak seperti yang abang lihat, yaitu cantik luar dalam. Saya hanya takut abang suatu saat kecewa dan menyesal. Karena telah menyukai saya, abang orang yang baik. Harusnya mendapatkan gadis yang baik pula, bukan orang yang seperti saya." Kata Dara dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Ia sedih dengan ketulusan Raid, karena tidak ingin melukai hati orang yang sebaik dan setulus Raid. Yang menyukainya dan berusaha untuk mendapatkan hatinya. Apa dengan ia memberitahu kisah hidup nya yang sudah tidak murni gadis. Dan dirinya tidak pantas untuk di sebut gadis yang masih suci.
Raid mendengar ucapan dan melihat mata Dara yang berkaca-kaca. Dia faham dengan apa yang di maksud oleh perempuan yang ia sukai. Dia tidak perduli jika Dara memiliki masa lalu yang buruk.
__ADS_1
"Saya menyukai mu apa adanya kamu, apa pun itu. Saya mencintai mu setulus hati saya, yang penting kamu menerima saya yang apa adanya juga itu sudah cukup untuk saya."Ucap Raid.
"Meski pun saya ini seorang janda?"tanya Dara dengan air mata yang tidak dapat di bendung lagi.
"Saya tidak perduli akan itu. Saya mencintai mu apa adanya, apa kamu mau menerima saya yang dengan apa adanya juga. Kalau ia itu artinya kamu jodoh saya, jika tidak ini juga hari terakhir kita bertemu. Karena saya memutuskan sesuatu itu cukup satu kali dan hari ini. Saya minta kepastian mu sekarang juga apa kamu mau menjadi pacar dan istri saya?" tanya Raid.
Dara mencerna semua ucapan Raid, pemuda yang baik mengajak serius. Kalau di terima, ia belum ada perasaan pada Raid sedikit pun. Tapi berada di sisinya Raid ia merasa nyaman, dan bahagia. Berbeda saat bersama dengan Arta, rasa suka dan bahagia itu ada tapi rasa nyaman tidak ada. Jika di tolak, ia tidak yakin ada yang mau menerima dirinya apa adanya. Pasti yang ada ia di cap perempuan yang tidak benar, dan murahan.
Dara menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan, sambil mengusap air matanya. Ia akan belajar menerima dan mencintai orang yang sudah mencintai nya apa adanya. Belum sempat Dara berucap pak Jhon mengagetkan mereka berdua dengan berteriak dari dalam.
"Dara, memang beres? sebentar lagi jam sepuluh, tinggal sepuluh menit lagi." Teriaknya dari dalam rumah.
"Ya pak sebentar lagi." Jawab Dara, dan merasa tidak enak dengan majikannya.
"Bang sudah mau jam sepuluh." Kata Dara.
"Iya tapi saya tidak akan pulang, jika belum mendapatkan kepastian dari mu. Bagaimana apa jawaban mu?" tanya Raid yang kekeh dengan keputusan yang ia harus dapatkan hari ini.
"Emang abang tidak akan menyesali keputusan abang?" tanya Dara dengan menatap mata Raid yang juga menatapnya.
"Tidak akan menyesal dengan apa yang sudah saya pilih." Jawab Raid.
"Baiklah, saya mau jadi pacar dan istri mu bang." Kata Dara.
"Beneran?"Raid memastikan.
"Iya bang." Jawab Dara.
"Alhamdulillah, ya Allah saya dapat jodoh hari ini." Ucap Raid, yang langsung memeluk Dara dengan penuh kasih sayang.
"Gua gak akan biarkan lu pergi dari hati gua Dara. Gua kagak kehilangan lu, dan juga membuat mu terluka karena cinta lagi." kata hati Raid saat mendekap Dara.
__ADS_1
"Ya sudah, obrolan kita sambung lagi. Malam minggu nanti Abang ke sini ya kamu izin sama pak Jhon." Kata Raid saat ia merenggangkan pelukannya, pada Dara.
*****Bersambung.......