Pertemuan di bus kota

Pertemuan di bus kota
12.Menghadapi anak-anak


__ADS_3

Segera ia menuju parkiran untuk mengambil sepeda, ia membayar parkir 500 rupiah. Langsung pulang, takut kesiangan karena jam 12:30 harus jemput sekolah.


Sampai rumah Dara memotong sayuran, dan menyiapkan bumbunya. Sedangkan bu Risa menyiapkan ikan kakap merah itu untuk di buatnya sendiri. Mereka fokus pada pekerjaan masing-masing, tidak sampai jam 12:30 sudah selesai. Kemudian Dara dan Bu Risa menjemput anak-anak yang tinggal 10 menit lagi pulang.


"Sebentar ya Dara saya ganti baju dulu, ini bau amis."Kata bu Risa, langsung naik ke atas menuju kamar nya.


"Baik bu," Dara duduk di teras untuk menunggu majikannya.


Dua menit kemudian bu Risa sudah turun, lalu berangkat. Setelah 5 menit dengan berjalan kaki, mereka sampai di depan utama sekolah. Melihat lorong yang mana ramai dengan anak-anak keluar kelas. Ivan dan Sinta sudah keluar, menyerahkan tas pada Dara.


Saat di luar gerbang ada tukang gorengan, bu Risa beli 5 ribu. Di saat itu gorengan masih seribu dapat 4 pcs. Berbagai macam gorengan, sehingga dengan harga 5 ribu dapat 20 pcs gorengan.


Mereka sampai rumah, menyalakan televisi sambil makan gorengan. Dara pun ikut makan, apa pun yang di beli dan di masak majikannya dara juga menikmati nya. Di sini Dara baru kerja dua minggu, sehingga bu Risa masih ikut antar dan jemput ke sekolah.


Dara sebelumnya kerja pada di Rempoa Bintaro. Mendapatkan majikan yang baik, namun kurang tidur. Kerja di mulai dari jam 4 pagi, sampai jam 12 malam. Peraturan bak kerajaan, dengan segala sesuatu rapih, bersih, tertip, disiplin.


Ya Dara bekerja dengan keluarga berdarah biru, keturunan darah biru kerajaan Jogja. Lebih tepatnya masih memiliki garis keturunan darah biru. Yang menikah dengan pengusaha berasal Bandung, yang memiliki usaha di Jakarta.


Karena Dara tidak kuat, dua mingguan juga sudah telepon yayasan. Dan minta di ganti dengan yang lain, Dara juga bilang ke majikannya. Majikannya sebenarnya sangat suka dengan Dara. Yang jujur, baik dan sayang dengan anak-anaknya.


Ia memiliki Anak 3, yang pertama anak perempuan Yang berusia 14 tahun. Yang sekolah di SMP Al Azhar dan kedua adiknya yang masih SD ini kembar. Baru kelas 4 SD di sekolah Al Azhar juga. Dari itu Dara harus bersabar mendapatkan penggantinya sampai satu bulan lebih seminggu.


"Mba Dara aku mau makan dong, tapi suapin ya." Ucap Sinta dengan manja. Dara memiliki kecocokan dengan Sinta, sedangkan Ivan selalu iri. Jika dara memanjakan Sinta, karena ia juga ingin di perlakukan yang sama oleh Dara.


"Sinta kamu kan juga bisa makan sendiri," Kata Ivan.

__ADS_1


"Ih Koko sirik aja. Aku kan tidak pernah ngerecokin Koko." Kata Sinta.


"Mbak Dara aku juga mau di ambilin sekalian, nanti aku makan sendiri. Dasar gendut, manja lagi, mandi minta mandiin, makan minta di suapin. Tidur aja yang tidak minta di temani sama mbak Dara."Kata Ivan.


"Sudah tidak usah berdebat kalian. Koko kan sudah besar kenapa tidak mencontohkan hal yang baik pada dedek." Ucap bu Risa.


"Terganggu dedek nya kali ma, apa lagi sekarang yang belain di bertambah."Kata Ivan.


Dara datang tanpa banyak bicara,. ia memberikan piring berisi makanan yaitu ikan bakar yang sudah di buang tulangnya. Sama dengan Sinta, hanya tidak akan menyuapi Ivan.


"Terima kasih ya mbak." Senang melihat piring miliknya sudah tanpa tulang dan tinggal makan.


Melihat hal itu bu Risa hanya menggeleng kepala. Dengan begitu bu merasa senang karena anak sulungnya tidak marah-marah lagi.


"Enak aja aku di bilang keras kepala." Sahut Ivan, sebelum Dara menjawab.


"Iya bu, saya hanya belajar menghadapi anak-anak. Supaya nanti kalau saya sudah nikah bisa dengan sabar menghadapi anak-anak saya."Ucap dara dengan senyum simpul.


"Oh iya, kan kamu punya pacar orang mana?"tanya bu Risa.


"Pekalongan bu,"jawab Dara.


"Sekarang kerja atau di mana?"tanya bu Risa.


"Dia kerja di proyek bu, daerah kapuk gitu kali gak salah."Jawab Dara.

__ADS_1


"Lalu kamu bagaimana kalau mau ketemuan sama dia. Apakah dia punya hp atau nomor yang bisa di hubungi?"tanya bu Risa yang semakin kepo.


"Kalau untuk ketemu ke warkop miliknya bu. Di pasar baru Jakarta pusat, di sana nanti yang pegang warkop itu nelpon dia."Jawab Dara.


"Kamu itu milik pacar mu? bukan apa-apa nanti cuma untuk kedok saja lagi."Kata Bu Risa, merasa kasihan jika Dara sampai di bohongi.


"Waktu buka warkop ada saya bu, dia bilang itu untuk masa depan. Lagian uang kalau di pegang begitu aja bisa habis. Saya juga pernah di ajak ke kontrakan kakaknya. Tapi tanggapan dari kakaknya kurang setuju, jika dia sama saya."Jawab Dara dengan sedikit lesu.


"Itu kakaknya kerja apa? dan ngontrak di mana?"tanya bu Risa.


"Sopir pribadi kantor, tapi tidak tahu perusahaan apa. Jika direktur utama pergi keluar kota dia ikut keluar kota. Bahkan kemarin dia lagi di Palembang untuk tiga hari. Kalau ngontrak nya di Mampang, tepat di seberang showroom mobil Honda."Jawab Dara.


"Tapi sudah nikah apa belum?"tanyanya lagi.


"Sudah 3 tahunan, tapi belum juga punya anak."Jawab Dara.


"Kamu tidak tanya sama pacar mu itu kenapa kakaknya tidak setuju. Kan pasti ada alasan nya kenapa tidak setuju." Kata bu Risa.


"Waktu itu saya cuma berdua dengan kakaknya, pacar saya lagi mandi. Mas Tri, bilang saya masih muda, lebih baik cari yang lain jangan adiknya. Karena selama ini dia selalu repot mengurusi masalah yang selalu di perbuatnya. Sebelum saya menyesal lebih baik tinggal kan adiknya. Kalau saya tidak percaya dengan ucapannya tidak apa-apa. Kalau percaya ya alhamdulilah, setidaknya dia tidak akan pusing dengan masalah adiknya. Karena kedua orang tuanya sudah tidak sanggup dengan kelakuan adiknya itu. Sejak sekolah selalu buat masalah, sekarang usianya sudah 25 tahun. Masih belum bisa berubah sama sekali, sebagai kakaknya jadi serba salah."


"Saya belum tahu karakter buruk atau aslinya pacar saya. Maka saya belum percaya sama sekali, apa lagi selama saya kenal dia. Dia selalu baik, penyabar, tidak pernah marah sekali pun."Cerita Dara pada majikannya.


"Tapi mungkin ada benarnya, apa yang di ucapkan kakaknya. Kamu harus hati-hati, siapa tahu pacarmu itu playboy. Playboy itu selalu pandai bersilat lidah Dara, kalau pacaran selalu main rapih. Dan para perempuan yang di pacari tidak akan ada yang tahu kalau dia itu penjahat wanita."Kata bu Risa


*****Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2