
"Oh, apa kamu juga sudah lama kenal dengannya?" tanya Agus lagi.
"Belum lama sih," jawab Dara, dengan perasaan bersalah karena dirinya sempat jalan dengan Agus.
"Oh, semoga bahagia ya. Dan dia setia pada mu, sayang pada mu dengan setulus hati."Ucap Agus, dengan senyum penuh arti.
Ya Agus tersenyum melihat perempuan yang ia cintai kini sudah di miliki laki-laki lain. Karena ia terlambat menyatakan perasaannya pada gadis yang di cintai. Namun ia akan bahagia jika gadis yang di cintai itu bahagia. Meski tidak bersama dirinya, dengan melihat gadisnya bisa tersenyum bahagia. Jika di terluka dan menangis ia akan menjadi pelipur nya.
"Aamiin,,,, Terima kasih doanya ya mas."Ucap Dara dengan senyum getir.
Lalu ia pamit pergi ke arena renang, karena anak asuhnya sudah sampai di sana lebih dulu. Dengan perasaan bersalah, Dara tidak mau berlama-lama di hadapan Agus.
Setelah kepergian Dara Juned dan Slamet pun berkomentar. Atas keterlambatannya Agus, yang selalu menunda-nunda untuk mengungkapkan perasaan pada Dara. Namun jawabannya membuat teman-teman melongo.
"Tidak jadi masalah, yang paling penting buat saya. Dara selalu bahagia itu sudah cukup membuat saya bahagia. Dan ini jawaban atas keraguan saya, kalau Dara bukan jodoh saya."Kata Agus dengan senyum manisnya.
"Wah Gus, kamu masih waras kan?" tanya Juned.
"Jangan bilang kamu putus asa karena gagal terus dapat jodoh." Kata Slamet sambil menyentuh keningnya Agus.
"Saya waras Met, lagian kalau jodoh tidak akan kemana. Dan cinta itu tidak harus memiliki, cukup melihat dia bahagia itu juga akan membuat kita bahagia. Percuma juga jika kita cinta, namun sendirian apa bedanya dengan yang patah hati."Kata Agus dengan bijaknya.
"Ya elah dia sok bijak, padahal hatinya terluka itu. Sayang aja tidak bisa di lihat dari luar, jika terlihat itu hati sudah hancur lebur." kata Juned, namun cuma di senyumin oleh Agus. Ia tidak perduli dengan ucapan teman-temannya, karena ia mengatakan yang sebenarnya.
Malam harinya Dara izin pada majikannya untuk bertemu dengan Raid di dekat pos ronda. Dan di berikan waktu 1 setengah jam, untuk Raid bertemu dengan Dara.
__ADS_1
"Hai Yang," sapa Raid, saat Dara menghampiri nya yang sudah menunggu di pos ronda.
"Hai bang."Balas Dara dengan senyum manisnya.
Dara datang dengan rapi dan cantik. Ya Dara sedikit berdandan saat mau bertemu dengan Raid. Dengan memakai baju kemeja biru muda, celana jeans biru dongker 3/4. Rambut di ikat separuh bagian atasnya, sudah cantik dengan mike up tipis.
"Cantik banget sih? emang mau kemana?" tanya Raid, sambil tersenyum menggoda Dara.
Dara tersenyum malu, lalu menggeleng kepala. Lalu Raid menarik tangan kanan Dara dengan lembut, dan mendudukkan di sebelahnya. Kemudian mencium tangan Dara dengan lembut dan cukup lama. Dara mendapatkan perlakuan manis dari Raid pun langsung berdebar kencang jantungnya.
"Yayang sudah makan?" tanya Raid, sambil merangkul pundak Dara.
"Sudah Bang, apa Abang belum makan?" tanya Dara balik.
"Sudah tadi sebelum datang ke sini." Jawab Raid, mengatakan yang sebenarnya.
"Kenapa apa Abang terlihat jelek? Yayang menyesal sudah menerima Abang jadi pacar?"tanya Raid, saat melihat tatapan Dara yang begitu dalam padanya.
"Tidak bang, bagiku percuma orang yang ganteng. Bila ia tidak bisa setia dan membahagiakan aku. Abang itu menurut ku juga tidak jelek kok, Abang itu sebenarnya ganteng. Tapi sayang Hitam aja, kalau Abang putih pasti kayak bule arap." Jawab Dara dengan senyum manis nya.
"Biar hitam manis sayang, makanya masih bisa Yayang bilang ganteng." Ujar Raid sambil mentoel hidungnya Dara.
"Iya. Hitam manis hitam manis pandang tak jemu pandang tak jemu." Dara menyanyikan lagu dangdut untuk Raid dengan suara yang pas-pasan.
Raid melihat tingkah Dara pun gemas, langsung memeluknya dengan erat kemudian mendaratkan kecupan hangat kening Dara.
__ADS_1
"Terima kasih ya," ucap Raid, yang masih memeluk Dara.
"Terima kasih untuk apa bang, kan aku tidak ngasih apa-apa? tanya Dara dengan mendongak dan menatap wajah Raid.
"Karena Yayang sudah membuat hati Abang bahagia. Abang jadi pengen cepat-cepat nikahin kamu Yang."Jawab Raid, yang mengatakan perasaannya pada Dara sang kekasih.
"Apa Abang yakin ingin menikahi ku, berarti harus ikut aku ke kampung?" tanya Dara, yang memastikan bahwa Raid bersungguh-sungguh padanya. Bukan tanpa sebab, Dara masih trauma dengan kata menikah namun hanya di lisan.
"Abang akan ikut Yayang pulang ke kampung. Kapan Yayang akan pulang kampung nya?" tanya Raid, sambil mengusap kepala Dara penuh kasih sayang.
"Belum tahu bang dua bulan lagi puasa, paling nanti pulang lebaran kurang 4 hari pulang kampung bang." Jawab Dara.
Obrolan demi obrolan mereka lalui, Hinga tida terasa mereka harus berpisah lagi dan ketemu kembali. Raid pulang dengan berjalan kaki lagi, tadi berangkat demi bertemu dengan sang pujaan hatinya. Ia rela berjalan kaki pergi dan pulang.
Sampai di rumah Raid menyampaikan keinginannya pada emaknya. Jika dirinya ingin segera menikah dengan Dara yang sangat ia cintai.
"Nikah itu memang tujuan yang bagus tong. Apa kamu pikir nikah tidak butuh biayanya murah? Apa sudah kamu tanya sama dara mau di bawain duit berapa?"tanya bu Sharifah pada Raid, yang ingin segera menikah.
"Belum Mak, kan aya minta doa restu dari emak dulu. Kalau emak sudah restui baru aya tanya sama Dara Mak."Jawab Raid menyampaikan maksudnya pada emaknya.
"Iya kalau emak ingin abang lu dulu tong, yang nikah. Supaya tidak ada yang melangkahi atau di langkahi. Biar yang nikah yang lebih tua dulu yang nikah. Lagian lu belum ada duitnya kan sambil kumpulin dulu buat biaya nikah nanti." Bu Sharifah menasehati anaknya yang sudah dewasa ini.
" Ya udah tar aya tabung sisain gaji Aya buat tabungan nikah ya mak. Apa emak kaga keberatan, kalau gaji aya tidak lagi Aya kasih emak lagi?"tanya Raid pada emaknya, yang selama gajinya sepenuhnya di berikan pada emaknya
"Selama lu belum nikah lu bantu beli beras aja ya tong. Sisanya boleh lu ambil terserah lu mau gimana. Nanti kalau sudah nikah, ya sebisa kamu mau bagi emak ya alhamdulilah kalau tidak bagi emak juga tidak apa-apa. Yang penting keluarga lu cukup kagak kekurangan, itu lebih baik."Jawab bu Sharifah.
__ADS_1
"Insya Allah, nanti itu kita bahas lagi setelah aya nikah." Kata Raid, pada emaknya.