Pertemuan di bus kota

Pertemuan di bus kota
6.Atas dasar kecemburuan


__ADS_3

Lisna tersenyum juga saat Fano mengalihkan pandangan dari Dara ke Lisna. Lisna berharap di juga bisa keluar dari rumah ini. Tapi juga berharap tidak bertemu ayah dan anak buahnya.


Tepat jam sembilan Sania beserta suami dan anak-anaknya pulang. Dara membantu majikannya untuk membawa bawaan nya masuk ke rumah.


Sania melihat Dara dan Lisna dengan pakaian rapi, bukan piyama pun bertanya-tanya dalam pikirannya. Setelah membaringkan Ardian begitu juga Rainal yang sudah membaringkan Raisa.


Dara pun sudah selesai akan tugasnya, sebelum ia keluar dari kamar. Sania sudah menodong nya lebih dahulu dengan.


"Kamu sama Lisna mau kemana malam begini? bukannya pakai piyama malah baju pergi?" Dengan tatapan sinis.


"Saya mau balik ke yayasan bu sekarang juga."Jawab Dara tenang.


"Apa maksudmu Dara?!"tanya dengan membentak Dara.


Dara yang di bentak pun mengusap kedua telinganya. Kemudian Dara menatap wajah majikannya sebentar lalu menunduk. Dara menoleh saat Lisna sudah berada di sampingnya.


"Saya tidak kuat kerja di sini bu."Jawab dara.


"Apa alasan mu keluar dari rumah saya malam-malam begini. Apa lagi kalian itu seorang gadis, tapi lain soal jika kamu memang orang yang tidak benar."Katanya sungguh menusuk hati siapa pun yang mendengar nya.


"Sania," tegur Rainal dan Fano bersamaan.


"Tolong jelaskan apa alasan mu untuk keluar sekarang dan kenapa harus malam begini?"tanya Rainal,


"Lisna juga apa harus ikut keluar?"lanjut Rainal.


"Saya tidak kuat jika saya harus kerja tepat waktu. Tapi saya hanya makan sehari sekali siang saja."Jawab Dara, di angguki oleh Lisna.

__ADS_1


"Kami bekerja juga butuh energi, juga kesehatan pak."Timpal Lisna sebagai jawaban dari nya juga.


Hal itu membuat Rainal kaget, memperlakukan Art tidak baik. Rainal menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya jika istrinya sekejam itu. Apa yang dilakukan itu atas dasar kecemburuan, atau memang tabiat nya. Apa lagi selama dara dan Lisna kerja di rumah istri dan kakak iparnya ini. Dia tidak memperhatikan waktu makan para Art saat hari libur kerja.


Sania jadi salah tingkah saat di tatap suaminya. Karena selama ini yang berani ngomong begitu cuma Dara dan Lisna. Dan dalam waktu cepat juga mereka memutuskan berhenti kerja, biasanya paling cepat satu bulan baru keluar dengan alasan tidak betah. Terlebih Dara dan Lisna membicarakan tentang kelakuan nya di depan suaminya. Di tidak mau mendengar nasehat kakaknya, untuk tidak memperlakukan Art dengan caranya. Harus dengan cara yang baik, supaya suaminya tidak marah padanya.


"Itu karena saya sibuk dengan tamu hari ini Dara. Kalian seharusnya jangan nunggu saya suruh makan baru makan."Kilah Sania.


"Saya akan makan setelah ibu beri saya makan. Kecuali dari awal saya masuk, ibu bilang seperti itu. Maka saya juga tidak akan kelaparan setiap hari. Untuk menghilangkan rasa lapar saya Han membeli roti di warung. Karena jika saya makan yang punya ibu, ibu marah. Sama persis di hari pertama saya kerja di sini. Dan kami sudah mencoba bertahan sampai hari ini saja."Jawab Dara.


"Kenapa harus malam begini Dara, lalu kamu mau pulang ke yayasan naik apa?"tanya Rainal.


"Tidak tahu pak. Yang penting saya keluar dari sini." Jawab dari.


"Oke kalau itu sudah jadi keputusan mu saya mau periksa barang bawaan mu. Jangan sampai kalian ambil barang di rumah saya ini."Kata Sania dia tidak mau melarang kemauan Dara, bisa gawat kalau di pertahankan. Bisa-bisa nanti mencuci otak suaminya dan kakak nya. Itulah yang di pikiran Sania takut suami dan kakak jadi luluh sama Dara.


"San kamu ini kenapa jadi orang kok tega sih. Ingit jangan angkuh kamu, doa orang teraniaya itu di kabulkan, oleh Allah SWT."Ucap Rainal pada istrinya.


"Alah mas membela mereka karena suka kan. lagian kalau aku pertahankan mereka, nanti mas malah ninggalin aku sama anak-anak kita. Lagian kalau mereka wanita baik-baik tida mungkin akan pergi malam begini. Sudah deh mas itu diam aja, tidak usah perduli sama mereka kecuali memang mas punya perasaan dengan wanita murahan itu."Kilahnya tetap tidak mau di salahkan atas keluar nya Dara dan Lisna.


Akhirnya Rainal diam sebagai suami ia tidak ingin rumah tangga nya berantakan atas ke salah pahaman ini. Istrinya yang selalu cemburu, pada pembantunya. Selama tiga bulan sudah ganti tiga kali Art. Dan sekarang yang ke empat kalinya dara dan Lisna.


Sania memeriksa barang-barang Dara dan Lisna secara bergantian. Setelah itu memeriksa dompet keduanya. Menemukan uang di dompet Anah sepuluh ribu recahan. Kemudian memeriksa dompet Lisna hanya menemukan uang 7 ribu rupiah.


"Lalu uang saya tidak kamu ganti Lis?"tanya Sania sambil menatap nanar Lisna.


"Uang yang saya pinjam itu untuk beli kebutuhan saya dan sarapan saya."Jawab Lisna dengan sedikit gugup.

__ADS_1


Lalu Sania menatap Dara, dengan tatapan intimidasi.


"Kamu yang isi dompet ini hanya segini?"tanya Sania.


" Ada yang lain saya siapkan untuk ongkos nanti."Jawab Dara.


"Mana?"Sania meminta untuk di perlihatkan.


Dara langsung merogoh saku celananya bagian belakang. "Ini," Dara menunjukkan pada Sania. Dengan cepat Sania mengambil uang di tangan Dara.


"Karena Lisna punya hutang ini uang Lisna dan kamu saya ambil. Sebagai gantinya hutangnya Lisna, ini juga masih kurang 28 ribu."Kata Sania.


"Lalu bagaimana dengan gaji kami yang sudah kerja selama dua minggu?"Lisna memberanikan diri menanyakan haknya.


"Salah sendiri kamu pergi sekarang, tidak setelah gajian. Jangan harap saya mau bayar gaji kalian. Kamu pikir saya ambil kalian dari Yayan itu murah. Saya bayar kalian dengan harga 300 ribu perorang. Kamu semua kerja tidak pecus, baru beberapa hari saja sudah keluar. Bikin saya rugi tahu tidak? kalau seperti ini saya akan adukan ke yayasan kalau kalian kabur malam-malam."Kata Sania dengan nada emosi.


"Baik tidak masalah saya jika tidak ibu gaji. Itu membantu orang tidak mampu, bukan karena uang. Tapi tenang untuk mengurus rumah, orang kaya kan hanya punya uang tapi tidak punya tenaga dan hati nurani. Ayo teh kita pergi, hapus air mata teteh. Sekalinya teteh menangis darah sekalipun kita tetap tidak akan mendapatkan gaji kita." Ucapan dara sangat menusuk hati orang yang waras.


"Tapi ini malam Dara."ujar Rainal berusaha mencegah kepergian Dara dan Lisna. Namun tidak di gubris oleh Dara dan Lisna. Rainal juga mendapatkan pelototan dari istrinya.


Fano mengikuti Dara dan Lisna sampai gerbang, karena mau sekalian mengunci pintu gerbang itu.


"Kalian hati-hati di jalan ya. Semoga Allah SWT memberikan perlindungan untuk kalian."Doa Fano pada Dara dan Lisna.


"Aamiin A, terima kasih." Lalu pergi meninggalkan rumah Sania tanpa menoleh ke belakang lagi.


Tanpa terasa air mata Fano mengalir begitu saja. Ketika Dara dan Lisna meninggalkan rumah nya. Terasa sakit hatinya saat mendengar ucapan Dara sebelum keluar rumah nya.

__ADS_1


*****Bersambung....


__ADS_2