
"Dari obrolan kamu itu yang di bahas cuma urusan mu dangan Sumi Id. Terus di sambung lagi dengan perjodohan mu sama anak pak Siman."Kata Bandi.
"Aku mau pulang saja, di sini saya kamu ledek terus. Lagian saya sudah janji sama emak tidak akan lama."Kata Raid yang langsung berdiri dari duduknya. Kemudian berjalan pulang ke rumahnya dan akan mengadukan soal hari ini sama emaknya.
Bandi dan pak Kasiman hanya menggeleng kepala melihat tingkah polah Raid yang polos itu di lamar seorang janda muda. Memang di aku oleh Bandi siapa pun ingin memiliki menantu ya seperti Raid. Karena Raid pemuda yang rajin, jujur, baik hati, tulus dalam membantu orang yang membutuhkan bantuan nya.
Sampai di rumah Raid langsung mencuci tangan, lalu mengambil piring. Ia ingin makan saat mencium aroma masakan emaknya ikan asin dan sambal goreng atau sambal terasi. Itu makanan kesukaannya, ia tidak muluk-muluk jika makan.
Sangat berbeda dengan Thomi, jarang makan di rumah. Lebih memilih makan di warung makan atau warteg. Tidak suka dengan masakan ala kadarnya yang emak masak. Ia pun jarang memberikan uang emaknya maka dari itu ia pun tidak makan di rumah.
Kalau pun makan di rumah ia melihat emaknya ketika masak daging sapi atau ayam. Setidaknya ikan basah, baru ia makan di rumah. Kadang membuat yang lain kesal dia makan enak di rumah. Hanya membawa satu bungkus untuk dirinya saja. Adik-adiknya yang melihat dirinya makan enak hanya menelan ludah.
Tapi itu tidak berlaku untuk Raid, ia tidak perduli dengan apa yang di lakukan oleh Abang semata wayangnya itu. Namun ter kadang ia kesal juga membawa makanan membuat adik-adiknya tersiksa dengan tingkahnya.
"Tong itu ada sayur asem, makannya pakai sayur jangan kering begitu." Kata bu Sharifah, setiap melihat Raid makan dengan lahap cukup dengan sambal dan ikan asin dan tempe goreng.
"Dah mak enak begini," kata Raid di sela-sela ia makan. Lalu berdiri untuk nambah lagi, nasi dan lauk pauk nya.
Di ikuti bu Sharifah, tanpa bicara bu Sharifah mengambil mangkok. Lalu ia mengisi mangkok itu dengan sayur asem masakan nya.
"Ini di makan jangan badan tu sehat harus makan pakai sayur. Kecuali emak kagak masak sayur." Kata bu Sharifah pada Raid.
__ADS_1
"Iya emak..., tar aya makan. Tapi habiskan nasinya dulu baru sayur asem dah."Kata Raid, jika emaknya yang ambil itu sayur pasti akan ia makan.
Setelah selesai makan Raid duduk bareng emaknya yang kini duduk di bale depan rumahnya. Kemudian ia menceritakan tentang dirinya yang di ajak nikah sama janda muda anak satu.
"Itu cewek cantik gak Id? tar lu nyesel lagi dah nolaknya?"tanya Sadly Adik bungsu bu Sharifah yang statusnya juga masih bujangan. Meledek Raid yang, sudah menolak lamaran janda.
"Gak akan nyesel cing. Kalau ncing mau, sono ambil no."Kata Raid dengan emosi. Sebab ia kesal di ledek oleh bujang tua itu.
Bagaimana tidak di sebut bujang tua, jika di usia 35 tahun masih bujangan. Sebab belum ada perempuan yang mau menerimanya. Karena pekerjaan yang hanya jadi tukang sablon, membuat dirinya sulit di terima oleh perempuan.
"Ya kalau dia mau sama gua sih, dengan senang hati. Dan sayang nya dia maunya lu Id, bukan gua."Kata Sadly.
"Gua juga kagak setuju Ly, kalau anak gua ama janda becerei. Apa lagi dia itu jug belum tentu baik hati nya." Bu Sharifah tidak setuju jika anak kesayangannya sama janda.
"Ya kalau lu mau sono lu kawinin tu janda. Pokoknya gua kagak setuju, kalau entong gua nikah sama janda titik. Kecuali ntu janda mati, itung-itung bantu ngurus anak yatim dah." Kata bu Sharifah.
"Lagian itu cewek lagi ada maunya aja ngasih ini dan itu ama Raid." Timpal bu Maisha.
"Nah kita lihat aja besok masih ngasih ini dan itu bakal Raid apa kagak. Kalau kagak berarti benar, itu hanya karena ada maunya doang."Kata bu Sharifah, yang membenarkan perkataan adik perempuan nya.
"Kalau itu tergantung Raid nya saja mbak" Ucap Saddam abangnya bungsu.
__ADS_1
Kalau yang bujang juga, namun ia tidak ingin menikah. Ingin bebas dari ikatan perempuan atau pun pernikahan. Sehingga memilih sendiri, jika ada yang tanya kapan nikah. Maka ia akan sangat marah, bahkan habis segala caci makian terlontar dari bibir nya.
Sejak balita sudah ikut bu Sharifah, dan memanggil bu Sharifah bukan Mpok tapi mbak. Dengan begitu ia merasa nyaman, bahkan Saddam usianya sudah 37 lebih namun belum mau menikah. Tapi ia senang main dengan anak-anak dari keponakannya. Karena bu Sharifah
"Iya memang itu faktanya juga anak gua nolaknya. Alhamdulillah..., adi gua kagak punya mantu kayak begitu."Kata bu Sharifah.
"Raid tu mbak Sumi memiliki tubu bak gitar spanyol apa bagaimana?" tanya Sadly.
"Ncing lihat ncing Mai ya itu dia begitu."Jawab Raid dengan menatap bu Maisha.
"Yah...., pantas saja lu kagak mau. Emang yang lu mau yang kayak apa sih Id?" tanya Sadly.
"Yang pasti rambut panjang, sependek-pendeknya sebahu lah, putih, cantik, dan langsing kayak Shintya Wijaya lah."Jawab Raid dengan santai dan senyum khasnya Raid.
"Raid lu kalau ngimpi jangan ketinggian, jatuh sakit lu. Kita ini orang kampung jangan ngarep yang artis ngapa."kata bu Maisha.
"Lah kagak papa kali cing, saben hari juga aya ngobrol Ama dia. Sayang aja dia bukan orang kita, andaikan dia orang kita aya sudah minta emak buat lamar Shintya Wijaya jadi bini aya. Apa lagi kita juga sudah kenal baik sama ibu Yati emaknya Shintya Wijaya. Tapi karena dia orang cina dan berbeda agama ama kita."Jawab Raid.
"Iya memang kita ini sudah kenal sama artis satu itu dari kecil. Jadi sudah tahu sifat-sifatnya, tapi sayangnya kita ini berbeda agama Id. Cari perempuan yang seagama sama kita saja ya tong." Pinta bu Sharifah.
"Iya emak, lagian aya ama Shintya cuma berteman kok. Lagian artis senetron mana mau mak, sama pekerja kotor kayak aya ini. Yang sesama artis juga banyak yang ganteng dan bersih. Kalau gak ya teman kuliah nya banyak yang kaya dan ganteng, terus seagama dengan Shintya."Kata Raid.
__ADS_1
*****Bersambung....