Pertemuan di bus kota

Pertemuan di bus kota
22.Kehilangan 2


__ADS_3

Setelah cukup lama Raid merenung, ia menghampiri emaknya yang di kamar di dampingi adiknya yang perempuan. Yang baru datang setelah di jemput Thomi, jam sembilan tadi bersama suaminya sekaligus.


"Emak,"panggil Raid, sehingga emak dan adiknya menoleh.


"Bang, kita kagak punya babak lagi." Ucapnya Muzayyan atau Muza panggilan sehari-hari.


"Iya kita sekarang sudah jadi anak yatim, tapi kita sudah dewasa. Bahkan kamu juga sudah nikah, belajar menerima semua ini dan mengikhlaskan kepergian babak. Kita bantu emak, jaga Farid yang masih kecil. Itu pun kalau kamu ada waktu, kalau tidak juga tidak apa-apa. Urus keluarga mu saja, karena kamu sudah punya tanggung jawab sendiri."Ujar Raid.


"Iya bang, tapi rasanya gak enak bang di dada ini. Gak bisa di ungkapkan dengan kata-kata." Kata Moza.


"Jangan kan lu Muz, emak nih juga. Bahkan emak masih belum ngerti ama babak lu ngomong apaan. Tadi dari emak pulang kerja sampai sore emak di marahin."Ucap bu Sharifah.


"Lagu Roma Irama memang nyata ya ma. Kalau sudah tiada baru terasa, tadi sore perasaan kagak kayak gini."Kali ini Raid yang mengucapkan unek-uneknya.


"Iya tong, neng, anak lu ama sapa?" tanya bu Sharifah yang baru menyadari bahwa cucunya tidak bersama anaknya.


"Tadi sama ayahnya Mak, kagak tau aya paling di luar sana." Jawab Moza.


Paginya, keluarga pak Kamil sibuk dengan pemakaman almarhum pak Kamil. Setelah keluarga pak Kamil di kabari, pada datang. Namun tidak semua hanya Sabri dan bu Rida kakak perempuan pak Kamil yang tinggal di kampung sebelah. Sabri bersama istri dan anak, sedangkan bu Rida bersama anak-anak dan suaminya.


Jam sepuluh pagi, jenazah pak Kamil di kebumikan. semua mengantarkan kemakam kecuali yang punya anak kecil. Seperti Moza dan Saina istrinya Sabri, yang menjaga anak perempuan yang kini umurnya baru setahun setengah itu.


Setelah pemakaman selesai kini pada kembali ke rumah bu Sharifah. Semua pada kumpul di ruang tamu, Sabri dan bu Rida pun kumpul di sana. Sabri akan menginap di rumah bu Sharifah, karena hari ini ia akan ikut tahlilan.


Bu Sharifah berjalan ke arah pintu keluar yang bagian dapur, hendak ke kamar mandi. Ya di rumah keluarga bu Suha ini kamar mandi cuma satu namun di bagi menjadi tiga untuk bagian nyuci baju, mandi, dan WC.


Saat akan keluar, hidungnya mencium ada bau bangkai. Bu Sharifah bertahan sebentar, mencari sumber bau itu. Lalu hidung dan mata bersatu, menuju kantong kresek warna hitam. Yang di gantung pada paku dekat pintu itu, tangannya mengambil kresek tersebut.


Saat di buka dan melihat apa isi kantong kresek itu. Begitu terbuka, betapa terkejutnya bu Sharifah dengan isi kresek tersebut.


"YA ALLAH.......!!! Teriak bu Sharifah, dan merosot ke lantai dengan perasaan bersalah pada suaminya. Hingga ia menangis sejadi-jadinya bahkan yang membuat semua orang kaget. Sehingga berhamburan mendatangi bu Sharifah, yang menangis di pintu belakang.


Bu Maisha mengambil kresek tersebut, lalu melihat isi tersebut. Ia pun ikut terkejut dengan isinya. Yang kemarin Abang iparnya beli ternyata belum di masak. Dan ini yang membuat mpok nya merasa bersalah.


"Astaghfirullah.... Ternyata bang Amil marah-marah karena ikan bandeng, yang di beli kagak di masak ama mpok."Ucap bu Maisha.

__ADS_1


Yang lain pun ikut sedih, wajarlah jika bu Sharifah merasa bersalah. Di tambah tidak mengerti dengan isyarat dari suaminya. Apa lagi setelah membeli ikan bandeng itu, langsung drop. Yang sebelumnya masih bisa berjalan dengan tongkatnya. Ketika istrinya pun ia tidak kuat lagi bangun dari tidur nya sendiri.


Sehingga membuat dirinya kesal sendiri, dan marah-marah. Di sediakan makanan pun sempat ia tumpahkan, sebab ia ingin makan sama ikan bandeng. Itu ia lakukan sebagai bentuk protes pada istrinya atau anaknya. Karena ia tidak ingin makan yang lain, sore hari saat Raid pulang. Di rayu dan di suapi oleh Raid, baru ia mau makan. Namun hanya tiga suap saja, di coba di paksain malah keluar semua. Apa yang sudah di suapkan oleh Raid malah keluar semua.


Sekarang bu Sharifah di tuntun oleh Raid dan Muammar untuk ke kamar. Sabri ikut sedih melihat bibinya, karena ia juga sudah menganggap ibunya sendiri. Sejak kecil ikut pak Kamil dan bu Sharifah, dari pada orang tuanya.


"Bibi, yang tabah ya. Mamang sudah tenang di alam nya. Saya yakin mamang sudah ikhlas, dengan itu semua."Ujar Sabri, sambil mengusap punggung bibinya.


"Iya Sabri, tapi saya aja gitu. Permintaan terakhirnya mamang lu kagak ke turutan gitu."Kata bu Sharifah.


"Tapi kemarin sore masih marah sama bibi?" tanya Sabri.


"Udah nggak marah, tapi bibi merasa berdosa pada mamang mu Bri."Jawab bu Sharifah.


"Ya sudah berarti mamang sudah ikhlas dan tidak marah lagi sama bibi. Sekarang bibi mau apa? Tadi mau ngapain ke belakang? Sabri.


"Tadi bibi pengen mandi, itu sekarang malah sudah jam satu siang. Itu juga sudah dzuhur, waktu kita sholat. Bibi pengen mandi, ini badan sudah lengket apa lagi tadi dari makam."Kata bu Sharifah.


"Iya bi, bibi duluan nanti gantian. Kan antri di kamar mandinya, jadi kami nunggu bibi selesai." Ujarnya Sabri.


Sedangkan Raid memutar radio peninggalan babaknya, lalu ia putar. Keluar lah lagu yang kemarin ia sebut di depan emak dan adiknya. Yaitu lagu kehilangan dari bang H.Roma Irama.


.................................


Kalau sudah tiada baru terasa


Bahwa kehadirannya sungguh berharga


Sungguh berat aku rasa hidup tanpa dia


Kalau sudah tiada baru terasa


Bahwa kehadirannya sungguh berharga


Ku tahu rumus dunia semua harus berpisah

__ADS_1


Tetapi kumohon tangguhkan tangguhkanlah


Bukan aku mengingkari apa yang harus terjadi


Tetapi kumohon kuatkan kuatkanlah


Kalau sudah tiada baru terasa


Bahwa kehadirannya sungguh berharga


Sungguh berat aku rasa hidup tanpa dia


Kalau sudah tiada baru terasa


Bahwa kehadirannya sungguh berharga


Ku tahu rumus dunia semua harus berpisah


Tetapi kumohon tangguhkan tangguhkanlah


Bukan aku mengingkari apa yang harus terjadi


Tetapi kumohon kuatkan kuatkanlah


Kalau sudah tiada baru terasa


Bahwa kehadirannya sungguh berharga


Sungguh berat aku rasa hidup tanpa dia


Kalau sudah tiada baru terasa


Bahwa kehadirannya sungguh berharga


......................

__ADS_1


Akhirnya yang mendengar pun menangis, orang yang berada di kamar atau ruangan tamu. Sebab lagu yang mereka dengar adalah lagu yang tepat dengan yang mereka rasakan.


***** Bersambung....


__ADS_2