Pertemuan di bus kota

Pertemuan di bus kota
44.Karena pangku aku


__ADS_3

Sedangkan mang Eman memperhatikan Raid yang begitu perhatian, romantis dan begitu sayang dengan Dara pun tersenyum senang. Hal itu ia merasa wajah dan perlakuan Raid itu adalah Kamil sohibnya.


Raid melihat Dara memejamkan matanya ia senang, bisa menjaga Dara. Tapi ia juga kepikiran jika nanti ia sudah tidak bisa menjaganya. Sebab ia akan berpisah dengan Dara setelah ada panggilan keberangkatan penumpang menuju pelabuhan Bakauheni Lampung.


Setelah satu jam lebih Raid merasa pegel jadi sedikit bergerak. Hal itu membuat Dara terbangun, karena ia juga merasa pegal lehernya. Setengah sadar Dara langsung duduk, menoleh kesana-kemari melihat di mana berada. Lalu ia menatap Raid yang dengan menatapnya dengan senyum.


"Maaf ya bang kalau sudah bikin pegel, karena pangku aku." Kata Dara sambil merapikan kerudungnya yang berantakan karena tidur.


"Ya lumayan sih demi Yayang abang ikhlas kok." Kata Raid dengan mengambil jaket yang di pakai Dara tidur tadi.


Tidak lama ada pengumuman keberangkatan ke pelabuhan Bakauheni Lampung, bagi yang mau menyebrang dari pelabuhan Merak Banten. Dara bersalaman dengan mang Eman dan Raid, lalu mengangkat kardus dan tas.


"Hati-hati ya Yang. Nanti kabarin Abang, lewat mang Eman tadi yang Abang kasih." Kata Raid sebelum melepaskan Dara jalan menuju dermaga.


"Iya bang, nanti aku kabari mang Eman." Setelah itu ia melangkah pergi menjauhi Raid, menuju dermaga 3 untuk berangkat menuju pelabuhan Bakauheni Lampung.


setelah kepergian Dara Raid dan mang Eman pulang menuju terminal bus Jakarta barat. saat ini jam menunjukkan pukul setengah 1 dini hari. Mereka sudah sampai di terminal bus jam 3 dini hari. Mereka langsung menuju warung makan yang ada di terminal. Yang buka 24 jam untuk sahur, karena sudah jam makan sahur.


Setelah subuh baru Raid dan mang Eman pulang ke rumah, karena baru ada aktivitas bus kota setelah subuh. Sampai rumah jam enam, Raid langsung mandi. Di rumah cuma ada Thomi dan Farid yang masih tidur.


Ya mereka pada tidur setelah subuh, sedangkan bu Sharifah sudah berangkat kerja. Karena belum libur, sebab lebaran masih beberapa hari lagi. Maka saat ini bu Sharifah masih harus kerja 2 hari lagi.

__ADS_1


Setelah mandi Raid tidur di sebelah adiknya karena ia sangat mengantuk. Karena semalam tidak bisa tidur sama sekali, ini yang selalu Raid rasakan setiap bepergian.


...****************...


Dara kini sudah sampai di rumah, dengan selamat tidak kurang suatu apa pun. Ia turun dari ojek dan membayar ongkos ojek itu.


"Assalamualaikum mak, pak." Sapanya setelah sampai pintu.


"Wa'alaikumsalam, ya Allah akhirnya kamu pulang juga." Jawab bu Tumiyem, langsung memeluk Dara dengan menyalurkan rasa rindunya pada anak sulung nya yang lama tidak berjumpa.


Setelah itu mereka langsung bergantian dengan pak Kasiran, Nina, Mulyadi. Mereka berpelukan dengan dengan bahagia kepulangan Dara. Yang sudah hampir dua tahun tidak pulang. Kini lebaran kumpul semua, dengan penuh suka cita.


"Oh Mak, ini ada titipan dari bang Raid. Aku juga belum tau isinya apa yuk di buka." ucap Dara menunjukkan kardus yang bekas mie instan itu.


"Ya kalau aku tau, ngapain juga aku bilang belum tahu." jawab Dara sambil membuka tali pengikat nya.


"Gek opo lo isine(dan apa ya isinya),"kata pak Kasiran.


"Nah ini ada biskuit kaleng besar. Ini kue dodol Cina, wafer coklat, dan kue kering." Kata Dara sambil mengeluarkan satu persatu dari kardus.


"Kapan rencana kalian buat nikah?"tanya pak Kasiran.

__ADS_1


Dara yang mendapat pertanyaan itu , mengangkat bahunya. Karena itu memang ia belum tahu, sebab bel bagaimana gitu. Ini di buru dengan pertanyaan tentang pernikahan. Ini lo Masi pagi, napas juga masih ngos-ngosan. Gak sabar banget mau punya cucu." Oceh Dara pada bapaknya.


Ya begitulah Dara kalau di rumah mulut nya akan merepet. Apa lagi saat ini dia dalam posisi capek. Karena perjalanan jauh Jakarta ke Lampung.


"Lah kan bapak tanya yang bener Dar, kalau tidak serius mending sudahan. Jangan keras kepala Dar, apa coba kurangnya Irawan Dar? Dia mapan, rumah punya, orang tua sudah tidak ada. Kan enak kamu tidak akan merasakan cerewet nya mertua kamu, seperti mamak mu. Apa lagi dia saya banget sama kamu, dulu kalian akrab. Bahkan kamu kemana pun di ajak mau, setelah lamaran itu kamu kenapa begitu?"tanya pak Kasiran.


"Yeee itu kan karena ada udang di balik batu pak. Semua ia lakukan karena ada maunya, bukan ketulusan pak. Karena aku sudah anggep dia itu pak lek sendiri. lagian mangga bapak juga mas to, masak sih akan berubah pak. Aku aja geli membayangkan dia jadi suami aku. Kalau bapak tetep mau perjodohan itu, kenapa tidak sama Nina saja. Toh Nina kan juga belum punya pacar, dia juga gak kalah cantik tu. Cuma karena kulit hitam saja, kalau di perhatikan itu manis. Kan ada lagunya tu, hitam manis hitam manis yang hitam manis pandang tak jemu pandang tak jemu. Ya kan Nin?" tersenyum menggoda Nina, membuat Nina yang tadi sempat jengkel jadi tersenyum malu.


"Ya sudah lah mas, anakmu yang satu ini memang keras kepala. Percuma ngomong ngalor ngidul gak akan masuk. Sudah punya kehidupan kota, jadi lupa dengan kehidupan asal usul nya ini." Bu Tumiyem akhirnya bicara, karena sudah tidak ingin ada kata-kata yang akan menyakiti hatinya sebagai orang tua.


"Memang aku sudah tidak ingin hidup di kampung, biar pun hidup susah di kota. Tidak akan pernah di pandang rendah oleh orang kampung. Sudah lah berdebat hanya akan membuat orang batal puasa. Aku mau mandi, biar seger, dan istirahat deh." Ujar Dara yang langsung membawa tas untuk ke kamar. Tidak perduli lagi dengan tanggapan orang tua, sebab Dara merasa sudah lelah malah di ajak debat.


"Kalau tau seperti ini, mending aku tidak pulang sekalian. Selalu saja aku yang harus menerima apa yang mereka mau. Apa mereka tidak pernah memikirkan perasaan ku sekali saja. Sebenarnya aku ini anak kandung apa angkat sih. Apa menurut mereka aku tidak perlu bahagia apa." Dara berkata dalam hati.


Setelah sampai di kamar Dara, mengeluarkan baju dari tas. Lalu mengambil baju ganti nya, dan langsung pergi ke kamar mandi yang berada di belakang rumah. Dengan bilik yang dari bambu, sebagai dinding kamar mandi. Dara yang sudah lama tidak menimba air pun dengan malas dia harus menimba jika mau mandi.


*****Bersambung....


Maaf ya teman-teman, author baru nongol lagi. Membuat kalian menunggu episode ini terlalu lama.


Author lagi berusaha bangkit dari keterpurukannya. Semoga ke depan nya lebih baik lagi. Sehingga teman-teman tidak kecewa, dan author semangat juga melanjutkan hidup.

__ADS_1


Terima kasih atas support kalian untuk author remahan ini.🤗🥰🥰


__ADS_2