Pertemuan di bus kota

Pertemuan di bus kota
46.Meratapi nasibnya


__ADS_3

"Huh wanine ngerasani nang mburi ae (huh beraninya ngomongin di belakang aja)."Ucap Dara, di sela-sela makannya.


Setelah makan Dara memilih duduk di teras memandang pemandangan yang jauh di depan. Dengan demikian ia merasa tidak senyaman berada di kampung halaman. Biar dalam keadaan susah jika di Jakarta tidak akan terasa. Karena tidak pernah ia di pandang rendah dan susah. Bahkan di tuntut balas budi, pada orang yang sudah banyak membantu dirinya dalam hal apa pun. Tepat jam sepuluh malam Dara masuk untuk istirahat, supaya nanti bisa bangun untuk sahur tidak kesiangan.


...****************...


Tujuh bulan berlalu, Dara saat ini kerja di bagian katering. Tugas serabutan, bersih-bersih rumah setelah selesai bantu di bagian dapur katering bahkan sampai antar makanan di kos-kosan. Bahkan belanja bahan untuk katering, seperti ke toko sembako atau pun pasar. Jika ada pesanan khusus, seperti pesta ulang tahun, pernikahan, dll.


Sudah satu bulan Dara bekerja di tempat ini, Dara merasa sangat lelah. Ingin rasanya dia berhenti kerja karena tidak sanggup dengan kerjaan yang ia pegang. di mulai dari jam 4 pagi sampai jam 9 malam. Tak jarang juga Dara tidur jam 11 dan 12 malam. Kalau lagi ada pesanan banyak, atau acara untuk pesta.


Ia meratapi nasibnya sendiri, dari kecil tidak pernah hidup enak. Mau apa pun harus berjuang keras untuk mendapatkan apa yang ia mau. Tak jarang pikiran buruk hinggap di otaknya, apa kah dirinya ini anak kandung orang tuanya. Sebab perlakuan orang tuanya berbeda dengan adik-adiknya. Dara seperti anak angkat saja, yang di sayang saat orang tuanya belum memiliki anak. Ketika sudah memiliki anak maka semuanya berubah menjadi hambar.


Bahkan saat pulang kemarin dara memberanikan diri untuk berbicara pada mamaknya. Apakah dirinya anak angkat, kalau ia dirinya ingin tau siapa orang tuanya. Ia ingin bertemu dengan orang tua kandung nya, hanya ingin tau saja. Bahkan Dara tidak akan pergi dari keluarga yang sudah membesarkan dirinya. Meski pun ia hidup harus bekerja keras untuk tetap bisa hidup dan sekolah. Maka setelah sekolah ia tidak lagi ingin hidup bersama orang tuanya. Memilih untuk hidup di kota Jakarta yang terkenal keras dan kejam ini.


Namun ia tidak jadi masalah hidup seperti ini, tidak di pandang rendah orang di kampung. Meski pun tidak sukses, dia tetap dianggap rendah. Dara juga merasa nyaman hidup di Jakarta walau dalam keadaan hidup pas-pasan. Apa lagi sekarang ada yang selalu bisa menghibur dan menyayangi dirinya. Siapa lagi kalau bukan Raid, yang sudah hampir satu tahun ini bersama dirinya.


Tapi hari ini Dara izin mau bertemu dengan Raid, pada majikannya. Dan majikannya pun memberikan izin karena hari ini dan besok juga lagi sepi pesanan. Hanya pelanggan tetap saja, yang berlangganan makan siang dan sore. Maka Dara juga tidak Benyak tugas, setrikaan juga sudah beres. Dara di berikan waktu sampai jam sembilan malam untuk bertemu pacaran.

__ADS_1


Dara berangkat jam 7 dengan meminjam sepeda majikannya yang biasa ia bawa ke pasar dan warung sembako. karena ia tinggal di komplek perumahan sebelah tempat kerja Raid. Jadi lumayan jauh dari rumah Raid jika harus berjalan kaki, yang jarak tempuh kurang lebih 700 meter.


Dara sudah sampai di rumah Raid dia langsung menyampaikan maksud dan tujuan pada Raid. Dan Raid langsung merespon dan ingin ikut ke kampung. Namun yang ia peperlu izin dari emaknya dan persiapan untuk berhadapan dengan orang tuanya Dara.


"Kapan pulang Yang?"tanya Raid.


"Besok hari minggu sore bang, naik bus antar kota dari terminal Kalideres." Jawab Dara.


Yang sudah di ajari mamaknya, jika pulang kampung harus naik bus apa. Dan turun di mana pak lek nya mangkal sebagai sopir angkot yang menuju kampung nya.


"Ya sudah nanti Abang cari ongkos tambahan untuk pulang ke kampung mu. Abang sudah tidak sabar pengen ketemu bapak mu buat lamar kamu. Supaya kamu tidak di jodohkan sama orang, karena Abang gak rela kamu jadi milik orang lain." Ujar Raid pada Dara perempuan yang sudah membuat dirinya tergila-gila itu.


"Iya sayang ku, kapan Abang pernah bohong hah?" yang langsung memeluk Dara dengan gemasnya. Melihat cara Dara yang bertanya itu dengan senyum gembira nya itu. Dirinya juga senang jika apa yang ia harapkan bisa tercapai. Yaitu hidup dengan dara adalah impiannya selama ini ia mengenal yang namanya cinta.


"Kalau Abang tidak di boleh sama ibu, jangan maksa ya. Karena aku tidak akan menikah tanpa restu beliau. Kebahagiaan yang sempurna itu restu orang tua bang. Maka kalau ibu melarang untuk ikut ke kampung Abang jangan paksa ya."ujar Dara pada Raid, yang memang Dara melihat bahwa bu Sharifah berat menerima dirinya untuk menjadi istrinya Raid.


"Tenang aja pasti emak kasih izin Abang ikut ke kampung mu. Kalau gak Abang punya cara buat bisa dapat izin emak." Kata Raid yang sudah punya tekad tidak bisa di gugat lagi.

__ADS_1


"Ya sudah, aku sih tunggu kepastian Abang aja. Kalau Abang tidak ikut juga tidak apa-apa, aku pulang sendiri aja." Ucap Dara, yang sudah tidak mau ambil pusing. Toh ia cuma pamit ingin pulang ke kampung, bukan ajak Raid pulang ke kampung.


"Ya jangan begitu lah Yang, Abang sudah tidak sabar ingin meminang mu." Ucap Raid.


"Ya iya. Eh sudah setengah sembilan bang aku harus balik. Takut ke malaman nanti aku gak enak sama ibu Retno." kata dara sambil beranjak dari duduknya.


"Ya sudah hati-hati ya di jalan, jangan ngebut ya naik sepeda nya." Kata Raid, sambil mengusap kepala Dara dan mendaratkan kecupan manis di kening Dara.


"Iya bang aku pulang." Langsung pulang setelah bersalaman dengan bu Sharifah dan saudara/saudarinya yang kumpul di bale depan rumahnya.


Dara sudah pulang dari rumah Raid, bibir nyinyir pun hinggap di hati Dara. Tapi apa yang mereka katakan ada benarnya, bahwa seorang perempuan itu harus bisa jaga diri. Yang kiranya di pandang rendah, karena seorang perempuan mendatangi laki-laki. Namun tidak ada pilihan lain bagi Dara yang notabennya Raid yang meminta dirinya untuk jika ada apa-apa. Karena keterbatasan alat komunikasi di jaman nya yang belum banyak yang memiliki handphone.


"Eh neng jadi perempuan itu harus bisa menjaga harga diri. Kalau lu yang datang ke sini apa bedanya lu ama perempuan murahan. Lu harus jual mahal jadi perempuan, jadi lu kagak kelihatan kayak perempuan kagak bener." Kata mpok Ella.


Deg


Yang secara tidak langsung menasehati Dara cuma di hadapan orang yang banyak menyaksikan ia berbicara pada Dara. Dara merasa seperti di tampari oleh orang-orang itu. Meski pun ucapan itu bertujuan baik, namun cara penyampaian nya yang salah. Sehingga terkesan di hati penerima nasehat tersebut, merasa di permalukan.

__ADS_1


*****Bersambung......


__ADS_2