
"Eh neng jadi perempuan itu harus bisa menjaga harga diri. Kalau lu yang datang ke sini apa bedanya lu ama perempuan murahan. Lu harus jual mahal jadi perempuan, jadi lu kagak kelihatan kayak perempuan kagak bener." Kata mpok Ella.
Deg....
Yang secara tidak langsung menasehati Dara cuma di hadapan orang yang banyak menyaksikan ia berbicara pada Dara. Dara merasa seperti di tampari oleh orang-orang itu. Meski pun ucapan itu bertujuan baik, namun cara penyampaian nya yang salah. Sehingga terkesan di hati penerima nasehat tersebut, merasa di permalukan.
Dara hanya tersenyum, untuk menjawab semua ucapan mpok Ella. Kemudian pergi meninggalkan mereka yang sedang melihat Dara yang di permalukan itu. Meski hatinya sakit bagi Dara yang paling penting bukan lah Raid yang menyakiti dirinya.
Sementara orang-orang yang di tinggalkan Dara, tahu kalau Dara merasa malu dengan ucapan mpok Ella. Mereka merasa senang bisa melihat Dara pergi dengan perasaan hancur.
"Ih malu tuh, tapi kagak bisa berkata-kata. Jadi ya begitu deh nyelonong aja pergi, karena ia han tersenyum begitu." Ucap mpok Ina.
"Ya iyalah malu, secara ia juga di posisi seperti itu. Raid itu orang yang tidak tau bagaimana menempatkan, perempuan yang dia cintai. Berada di posisi yang baik, sehingga tidak di pandang rendah oleh orang lain. Atau memang itu perempuan memang perempuan murahan yang tidak punya urat malunya. Sebab perempuan yang punya urat malunya, tidak mau ia mendatangi laki-laki." Mpok Yanti menimpali ucapan mpok Ina.
"Bisa jadi kedua-duanya itu tidak memiliki urat malu. Secara Raid itu polos banget, ya taunya jatuh cinta dan pacar. Tidak tau bagaimana menghormati dan menghargai seorang perempuan yang harus ia junjung kedudukannya. Dan perempuan itu pun polos tidak tau bagaimana ia harus menjunjung tinggi nilai-nilai perempuan di hadapan orang lain. Apa lagi ya kalau gua lihat nih, mpok Sha itu kagak setuju dah sama calon mantu-mantunya." Ucap mpo Ella, yang memperhatikan keluarga bu Suha.
"Ya kalau itu sih pastilah, mpok Sha kan pengen dapet orang sini. Bukan orang Jawa atau Sumatra, kalau pun dia merestui juga terpaksa. Sebab anaknya yang pada suka, kagak Raid ya kagak Thomi sama aja. Bahkan terlihat tuh keduanya bersaing, untuk cepat naik ke pelaminan. Tapi mpok Sha yang halang-halangi, supaya Thomi yang lebih dulu. Kalau kagak mah Raid yang duluan, terlihat tuh Raid mah kagak sabaran." Ucap mpok Ina, yang juga sudah tau ceritanya langsung dari sumbernya yaitu bu Sharifah sendiri.
"Ya Raid itu anak kesayangannya keluarga besar nyai Suha. Apa pun akan mereka lakukan, karena kebahagiaan Raid juga kebahagiaan keluarga besar. Demi kebahagiaan Raid mereka akan menerima perempuan seperti apa pun yang di bawa Raid itu sendiri." Ucap mpok Yanti.
Ya mereka bertiga memang dekat dengan keluarga bu Suha. Namun kedekatan mereka hanya mencari informasi tentang keluarganya. Mau baik atau pun buruknya pasti untuk bahan mereka ngerumpi.
Sementara yang menjadi bahan perbincangan, masing-masing sudah di rumah. Dara sudah istirahat dan Raid lagi minta izin pada emaknya.
"Mak besok sabtu sore, aya mau ke Lampung ya."Ucap Raid, dengan wajah memelas.
"Apakah kamu sudah yakin?" tanya bu Sharifah pada Raid anaknya.
"Iya Mak aya yakin kok." Jawab Raid menyakinkan emaknya.
Melihat anaknya yang sudah tidak sabar untuk segera memiliki pasangan hidup itu. Bu Sharifah pasrah, mungkin ini saatnya ia melepaskan Raid yang memang sudah dewasa. Yang ingin berumah tangga, memiliki istri dan anak.
"Ya sudah, memang lu ada duit buat ngasih pengikat si Dara. Masak lu ke Sono kagak bawa apa-apa, nanti kalau sudah di terima baru di kasih kan ke dia."Ucap bu Sharifah.
"Aya ada bakal beli cincin Mak, tar kalau bakal ongkos ke sono aya pinjam ke bos aja dah."Kata Raid.
"Ya sudah, bagaimana mana lu aja. Yang penting lu bener-bener yakin Ama pilihan lu. Kalau lu kagak di terima, jangan kecewa dan putus asa ya. Mungkin lu belum jodoh sama Dara, dan jodoh lu orang lain." Ujar bu Sharifah menasehati anaknya.
"Aya maunya ama Dara Mak bukan yang lain." Raid langsung pergi dari hadapan emaknya.
Ia tidak terima jika Dara tidak jadi miliknya, apa pun akan ia usaha demi mendapatkan. Kalau urusan nya dengan uang ia akan ingin tahu berapa yang di inginkan oleh orang tuanya Dara.
...****************...
6 bulan kemudian.
Kini dara sudah hidup bersama dengan Raid, yang saat ini tinggal di rumah kontrakan. Yang harus di bayar perbulan 250 ribu, dengan hidup sangat sederhana itu membuat Dara merasa kaget.
Setelah satu bulan menikah dengan Raid, Dara mengetahui semua tentang Raid dan keluarganya. Ya Raid bekerja dengan gaji 450 ribu perbulan. Belum lagi, harus di potong hutangnya 50 ribu perbulan selama sepuluh bulan. Karena Raid meminjam pada bosnya untuk pernikahan nya.
Belum lagi untuk ibunya ia harus ngasih 50 ribu, kontrakan saat ini 250 ribu. Dara memang 100 ribu aja. Untungnya mamak nya kemarin ngasih 500 ribu padanya. Dara berusaha sebisa mungkin untuk mengatur uang tersebut. Supaya bisa memakai di saat mendesak saja, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.
Dara yang saat ini juga sudah mengandung buah hati mereka. Hal itu yang membuat Dara tetap bertahan hidup bersama Raid. Dara juga bekerja jadi tukang cuci gosok, yang upahnya 250 ribu lumayan untuk bulan depan ia yang akan bayar kontrakan.
...****************...
3 Bulan telah berlalu, Dara jadi sering sakit dan pernah sekali jatuh saat lagi kerja. Hal itu membuat bu Sharifah melarang dara bekerja lagi. Dan mereka di minta tinggal bersama dengan bu Sharifah. Yang mana kini tinggal ramai-ramai, di rumah tersebut. Ada Thomi dan istrinya yang menempati kamar yang dulu kamar bu Sharifah dan almarhum suaminya.
Raid dan Dara tidur sekamar dengan bu Sharifah, dan si bungsu. Untuk beberapa bulan ini sambil nunggu kontrakan bu Suha kosong. Yang akan di kontrakan pada Raid dan Dara. Secara tidak langsung hal itu memanfaatkan kebaikan Dara, yang notabene nya anak baik dari orang kaya juga. Sehingga tidak ingin cucunya menempati kontrakan secara percuma. Itu juga Raid harus renovasi dulu kontrakan yang ukurannya lebih kecil dari yang Raid kontrak kemarin.
Yang awalnya bilang nanti di potong pas bayar kontrakan, perbulan. Namun kenyataannya tidak sama sekali, hingga Raid tinggal di kontrakan itu satu setengah tahun.
Raid pun memiliki sifat yang buruk, segala sesuatu harus ngutang. Namun kebutuhan sehari-hari belum terpenuhi, sehingga membuat dara semakin menderita. Namun dara tetap bertahan dengan dalih karena anak.
Dara tidak ingin anaknya menjadi korban rumah tangga nya. Namun Dara tetap bersemangat untuk anaknya, berusaha untuk mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan anaknya. Apa lagi anaknya saat ini harus minum susu formula. Hal itu membuat kebutuhan nya lebih besar lagi.
...****************...
Kini kedua orang tuanya Dara datang ke rumah Raid. Berkunjung karena ini pertama kalinya untuk bapaknya Dara datang. Jika mamaknya kini kedua kalinya, datang berkunjung ke rumah Raid.
__ADS_1
Sebagai seorang kakek ada rasa rindu pada cucunya, maka Dara yang jarang pulang itu membuat pak Kasiran penasaran. Seperti apa kehidupan sehari-hari anak sulungnya di Jakarta. Dirinya merasa ada yang di sembunyikan dari anaknya, yang bisa di lihat setiap kali pulang kampung halaman. Hanya mampu ongkos balik kampung saja, namun untuk kembali ke Jakarta tidak cukup. Dan pasti Dara minta ongkos sama bapaknya atau mamaknya. Padahal selama berada di kampung Raid atau pun Dara tidak pernah keluar uang sepeser pun.
"Assalamualaikum." Ucap kedua orang tuanya Dara.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Dara dan Raid setelah subuh itu. Lalu Raid membuka pintu, dan melihat siapa yang datang bertamu di pagi hari.
"Bapak, mamak mari masuk." Ajak Raid dengan wajah kaget dan pias. Ada rasa takut akan di pisahkan dengan Dara oleh mertuanya. Ketika tau keadaan rumah Raid, yang sebenarnya.
Keduanya masuk tanpa bicara padanya, mamaknya Dara langsung menghampiri cucunya dan menggendongnya. Sedangkan bapak nya syok melihat Dara hidup di Jakarta yang selalu di banggakan semua orang. Ternyata hidup nya jauh dari kata layak, yang menurut pandangan orang di luar Jakarta.
Kini luruhlah air matanya, bersamaan dengan itu tubuhnya lemah tak berdaya. Mulut terkunci, tangan mengepal kuat menandakan bahwa dirinya menahan amarahnya. Sebagai orang tua, ingin hidup anaknya bahagia. Namun semua sudah menjadi jalan kehidupan nya, yang harus di jalani.
Ketika Raid pergi bekerja, pak Kasiran memarahi Dara. Yang tidak mau jujur pada orang tua, dan memilih menanggung beban sendiri. Pak Kasiran juga yakin kalau masih ada yang ia belum tau. Sungguh ia gak habis pikir, dengan jalan pikiran anak sulung nya.
Masih bisa di terima oleh nya, selagi Raid tidak pernah main tangan pada anaknya. Karena ia juga bersyukur Dara menolak perjodohan dengan Irawan. Sebab kalau sampai Dara menerima perjodohan itu, ia juga yakin semua keburukan Irawan akan ia tutupi.
Karena Nina yang menerima perjodohan itu, tidak sanggup untuk lanjutkan rumah tangganya dengan Irawan. Karena Irawan orang yang tempramen mudah sekali main tangan. Segera sesuatu di selesaikan dengan sebuah pukulan. Jika Dara yang di posisi Nina pasti hanya akan diam dan bertahan juga.
...****************...
15 tahun kemudian Dara memiliki 3 anak laki-laki, yang pertama di usia remaja. Yang kedua anak usia 7 tahun, dan yang ketiga balita 4 tahun.
Kehidupan Dara semakin rumit, selama sepuluh tahun lebih dari berjuang untuk memenuhi kebutuhan anak pertama. Ya itu biaya sekolah, dari masih TK hingga SMK. Sementara Raid belum juga berubah, malah semakin menjadi.
Saat ini Raid pulang kerja masuk rumah, sebentar lalu pergi lagi. Tidak menegur Dara sama sekali, namun Dara hanya tersenyum kecut. Di hatinya sudah semakin mantap untuk mengambil keputusan. Mu
Entah apa yang di lakukan Raid di atas tepatnya lantai dua. Dara masih di lantai bawah bersama anak kedua dan ketiga. Anak pertama tidur jika sudah pulang sekolah, tidak akan keluar kamar kecuali lapar.
Setelah itu Raid pergi begitu aja, tanpa pamit pada Dara. Bahkan anak bungsunya mau ikut pun di tolaknya. Beberapa menit kemudian Raid sudah kembali ke rumah. Lalu memasukkan motornya, dengan raut wajah kesal.
Yang biasanya tidak pernah Raid menyuruh Dara untuk menyapu dan mengepel. Kini ia menyuruh Dara untuk melakukan nya, Dara pun menurut.
"Yang itu lu sapu ama pel, gua capek banget mau mandi dan istirahat." Perintah Raid.
"Iya Yang," dengan wajah datar tanpa ekspresi Dara melakukan apa yang di perintahkan suaminya.
Saat sedang menyapu, Dara menemukan stuk pembayaran pinjol. Yang Dara tidak tau untuk apa uang nya, sehingga dara dapat menyimpulkan bahwa ini lah yang ia curiga selama dua minggu terakhir.
Bahkan sang anak mengadukan pada mamanya jika papa minta di daftarkan pinjol. Karena dirinya tidak begitu paham, atau tidak paham. Namun sang anak tidak mau, karena merasa kasihan dengan mamanya yang sudah terbebani pikiran begitu banyak.
Dara memasukkan stuk tersebut kedalam saku baju dasternya. Kini Dara sudah punya tekad yang kuat dalam hatinya. Bahkan ia sudah melakukan sholat malam untuk minta petunjuk.
Ia juga ingat beberapa hari lalu suaminya minta Handphone anaknya untuk di gadaikan. Namun saat di tanya, katanya buat bayar hutang sama temannya.
*
Dua hari kemudian Dara sudah semakin mantap, untuk mengakhiri rumah tangganya. Bahkan tadi siang ia sudah mengambil kesempatan untuk mendapatkan bukti dari handphone suaminya. Memang tidak ada chat yang mencurigakan sama sekali. Karena semua riwayat chat sudah kosong. Namum tidak dengan SMS yang tidak pernah ia periksa sama sekali. Hal itu sebuah keberuntungan untuk Dara, yang saat ini bisa ia pegang untuk di tanyakan pada suaminya.
Dari pulang kerja sampai sudah adzan maghrib, suaminya masih di atas. Dara yang sudah tidak sabar ingin cepat selesai dengan suaminya. Yang biasanya sebelum hal ini terjadi dalam kurun hampir tiga minggu ini. Setiap pulang kerja, ia akan mandi lalu minta di siapkan makan. Namun selama ia menghindari Dara, selama itu juga tidak pernah minta di siapkan.
Kalau Dara siapkan pun di makan pas Dara sudah tidur. Lebih tepatnya dara pura-pura tidur, karena ingin tau apa yang akan di lakukan suaminya.
Dara membawa nasi serta lauk di piring, tak lupa dengan air minum. "Yang ini makanan tolong cepat di makan. Setelah makan kamu turun ya karena ada yang mau aku bicara kan." Ujar Dara, pada suaminya dengan nada tegas.
"Emang mau bicara apa sih? Bicara aja sekarang mang ngapa?" tanya Raid pada Dara, dengan tatapan yang penuh ketegangan.
Raid sudah hafal jika istrinya berbicara dengan nada pelan namun menekan dan tegas. Pasti lagi marah, yang lumayan sulit untuk di bujuk.
"Gak aku mau bicara setelah kamu makan, aku tunggu di bawah." Setelah bicara pun Dara pun langsung turun ke lantai bawah.
Raid mau tidak mau segera makan, dengan perasaan was-was. Dengan pikiran ke mana-mana, yang menjurus ke pembicaraan nya dengan istrinya nanti. Hal apa yang akan di bicarakan, dan apa kah ia akan terjadi nanti.
Dara turun langsung sholat maghrib, setelah itu ia menunggu suaminya. Namun sampai mau adzan isya suaminya belum juga turun.
Dara yang sudah tidak bisa menahan lagi, emosi nya sudah sampai ubun-ubun. Dara pun berteriak dari bawah memangil suaminya.
"Yang sudah belum sih makan mu, lama amat." Teriak Dara dari bawah.
Lalu muncul Raid yang menuruni tangga, dengan wajah masam. Karena tidak suka dengan istrinya yang, menatap dirinya dengan tatapan kesal.
__ADS_1
"Emang lu mau ngomong apa sih Yang?" tanya Raid.
"Kemarin yang kamu gadaikan itu duitnya untuk apa?" tanya Dara, dengan nada santai.
"Kan sudah gua bilang, gua bayar hutang Ama teman gua." Jawab Raid, dengan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Apa sudah selesai atau masih banyak yang kamu masih harus bayar?" tanya Dara lagi.
"Belum sih, tapi nanti yang lainnya akan aku aku selesai lalu tak hapus kok." Jawabnya.
"Lalu ini apa?" tanya Dara sambil menyerahkan stuk pembayaran yang beberapa hari lalu.
Raid melihat apa di berikan oleh Dara, mau bagaimana mana lagi ia akan mengelak. Setelah itu mereka berdebat sebentar, lalu Dara menghentikan perdebatan nya untuk sholat isya.
Raid sudah pusing jika istrinya sudah marah, ia tidak ingin istrinya minta cerai darinya. Tapi sebisanya ia akan menahannya karena tidak mungkin ia akan bisa hidup enak tanpa istrinya. Apa lagi ia sangat mencintai dan menyayangi Dara. Namun karena ia salah berteman, jadi berantakan begini.
Keesokkan harinya Dara dan Raid berdebat hebat di depan anak-anaknya. Bahkan anak-anak menangis, hingga Raid mengatakan kita berpisah sesuai permintaan Dara. Dan Raid memutuskan pergi dari rumah untuk ke rumah orang tuanya.
Anak-anak yang masih kecil itu minta ikut, karena taunya papa nya mau nginep di rumah nyai nya.
Namun jam sepuluh Raid pulang lagi dan memohon untuk kembali. Dara menerima namun di hati sangat berat jika dirinya masih harus bersama Raid.
Hingga besok pun masih saja berdebat bahkan Raid menemukan chat si What**pp. Kalau istrinya ada main dengan laki-laki, hal satu itu yang membuat Raid tidak bisa menerima kenyataan bahwa istrinya tidak mau memaafkan dirinya karena ada laki-laki lain. Tepatnya jam 03:00 WIB, Raid yang di penuhi emosi. Karena Raid sudah chatan sama temannya tadi, dan menceritakan tentang istrinya. Ternyata benar bahwa istrinya ada main di belakang.
"Dara bangun kamu." dengan nada tinggi.
Bahkan ia tidak perduli dengan situasi, yang mana jam 03:00 WIB kebanyakan masih pada tidur. Tidak mungkin jika tetangga tidak terbangun dengan pertengkaran mereka.
Dara yang baru tidur satu jam itu otomatis kesal di bangunkan dengan teriak dan kasar.
"Ada apa sih?" tanyanya dengan kesal.
"Mau ngaku apa kagak lu? Lu berat balik sama gua karena lu ada main sama laki-laki lain kan? lu selingkuhi gua kan, ngaku lu?" tanya Raid dengan emosi.
"Kalau ia kenapa?" dengan santainya Dara menatap Raid yang sudah menangis itu.
"Tega lu ama gua. Apa salahnya gua Ama lu hah?"dengan nada lebih tinggi lagi.
"Kamu sadar gak sih ini jam berapa? ini masih malam. Kan bisa kita bahas besok." Kata Dara bukan menjawab malah balik tanya.
"Kagak gua gak mau masalah ini harus tuntas sekarang. Kan sudah gua bilang jangan kamu hp berlebihan. Kalau tau begitu gua gak mau beliin tau gak. Ternyata malah kamu pakai untuk selingkuh, tega lu ya." Kata Raid, yang merasa di hianati oleh istrinya.
Namun dara dengan santai mengambil handphone miliknya dan melihat tidak ada lagi nomor telepon teman chatan itu.
"Kenapa lu mau cari sampai budek juga gak bakal nemuin. Karena gua dah hapus dari hp lu." Membuat Dara tersenyum bukan marah atau merasa kehilangan.
Pagi jam 06:30 WIB Raid mengajak Dara dan anak-anak ke taman bermain. Untuk refreshing, dan anak-anak senang untuk itu.
Sorenya Dara dan Raid kembali berdebat, hingga Raid pun mengucapkan talak berkali-kali. Dara sudah di talak pun sudah tidak perduli dengan Raid bahkan hatinya terasa plong. Tidak ada lagi beban di hatinya, dan dara mengabaikan nomor yang telah menelponnya. Yang tidak lain orang yang di bilang selingkuhan Dara.
Setelah perdebatan itu Dara mencoba menghubungi kembali nomor tersebut. Namun sudah tidak aktif lagi, dan di luar jangkauan. Itu artinya Dara tidak ada kesempatan untuk meminta maaf pada orang tersebut. Karena Dara yakin mantan suaminya sudah mengatakan sesuatu yang membuat orang tersebut memilih tidak ada hubungan apa pun dengan Dara. Walau pun sebagai sahabat nya Dara, karena secara tidak langsung sudah membantu Dara berpisah dengan suaminya. Dan dia kena dampak buruk dari suaminya Dara.
Akhirnya Dara menyandang status janda beranak 3. Dan kini Raid pergi meninggalkan hutang yang tidak sedikit bagi orang menengah ke bawah. Dan Dara sudah bertekad untuk pindah ke kampung halaman.
~TAMAT~
CUKUP DI BEGINI SAJA YA TEMAN-TEMAN.
MAAF AUTHOR TIDAK BISA LANJUTKAN LAGI CERITANYA.
TERIMA KASIH ATAS DUKUNGAN NYA SELAMA INI.🙏🙏🙏🥰🥰🥰
*
Yuk ikuti kisahnya APAKAH SALAH JANDA 2 yang akan segera hadir...
Kisah cinta Yosi dan Zaki yang merupakan sahabat Asifa dan Fahmi. Yang mana Yosi seorang janda tidak punya anak. Yang memiliki kisah serupa dengan Asifa, memilih berpisah dari pada di madu. Namun bedanya Yosi mengetahui suaminya sudah menikah lagi bahwa sang istri keduanya sudah hamil.
Membuat hati Yosi hancur, karena sang suami telah menikah diam-diam. Dari itu Yosi merasa tidak ada yang bisa ia harapkan dari suaminya. Sudah pasti sang suami memilih untuk bersama madunya.
__ADS_1
Yuk ikuti ceritanya.... di APAKAH SALAH JANDA.🤗🥰