Pertemuan di bus kota

Pertemuan di bus kota
25.Jongkok di semak-semak


__ADS_3

"Apa kalau lewat sini mas tau jalan pulang tidak akan kesasar?"tanya Dara yang takut akan kesasar.


"Insya Allah nanti tanya kalau kita nyasar, tapi saya ingat kok jalannya menuju Puri indah." jawabnya Agus, membuat Dara merasa lega dan tidak takut lagi.


Satu jam perjalanan Agus berhenti di pinggir jalan raya itu. Yang mana sapi, rumah jiga masih jarang, membuat Dara takut. Pikiran jelek pun hinggap juga, segera Dara bertanya sambil turun dari motor.


"Mas kenapa berhenti di sini?"tanya Dara pada Agus dengan perasaan was-was.


"Em, saya kebelet p*pis. Sebentar ya saya ke situ dulu."Ujarnya, sambil menunjuk rumah besar, yang samping nya ada tanah kosong, hanya ada rerumputan pendek.


Dara tersenyum malu, karena sempat berpikir jelek. Agus pun tersenyum malu juga sebab ia sudah tidak tahan jika mencari pom bensin. Sebab pom bensin masih lah jauh.


Dara melihat kearah lain dan membelakangi Agus. Melihat sekitar tempat ia berhenti sepi orang, hanya kendaraan yang jarang-jarang lewat nya.


Beberapa saat sudah selesai, dia kembali menghampiri Dara yang berdiri di samping motor.


"Sudah yuk jalan lagi, kamu kebelet apa gak?" tanya Agus, khawatir Dara malu mau menyampaikan padanya.


"Gak mas, lagian kalau aku kebelet masak jongkok di semak-semak sih." Kata Dara, sedikit kesal dengan pertanyaan Agus.


"Bukan saya nyuruh kamu p*pis di semak-semak juga. Maksud saya kalau kamu kebelet nanti berhenti di pom bensin atau kalau ketemu WC umum. Tapi kalau kamu sudah gak tahan seperti saya, juga tidak apa-apa dari pada nanti sakit."Sambil tersenyum menggoda Dara.


Dara memalingkan wajahnya, sebelum plus malu mendengar Agus yang menggodanya. Bisa-bisanya dia ngomong begitu, pikir Dara.


Agus menyalakan kembali motor nya dan melanjutkan perjalanan setelah Dara naik ke atas motor miliknya. Mengendarai motor dengan santai, karena Agus ingin menikmati hari ini bersama Dara.


Ia merasa nyaman saat bersama Dara, apa lagi Dara sama sekali tidak protes. Dengan cara ini yang membawa motor dengan santai. Agus melihat Dara yang sedang menikmati suasana di perjalanan yang terasa tenang ini.

__ADS_1


Harus nya sampai di Puri kencana setengah jam, jadi satu jam baru sampai. Dara minta berhenti di gerbang komplek blok K, tidak mau sampai tempat ia kerja. Padahal Agus juga tidak keberatan untuk mengantar sampai tempat kerja nya.


"Kenapa tidak turun di rumah saja(tempat kerja), kan lumayan jalan ke sana?" tanya Agus, saat Dara milih turun di gerbang komplek.


"Tadi kan dari sini, jadi ya turun di sini saja. Terima kasih ya mas, sudah mau jalan-jalan sama aku." Ucap Dara.


"Iya Dara, ya sudah mau pulang sendiri apa saya antar?"tanya Agus, dengan senyum yang tulus ia berikan pada Dara.


"Ya gak lah. Ya aku pulang, sekali lagi terima kasih mas, dada..."Dara langsung jalan pulang sambil melambaikan tangan pada Agus.


Setelah kepergian Dara para satpam pun yang ada di pos gerbang komplek itu heboh.


Gus bagaimana jalan sama Dara, yang nguras dompet kamu berapa kira-kira?"tanya Juned, yang mengawali pembicaraan.


Alhamdulillah cuma buat beli makan saya saja bang."Jawab Agus, yang berkata jujur dan apa adanya.


"Eh, serius nih. Kamu gak bohong kan dah jujur saja sama kita." Juned yang tidak percaya, di angguki Hadi dan Dedi.


"Lalu ngapain kalian ke pantai?" tanya Hadi.


"Cuma ngobrol sama makan dan bayar masing-masing."Jawabnya Agus.


"Emang kenapa bayar masing-masing emangnya kamu gak ada uang. Kenapa tidak bilang sama saya, kan bisa tak modalin dulu?" tanya Hadi.


Para satpam ingin Agus ini bisa meraih cintanya Dara. Ya Agus yang polos, jujur tidak pernah neko-neko. Hanya saja berbeda suku Agus suku Jawa Jogja. Agus berpendidikan sampai SMA, namun ia lebih bekerja sebagai tukang kebersihan taman.


"Bukan itu bang, Dara selalu menolak apa pun yang saya tawarkan. Dara selama pergi dengan saya juga menjaga jarak. Sepertinya dia masih patah hati, sulit untuk dia bisa melupakan cowok yang suka mengambil hati. Sehingga dia beranggapan bahwa laki-laki sama saja. Susah untuk di raih dan di taklukkan bang."Jawab Agus dengan serius, dalam pikirannya memikirkan Dara yang memang sudah di taklukkan.

__ADS_1


"Wah kamu sudah pintar rupanya menilai cewek ya Gus, biasanya pakai di ajari dulu bang Juned dan bang Hadi."Kata Dedi.


"Itu juga kan yang ngajarin mereka Dedi, makanya sekarang aku juga sudah bisa menilai yang mana yang baik, tulus, sama yang cuma cari materi saja. Benar kan bang?"tanya Agus pada Juned dan Hadi.


"Itu artinya kita tidak sia-sia jadi guru mu Gus, Karena sangatlah berguna. Kamu jangan menyerah ya sebelum dia menjadi milik orang lain. Apa lagi sebelum janur melengkung, masih banyak kesempatan untuk mendapatkan cintanya seorang Dara."Kata Juned.


"Insya Allah bang, kalau memang dara jodoh yang Allah turunkan untuk saya. Tidak mungkin setelah ini dia akan jadi milik orang lain selain saya." kata Agus.


"Sudah sore, saya langsung pulang saja lah. Capek juga mau istirahat di rumah."Pamit Agus pada satpam itu.


"Udah sana bawa tu Dara ke dalam mimpi yang indah." Kata Hadi.


"Soalnya kalau kamu bawa tidur belum bisa, jadi cukup di mimpi saja dulu." Timpal Juned.


"Abang bisa aja ngelawak garing."kata Agus sambil tersenyum malu-malu gitu. Langsung menjalankan motor nya untuk pulang ke rumahnya yang di Tanggerang.


"Hahahaha," tertawa ke tiga satpam itu pecah saat melihat Agus malu-malu kucing.


Sementara Dara yang sudah sampai di rumah pun langsung membersihkan diri. Setelah itu ia langsung turun mengepel rumah saat melihat Bu Risa sudah selesai menyapu. Tanpa bicara pun dara sudah tahu, selesai ia melihat setrika yang masih numpuk pun langsung ia setrika.


"Dara kamu emang tidak capek langsung kerjakan itu, kenapa tidak besok saja?"tanya pak Jhon, yang melihat wajah lelahnya Dara.


"Gak apa-apa pak, memang capek sih. Kalau saya istirahat yang ada nanti ketiduran, ini kan sudah sore dan mau maghrib. Tidak baik jika kita bawa tidur pak, lebih baik saya kerjakan ini."Jawab Dara.


"Tumben kamu sudah pulang masih siangan. Biasanya habis maghrib Dar?"tanya pak Jhon.


Hal sepele itu menimbulkan rasa cemburu bu Risa Dara. Yang secara tidak langsung suaminya memperhatikan Art nya. Tanpa berkata apa-apa itu tangannya langsung mencubit pinggang suaminya, dan melototi nya.

__ADS_1


"Ia kebetulan perjalanan lancar dan saya cuma pergi ke pantai tadi."Jawab Dara yang menoleh sebentar, karena sambil menyetrika.


*****Bersambung.....


__ADS_2