
Di balasnya senyum manisnya dan dengan senyum manis pula. Keduanya ngobrol dari tadi, tidak perduli dengan orang sekita nya. Bahkan kedua merasa nyaman satu sama lain, sehingga tidak tau jika obrolan mereka. Jadi pusat perhatian orang bagian belakang dan samping. Mbak Yani pun sesekali menoleh pada Dara dan Raid yang ngobrol santai dan nyaman.
Kini mereka turun dari mobil bus kota, Raid seakan melindungi perempuan yang telah mengisi hati selalu beberapa menit lalu. Dari para penumpang yang turun berdesak-desakan itu, supaya Dara turun lebih dulu. Setelah itu mereka berdua menemui mbak Yani dan pak Kasiman.
"Mbak Yani, ini kenalin Dara teman baru saya."Raid mengenalkan dara pada mbak Yani, dan pak Kasiman.
Pak Kasiman menatap Dara dari atas hingga bawah yang terlihat lebih cantik dan ramping dari anaknya. Dan melihat Raid yang dengan PD nya memperkenalkan Dara barunya. Sedikit ada curiga apa lagi tatapan Raid yang berbeda dengan saat menatap anaknya. Tapi ia tidak mau menegur Raid, apa lagi anaknya juga biasa saja saat di ceritain tentang Raid.
"Saya Dara bu," ucap dara sambil bersalaman. Tidak enak mau manggil mbak sebab yang ia lihat mbak Yani ini lebih tua dari mamak nya.
"Saya mbak Yani, jangan panggil ibu ah. Saya kurang nyaman kalau di panggil ibu. "Kata mbak Yani.
Lalu salaman dengan pak Kasiman yang juga lebih tua dari bapak nya. "Pak Kasiman,"ucap pak Kasiman yang juga memperkenalkan diri pada Dara.
"Eh kamu mau kemana dan tadi dari mana?"tanya mbak Yani.
"Saya dari pasar Puri tadi mbak, saya pengen ke Senen tapi masih ragu. Takut sampai sana tidak ada orang nya, karena hari libur."Jawab Dara.
__ADS_1
Sama saya juga ragu mau ke rumah saudara, bagaimana jika kita pergi ke suatu tempat Id?" tanya mbak Yani.
"Kalau saya terserah mbak Yani aja kan saya cuma ikut mbak Yani."Jawab Raid.
Lalu mbak Yani hendak bertanya pada pak Kasiman, tapi langsung di jawab oleh pak Kasiman.
"Saya sama ikut saja." Kata pak Kasiman.
"Dara enaknya kemana ya?" tanya mbak Yani
"Oh, emang kamu kerja apa di Puri?"tanya mbak Yani.
"Saya jadi pembantu sekaligus momong mbak. Dan lebih sering di ajak ke mall, atau minimarket besar. Untuk belanja bulanan, dan makan di mall makanan cepat saji."Jawab Dara.
"Ya sudah bagaimana kalau kita pergi ke kebun binatang ragunan?"tanyanya.
"Iya boleh mbak, kita naik dari sebelah sana mbak."Jawab Dara, sambil menunjuk ke arah jarinya ke kanan.
__ADS_1
Yang lain menatap penuh tanya, membuat Dara malu karena sudah semangat. "Katanya tidak pernah kemana-mana kok tau mobil arah ke sana?"tanya Raid, mengulangi yang tadi.
"Hehehe pernah lihat kalau jurusan ragunan dari sana."Jawab Dara
"Ya sudah ayo kita berangkat ini juga sudah siang. Sudah jam 9 kurang 5 menit, sudah lumayan panas."Ajak mbak Yani yang lalu menggandeng tangan suaminya.
Raid berjalan mengiringi langkanya Dara, yang tidak terlalu cepat sebab pakai sendal hak 5 cm. Kemudian saat akan menyebrang, spontan Raid meraih tangan Dara.
Sedangkan Dara yang mendapatkan perhatian dari Raid, ada perasaan nyaman di hatinya. Ia mengikuti dan menerima saja tidak menolaknya.
Tidak lama mobil yang di tunggu sudah tiba keempat orang itu naik ke bus kota itu. Dan Raid pun senang bisa duduk berdua dengan Dara. Raid memilih di pinggir, dan dara yang berada di dekat jendela. Keduanya ngobrol tentang diri masing-masing tanpa ada yang di yang di tutupi. Namun karena tidak di singgung tentang masa lalu, maka Dara pun tidak menceritakan tentang itu.
Tidak berapa lama mereka sampai, perjalanan kurang lebih satu jam. sebab belum terlalu ramai pengunjung kebun binatang itu. Setelah turun langsung menuju loket untuk membeli tiket. Dara hendak membayar sendiri namun sudah di bayar sekalian oleh mbak Yani.
"Kan saya mau bayar sendiri mbak. Ya sudah ini uang nya untuk mbak buat gantiin uang mbak yang sudah buat bayar tadi.
"Tidak usah sudah biar saya yang bayarin, itu uang mu simpan untuk ongkos pulang kamu nanti.
__ADS_1