
Dara meminta Lisna berhenti menangis jika mau lanjut untuk melangkah pergi meninggalkan rumah majikannya itu. Akhirnya Lisna berhenti menangis jika tidak ada yang bisa membuat dirinya berhenti melangkah.
Sampai di gerbang komplek perumahan, mereka di hentikan 2 satpam penjaga komplek.
"Kalian berdua mau kemana malam-malam begini?"tanya salah satu satpam penjaga.
"Kami mau kembali ke yayasan pak."Jawab Dara.
"Malam-malam ini? kalian kabur ya? Kalian kerja sama siapa?"pertanyaan beruntun satpam penjaga tersebut.
"Kami kerja dengan bu Sania dan Rainal pak."Jawab Dara dan Lisna bersamaan.
"Kenapa kalian harus keluar malam begini, kan bisa besok saja?"tanyanya.
"Tidak pak, saya sudah tidak bisa bertahan di rumah ibu Sania. Saya boleh tanya pak?"tanya Dara.
"Boleh kamu mau tanya apa?"pak satpam itu balik tanya.
"Kalau arah Kebayoran lama kemana pak?"tanya Dara.
"Memang yayasan penyalur kalian di mana?"tanya pak satpam.
"Bintaro pak," jawab Dara.
"Arahnya ke kiri, nanti ketemu jalan besar belok kiri lurus. Kalau kamu mau naik angkot warna biru 09 Yang ada tulisan Kebayoran lama."Kata pak satpam.
"Baik pak terima kasih atas petunjuknya. Ayo teh," Menggandeng tangan kanan Lisna.
__ADS_1
Dara dan Lisna berjalan sesuai petunjuk pak satpam. Di dalam perjalanan ada saja kata-kata yang yang mencaci dan menghinanya.
"Neng malam begini kenapa tidak naik angkot itu angkot masih lewat."Salah pemuda yang sedang nongkrong, bersama beberapa temannya di sebuah warung pinggir jalan.
"Paling juga kagak ada duit. Makanya mereka jalan."Sahut yang lain.
"Palingan juga di usir karena tidak mampu bayar kontrakan."Kata pemuda yang sedang menatap Dara.
"Neng kalau mau temani Abang boleh neng gak harus hujan-hujanan begitu."Kata pemuda dengan tatapan seperti memangsa. karena pemuda itu setengah mabuk.
Dara menatap wajah orang satu persatu, ia merinding melihat dua orang yang menatapnya penuh dengan hawa nafsu. Dia segera mengambil roti 4 bungkus dan air 2 yang gelas.
"Berapa ini bang? minta plastik nya ya."Kata Dara.
"Semua tiga ribu neng. Malam-malam begini mau kemana neng?" Tanya pemilik warung yang masih bisa di dengar oleh para pemuda itu.
"Oh habis di pecat, secara tidak hormat ya. Makanya kalau kerja yang benar, jujur itu penting. Biar gak jadi gelandangan di tengah malam begini." Yang menatap sinis pada dara dan Lisna.
"Sudah neng jangan di dengar kan ucapnya, hati-hatilah di jalan. Jangan kalian terima ajak orang yang tidak baik."Mengingat kan Dara dan Lisna.
"Iya bang, terima kasih." Langsung mengambil tas besar milik nya dan berjalan menuju Kebayoran lama. Di dalam perjalanan sudah satu jam hujan dan petir mengiringinya. Namun Dara tetap memimpin jalan, Lisna yang memang tidak pernah mengalami ini semua. Merasa capek, dingin, lemas sehingga membuat ia tak mampu berjalan lagi.
"Dara teteh sudah capek ini juga sudah lemas kita istirahat dulu ya."Keluhnya Lisna.
"Iya teh kita cari tempat yang nyaman dulu untuk kita istirahat."Kata Dara, karena melihat sepanjang jalan ada saja tatapan sinis pada mereka berdua.
"Kasihan cantik-cantik jadi gembel"
__ADS_1
"Jakarta keras neng, kalau mau hidup enak, jangan jual mahal dan sok suci"
"Mantap itu hujan begini, kalau saling memberi kehangatan neng"
Begitu sepanjang jalan mereka kehujanan diiringi dengan kilat dan petir. Niatnya ingin berteduh pun merasa urungkan, setelah menyebrangi lampu merah. Tidak lama dia melihat kursi kayu panjang, di sebuah lapak warung. Ada mejanya juga, kalau di perhatikan itu seperti warung bakso atau mie ayam.
"Alhamdulillah... Kita di sini teh, maaf ya kalau aku ajak teteh jalan jauh." Ucap Dara.
"Iya Dar, teteh ngerti. Ternyata kalau untuk kebenaran dan kebaikan itu berat untuk kita hadapi. Teteh juga minta maaf ya, gara-gara teteh uang kamu di ambil sama Sania."Kata Lisna tanpa aba-aba Ari matanya mengalir deras.
Dara menatap wajah Lisna pun tidak tega, selama ini ia hidup enak. Tapi malah memilih hidup susah, hanya karena tidak mau di jodohkan oleh ayahnya. Sekarang bahkan uang sepeser pun tidak punya. Sudah pasti hal itu membuat Lisna sedih dan menderita.
"Teteh yang sabar ya, insya Allah kalau kita berada di jalan yang benar. Dan selalu berdoa dan minta pertolongan Allah maka Allah akan memberikan potongan. Semoga Allah SWT berikan perlindungan pada kita sampai rumah bu haji, dengan selamat. Tidak ada orang yang jahat yang menggangu kita. Kalau pun ada Allah segera berikan pertolongan, Aamiin."Ucap Dara, sambil merangkul pundak Lisna. Dara juga memberikan ketenangan dan semangat dengan mengusap punggung Lisna.
"Aamiin, kamu yakin ini jalan menuju Kebayoran lama?"tanya Lisna karena ia tidak hafal, jalan apa lagi ini sudah sangat malam.
"Tadi saya lihat papan petunjuk jalan, arah ke sini teh. Nanti kita tanya saja sama orang, tapi kalau seingat aku. Kalau kita sampai pasar Kebayoran lama, nanti belok kanan teh. Tapi kalau ragu kita tanya sama orang, kalau masih ada orang." Jawab Dara dengan santai, entah kenapa Dara merasakan tenang.
Tidak ada rasa takut atau apa pada saat malam begini. Apa lagi mereka ini berjalan di tengah malam hanya berdua. Apa lagi mereka ini perempuan, bahkan ia tidak tersinggung dengan ucapan orang yang mencela dan merendahkan mereka.
"Dara kamu kok bisa tenang begitu, bahkan tidak menangis kita ini kan lagi menderita karena Sania?" tanya Lisna, melihat Dara bisa setegar itu padahal dirinya saja sampai di tenangkan olehnya.
"Apakah dengan kita menangis terus bisa sampai di sini teh? Nanti yang ada kita akan di anggap lemah sama orang lain. Kita cuma berdua teh, kalau aku ikut menangis lalu siapa yang akan menenangkan kita. Aku hanya yakin, bahwa Allah itu tidak pernah tidak teh. Dan Allah akan memberikan potongan yang terbaik untuk kita. Karena kalau kita ingin mendapatkan kebaikan orang yang tulus menolong kita. Kita harus yakin bahwa kita tidak cuma berdua dan di pandang rendah sama manusia. Dari kita keluar dari rumah bu Sania, Allah SWT bersama kita. Yakin lah Allah itu maha pelindung, pasti kita masih selamat sampai saat ini atas perlindungan nya." Kata Dara, yakin bahwa Allah itu maha pelindung pasti akan ada jalan terbaik untuk mereka berdua.
"Teteh salut sama kamu, bisa berpikir bijak dan dewasa. Tapi teteh malah kebalikannya, malah berlindung padamu."Kata Lisna merasa malu, harus dia yang melindungi gadis kecil di depannya ini. Malah dirinya yang di lindungi sejak keluar dari rumah majikannya tadi.
"Teteh itu ngomong apa sih, mana bisa aku melindungi teteh. Kita ini sama-sama sedang berjuang untuk mendapatkan yang terbaik untuk masa depan kita teh. Sebagai teman sudah sepantasnya untuk saling menjaga satu sama lain. Aku terlihat kuat itu juga karena ada teteh. Bisa saja kalau tadi saya jalan sendiri, belum tentu seperti ini. Oh ya ini kita isi perut dulu teh, jalan juga butuh energi. Supaya kita sampai di yayasan yang masih jauh entah berapa kilo meter lagi." Dara memberikan dua bungkus roti dan segelas air kemasan.
__ADS_1
*****Bersambung....