Pertemuan di bus kota

Pertemuan di bus kota
14. Di khianati lagi


__ADS_3

Yanto yang melihat Dara hanya diam saja, meski pun berbicara padanya. Namun tatapan Dara kosong menatap jalanan, tak menangis sekali pun. Ia juga heran biasanya cewek mendengar cowoknya menikah dengan cewek lain akan menangis meraung-raung.


"Mas Aji, coba telepon si Arta. Sudah balik ke Jakarta apa belum."Perintah Yanto, ia juga penasaran Arta benar sudah menikah. Lalu apa dia masih mau menemui Dara, jika tidak ia akan bertindak sebagai pelipur lara.


"Baiklah, tak coba bisa apa tidak."Kata Aji, yang memegang warkop milik Arta.


Dara menoleh pada Aji, melihat Aji yang sedang menghubungi Arta. Mendengar kan apa yang di katakan pada Arta, dan menanti jawaban nya.


"Halo Arta, ini di warkop. Apa kamu bisa datang?..... Baik akan ku sampaikan."Langsung menutup teleponnya.


Aji menoleh ke arah Dara "Katanya dia akan datang, kamu di suruh tunggu."Kata Aji menyampaikan pesan dari bosnya.


"Iya mas," Kata Dara, dengan sedikit senyum tapi sangat terlihat itu senyum terpaksa.


Ya Dara memang terpaksa untuk senyum, merasa tidak enak dengan orang yang sudah mau menghubungi pacarnya. Yang di kabarkan saat ini telah menjadi suami orang. Dara menjadi datar tanpa ekspresi, antara sedih, hampa, dan senang juga.


Sedih, di saat ia sudah mencintai malah ia ya tau kelakuan pacarnya. Dan ia membenarkan perkataan majikannya, yang beberapa bulan lalu katanya. Bahwa seorang lelaki playboy, sangat lah pandai bersilat lidah. Selalu bisa merayu dan memperlakukan pacar-pacar dengan baik.


Itu yang sekarang Dara percaya jika dara harus melupakan Arta sesuai dengan keinginan kakaknya Arta sendiri. Yang beberapa bulan lalu juga memberitahu Dara, bahwa ia sebagai kakak sudah pusing dengan masalah adiknya. Tapi memang cuma Dara yang di perkenalkan pada keluarganya, meski baru kakaknya.


Hancur, Dara merasa apa yang namanya pengkhianatan kini kembali terjadi. Di mana dirinya sudah sangat mencintai dan juga merencanakan pernikahan bulan depan. Kini hanya menjadi mimpi saja, dan tidak akan pernah terjadi.


Yang beberapa hari lalu ia bermimpi menikah dengan pacarnya. Tapi kenyataannya pacarnya menikah dengan perempuan lain. Yang mana ia tidak tau, secantik apa dan sebaik apa. Yang jelas hal ini lebih menyakitkan dari penghianat pertama dulu.

__ADS_1


Senang, Dara senang penghianat ini terjadi sebelum pernikahan terjadi. Jika penghianat ini terjadi setelah berjalan nya bahtera rumah tangganya. Di mana dirinya sudah mengandung dan memiliki anak. Maka ia yakin, pasti akan lebih menyakitkan dari saat ini.


Lalu bagaimana dengan dirinya, yang masih muda sudah menyandang status janda muda. Apakah ia akan sanggup menghadapi hari-hari dengan anaknya yang sudah di buang dan di campakkan begitu. Layaknya sampai, yang akan di buang setelah di ambil dan di manfaatkan sebelumnya. Akan di pandang hina, di tendang dan di injak-injak.


Maka saat ini Dara merasa senang, karena hal itu tidak sampai terjadi pada dirinya. Sehingga Dara tidak harus merasakan semua itu, yang akan membuat dirinya menjadi menderita.


Mungkin karena mereka berpacaran jarak jauh, maka hal ini terjadi. Arta makin leluasa dengan perempuan lain, dari pada Dara. Apa lagi Keberadaan Dara yang selalu pindah-pindah. Pada akhirnya Dara tidak bisa lagi menghubungi nomor Arta.


Dara menghubungi Arta lewat wartel, kemudian memberikan nomor telepon rumah majikannya. Tapi Dara ketemu dengan Arta sebelum bekerja di kembangan Jakarta barat. Setelah beberapa hari Dara bekerja, menghubungi Arta sudah tidak bisa lagi.


Setelah merenung cukup lama, sambil menunggu Arta. Dara membuka tas selempang miliknya, dan mengambil handphone nya. Handphone Nokia 3315, yang mana saat itu menjadi trend di masyarakat Indonesia.


Lalu ia memainkan permainan yang ada di dalam handphone Nokia itu. Snack salah satu, permainan yang ada di handphone Nokia tersebut.


"Ya mas, beli bekas yang penting punya. Tadi nya biar lebih mudah ngobrol dengan mas Arta. Karena kalau lewat telepon rumah majikan, kurang nyaman juga. Apa lagi belakangan ini aku susah untuk bertemu dengan mas Arta. Karena nomor sebelumnya sudah tidak aktif lagi."Jawab Dara, mengatakan yang sejujurnya.


Dara menjawab dengan dingin dan datar, yang matanya tetap fokus dengan hp. Tidak menatap lawan bicara nya, karena tidak ingin di anggap lemah. Jika orang biasa melihat dirinya sedang bersedia.


Sedangkan Yanto baru tau jika nomor hp Arta ganti itu untuk menghindari Dara. Kini ia tau, Dara telah di khianati oleh Arta. Dapat di pastikan saat ini Dara sedang terluka, apa lagi mendengar kabar bahwa Arta telah menikah dengan perempuan lain.


"Kamu tanya kan saja dulu tentang hubungan kalian. Dan tentang pernikahan itu, benar atau hanya kabar saja."Kata Yanto yang, tidak ingin memperkeruh suasana.


Di depan warkop itu ada bale-bale untuk nongkrong para pemuda. Sama seperti saat ini, di bale ada beberapa pemuda yang lain. Yang mana semua teman-teman Arta dan Yanto. Ada yang Dara kenal dan tidak, sebab ada yang baru ia lihat.

__ADS_1


Setelah satu jam Dara menunggu Arta datang juga. Terlihat ia dengan raut wajah segar, rambut yang basah dan penampilan baru. Rambut nya cukup rapi, apa lagi ia habis melakukan pernikahan.


"Weh..., seger bener nih. Kayak habis mandi, dan belum lama. Emang sekarang ngontrak di mana?"tanya Budi, temannya yang sejak tadi diam kini bersuara.


Dara menoleh, mendengar ucapan Budi. Dan melihat penampilan baru Arta, kini ia percaya jika Arta telah menikah.


"Iya dong, harus seger kalau mau keluar."Jawab Arta dengan bangga nya.


"Ini dari tadi permaisuri mu menuggu mu, sana ajak ke kontrakan."Kata Ijal.


"Iya tu, kasihan Dara dah lelah pengen rebahan."Timpal Yandi.


Dara sama sekali tidak menoleh, enak melihat permainan nya di hp.


Arta duduknya di depan Yanto, tepatnya di belakang Dara. Tapi tidak menyapa Dara sama sekali, hal itu membuat Dara ingin menangis. Karena biasanya Arta begitu melihat dirinya datang.


Akan menyalami tangan Dara, lalu mencium tangannya dan memeluknya. Tapi kali ini tidak ia lakukan, bahkan tadi bertemu pandang saja Arta cuek. Seperti tidak kenal Dara, padahal ia masih berstatus pacaran.


"Permaisuri apaan," ucapannya Arta, membuat hatinya Dara semakin terluka.


"Emangnya siapa? istri aja bukan. Masak ku bawa ke kontrakan." Jawab Arta.


Semakin hancur berkeping-keping hati Dara, yang mendengar ucapan itu langsung dari mulut Arta. Apa sudah tidak menganggap dirinya pacarnya lagi. Tapi setidaknya selesaikan dengan baik-baik, karena pacaran juga di awali dengan baik. Kenapa harus ia rasakan saat ini, semakin tidak tahan jika harus bertahan di tempat itu.

__ADS_1


*****Bersambung.....


__ADS_2