Pertemuan di bus kota

Pertemuan di bus kota
34.Kue kali di comot


__ADS_3

"Iya mak. Tapi itu aya lihat sendiri sejak sholat dzuhur tadi dia belum pakai bedak mak. Insya Allah itu cantik alami mak bukan hasil dari perawatan. Dia juga seorang pembantu mana mungkin pakai perawatan."Kata Raid.


"Ya sudah sana lu mandi Mak ke warung dulu, masa di anggurin tuh tamu."Kata bu Sharifah.


Langsung jalan menuju ke warung yang beberapa rumah dari rumah nya. Tetangga yang kepo pun pasang mata dan siap bertanya untuk basa-basi.


Tak berapa lama bu Sharifah kembali dengan kantong kresek warna hitam. Salah satu tak sabar dengan rasa ingin tahunya pun langsung bertanya.


"Mpok Sha, tadi tu sapa yang di bawa pulang ma Raid?" tanya mpok Ela.


"Jangan kan mpok, la gua aja belum tau. Itu perempuan siapa nya Raid, sedangkan Raid bilang nya temen die no."Jawab bu Sharifah.


"Dah dulu ah kagak enak ama bocah no, kalau di tinggal lama-lama." Langsung jalan ke rumahnya.


"Ini minum dulu neng Dara, dan roti makan ya." Ucap bu Sharifah, meletakkan minuman kaleng warna merah dan beberapa potong roti.


"Terima kasih bu, jadi ngerepotin." Kata Dara.


"Ya tidak sudah sepantasnya tamu itu di jamu, tadi jalan-jalan sampai ikut kesini?" tanya bu Sharifah.


"Jalan-jalan sama mbak Yani dan pak Kasiman, saya cuma ikut aja bu. Saya di ajak ke kebun binatang ragunan, eh pulang nya jadi kelilingi Jakarta."Jawab Dara.


"Kok jadi kelilingi Jakarta?"tanya bu Sharifah.


"Itu pas berangkat tadi lewat tanah abang, pulang lewat blok M, Ciledug, baru ke sini." Jawab Dara apa adanya.


Dari pintu belakang nongol Raid yang selesai mandi, lewat menuju kamar yang hanya menggunakan handuk dari pinggang sampai lutut. Melihat itu Dara langsung menunduk, karena tidak enak sendiri. Dara sempat lihat dada yang bidang dan perut sispeck nya Raid.


Sedangkan Raid melihat Dara menunduk, ia pun tersenyum "Dara sebentar ya," berhenti di depan kamarnya.


"Iya bang," kata Dara.


"Tadi sudah pada makan apa belum neng Dara?"tanya bu Sharifah.


"Sudah bu, di Ciledug tadi makan di warung pecel lele."Jawab Dara dengan senyum manisnya.


"Mbak asal Jawa mana?" tanya Muza.


"Saya bukan dari Jawa mbak, tapi dari Lampung tengah." Jawab Dara.

__ADS_1


" Tapi seperti orang Jawa mbak?" tanya Muza lagi.


"Ibu dan bapak berasal dari Jawa timur, Surabaya."Jawab Dara.


"Oh begitu, ini di minum dan di makan neng." Ujar bu Sharifah.


"Iya bu," Dara karena tidak enak hati, ia pun membuka minum kaleng itu."Ini saya bu yang minum dan makan?"tanya Dara.


"Iya tamu nya neng dong, ya neng yang makan. Sebentar lagi Raid juga keluar, biar di temani sekalian istirahat sebentar." Jawab bu Sharifah.


Muza berjalan ke kamar yang memang kamar rame-rame, cuma kalau Muza menginap maka Raid. tidur di ruang tamu dengan beralaskan tikar saja. Raid lebih senang tidur begitu, dari pada pakai kasur.


"Bang, lu dapat nyomot di mana tu?" tanya Muza.


"Kue kali di comot. Gua mau antar dia dulu, kasihan nanti kemalaman." Yang langsung menyingkirkan adiknya dari depannya.


"Jangan sungkan, anggap rumah sendiri." Raid yang sudah duduk di sebelah Dara yang duduk di atas tikar.


Dara tidak menjawab apa pun, hanya tersenyum mendengar ucapan Raid. Karena mulutnya sedang mengunyah makanan yang di berikan oleh bu Sharifah.


Raid pun ikut mengambil satu dan memakannya, sambil tersenyum pada Dara. Di balas mengalihkan pandangan ke kamar, yang mana mata itu melihat bu Sharifah yang kini duduk di atas kasur sambil main sama cucunya.


"Bu saya pamit pulang ya," pamit Dara sambil menyalami bu Sharifah dan Muza.


"Emak, aya anterin Dara dulu ya."Pamit Raid pada emaknya.


"Iya hati-hati di jalan ya."Kata bu Sharifah.


"Iya mak."Kata Raid langsung keluar rumah mengantarkan Dara.


Dara di suruh duluan jalan, Raid mengikuti dari belakang. Sampailah rombongan emak-emak kepo, yang ini lihat Raid bawa gadis.


"Id, ini mau ajak kemana?"tanya mpok Ina.


"Mau antar pulang mpok." Jawab Raid.


Setelah menjawab Raid langsung jalan tidak perduli dengan tetangga yang super super kepo.


"Iya ya cantik, bersih, tapi ngomong-ngomong orang mana tu ya."Kata mpok Yanti.

__ADS_1


"Kalau mau tau ya tanya langsung Ama yang bersangkutan." Kata mpok Ina.


"Maksud lu mpok Sha gitu?"tanya Ela.


"Sama sapa kek, besok tanya sama mpok Mai atau mpok Mar."Kata mpok Ina.


"Iya juga ya."Kata mpok Yanti dan mpok Ela.


Sementara orang yang mau ia tanya tidak ada yang tau. Kalau Raid membawa pulang anak gadis cantik di rumahnya. Walau pun satu deretan dan satu atap hanya beda kamar.


Maklum ini rumah petak, satu rumah di bagi 8 bagian, 7 kamar dan 1 kamar mandi.😁🤗


Sedangkan Raid sampai di depan yang ada beberapa teman nya. Kembali jadi bahan lelucon mereka yang senang melihat tingkah Raid yang menurut mereka lucu.


"Wiih, Raid mampir dulu sini. Kenalin sama kita-kita kek, nyelonong aja lu." Sementara Raid cuma melirik ke arah teman-temannya.


"Raid, mentang-mentang bawa cewek cantik lu kagak negor gua lu." Kata pak Sodiq yang ikut duduk di pos ronda.


"Bukan begitu Kong, ini takut kemalaman sampai tempat kerjanya. Aya permisi dulu Kong," Kata Raid yang menjawab apa adanya.


"Beda dah yang sudah kenal cewek mah, jadi sombong." Kata sahabat Raid.


"Habis lu pada berisik sih." Setelah itu Raid langsung pergi bersama Dara.


Sementara Dara sejak tadi memperhatikan ucapan teman-temannya Raid.


"Maaf ya bang, gara-gara saya ikut. Abang jadi di olok-olok oleh teman-teman dan tetangga abang." Ucap Dara saat mereka sudah agak jauh.


Belum sempat Raid jawab sudah ada lagi yang meledek.


"Raid emang udah gede apa?" tanyanya sambil tersenyum menggoda.


"Sudah kong masak kecil mulu." Jawab Raid, dengan senyum malunya.


"Oh pantas udah berani bawa pulang cewek, pintar lagi milihnya yang boto(cakep) begitu."Raid gak jawab langsung bablas aja.


"Saya yang minta maaf, gara-gara ikut saya pulang jadi bahan omongan mereka. Ya begitulah orang kampung Dara beda sama orang komplek. Mereka lebih berisik, mau tau urusan orang, jangan kapok ya main ke sini." Ucap Raid pada Dara, yang menceritakan kampung ia tinggal.


*****Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2