Pertemuan di bus kota

Pertemuan di bus kota
43. Boneka kelinci


__ADS_3

Dara langsung berbinar dari Arta dia tidak pernah dapat apa-apa. Sedangkan Raid yang penghasilannya kecil, selalu membuat ia senang. Dara tidak perlu berlama-lama untuk memilih boneka yang ia suka.


Kecil tapi tidak kecil banget, yang menurutnya lucu dan imut. Ia mengambil boneka itu dengan senyum bahagianya, boneka kelinci berwarna pink.



~Gambar hanya pemanis~


"Apa itu boneka kesukaan mu?" tanya Raid yang melihat wajah bahagia nya Dara.


"Iya bang, ini boneka paling cantik dan dari yang lain." Jawabnya Dara dengan senyum manis dan bahagia nya.


"Iya, cantik dan imut seperti kamu sayang." Sambil mencubit kedua pipinya Dara.


"Abang bisa saja, tapi boleh ya kalau aku pilih yang ini?" tanya Dara dengan nada manjanya.


"Iya sayang, ya sudah yuk kita bayar nanti keburu sore."Jawab Raid, sambil merangkul Dara dan berjalan menuju ke kasir.


"Iya bang, ayo." Dara pun menurut, sebab dia juga tidak ingin kesorean. Karena mau pulang ke kampung halaman bakda maghrib nanti.


"Berapa mbak?" tanya Raid pada penjaga kasir.


"Ini semua 178.000 mas." Jawab penjara kasir itu.


Raid Memberikan uang 2 lembar pecahan 100 ribu. Setelah mendapatkan kembalinya, Raid menggandeng tangan Dara. Lalu berjalan untuk pulang ke rumah, dengan senangnya bisa membelikan sesuatu yang membuat orang yang di cintainya itu bahagia.


setengah jam kemudian mereka sampai di rumah, Dara langsung membereskan barang yang baru di belikan oleh Raid ke dalam tas yang mau di bawa pulang kampung. Selesai itu Dara mandi, dan sholat ashar.

__ADS_1


Setelah semua itu membantu menyiapkan untuk berbuka puasa. Dari mulai menyiapkan sayuran, lauk dan takjil. Kini takjil buka puasa sudah siap, ada tahu goreng dan es buah.




Yang memang untuk empat orang saja yaitu, bu Sharifah, Raid, Dara dan anak bungsu. (Author lupa nama si bungsu) 😄😄


Saat adzan maghrib berkumandang mereka berbuka puasa bersama. Menikmati hidangan sederhana kolaborasi bu Sharifah dan Dara. Setelah selesai mereka menunaikan ibadah sholat maghrib. Dan Dara segera bersiap untuk berangkat, pulang ke kampung halaman.


Raid dan tetangganya yang sudah akrab yang tidak lain adalah suami mpok Ina. Sahabat sekaligus orang tua kedua bagi Raid, sebab beliau juga sahabat babaknya Raid. Yaitu sahabat karibnya pak Kamil almarhum, mang, Eman juga berasal dari Sukabumi Jawa barat.


"Bu, saya pamit ya. Insya Allah habis lebaran ke sini lagi. Saya titip tas ya bu, maaf merepotkan ibu terutama hari ini." Ucap Dara pada bu Sharifah.


"Iya, gak apa-apa tas mu biar di sini. Insya Allah aman biar nanti Raid simpan di lemari. Soalnya di sini orang pada keluar masuk, biar kata saudara juga tidak bisa di percaya. Kamu hati-hati ya di jalan, jaga diri baik-baik." Ucap bu Sharifah di akhir kalimat.


"Iya bu. Terima kasih, hari ini saya bisa berbuka puasa bersama. Saya pamit ya Bu, assalamualaikum." Ucap Dara sambil mencium tangan bu Sharifah, penuh kasih sayang.


Lalu Dara keluar rumah duluan, dengan tas selempang miliknya. Tas besar misalnya di bawa Raid, dan ada satu kardus yang berisi oleh-oleh untuk di kampung nanti. Yang sudah di siapkan Raid dari kemarin, tanpa Dara tau.


"Mak aya anterin Dara dulu, tar aya pulang kok . Cuma pengen tahu cara ke kampung nya tar kalau dah tau kan gampang pas mau nikahan." Pamit Raid, sambil cium tangan emaknya.


"Iya hati-hati, ingat jalannya biar kagak nyasar. Tapi lu kagak sendiri kan?" khawatir mang Eman tidak mau di ajak anaknya.


"Aya kagak sendiri Mak, sama mang Eman kok. Itu mang Eman nunggu di bale."jawab Raid, sambil membawa barang milik Dara yang akan di bawa pulang kampung.


Kini Raid keluar dari rumah dengan tas dan kardus. Membuat Dara menatap Raid dengan bingung, kardus siapa yang di bawa dan mau di antar ke mana. Bukannya mau mengantar dirinya ke terminal bus Jakarta barat.

__ADS_1


"Bang itu kardus pun siapa?" tanya Dara dengan tatapan bingung nya.


"Ini bukan oleh-oleh di kampung nanti. Ini Abang siapkan dari kemarin, hampir aja lupa tadi." Jawab Raid dengan senyum manis, senang melihat wajah bingung Dara.


"Eh kok repot-repot bang, terima kasih ya." Ucap Dara, dengan sedikit kaget juga senang. Karena Raid begitu perduli dan sudah mau menyiapkan oleh-oleh untuk dirinya.


"Ya yang yuk kita berangkat nanti keburu malam." Ajak Raid.


"Sini Id, mamang bawa kardus nya biar enteng." Ujar mang Eman, sambil meraih kardus di tangan Raid.


"Tapi mang....," belum selesai sudah di potong.


"Dah gak papa kan kamu bisa gandengan tangan tu. Apa lagi pas nyebrang jalan nanti." Ujar mang Eman dengan senyum menggoda Raid dan Dara.


Dara dan Raid keduanya tersipu malu, sebab mang Eman tau aja. Kemauan anak muda yang sedang kasmaran, pasti ingin memastikan pacarnya selalu aman. Apa lagi mang Eman lebih tua, sudah pasti sudah pengalaman.


Mereka bertiga sudah sampai gapura dan mau menyebrang jalan. Untuk naik bus jurusan ke terminal Jakarta barat. Raid menggandeng tangan kanan Dara, baru mereka menyebrang dan langsung naik mobil yang memang berhenti. Yang menurunkan penumpang tepat di saat mereka mau naik.


Setengah jam kemudian Dara, Raid dan mang Eman, turun di terminal. langsung naik ke mobil jurusan pelabuhan Merak. Perjalanan berlanjut 3 jam mereka sampai di pelabuhan Merak. Ketiganya turun dan langsung menuju bagian loket pelabuhan.


Setelah beli tiket Dara menuggu keberangkatan, di sana ada beberapa orang yang berada di sana dengan tujuan yang sama. Akhirnya mereka bertiga duduk bersandar di dinding ruang tunggu.


Raid yang melihat Dara ngantuk pun berinisiatif untuk meluruskan kakinya. Dan melepaskan jaketnya, lalu di gelar di lantai tersebut. Kemudian menarik Dara untuk merebah kan badannya, paha sebagai bantalan kepada Dara.


"Yayang tidur aja dulu kan masih lama, tadi penjaga loket bilang satu setengah jam lagi. Lumayan untuk Yayang tidur, biar Abang dan mang Eman yang jaga barang dan Yayang." Ujarnya Raid yang langsung mengusap kepala Dara penuh kasih sayang.


Mendapatkan perhatian dari Raid membuat Dara merasa bahagia. Semakin kesini Dara semakin merasa nyaman dengan perlakuan Raid. Yang menunjukkan perasaan sayang nya pada dirinya itu tulus tanpa di ragukan.

__ADS_1


Sedangkan mang Eman memperhatikan Raid yang begitu perhatian, romantis dan begitu sayang dengan Dara pun tersenyum senang. Hal itu ia merasa wajah dan perlakuan Raid itu adalah Kamil sohibnya.


*****Bersambung......


__ADS_2