Pertemuan di bus kota

Pertemuan di bus kota
41.Raid nyosor mulu


__ADS_3

Kamar itu terbuka, tidak tertutup pintunya. Namun ada saudaranya yang memang tidak suka, jika saudaranya ada senang. Maka ia pun mengintip masuk lewat pintu belakang dan menguping pembicaraan Dara dan Raid.


"Maaf ya sayang. Kalau terkesan ini memaksa mu, apa kamu tidak ingin kita menikah cepat?"tanya Raid sambil mengusap kepala Dara penuh kasih sayang.


"Iya mau bang, tapi alangkah baiknya jika kita sudah mendapatkan restu orang tua abang. Mak abang ingin abang mu dulu yang nikah, jika tidak maka tidak di restui bang."Kata Dara yang ingat akan cerita Raid sebulan lalu, saat Dara dan mengajak ke rumah ini juga bertemu dengan bu Suha nenek Raid.


Raid ingat bahwa ia ceritakan pada Dara apa yang di katakan oleh emaknya. Sungguh tidak menyangka bahwa ingatan Dara itu sangatlah bagus. Dari hal sekecil apa pun yang ia ceritakan pada Dara. Pasti Dara mengingatnya, hal itu membuat Raid semakin yakin untuk memiliki Dara. Yang menurutnya Dara yang cantik juga cerdas, meski pun tampak gadis yang polos.


"Ya ya abang sudah tidak sabar dengan menikahi mu. Seharusnya emak itu tidak mementingkan Thomi, aku sudah pengen nikah. Malah di entar-entar suruh nunggu dia yang belum jelas kapan mau nikah." Kata Raid, yang sudah ingin menikahi Dara. Karena jika terlalu lama menunggu, ia khawatir tidak dapat menahan sahwat nya.


"Abang harus sabar lah, lagian abang juga belum pernah ketemu orang tua ku kan?" tanya Dara yang masih rebahan di depan Raid.


"Iya sih, sebenarnya abang ingin ikut kamu sayang. Tapi emak dan nyai, tidak mengizinkan aku pergi. Sebab mau hari lebaran, sudah biasa kumpul semua keluarga. Tapi suatu saat jika Yayang nanti ke sini lagi. Abang akan ikut pulang ke kampung mu, untuk melamar mu, Yang." Ujar Raid, pada Dara yang mengantuk itu.


"Iya bang, aku ngantuk banget boleh kan kalau aku numpang tidur?"tanya Dara.


"Ya sayang boleh, tidurlah abang temani mu sampai dzuhur." Jawab Raid.


Dara tidak berkata apa-apa lagi, ia menekankan mata pura tidur. Walau pun ngantuk mana bisa tidur nyenyak kalau di rumah pacarnya. Yang mana calon mertuanya masih merasa canggung yang membuat dara tidak nyaman.


Raid melihat dara memejamkan mata pun tersenyum senang. Sebab bisa melihat Dara tidur di rumahnya, juga bisa membuat dara cepat tidur dengan mengusap kepala. Melihat dara sudah tidur dengan pulas, pikirnya Raid. Lalu mencium kening Dara dengan penuh kasih sayang. Raid pun bangun dari duduknya untuk keluar dari kamar.

__ADS_1


Yang berada di luar kamar ada ncang nya yang sejak tadi menguping itu. Juga sudah pergi ketika melihat dara sudah tidur. Raid yang sedang mengusap-usap kepala Dara, dengan lembut dan penuh kasih sayang itu.


"Sha, itu si Raid lu diemin berduaan di kamar. Tar kalau kebablasan kita juga yang malu."Ujar bu Marisa, dengan nada ketus.


"Yang penting pintu kamar itu terbuka juga kaga apa-apa mpok." Kata bu Sharifah, yang percaya dengan anak kesayangannya tidak akan berbuat yang tidak-tidak. Apa lagi ini bulan puasa, yang ia tahu Dara juga sedang berpuasa.


"Gua tadi lihat Raid nyosor mulu, sedang kan Dara ya senang-senang di sosok ama perlakuan Raid. Lagi mesra-mesraan di kamar mana bulan puasa begini." Mengatakan apa yang di lihat, namun ia lebih-lebih kan. Ia juga berbicara dengan nada sedikit tinggi, sehingga terdengar oleh telinga mpok Ela dan mpok Ina.


"Sha lu lihat sono, jangan sampai mereka kebablasan." Perintah bu Suha yang khawatir terjadi yang tidak-tidak.


Belum sempat bu Sharifah menjawab dan menjalankan perintah emaknya. Raid sudah nongol dari pintu utama rumah besar itu. Lalu berjalan menuju dekat emaknya, dan duduk di bale itu tepat di samping emaknya.


"Dara mana tong?" tanya bu Suha.


"Lah ini masih jam setengah sebelas untuk ngantuk aja."Kata bu Maisha.


"Karena semalam dia beresin barang nya, jadi dia kurang tidur. Apa lagi dari jam 3 pagi tadi dia belum tidur. Semalam tidur juga jam 12 katanya, makanya ngantuk. Lagian nanti malam dia mau pulang kampung yang perjalanan nya semalam lebih."Jawab Raid panjang lebar, sesuai yang di katakan oleh Dara tadi di jalan.


"Pantas di ngantuk, biar saja di tidur di kamar. Tutuplah pintu nya kalau keluar begitu." Perintah bu Sharifah.


"Sudah Mak, kasihan dia yang ngantuk. Tadi di motor dia hampir pules, untuk kagak jatuh."Cerita Raid.

__ADS_1


"Ya ampun, mungkin efek capek kerja juga kemarin. Di tambah kurang istirahat, jadi pas di mobil kena angin sepoi-sepoi jadi pengen tidur." Kata bu Sharifah.


"Bisa jadi begitu, namanya juga pembantu dalam beda sama yang pulang hari. Apa lagi di itu juga jaga anak dua, kalau siang juga tidak pernah tidur. Karena di sini dan tidak kerja jadi ngantuk tidak bisa di tahan." Ujar bu Maisha.


"Ya begitulah pembantu dalam jarang yang ada ngaso nya kalau siang." Sahut bu Marisa.


Dia selalu berubah ketika berbicara dengan yang bersangkutan. Baik, namun di belakang padai ia bersilat lidah, mengarang cerita yang tidak baik.


Tidak ada yang mudah percaya dengan ucapannya bu Marisa ini. Lagi dengan orang yang sudah gila berita, tentang orang yang lagi di buru beritanya. Seperti Raid ini yang lagi di cari berita nya, hal apa pun yang di katakan oleh bu Marisa ya percaya saja. Malah akan mereka pelintir lagi berita itu supaya lebih seru menurut mereka.


"Ya begitulah Cang, Mak kita ke dalam yok." Ajak Raid pada emaknya.


"Iya dah aya ke dalam dulu ya Mak,"Pamit bu Sharifah pada bu Suha.


" Iya dah sono, kalau lu mau masuk." Kata Bu Suha, yang sudah tahu kebiasaan anaknya yang satu ini.


Ya bu Sharifah pulang kerja jam 9 pagi. Sampai rumah langsung nyuci pakaian anak-anaknya, selesai itu masak jika bukan bulan puasa. Karena bulan puasa selesai nyuci bu Sharifah tidur, sebab ia mengantuk. Bangun dari jam 3 untuk sahur, setelah itu berberes dapur sambil nunggu subuh. Setelah sholat subuh berangkat kerja, sehingga jam sebelas sudah ngantuk.


Bu Sharifah masuk ke kamarnya yang sudah di tiduri oleh Dara. Sebenarnya ini adalah kamar anak-anaknya. Kamarnya tidak pernah di tempati sejak suaminya meninggal. Karena jika bu Sharifah tidur di kamarnya, ia gelisah tidak bisa tidur. Itu di sebabkan oleh dirinya yang terbayang terus akan keberadaan suaminya.


Dara yang tadinya pura-pura tidur pun, kini tidur beneran sebab sudah tidak ada Raid. Ia tahu Raid pergi dari kamar tersebut, setelah mencium keningnya tadi. Dara pules banget, sehingga bu Sharifah merebahkan diri di sampingnya pun tidak berasa.

__ADS_1


Raid sendiri tidur di lantai kamar itu juga tidak di kasur. Karena ia juga lebih senang tidur di lantai beralas tikar atau tidak. Dari pada tidur di kasur, memang ia tidur di dekat Dara. Bu Sharifah membiarkan itu, sebab Raid juga tidur tidak memeluk Dara. Namun bu Sharifah tidak tidur hanya pura-pura tidur. Karena ia tidak percaya dengan Dara, yang saat ini tidur di sampingnya. Takut ketika ia pules, Dara berbuat sesuatu yang di luar kendali.


*****Bersambung.....


__ADS_2