Pertemuan di bus kota

Pertemuan di bus kota
21.Kehilangan.


__ADS_3

Entahlah ini fakta atau mitos, karena Dara tidak percaya akan itu cerita para orang tua. Sebab ia tau jika manusia memiliki takdir yang berbeda-beda. Tidak akan ada yang sama, namun hampir sama atau serupa. Tapi tidak akan pernah sama, tetap ada bedanya.


Setelah merenung cukup lama, Dara berniat akan mencari buku apa yang bisa ia pelajari. Setidaknya bisa ia jadikan motivasi dalam hidup nya untuk masa depan.


Keesokkan harinya.


Dara sedang membereskan tanaman di depan dan ada tukang buku lewat macam-macam buku dan Al Quran yang di jual. Si penjual buku itu kebetulan juga menawari Dara.


"Mbak bukunya, mungkin ada yang suka." Kata si penjual buku itu. Kisaran usia nya sudah empat puluhan, jualan buku dengan berjalan kak.


"Boleh pak, boleh lihat dulu?"tanya Dara.


"Boleh mbak kalau suka baru ambil dan bayar tentunya." Dengan sedikit bercanda.


Dara melihat berbagai macam jenis buku, ada resep masakan, majalah motivasi, aneka buku cerita tentang kisah Nabi dan Rasul, ada pula kisah percintaan, buku doa lengkap, tuntunan sholat wajib dan Sunnah dan kitab suci Al-Qur'an.


"Pak saya ambil ini tuntunan sholat wajib dan Sunnah, sama ini doa lengkap. Dua buku ini jadi berapa pak?"tanya Dara, menunjukkan buku tersebut satu 1 cm, dua macam.


"Itu semua 25 ribu mbak."Jawab tukang buku.


"Baiklah saya ambil uang dulu, bapak tunggu sini ya saya masuk sebentar." Dara langsung berdiri dan masih ke dalam rumah majikannya.

__ADS_1


"Baik mbak saya tunggu."ucap penjual buku tersebut.


Tak lama Dara sudah keluar dan memberikan uang tersebut pada penjual buku itu.


"Terima kasih ya mbak." Ucapnya.


"Iya pak, sama-sama."Ucap Dara.


Setelah itu Dara lanjut bekerja, yaitu membereskan tanaman. Setelah selesai ia lanjutkan dengan pekerjaan yang lain. Sampai sore dia fokus pikiran pada pekerjaan, sesekali mengingat sampul buku yang ia beli tadi. Rasanya sudah tidak sabar ingin melihat isinya, apakah ada doa sesuai dengan keinginannya.


...****************...


Malam ini di rumah Raid sedang berduka, karena bapak nya telah pergi untuk selama-lamanya.


"Dah mpok ikhlas kan bang Kamil, dia sudah enak. Kagak lagi ngerasain sakit, tugasnya juga sudah selesai di dunia ini."ucap salah satu tetangga.


"Iya mpo, tapi kagak nyangka aja. Tadi dia minta dipangku, habis itu dia ngomong apa gua kagak ngerti. Dia tadi siang habis marah-marah, namanya sakit begitu mana gua ngarti. Tapi sebelum tidur untuk selama-lamanya dia nyium gua, baru ia kagak napas lagi." Nangis lagi, bu Sharifah masih rasa janggal di hati.


Karena siang tadi suaminya marah-marah tanpa ia tau artinya dari setiap ucapannya. Sementara suaminya tiba-tiba tidak bisa berdiri lagi sejak awal ia marah-marah. Sehingga bu Sharifah merasa bersalah pada suaminya, dan merasa ada sesuatu yang ia sampaikan.


"Sabar ya mpok, pasti nanti mpok bisa terbiasa. Saat ini mpok baru ngerasain kehilangan bang Amil." Ucap tetangga yang lain, yang memiliki status yang sama.

__ADS_1


"Iya kali mpok gua, masih belum terbiasa. Rasanya benar-benar tidak bisa di ucapkan dengan mulut saja. Entah seperti apa, yang jelas di sini seperti berat banget." ucapnya dengan menepuk dadanya, yang rasanya tidak karuan.


Pagi hari nya sebagian bersama orang perumahan komplek tempat bu Sharifah dan Raid kerja. Pada berdatangan untuk takjiah meskipun kebanyakan orang non muslim. Tapi orang-orang tersebut sudah pada kenal dengan pak Kamil atau yang di kenal bang Amil. Mereka banyak yang merasa kehilangan dengan sosok pak Kamil.


Sementara Raid yang di kenal semua orang, adalah anak yang berbakti pada orang tuanya. Yang kini hanya menatap jenazah babak nya, dengan tatapan kosong. Kini semua memberikan semangat, kepadanya untuk terus semangat.


Karena sebagai anak laki-laki harus lebih kuat, karena masih ada emak nya yang harus di jaga. Kemudian ia mengingat pesan babak nya beberapa tahun. Saat babak nya masih bisa berbicara meski agak kurang jelas. Karena bahasa seperti orang yang baru belajar berbicara.


Flashback on.


"Tong, su-atu sa-at nan-ti, ji-ka ba-bak su-dah ti-dak ada. Ka-mu ja-ga em-mak, sa-ma ad-dik mu. Ba-bak per-ca-ya pa-da mu, se,bab ab-ba-ng ti-dak bi-sa di an-dal-kan. Ja-ngan per-nah ting-gal kan em-mak ji-ka ka-mu su-dah ni-kah nan-ti ya." Pesan pak Kamil dengan susah payah ia berbicara.


"Babak nggak boleh bilang begitu, pasti nanti babak bisa sembuh. Babak yang sabar ya, Insya Allah jika kita sabar. Allah akan kasih ke mudahan untuk sembuh." Kata Raid, yang merasa babaknya saat ini lagi putus asa untuk melawan sakitnya.


"Ba-bak su-dah ti-dak bi-sa sem-buh la-gi tong. Ba-bak ti-tip em-mak sa-ma ad-dik-ad-dik mu ya. Ang-gap ini per-min-ta-an ter-ak-hir ba-bak pa-da mu. Ma-af ya, ba-bak ti-dak bi-sa mem-be-ri-kan apa-apa bu-at ka-lian."Pesan pak Kamil lagi.


"Iya Bak, aya juga minta maaf ya. Karena tidak bisa memberikan pengobatan yang terbaik untuk babak."Ucap Raid yang merasa bersalah, karena tidak bisa memberikan pengobatan yang terbaik untuk babaknya.


"Ti-dak apa-apa tong, ka-mu su-dah mem-ban-tu em-mak bu-at se-ha-ri-ha-ri. Ba-bak su-dah se-na-ng, apa la-gi han-ya ka-mu ya-ng bi-sa mem-be-ri-kan itu pa-da ka-mu. Se-mo-ga ke-lak ka-mu men-da-pat-kan pe-rem-puan ya-ng bi-sa me-ne-ri-ma mu apa ada nya. Dan pe-rem-puan ya-ng ber-ha-ti ba-ik, dan se-tu-lus ha-ti."Ucap pak Kamil sambil mengusap-usap pundak anak kesayangannya.


"Aamiin ya rabbal allamin. Semoga ya bak," Ucap Raid dengan senang karena di doa kan dirinya. Supaya dapat jodoh ya terbaik, seperti harapan dirinya.

__ADS_1


Flashback off.


*****Bersambung....


__ADS_2