PESONA GADIS ALIM

PESONA GADIS ALIM
10. Kisah perceraian


__ADS_3

Setengah tahun hidup bersama dengan mertuanya, Mariam harus membagi tiga perannya sekaligus.


Dari menjadi seorang istri, menantu dan juga kakak ipar untuk Sindy.


Keluarga suaminya sangat memanjakan Mariam terutama tuan Hendra yang lebih protektif pada menantunya.


Mariam tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah walaupun itu adalah memasak atau kegiatan berkebun yang merupakan hobinya.


"Nak Mariam, temanin ayah di sini!" Ucap tuan Hendra sembari menepuk tempat duduk yang ada di depannya untuk Mariam.


"Baik ayah!" Apakah ayah butuh sesuatu untuk di makan atau minum?" Tanya Mariam yang baru saja menyiram beberapa tanaman buah-buahan yang ditanamnya enak bulan yang lalu seperti jeruk, mangga, jambu, melon, pepaya dan alpukat di kebun belakang milik mertuanya yang cukup luas itu.


"Tidak nak!" Ayah sudah minta pelayan untuk membuatnya." Ujar tuan Hendra.


"Mariam, bukankah tanggal lahir kamu dan Rendra sama persis?" Dari hari, tanggal bulan dan tahun, persis sama. Apakah ibumu juga pernah melahirkan di rumah sakit Jakarta?"


"Kalau melahirkan di Jakarta, memang benar tapi rumah sakitnya saya tidak tahu karena ibu saya meninggal setelah usia saya lima tahun." Ucap Mariam.


"Apakah ayahmu menikah lagi setelah ibumu meninggal?"


"Abi sangat setia pada ummi, ia lebih memilih merawatku dari pada menikah lagi."


"Apa ada sesuatu yang ayah ingin tahu dari keluargaku?"


"Tidak nak!" Hanya saja wajahmu sangat mirip dengan mantan istriku. Dia memiliki wajah yang persis sama denganmu ketika seusiamu dan di usia yang sama ia sudah mengandung Rendra.


Apakah Rendra tidak menceritakan kemiripan wajah ibunya dengan kamu?"


"Mungkin bang Rendra memang jodoh saya ayah, buktinya wajah saya dan ibunya sangat mirip." Ucap Mariam.


"Kalau cerita tentang perceraian ayah dan mamanya, aku sudah dengar, tapi aku belum mendengar ia membahas wajah ibu kandungnya pada Mariam, ayah." Jawab Mariam yang melihat kesedihan mendalam di mata ayah mertuanya.


"Ayah, mungkin pertanyaan aku ini sangat lancang untukmu, tapi kalau boleh tahu, apa yang menyebabkan ayah menceraikan mamanya bang Rendra?"


"Itulah misterinya nak, Mariam karena sampai saat ini, ayah tidak tahu mengapa mantan istriku menggugat cerai diriku.


Semenjak melahirkan Rendra yang saat itu, aku memang sedang berada di luar negeri, sikap dingin yang diperlihatkan oleh istriku sangat membuatku bingung.


Saat aku pulang dari luar negeri, Rendra sudah berusia dua bulan.Aku saat itu sedang mengambil spesialisasi jantung di fakultas kedokteran Amerika, tidak lagi mendapati senyum manis dari istriku.


Ia menolak menyusui putra kami padahal ia menghasilkan ASI yang banyak hingga ASI eksklusif darinya terbenam begitu saja. Hal itu membuat aku sangat marah. Setiap kali aku tanya atas tindakannya, ia pun tetap bungkam sampai saat ini.


Setelah usia Rendra 6 tahun ia mulai selingkuh dan itu membuatku sangat marah. Alih-alih meminta maaf kepadaku karena sudah berselingkuh, ia malah mengirim surat gugatan cerai padaku dan itu membuatku sangat depresi.


Di saat depresi itu, aku bertemu dengan ibunya Sindy yang sangat membantuku untuk kembali bangkit menatap hidupku yang berantakan." Ucap Tuan Hendra dengan mata berkaca-kaca.


"Apakah ayah tidak penasaran dengan perlakuan mantan istri yang tidak ingin menyusui bang Rendra saat bayi, padahal itu adalah anak kandungnya sendiri. Apa lagi ayah dan mama saling mencintai bukan."


"Aku sudah memaksanya untuk terus terang, hingga aku mencurigai Rendra bukan anak kandungku. Tapi aku tidak ingin melakukan tes DNA karena aku yakin istriku tidak pernah selingkuh.


Dari malam pengantin hingga ia dinyatakan hamil, aku selalu bersamanya saat itu. Setelah dua Minggu menikah, ibunya Rendra dinyatakan hamil dan itu membuatku sangat percaya bahwa Rendra adalah putra kandungku." Kenang tuan Hendra tentang kisah cintanya yang awal mulanya tidak bermasalah hingga usia kehamilan istrinya tujuh bulan ia menerima beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di Amerika.


"Ini sungguh rumit ayah, hanya mama yang bisa menjelaskan ini semua kepada kita dan suatu saat nanti, Mariam yakin Allah akan membolak balikan hati mama agar bisa jujur dengan masalalunya mengapa ia tega meninggalkan ayah dan bang Rendra." Mariam menghibur ayah mertuanya untuk tidak terlalu tenggelam dalam masalalu kisah cintanya begitu pelik.


"Apakah aku harus mengunjungi ibu mertuaku di Turki?" Tapi, bagaimana kalau bang Rendra menolaknya untuk tidak lagi berurusan dengan ibu kandungnya itu?" Tanya Mariam dalam diamnya.

__ADS_1


"Ayah, apakah aku boleh mengunjungi ibu mertuaku di Turki?"


"Apakah kamu ingin ke sana Mariam?"


"Iya ayah, mungkin dengan Mariam ke sana, insya Allah, kita akan menemukan jawaban dari pertanyaan ayah selama ini yang belum terjawab oleh ibu mertua."


"Bagaimana kalau dia menolakmu Mariam?" Tanya tuan Hendra kuatir.


"Bukankah kata ayah, wajah kami mirip?" Mungkin saja, ibu mertuaku mau menerimaku, tapi masalahnya, apakah bang Rendra mau berangkat bersamaku atau mengijinkan aku menemui ibu kandungnya?" Wajah Mariam terlihat muram seketika karena ia tahu kalau suaminya tidak ingin bertemu dengan ibu kandungnya sendiri.


"Coba nanti kamu bicarakan dulu sama Rendra. Kalau dia menolak, ayah yang akan membujuknya sendiri." Ucap tuan Hendra.


"Kalau begitu aku mau ke kamar dulu ayah." Mariam beranjak dari duduknya dan duduk kembali karena ada yang masih mengganjal di hatinya.


"Ayah!"


"Hmm!" Tuan Hendra menatap wajah Mariam.


"Apakah ayah memiliki foto muda mama mertuaku?" Tanya Mariam hati-hati.


Tuan Rendra mengajak Mariam ke kamarnya, kebetulan nyonya Andara sedang pergi arisan dengan ibu-ibu sosialita.


"Ayo ke kamar ayah, nak. Kebetulan masih ada foto mama mertuamu yang ayah masih simpan walaupun hanya dua lembar yang tersisa.


Keduanya berjalan beriringan menuju kamar tuan Hendra. Sekitar lima menit kemudian, tuan Hendra membuka berangkas yang tersembunyi dibalik foto pernikahan dia dan nyonya Andara.


Setelah di buka brangkas itu, tuan Hendra mengambil foto pernikahannya dengan nyonya Widia dan foto Widia masih muda.


Ia lalu memberikan kepada Mariam foto istri pertamanya itu, yang sekarang hanya menjadi mantannya saja.


Bukan hanya itu, wajah nyonya Widia sangat mirip dengannya saat ini.


Mariam hanya terdiam, ia merasa kemiripan ini bukan suatu kebetulan, hatinya tiba-tiba merasakan kerinduan yang amat mendalam pada nyonya Widia.


"Ayah, bolehkah aku menyimpan foto mama?"


"Silahkan nak!"


"Terimakasih ayah!"


Mariam pamit pada ayah mertuanya dan kembali ke kamarnya. Tuan Hendra juga ingin beristirahat dan memilih tidur.


Mariam berbaring di kasur sambil tetap menatap foto ibu mertuanya. Mariam juga merasa ada keterikatan batin antara dia dan ibu mertuanya.


"Mengapa wajah mama lebih mirip denganku dari pada wajah ummi?" Gumam Mariam lirih.


Mariam menatap wajah nyonya Widya dan fotonya saat ini. Tidak ada yang beda diantara mereka.


Bentuk mata, hidung, dan juga bentuk wajah sama persis. Hanya saja tubuh Mariam lebih tinggi dari pada Nyonya Widia.


Mariam mengambil foto umminya lalu membandingkan dengan dirinya dan umminya yang saat itu masih muda.


"Dilihat dari sisi manapun, wajahku tidak mirip dengan ummi dan juga tidak mirip dengan Abi. Astaga, jangan-jangan aku ini anak pungut?" Ah, tidak masa aku sejahat itu pada orangtuaku sendiri. " Mariam bermonolog.


Mariam mengambil ponselnya lalu menghubungi bibi Ijah.

__ADS_1


"Assalamualaikum bibi Ijah!"


"Waalaikumuslam neng Mariam, apa kabar!" Tumben telepon bibi."


"Maaf bibi Ijah, aku lagi sibuk banget di sini, jadi udah capek kalau sudah sampai rumah maunya langsung tidur." Ucap Mariam.


"Oh tidak apa neng, yang penting neng Mariam selalu sehat. Tapi neng mau ngomong apa sama bibi, jangan-jangan neng Mariam hamil?"


"Belum hamil bibi, doakan saja ya, semoga Mariam cepat hamil," pinta Mariam.


"Sekarang neng Mariam mau bicara apa?"


"Bibi Ijah, aku ini anak ummi sama Abi bukan?" Tanya Mariam.


"Astaghfirullah!" Neng Mariam ko tanyanya gitu?" Emang kenapa?"


"Nggak sih, cuma tanya aja ko." Ucap Mariam.


"Ya Allah neng, kamu itu anak kandung ustadz Abdul Muid dan nyonya Andien. " Ucap bibi Ijah tegas.


"Alhamdulillah terimakasih bibi Ijah. Bagaimana kabar kebun teh dan sayuran kita?"


"Hasil panennya sangat bagus neng, uangnya sudah bibi Ijah transfer ke neng Mariam, sisanya dibagikan ke para pekerja sebagai upah mereka termasuk bibi Ijah." Ucap bibi Ijah.


"Alhamdulillah terimakasih bibi Ijah, tapi lain kali bayar dulu semua gaji para pekerja baru ditranfer ke Mariam bibi." Pinta Mariam.


"Tapi, Alhamdulillah sejauh ini tidak ada kendala dengan gaji mereka neng Mariam. Bibi hanya mengikuti apa yang sudah diajarkan neng Mariam selama belum menikah dengan tuan dokter Rendra." Ucap bibi Ijah.


"Syukurlah bibi Ijah dan bibi Luky cepat mengerti, jadi Mariam tenang ninggalin kalian dengan tanggung jawab yang besar.


Semoga perkebunan kita makin berlimpah hasilnya. Dengan begitu kita bisa menghidupkan banyak keluarga yang tidak mampu yang ada di lingkungan kita." Ucap Mariam.


"Neng Mariam sangat baik hati karena sudah menaikkan upah untuk para pekerja dua kali lipat malah, setelah neng menikah.


Para pekerja sangat bersyukur neng, sekarang mereka bisa hidup lebih layak berkat kemurahan hati neng Mariam.


Setiap kali bibi Ijah membagikan upah mereka, mereka selalu mendoakan neng Mariam dan kedua almarhum orangtuanya neng Mariam."


"Ya Allah, aku senang banget dengarnya bibi Ijah. Mereka bisa hidup lebih layak itu sudah membuat aku puas secara batiniah.


Mohon doanya ya bibi Ijah agar Mariam cepat hamil. Keluarga besar bang Rendra sudah merindukan kehadiran seorang cucu dari Mariam.


Mariam sangat senang kalau harapan kita semua bisa terwujud, aamiin. Sudah dulu ya bibi Ijah, sebentar lagi bang Rendra mau pulang. Mariam mau siap-siap dulu. Terimakasih bibi Ijah, salam untuk semuanya. Assalamualaikum...


Mariam mengakhiri percakapannya dengan bibi Ijah.


Tok...tok..


Cek..lek..


Mariam menyembunyikan foto nyonya Widia di dalam Al-Qur'an miliknya. Ia tidak ingin suaminya mengetahui kemiripan mereka.


"Assalamualaikum sayang!" Sapa dokter Rendra langsung memeluk istrinya.


"Waalaikumuslam sayang!" Apakah kamu merindukanku?" Tanya Mariam makin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2