PESONA GADIS ALIM

PESONA GADIS ALIM
23. Nekat


__ADS_3

Dokter melu**t bibir sensual milik istrinya dengan sangat rakus. Mariam pun tidak ingin ketinggalan, sambil memberikan kehangatan yang sama. Bibir keduanya saling berpagut dengan tangan mencari tempat-tempat yang akan membangkitkan gairah keduanya. Hijab panjang milik Mariam sudah terlepas.


Wajah cantik Mariam, makin menggemaskan Rendra dengan tubuh yang terlihat lebih berisi dan dua gunung yang membusung indah menantang dirinya untuk mengisap bergantian.


"Akkkhh!" Mariam melenguh manja dengan suara seksi teramat merangsang milik Rendra yang makin membengkak dibawah sana.


"Mariam, aku merindukan percintaan panas kita sayang." Bisik nakal Rendra sambil memasukkan jarinya ke tempat sempit milik istrinya.


Permainan jari Rendra dari lembut berubah kasar diiringi erangan nikmat Mariam.


Usai mendapatkan orgasmenya, Mariam melepaskan cairan kenikmatannya dan langsung disambut oleh sang suami. Rendra mengisap habis cairan itu lalu kembali menelusuri liang sempit milik Mariam.


Momen-momen seperti inilah yang dirindukan oleh Mariam ketika suaminya selalu memanjakan tubuhnya.


Mendesis dan mend**ah terdengar riuh diantara keduanya yang sudah menyatukan milik mereka yang sudah lama tidak tersentuh.


Ternyata permainan panas mereka siang itu lebih nikmat daripada sebelum mereka berpisah. Rendra kelihatan lebih hebat memuaskan istrinya yang saat ini sedang hamil tua.


"Mariam, ayo kita kabur sayang, aku tidak mau kita berpisah." Ucap Rendra sambil mengaduk milik istrinya yang makin mencengkram erat miliknya.


"Akkkhh!" Rendra makin mabuk kepayang ketika milik istrinya makin mengisap kuat miliknya.


"Mariam, sayang!" Rendra makin mempercepat permainannya karena tidak kuat lagi menahan laharnya yang sudah siap meledak di dalam milik istrinya.


"Maaf sayang, aku baru bisa mengunjungi putra kita saat ini." Ucapnya dengan terus mengaduk pinggulnya, hingga akhirnya keduanya sama-sama menegang dan serentak melenguh setelah mencapai puncak kenikmatan.


"Akhhhhkkk!" Sayang...Aku sangat mencintaimu Mariam." Rendra menjatuhkan tubuhnya disamping tubuh sang istri yang sudah bermandikan peluh.


"Apakah perutmu sakit?" Tanya dokter Rendra sambil terus mengusap perut istrinya.


Mariam tidak menjawab pertanyaan suaminya. Ia lebih sibuk dengan alam pikirannya saat ini. Perkataan suaminya yang mengajaknya untuk kabur dari orangtuanya menjadi pertimbangannya.


"Abang Rendra, bawa aku pergi dari sini, ke manapun yang kamu mau. Status kita masih sah menjadi suami istri. Aku adalah hakmu. Jangan menundanya karena kita akan kehilangan kesempatan untuk bersama.

__ADS_1


Aku yakin, kita berdua bukan saudara sepersusuan. Jika kita mengikuti ketakutan mama Widya, kita tidak akan pernah bersama lagi. Aku tidak mau kehilangan kamu sayang." Ucap Mariam membuat Rendra tertegun.


"Benarkah sayang!" Tapi kalau kamu kabur, kita mudah ditemukan karena ayah tirimu punya pengaruh besar di negara ini." Timpal Rendra yang ingin memperhitungkan baik buruknya ketika mereka kabur.


"Untuk apa takut. Pernikahan kita sah. Kita bukan pelaku kriminal. Kita punya pekerjaan mulia. Aku yakin ayah tiri ku bukan orang bodoh yang ingin mengumumkan kepada petugas polisi bahwa kita adalah saudara sepersusuan sebelum mendapatkan bukti otentik." Ujar Mariam.


"Baiklah sebaiknya kita cepat berkemas dan kabur dari sini Istambul sebelum mama Widya pulang dari luar kota. Tapi apakah kamu bawa paspor milikmu?"


"Karena aku masih warga negara Indonesia, jadi ke manapun aku pergi, aku selalu membawa paspor milikku." Ucap Mariam.


"Kamu istriku yang paling cerdas sayang. Tapi, aku bercinta lagi sayang karena aku masih sangat merindukan kamu dan bayi kita.


Rendra kembali memagut bibir istrinya dan keduanya bercinta dengan berbagai posisi hingga keduanya sama-sama mereguk kenikmatan sampai keduanya puas.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Mariam tidak ingin para pelayan di rumah ibunya menunggu dirinya dengan cemas. Iapun mengirim pesan singkat bahwa saat ini, ia sedang mengunjungi rumah sakit.


Pelayannya merasa tenang karena Mariam akan aman di rumah sakit di mana ibunya bekerja di sana.


"Aku rindu dengan tanah airku. Aku ingin melahirkan anak kita di sana." Balas Mariam.


Keduanya sudah melewati beberapa pemeriksaan dari petugas bandara. Dokter Rendra masuk ke pesawat Garuda Indonesia dengan tiket first class. Mariam merasa sangat nyaman berada lebih dekat lagi dengan suaminya.


Kerinduannya pada Rendra jauh di atas segala-segalanya. Kesedihannya selama lima bulan ini terhapus sudah dengan kehadiran suaminya. Apa lagi keduanya melakukan lagi kewajiban mereka sebagai suami istri, itulah obat jiwa yang mereka nantikan selama ini.


Sayangnya dalam perjalanan menuju Indonesia, Mariam merasa perutnya sangat keram. Beruntunglah pesawat itu transit terlebih dahulu di Singapura, jadi dokter Rendra bisa membawa istrinya ke rumah sakit terdekat dengan bandara.


"Sayang, perutku seperti keram." Ujar Mariam sambil meringis.


"Apakah sangat sakit, sayang?" Rendra makin cemas.


"Apakah kita akan langsung menunju Indonesia?"

__ADS_1


"Tidak sayang, mungkin kita akan transit ke bandara Changi Singapura." Ujar Rendra.


"Kalau begitu kita ke rumah sakit Singapura aja sayang. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan baby kita." Ujar Mariam.


"Maafkan aku sayang, karena aku terlalu memaksa kamu bercinta terus menerus." Rendra merasa sangat bersalah dengan istrinya.


"Itu tidak ada hubungannya sayang. Mungkin aku terlalu tegang karena tiba di bandara Soekarno-Hatta, ayah Hendra sudah menunggu kita di sana dan akan dipisahkan lagi." Ucap Mariam.


"Oh, iya!" Ya Allah, kenapa aku lupa akan hal itu." Ujar Rendra.


"Kalau begitu kita bisa mampir dulu di Singapura dan memikirkan langkah selanjutnya." Ucap Mariam.


Tidak lama kemudian, pesawat mereka melakukan transit ke Singapura. Rendra sudah mengkoordinir dengan pramugari untuk menyiapkan mobil ambulans di bandara agar istrinya segera ditangani oleh petugas medis.


Setibanya keduanya di rumah sakit, Mariam langsung di bawa ke IGD. Dokter menanyakan beberapa keluhan yang dirasakan oleh Mariam.


"Sebaiknya anda tidak melanjutkan perjalanan anda lagi sampai tiba di Jakarta karena kandungan anda akan beresiko keguguran."


Deggg...


Mariam dan Rendra kelihatan pucat mendengar pernyataan dokter kandungannya. Keduanya mengikuti saran dokter dan Mariam akhirnya menginap di rumah sakit hingga waktu yang cukup lama.


"Sayang, tolong jangan setress karena baby kita saat ini sangat membutuhkan dukungan kamu." Pinta dokter Rendra.


"Apakah kita akan dipisahkan lagi sayang?" Tanya Mariam.


"Aku akan mempertahankan dirimu walau apapun terjadi. Kamu dan bayi kita akan selalu bersama denganku, kamu mengerti, hhhmm!" Dokter Rendra memberi kekuatan pada istrinya yang saat ini masih saja gelisah.


"Aku mau tidur bang." Pinta Mariam yang terlihat sangat lelah.


"Tidurlah sayang!"


Aku selalu ada di sampingmu, jadi jangan pernah takut kalau kamu sendirian di sini. Kita tidak akan terpisahkan lagi. Kamu mengerti?" Ucap Rendra menenangkan istrinya yang masih kelihatan gelisah.

__ADS_1


Mariam mengangguk sambil memejamkan matanya. Rendra mengecup bibir pucat istrinya dan duduk di samping Mariam menemani ibu hamil ini tidur hingga terlelap.


__ADS_2