PESONA GADIS ALIM

PESONA GADIS ALIM
28. LEGA


__ADS_3

Mariam mendekati Ambu Lilis, untuk menanyakan tentang dua istri yang di miliki oleh Abi Abdullah.


"Bibi, apakah Abi benar memiliki dua istri?" tanya Mariam penasaran.


"Iya Mariam, Abi memiliki istri pertamanya bernama Eka. Sepuluh tahun menjalani rumah tangga, Eka tidak bisa memberikan keturunan pada adikku. Hingga suatu hari, Andien meminta adik kembarnya menjadi madunya agar ia bisa memberikan keturunan kepada adikku.


Awalnya Adis menolak menerima permintaan kakak kembarnya. Tapi setelah banyak argumen yang disampaikan oleh Andien membuat hatinya Adis luluh juga.


Adis yang saat itu sedang patah hati setelah ditinggalkan suaminya karena perselingkuhan, bersedia menerima pinangan kakaknya untuk bisa menikah dengan kakakku Abdullah.


Setelah lima bulan menikah, rupanya Adis bisa hamil juga, walaupun dengan suami pertamanya ia juga belum bisa memberikan keturunan kepada suami pertamanya. Maka dari itu suaminya selingkuh.


"Selama Adis hamil, Andien sangat adik kembarnya itu. Tapi sayangnya ketika melahirkan dan kembali ke rumah, ia merasa bahwa anak yang ia bawa bukanlah bayinya.


Karena itu ia tidak mau menyusui bayi itu hingga ia meninggal. Setiap kali kakakku Abdullah mengkonfirmasi adanya pertukaran bayi, pihak rumah sakit menegaskan tidak ada pertukaran bayi.


Karena jaman dulu biaya tes DNA itu sangat mahal, membuat kakakku menyerah dan mau menerima Mariam sebagai anaknya. Tapi dalam hati kecilnya, ia ingin sekali bertemu dengan anak kandungnya sebelum ajalnya tiba.


Namun sayang, sampai ajalnya tiba, ia tidak bisa melihat anak kandungnya....hiks...hiks... itulah yang membuat aku sangat membencimu, Mariam." Ucap Ambu Lilis sambil terisak.


"Berarti yang membesarkan aku ummi Andien?" Tanya Mariam.


"Iya, Mariam. Ummi kamu juga sangat merasa bersalah pada saudara kembarnya, ia juga mulai sakit-sakitan. Saat usia kamu lima tahun ummi kamu meninggal.


"Sekarang kamu sendiri yang telah membawa putra kakakku pulang ke rumahnya, walaupun kedua orangtuanya sudah tiada, tapi ada Ambu yang menyaksikan pertemuan ini nak, bibi sangat bahagia. Bibi ingin ke makam ibumu kebetulan dia makam di Bandung, apakah kamu mau ziarah ke makam ibumu, nak Rendra?" Sini sayang, peluk aku bibimu!" Pinta bibi Lilis dengan air mata berderai.


Wajah Rendra yang terlihat murung mendengar cerita tentang ibu kandungnya merasa lega bahwa dia dan istrinya bukanlah saudara sepersusuan.


"Iya Ambu Lilis, aku mau ziarah ke makam mamiku." Ucap Dokter Rendra.

__ADS_1


"Aku dengar kamu seorang dokter spesialis jantung. Aku sangat bangga keponakan ku sangat hebat karena bisa mengangkat derajat keluarga ini.


"Terimakasih Mariam, Abi dan ummi kamu pasti sangat berterimakasih kepada kamu karena kamu bisa menaklukkan hati seorang dokter yang merupakan anak kandung mereka.


Kamu mau menerima dia menjadi suamimu. Selamat datang di keluarga kandungmu, nak Rendra." Ambu Lilis masih saja berceloteh karena sangat terharu atas pertemuan mereka yang tidak disengaja.


"Jika tidak ada bibi Lilis, pernikahan kami sudah terancam bubar." Ucap Mariam dengan wajah sendu.


"Itulah kebesaran Allah, nak Mariam. Jika manusia ingin berbuat dzolim pada seseorang maka tunggulah balasan Allah dengan makarNya. Allah sebaik-baiknya penolong dan pembuka tabir kehidupan atas kejahatan seseorang." Ucap bibi Lilis dengan melihat mata batinnya.


Wanita yang berusia tujuh puluh tahun ini, kelihatan masih segar dengan ingatan yang masih jelas. Hampir 17 tahun bibi Lilis tidak ingin bertemu dengan Mariam walaupun kakak kandungnya telah meninggal dunia.


Sekitar pukul empat sore mereka ke pemakaman keluarga untuk ziarah ke makam mami Adis dan kakek neneknya dokter Rendra.


Sepanjang perjalanan, dokter Rendra masih saja berwajah murung.


"Andai saja aku tidak bersikap konyol padamu saat itu dan segera menolong ayahku, mungkin kamu berdua langsung bisa saling mengenali seperti kamu dan mama Widya.


Bibi Lilis saja bisa mengenaliku dengan sekali lihat wajahku bahwa aku dan ayah kandungku sangat mirip saat beliau masih muda." Ucap dokter Rendra dengan penuh sesal.


"Mungkin ini sudah bagian dari takdir bang, menyesal adalah bagian akhir dari cerita hidup manusia yang tidak bisa merasakan awal kebodohan yang telah ia lakukan." Ucap Mariam.


"Sayang...!" Terimakasih sudah merawat ayahku selama ini dengan baik dan aku bangga memiliki dirimu, karena kamu dibesarkan oleh ayah kandungku sendiri dengan pendidikan agama yang kuat dan membentuk kepribadianmu menjadi wanita muslimah yang taat kepada Allah dan rasulnya." Ucap Mariam.


"Aku bersyukur kepada Allah, walaupun Abi tahu aku bukan putri kandungnya, ia sangat menjaga amanah Allah untuk merawatku seperti putri kandungnya. Dan hebatnya lagi, ia menutup rahasia besar ini sampai tiba ajalnya karena tidak ingin menyakiti aku." Ucap Mariam.


Tidak lama kemudian, mobil mereka sudah tiba di pemakaman keluarga. Dua mobil yang membawa keluarga besar itu, sudah terparkir rapi di tempat pemakaman keluarga itu.


Dokter Rendra merasakan ada sesuatu yang mendesak hatinya yang makin terasa berat hingga air matanya jatuh berderai ketika membaca nama ibunya di nisan itu.

__ADS_1


"Assalamualaikum mami!"


Dokternya duduk bersimpuh di atas pusara sang ibu tercinta.


"Adis, putramu sudah kembali dan sekarang dia menemuimu." Ucap bibi lilis tidak kalah sedihnya melihat ponakannya menangisi adik iparnya itu yang telah mewariskan mereka keturunan.


Mereka kemudian berdoa dengan khusu dan duduk sesaat sebelum meninggalkan pemakaman itu.


"Setelah Adis meninggal, kakakku Abdullah membawa istrinya dan Mariam ke puncak Bogor dan menetap di sana.


"Abi kamu adalah seorang dosen terkenal di Bandung. Karena kesedihannya yang begitu mendalam dan tidak ingin istri pertamanya terus meratapi kepergian saudara kembarnya, ia memilih keluar dari perguruan tinggi yang telah membesarkan namanya.


Ia lebih memperdalam ilmu agama dan menjadi ulama kampung. Ia membeli perkebunan teh milik petani yang tidak bisa membayar utang di rentenir dengan bunga yang cukup besar.


Sekarang perkebunan teh dan juga sawah dan kebun sayur sudah menjadi milik Mariam." Lanjut bibi Lilis.


Sekarang bibi merasa kalian berdua ini adalah pasangan yang cocok. Ponakanku Rendra mengelola restoran rumah sakit milikmu dan kamu Mariam yang mengelola kekayaan Rendra yang diwariskan abinya kepadamu." Ucap bibi Lilis.


Mariam dan dokter Rendra hanya tersenyum malu sambil membuka pintu mobil.


Keluarga itu meninggalkan pemakaman dan kembali ke rumah besar di Bandung.


Baru saja mereka memasuki pekarangan rumah, sudah mobil mewah berjejeran di rumah besar itu.


Rendra mengenali salah satu mobil yang merupakan milik tuan Hendra.


"Mariam itu mobil ayah Hendra." Ucap Rendra.


"Astaga ada ayah Arkana dan mama Widya juga. Bagaimana mungkin mereka bisa sampai ke Bandung, sayang?" Tanya Mariam yang sedang menggendong bayinya Daffa.

__ADS_1


__ADS_2