
Nyonya Widya dan tuan Arkana tidak bisa berbuat apa-apa ketika Sindy di bawa pulang oleh ibunya kembali ke Jakarta.
Pasangan ini menggendong bayi kembar ini yang akan mereka adopsi.
"Ayah, aku kira nyonya Andara lebih bijak daripada suaminya mas Hendra, ternyata dia lebih parah dari pada suaminya.
Dia tega memisahkan putrinya yang tidak bersalah itu demi sebuah reputasi." Ucap nyonya Widya pada suaminya sambil memberikan susu formula untuk bayi mereka.
"Tidak semua yang terlihat itu baik menurut kita sayang, karena pada sejatinya manusia lebih kejam daripada binatang. Harimau tidak pernah memakan anaknya sendiri." Ucap tuan Arkana.
"Kemarin Mariam memberitahu aku kalau saat ini mereka sudah menempati apartemen yang mereka beli sendiri. Rendra tidak sanggup hidup bersama dengan orang-orang yang berhati egois seperti kedua mertuanya itu."
"Rendra lebih mengenal watak asli keduanya karena dia tumbuh bersama mereka. Tapi tidak seperti anak kita Mariam yang sangat alim dan lembut dalam tutur katanya." Ucap tuan Arkana.
"Bayiku yang malang, maaf sayang kalian harus lahir tanpa kasih sayang kedua orangtuamu. Insya Allah, semoga kami selalu sehat dan akan membesarkan kalian dengan penuh kasih sayang." Ucap nyonya Widya kepada dua bayi tampan ini.
"Semua ada hikmahnya sayang, karena saat ini kita diberikan kesempatan untuk merawat dua jagoan ini." Ucap tuan Arkana bahagia.
Tidak lama kemudian, Dokter Affan mendatangi rumah tuan Arkana untuk melihat bayi kembar milik Sindy. Ia juga membawa buket bunga mawar merah untuk nona Sindy.
Tok...tok..
Pelayan membuka pintu untuk dokter Affan. Tuan Arkana menyambut kedatangan tamunya itu dengan suka cita.
Keduanya saling menyapa dan berbasa basi tentang pekerjaan.
"Tuan Arkana apakah Sindy sudah pulang membawa bayinya?" Tanya dokter Affan ingin melihat ketiga orang yang sangat dicintainya.
"Silahkan dokter Affan!" Si kembar sedang tidur." Ucap tuan Arkana tanpa memberi tahukan dokter Affan keberadaan nona Sindy.
Dokter Affan menggendong Hasan terlebih dahulu dan memeriksa keadaan bayi itu dengan teliti, ia pun langsung memberikan suntikan imunisasi pertama untuk dua bayi itu setelah ngobrol banyak dengan dokter Widya tentang si kembar.
"Apakah nona Sindy sedang tidur?" Tanya dokter Affan.
"Maaf dokter Affan!" Nona Sindy sudah dibawa pulang ke Jakarta oleh ibu kandungnya." Ujar dokter Widya.
"Astaghfirullah!" Bukankah bayinya masih di sini?" Mengapa harus ditinggalkan." Tanya dokter Affan tidak masuk akal kepada Sindy yang tega meninggalkan bayinya.
"Karena bayi kembar ini tidak diinginkan oleh keluarga besarnya yang merasa kehadiran bayi ini akan menghancurkan reputasi mereka karena keluarga Sindy memilik beberapa rumah sakit di Jakarta." Ujar dokter Widya.
"Apakah reputasi begitu penting bagi keluarga itu?"
Nyonya Widya hanya mengangkat kedua bahunya." Entahlah dokter Affan, kami sendiri bingung dengan jalan pikiran orang-orang hebat itu."
"Ya Allah, kasihan nona Sindy. Hatinya sakit berkali-kali lipat dari pada di tinggalkan sang kekasih dihari pernikahan mereka. Andai saja nona Sindy mau menerima pinangan aku, mungkin bayi ini bisa kami selamatkan masa depannya. Baiklah tuan Arkana dan dokter Widya aku pamit dulu. Jika terjadi sesuatu pada sang kembar tolong contek aku, Insya Allah aku datang j berapapun kalian hubungi, demi si kembar aku akan segera datang." Ucap dokter Affan lalu keluar dari rumah tuan Arkana.
"Sindy, apa yang harus aku lakukan untuk bisa menolong kamu?" Apakah aku harus ke Jakarta untuk meminangmu?" Tanya dokter Affan sambil membawa mobilnya.
Tanpa di sadari dokter Affan tidak menyadari sudah menabrak mobil orang lain ketika berhenti mendadak ketika lampu merah menyala.
Seorang wanita cantik turun dan meminta dokter Affan untuk menepikan mobilnya di salah satu tempat yang mereka sepakati.
"Selamat sore tuan!" Apakah anda tidak melihat itu lampu merah?" Tanya gadis itu.
"Maaf saya sedang melamun!" Ucap dokter Affan tanpa melihat wajah gadis itu.
"Baiklah kalau begitu aku minta ganti rugi!" Ucap gadis cantik itu.
"Ini kartu namaku nona!" Bawalah mobilmu di bengkel dan aku akan mentransfer pembayaran biaya perbaikannya di bengkel yang anda tuju. Sebelumnya aku akan foto kerusakan mobilmu dengan begitu biayanya tidak di manipulasi oleh pihak bengkel." Ucap dokter Affan yang sangat teliti.
"Sial!' Dia bahkan tidak bisa ingin menanyakan namaku." Gumam gadis cantik itu membatin.
Dokter Affan meneruskan perjalanannya karena saat ini hatinya sedang tidak enak.
"Oh ternyata dokter spesialis anak. Apakah dia masih bujangan?" Lumayan kalau dijadikan suami." Tawa gadis itu sambil membawa mobilnya kembali.
Sementara penerbangan Sindy sudah berada di atas langit kota Jakarta siap melakukan landing.
Delapan bulan berpisah dengan kota Jakarta hanya untuk melahirkan bayi kembarnya. Nyonya Andara meminta pramugari menyiapkan kursi roda untuk putrinya karena belum bisa berjalan normal pasca melahirkan.
Pihak pramugari meminta petugas maskapai Garuda untuk mengirimkan kursi roda penumpang first class.
Setibanya di bandara, petugas pihak Garuda membantu Sindy untuk duduk di kursi roda dan mengantar mereka sampai tempat parkir.
Beruntunglah Rendra dan istrinya Mariam yang menjemput sendiri sindy dan nyonya Andara.
__ADS_1
Mariam memeluk adik kandungnya itu dengan perasaan yang sangat hancur. Sindy menangis di perut kakaknya.
"Ayo kita pulang, sayang!" Ucap Mariam sambil membelai rambut Sindy.
"Mbak Mariam aku ingin memakai jilbab!" Pinta Sindy.
"Alhamdulillah terimakasih ya Allah, akhirnya hidayah datang juga kepadamu, Sindy."
"Mas nanti mampir ke toko baju muslim, sayang! setelah keluar dari pintu tol." Pinta Mariam.
Nyonya Andara hanya diam saja tidak ingin memberikan komentar apapun ketika mendengar putrinya ingin menggunakan hijab.
Dokter Rendra mencari toko busana muslim yang ia tahu. Tidak lama kemudian mereka menemukan toko busana muslim milik desainer ternama yang merupakan artis lawas yang merancang busana muslim pertama kali di Indonesia.
"Kamu mau ikut melihatnya atau mbak yang pilihkan untukmu?" Tanya Mariam.
"Aku belum kuat untuk jalan ka, tolong pilihkan untukku yang sesuai standar anak muda." Pinta Nikita.
"Baiklah!" Ucap Mariam lalu masuk ke toko itu dengan membawa perutnya yang cukup besar.
Dalam waktu setengah jam ia sudah mendapatkan berapa stelan busana muslim untuk adiknya Sindy.
Perjalanan kembali di lanjutkan. Sindy sudah menggunakan hijabnya ketika sudah tiba di mansionnya.
Para pelayan tunduk hormat menyambut kedatangan tuan dan nyonya mereka.
Mariam yang memberi salam pertama kali untuk ayahnya tuan Hendra. Tuan Hendra selalu senang melihat putrinya Sindy.
"Assalamualaikum ayah, apa kabar!
"Waalaikumuslam sayang!" Apakah kamu datang sendiri?"
"Tidak ayah, Mariam dan bang Rendra sengaja menjemput sindy dan bunda di bandara.
"Mengapa membawa pulang perempuan sial itu ke dalam rumah ini?" Ucap tuan Hendra yang masih sakit hati kepada putrinya.
"Ayah, mengapa ayah bicara seperti itu?" Tanya Mariam sangat kaget mendengar perkataan ayahnya yang sangat keterlaluan.
"Kalau ayah tidak menyukai Sindy tinggal di sini, sebaiknya Sindy tinggal di apartemen aku saja." Ucap dokter Rendra kesal.
Sindy yang baru tiba di rumahnya hanya bisa menangis. Ia tidak ingin protes kepada ayahnya karena memang ia adalah anak pembawa sial.
Dokter Rendra menggendong lagi tubuh Sindy dan membawa masuk ke mobilnya. Ia pun menuntun istrinya berjalan menuju mobilnya.
Dokter Rendra meninggalkan rumah yang pernah menjadi tempatnya tumbuh bersama Sindy.
Mariam juga sangat sedih dengan keadaan Sindy yang saat ini makin tertekan dengan penyiksaan yang dialaminya bertubi-tubi.
"Ya Allah, kasihanilah hambaMu ini." Ucap Sindy yang sudah dipisahkan dengan bayi kembarnya dan kini harus menerima penolakan orangtuanya.
Setibanya di apartemen milik Rendra, Sindy di tempatkan di kamar tamu.
"Sindy, ini kamar kamu sayang. Bertahan di sini dulu, sampai amarah ayah mereda." Ucap Mariam.
"Iya kak tidak apa!" Mohon maafkan Sindy mbak Mariam, sudah merepotkan kalian." Ucap Sindy sambil terisak.
Mariam memeluk adiknya agar bisa menerima kenyataan pahit ini sebagai ujian hidup.
Mariam masuk ke kamarnya menemui suaminya yang sedang rebahan.
"Capek ya bang?" Tanya Mariam lalu menyerahkan air putih untuk suaminya.
"Capek badan sih nggak sayang, hanya pikiranku yang sangat lelah melihat kelakuan ayah dan bunda yang tega menyambut kedatangan putri sendiri dengan kata-kata kasar.
"Apakah mereka tidak punya hati sama sekali, tega menyakiti putrinya yang baru melahirkan secara sesar." Ucap dokter Hendra.
"Sayang, sabar sayang!" Setiap orangtua ingin putrinya menjaga harkat dan martabat mereka dengan sebaik-baiknya sampai mereka menikah dengan lelaki baik-baik. Tapi tiap orangtua tidak selamanya siap dengan aib yang di corengkan anak mereka sendiri." Ucap Mariam.
Mariam memagut bibir suaminya dan berusaha menghibur dokter Rendra dengan percintaan panas mereka. Dengan begitu amarah Rendra akan mereda dengan sendirinya.
Putra mereka yang sedang tidur bersama dengan bibi Ijah yang belum sempat di lihat oleh Mariam.
Keduanya tidak bisa melakukan berbagai gaya karena keadaan perut Mariam yang sangat besar.
"Akkh sayang!" Erang Mariam yang sudah mendapatkan kenikmatannya, namun lain halnya dengan dokter Rendra yang belum puas menghajar istrinya terpaksa menyudahi permainan mereka karena tidak tega melihat Mariam yang sudah kewalahan melayaninya.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Seiring berjalannya waktu kesehatan Sindy sudah cepat pulih. Ia pun sudah terbebas dari masa nifasnya yang berlangsung hanya satu Minggu. Walaupun sudah sehat Sindy belum berani pulang ke mansionnya.
Sindy kembali ke aktivitasnya dan dia ingin bekerja di rumah sakit bersama Rendra.
Mariam meminta Sindy menggantikan tempatnya menjadi asisten pribadi suaminya.
Sindy pun menyanggupinya. Ia pun mulai berangkat kerja bersama dokter Rendra dan pulang selalu bersama.
Sedangkan Mariam hanya menunggu kelahiran bayi kembar mereka. Tapi hari-hari Rendra di lewati dengan muram. Pasalnya semakin hari Mariam selalu menolaknya untuk melakukan ritual hubungan suami-istri.
"Mas Rendra, kenapa akhir-akhir ini kelihatan murung?" Tanya Sindy penasaran.
"Tidak apa Sindy, mas hanya lelah." Ucap Rendra.
"Mas, selama ini Sindy selalu curhat sama mas, kenapa sekarang mas tidak mau cerita sama Sindy. Mas dulu selalu menceritakan petualangan mas dengan cewek-cewek mas yang cantik dan sekarang, mas kenapa lebih banyak diam?" Tanya Sindy saat keduanya berada di ruang kerja dokter Rendra.
"Ini urusan pribadi mas, Sindy. Jadi mas tidak bisa menceritakan kepada kamu." Ucap dokter Rendra yang enggan menceritakan kegundahannya pada istrinya yang tidak lagi memuaskan dirinya di atas ranjang.
Sindy menatap wajah tampan kakak iparnya. Entah mengapa tiba-tiba hatinya merasakan ada sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang.
Dokter Rendra tidak menyadari saat ini Sindy sedang menatapnya dengan intens. Sindy menarik nafas dalam-dalam dan menghembusnya dengan lembut.
"Mas, tolong tanda tangan berkas ini." Sindy berdiri di samping Rendra sambil menunjukkan tempat yang harus di tandatangani oleh dokter Rendra.
Rendra menandatangani semuanya tanpa bicara pada Sindy.
"Apakah mbak Mariam tidak bisa memuaskan mas Rendra di tempat tidur?" Tanya Sindy dengan suara lirih.
Deggg....
Mata Rendra makin melebar mendengar pertanyaan Sindy tentang dirinya.
Rendra menatap wajah Sindy yang makin cantik dari hari ke hari. Rendra mengecup bibir Sindy yang makin membuatnya tergoda.
Bagai gayung bersambut Sindy membalas ciuman Dokter Rendra dengan ganas.
"Sebentar sayang!"
Rendra mengunci pintu ruang kerjanya dengan menekan tombol remote kontrol secara otomatis.
Sindy membuka hijab dan membuka kancing bajunya dengan memperlihatkan belahan dadanya kepada Rendra.
Entah setan apa yang merasuki keduanya, Rendra menggendong tubuh Sindy dan membawanya ke kamar pribadinya, tempat di mana ia selalu melakukannya percintaan panasnya dengan istrinya Mariam.
Tubuh mulus Sindy dengan bentuk body yang makin berisi pasca melahirkan bayi kembarnya, di tambah harum tubuh Sindy makin mengugah gairah syahwatnya.
Keduanya kembali berciuman. Saling berpelukan erat dan memberikan sentuhan-sentuhan yang makin erotis.
Tubuh polos Sindy kini menjadi tempat pelampiasan dokter Rendra. Belahan dada Sindy yang ranum kini sudah berada di mulutnya. Satu tangannya mengaduk liang sempit milik Sindy yang nampak basah karena gairah yang telah di berikan oleh dokter Rendra.
"Mas Rendra sayang!" Keluh Sindy dengan mata sayu.
"Iya sayang!" Apa yang kamu inginkan, hmm?"
Tanpa banyak bicara Sindy menuntun Rendra untuk melihat bagian bawah perutnya.
Rendra mengerti apa yang di inginkan Sindy seperti istrinya. Rendra melebarkan paha Sindy lebih lebar dan mencium milik Sindy yang sangat harum. Rendra memainkan lidahnya di area terlarang itu dan sesekali menghisapnya.
Sindy yang sudah tidak tahu malu mengerang nikmat dan melenguh panjang.
Keduanya saling bicara fulgar demi membangkitkan gairah cinta mereka.
Setelah saling memberikan kenikmatan pada milik mereka, Kini keduanya menyatukan tubuh mereka dan saling berpacu untuk menggapai kenikmatan yang mereka idamkan.
Hampir empat puluh menit, Rendra mengaduk pinggulnya pada milik Sindy yang terasa sangat sempit.
Keduanya sama-sama melenguh panjang lalu jatuh terkapar di atas kasur empuk itu.
Setelah mencapai kepuasan, keduanya tersenyum bahagia.
"Sayang, aku akan meminta kepada kakakmu akan segera menikahimu sebelum kamu hamil lagi." Ucap dokter Rendra pada Sindy.
"Apakah mbak Mariam akan mengijinkan mas menikahi aku?" Tanya Sindy ragu.
__ADS_1
"Dia pernah meminta aku menikahi kamu ketika Reno tidak datang pada hari pernikahan kalian." Ucap dokter Rendra.
Di kamar apartemen Mariam mengalami kontraksi hebat dan ingin melahirkan bayi kembarnya.