PESONA GADIS ALIM

PESONA GADIS ALIM
12. Hamil


__ADS_3

"Sayang, kamu hamil. Kita akan segera menjadi orangtua." Ucap Dokter Rendra sumringah.


"Benarkah?" Kenapa aku tidak menyadari kalau aku hamil." Tawa Mariam disertai linangan air matanya.


"Alhamdulillah ya Robby, akhirnya Engkau mempercayai kami mendapatkan anugerah terindah dariMu berupa bayi." Mariam mengelus perutnya yang masih rata.


Sementara Rendra mencium perut istrinya.


"Kamu mau makan apa sayang?" Biar aku pesankan untukmu." Tanya Rendra lalu mencium istrinya.


"Aku masih mual sayang, besok pagi aja aku akan makan yang banyak." Ucap Mariam lirih.


Keduanya memilih tidur dan Rendra memeluk istrinya erat.


Keesokan paginya, Mariam kelihatan sangat segar. Dokter Rendra mengajak istrinya mengunjungi mesjid biru, salah satu mesjid bekas jejak Rosulullah mengunjungi kota itu.


Mariam yang sudah tahu sejarahnya, hanya mengamati mesjid itu lalu mengambil wudhu dan melakukan sholat Dhuha di dalam mesjid itu.


Mariam memanjatkan doa terbaiknya untuk bisa bertemu dengan ibu mertuanya, nyonya Widya.


Tiga hari berada di Istambul Turki, Mariam belum berani meminta ijin pada suaminya untuk mengunjungi rumah ibu mertuanya.


Padahal hatinya sangat berharap bahkan keinginan itu sangat kuat saat ini daripada sebelumnya.


"Kenapa aku yang lebih merindukan ibu mertua daripada putranya sendiri. Sebenci itukah suamiku kepada ibu kandungnya?"


Bagaimana caraku untuk menasehati dirinya?" Ya Allah, berilah aku petunjuk agar aku bisa mempertemukan suamiku dan ibu kandungnya.


Setelah mengunjungi beberapa tempat wisata, keduanya kembali ke hotel untuk beristirahat.


"Bang, apakah kamu tidak ingin bertemu dengan ibu kandungmu?" Mumpung kita masih di sini lho, kan sayang di lewatkan begitu saja momen berharga ini.


"Apakah kamu tidak ingin mencari tahu keadaan yang sebenarnya mengapa orangtuamu bisa bercerai tanpa alasan yang jelas?" Tanya Mariam penasaran.


"Sayang kita lihat saja nanti ya, sekarang kita tidur karena kita bisa mengunjungi mama kapan saja selama kita masih berada di Istambul." Ucap dokter Rendra menghibur istrinya.


Keesokan paginya, selepas subuh Mariam masih saja muntah, jangan kan untuk berjalan melangkah saja tubuhnya hampir ambruk karena menahan pusing yang amat sangat. Makanan yang dipesan oleh Rendra tidak bisa disentuhnya sama sekali.


"Sayang, kenapa kamu harus sakit di negara orang?" Bukankah kita ke sini ingin bersenang-senang?" Rendra menjadi iba melihat istrinya seperti sangat tersiksa.


"Maafkan aku bang!" Harusnya liburan kita tidak seperti ini, apakah kamu kecewa?" Tanya Mariam yang tak enak hati.


"Sssstttt!" Kamu bicara apa, justru saat ini aku sedang bahagia karena penantian kita selama enam bulan ini akhirnya berbuah manis. Aku akan segera menjadi ayah." Ungkap Rendra.


Ketika Rendra sedang mengekspresikan kebahagiaannya, justru Mariam pingsan.

__ADS_1


"Mariam nanti kalau kamu sudah baikan kita jalan-jalan ya sayang di tempat yang ingin kamu kunjungi. Mungkin kita akan mengunjungi Hagia Sophia." Ucap Rendra lalu menatap wajah istrinya yang sedang diam.


"Mariam, sayang!" Hei!" Apakah kamu tidur?"


Rendra memeriksa kembali keadaan istrinya dan ternyata Mariam mengalami dehidrasi karena kehilangan banyak cairan akibat semalaman muntah sampai pagi ini.


Dokter Rendra menghubungi pihak hotel untuk memanggil mobil ambulans.


Dalam hitungan menit, mobil ambulans sudah membawa Mariam dan Rendra ke rumah sakit yang cukup terkenal di kota Istanbul.


Rendra mendampingi istrinya hingga ke dalam ruang IGD. Suster memintanya untuk menunggu di luar setelah menanyakan beberapa hal tentang sakit istrinya.


"Tuan, apa yang dialami istrinya?" Tanya suster.


"Ia sedang hamil muda dan semalam kami baru tiba di hotel. Setelah itu, ia muntah-muntah." Rendra menceritakan kronologi sakit istrinya.


"Sebaiknya anda tunggu di luar Tuan!" Biar dokter yang akan menangani keadaan istri anda." Pinta suster itu kemudian memanggil dokter jaga untuk menangani keadaan pasien.


Dokter Rendra duduk diantara para keluarga pasien lainnya yang sedang menunggu orang tercinta mereka sedang ditangani di dalam sana.


Suatu ketegangan terjadi di dalam sana, di mana dokter Widia sendiri yang sedang menangani Mariam.


Karena wajah Mariam yang terhalangi jilbabnya, maka dokter Widia meminta suster untuk membuka jilbab gadis itu dan seketika, wajah dokter Widia terlihat pucat melihat wajah Mariam yang persis seperti wajahnya.


"Dari Indonesia dokter Widya, mereka baru tiba di Istambul semalam dan baru mengetahui gadis ini sedang hamil muda." Ujar suster Gina.


"Indonesia...?"Jangan-jangan dia adalah putriku yang ditukar dengan Rendra oleh mertuaku?" Gumam dokter Widya membatin.


Dokter Widya memperhatikan wajah cantik Mariam yang persis dirinya yang masih sangat muda seusianya saat ia sedang hamil.


"Dia pasti putriku. Tanpa aku tes DNA, dia adalah putriku. Tapi aku harus memastikan sendiri kebenarannya. Aku harus melakukan tes DNA kepadanya.


"Dokter mengapa anda kelihatan bingung?" Suster Gina menyadarkan dokter Widya yang sedang melamun sambil memperhatikan wajah cantik Widya.


"Iya suster, tolong tinggalkan kami dan panggilkan suaminya, aku ingin bicara." Titah dokter Widya.


"Baik dokter!" Suster Gina menemui tuan Rendra yang sedang menunggu di luar ruang IGD.


"Aku harus berterimakasih kepada suamimu, sayang karena telah membawamu kepadaku." Ucap nyonya Widya lalu mengecup pipi putrinya lembut dan menumpahkan air matanya di sana.


Ia memeriksa keadaan Mariam dan segera meminta suster lainnya memasang cairan infus pada tubuh Mariam karena kehilangan cairan akibat muntah yang berlebihan.


"Suster berikan dia infus dan jika dia sudah siuman, tolong panggilkan saya. Oh iya, pindahkan dia ke kamar VVIP dan masukkan ke dalam tagihan saya." Titah dokter Gina yang sedang bahagia saat ini.


"Siap dokter!"

__ADS_1


Dokter Gina kembali ke meja kerjanya dan ia segera mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum menemui suaminya Mariam.


Hatinya yang saat ini sedang berbunga-bunga lalu dengan langkah cepat ia keluar dari kamar mandi menemui suaminya Mariam.


"Selamat pagi Tuan...?" Kata-katanya terhenti ketika melihat siapa sosok suami Mariam yang tidak lain adalah Rendra, putra yang ia abaikan semenjak bayi.


"Mama...!"


"Rendra...!"


Rendra hendak berbalik dari nyonya Widya namun di cegah oleh dokter Widya.


"Rendra, apakah Mariam adalah istrimu?" Tanya dokter Widya yang kembali panik.


"Iya, dia adalah istriku, apakah kamu ingin mengabaikannya juga seperti kamu mengabaikan aku?" Tanya dokter Rendra makin geram pada ibu yang dianggapnya ibu kandungnya."


"Astaghfirullah, ini tidak mungkin." Dokter Widya makin syok mengetahui kebenaran yang menyakitkan hatinya.


Rasanya ia ingin pingsan karena apa yang ia kuatirkan akhirnya terjadi juga. Mariam adalah putri kandungnya yang ditukar oleh ibu mertuanya dengan Rendra.


"Jika Mariam menyusu pada ibu kandungnya Rendra berarti Rendra dan Mariam adalah saudara sepersusuan dan itu adalah hal tabu yang dilarang oleh agama Islam. Berarti pernikahan keduanya bisa di batalkan demi hukum." Gumam nyonya Widya membatin.


"Nak, Rendra.... sayang!"


"Mama kenapa?" Tanya Rendra yang melihat ibunya gemetar dengan wajah pucat.


"Sayang tolong hubungi ayahmu. segera ke Turki. Ada hal yang sangat penting yang harus ia tahu dan juga kamu." Ucap dokter


Widya.


"Baiklah mama!" Tolong jangan pingsan!" Pinta dokter Rendra.


"Astaga, berarti putriku telah berzina dengan saudara sepersusuannya....hiks...hiks...


Dokter Widya meninggalkan ruang IGD menuju ruang kerjanya. Ia menangis seorang diri di dalam sana.


Rendra menghubungi ayahnya dan menceritakan apa saja yang sudah mereka alami saat ini dan atas permintaan dokter Widya yang ingin menemuinya untuk membahas hal penting.


"Apa...?" Kamu bertemu dengan mama kandungmu di rumah sakit dan sekarang dia sendiri yang menangani keadaan Nadia dan aku segera jadi kakek.


Tapi mengapa mamamu meminta aku ke Turki?" Jika ada hal penting yang akan ia sampaikan kenapa tidak menyampaikan lewat telepon saja?"


"Katanya ini sangat penting dan ayah harus tahu dari mulutnya sendiri. Ia meminta kita berdua untuk mendengarkan ceritanya yang tidak bisa lagi di tunda ayah. Tolong datang segera ke Turki ayah. Aku juga penasaran dengan rahasia yang ingin dibahas mama pada kita." Ucap Rendra dengan setengah memohon kepada ayahnya.


"Baiklah Rendra ayah akan segera berangkat ke Istanbul, katakan di mana alamat hotelmu menginap dan booking kamar hotel untuk ayah karena ayah harus mengajak bunda Andara agar tidak ada salah paham antara kami nantinya." Ucap tuan Hendra.

__ADS_1


__ADS_2