PESONA GADIS ALIM

PESONA GADIS ALIM
6. SENTUHAN PERTAMA


__ADS_3

Dokter Rendra membuka mukena milik istrinya, Tapi Mariam meminta ijin untuk memakai lengerie terlebih dahulu.


"Sayang aku ingin tampil baik malam ini, bisakah aku minta waktu untuk mengenakan sesuatu yang membuatmu lebih bergairah?" Tanya Mariam.


"Begini saja kamu sudah membakar birahiku, dan aku tidak butuh apapun lagi karena pada akhirnya tubuh kita berdua akan polos bukan?" Ciuman kembali mendarat ke bibir sensual Mariam.


Tubuh Mariam sudah berada di atas kasur king size itu. Rendra seakan tidak sabar dengan membuka baju sang istri. Kelembutan kini berganti suatu yang kelihatan liar nan kasar. Mariam mencoba menerima perlakuan itu karena suaminya tidak bisa menahan syahwatnya.


"Akhhhhkkk!" Pekik Mariam ketika gunung kembarnya diremas dengan gemas oleh satu tangan kekar sang suami dan yang satu lagi sudah berada dalam mulut rakus Rendra yang tergiur dengan tubuh indah sang bidadari.


Mariam hanya diam dan menikmati setiap sentuhan itu. Matanya terlihat sayu karena merasakan permainan suami yang sudah lihai di atas ranjang.


Mariam tidak merasa heran karena ia sudah mengetahui bagaimana sepak terjang suaminya dengan banyak wanita. Ada rasa cemburu yang amat sangat dalam hatinya saat ini, namun ditepisnya segera karena dia tidak ingin setan datang membisikkan api amarah dalam hatinya karena tujuan setan yang utama adalah menghancurkan pernikahan anak cucu Adam karena ia akan mendapatkan penghargaan dari iblis.


Penyatuan bibir sang suami dengan bibir bawah miliknya yang sedang menguncup karena masih tersegel dengan baik. Walaupun Mariam sudah mencapai puncak org**menya berkali-kali, namun Rendra sangat betah dibawah sana karena sudah mendapatkan keinginannya secara halal dengan gadis pujaannya.


Puas menikmati bagian bawah perut istrinya, kini Rendra memperlihatkan miliknya yang perkasa. Tubuh Mariam bergetar melihat pertama kali milik lelaki dewasa.


"Kenapa kamu kelihatan sangat tegang, sayang?" Tanya Rendra yang sangat tahu Mariam saat ini sedang ketakutan dengan miliknya yang terlalu besar dan panjang, jika sudah berada di dalam genggaman tangan sang istri yang tidak akan menyatu antara jari jemarinya.


"Tolong hati-hati sayang!" Pinta Mariam memelas dengan menggigit ujung bibirnya saat sang suami mencoba memasuki miliknya.


Baru sedikit saja benda perkasa milik Rendra masuk. Mariam berteriak sambil mendorong tubuh sang suami.


"Tidak sayang!" Ini sangat sakit." Tolak Mariam dengan menggeleng cepat kepalanya.


"Tidak usah takut sayang, aku tidak akan menyakitimu." Ucap Rendra dengan suara berat menahan syahwat.


Rendra lebih melebarkan paha istrinya agar bisa lebih mudah masuk ke jalur sempit itu.


Dalam sekejap, Rendra menghujamkan miliknya dengan kasar seraya memeluk erat tubuh sang istri.


"Akkkhhh!" Teriak Mariam lagi dengan menitikkan air matanya sambil tubuhnya menggeliat menahan sakit karena benda tumpul sudah menghuni di sangkar sempit miliknya yang masih tersegel rapi.


Rendra tidak langsung menyentakkan tubuhnya karena ingin menikmati cengkraman erat milik sang istri yang sudah mengeluarkan darah segar sebagai nilai kesucian yang telah halal di dapatkan dari sang illahi.


"Bang, ini sangat sakit." Rengek Mariam yang terlihat sangat kesakitan.


"Sayang, nanti lama-lama kamu akan menyukainya, sabar sedikit ya!" Pinta dokter Rendra sambil mencium bibir istrinya.


Mariam mengatur nafasnya dan di saat yang sama, Rendra menghentakkan tubuhnya berkali-kali. Awalnya teriakan sakit yang dirasakan oleh Mariam kini berganti dengan erangan nikmat yang terdengar indah di kuping Rendra.


Rendra menarik bibirnya dengan senyum kepuasan bisa mendapatkan milik sang gadis alim yang awalnya menolaknya dengan kata-kata menohok.


"Bagaimana sayang?" Tidak sakit lagi kan?" Tanya Rendra disela-sela permainan panas mereka.


Mariam tersipu malu seraya menggeleng lemah dengan mata sendu dan berat, menahan nikmat yang sudah mulai datang menyapanya.


"Terimakasih sayang sudah mempersembahkan milikmu yang suci dan sangat berharga dalam hidupmu." Apresiasi yang diberikan Rendra dengan lebih mempercepat hentakan di tubuh sang istri.


Lenguhan panjang keduanya saling melepaskan benih mereka masing-masing untuk menyatukan ke tempat yang paling suci, di mana rahim sang istri menampung semuanya untuk siap dibuahi atas ijin Tuhan.


Dokter Rendra menjatuhkan tubuhnya ke samping lalu duduk bersandar di kepala tempat tidur.

__ADS_1


Begitu pula dengan Mariam berusaha bangkit dan ingin duduk tapi sulit bergerak. Dokter Rendra membantu sang istri untuk duduk di sampingnya dengan menarik selimut menutupi tubuh mereka.


"Maafkan aku sayang sudah menyerang kamu dengan sangat ganas!" Ungkap dokter Rendra lalu menarik tubuh sang istri untuk masuk ke dalam pelukannya.


"Tidak apa sayang, awalnya memang sakit, tapi lama kelamaan menjadi nikmat." Ucap Mariam malu-malu pada suaminya.


"Berarti bisa diulang lagi dong?" Tanya Rendra sedikit menggoda istrinya.


"Apa..?"


Tolong jangan gila sayang, ini saja masih perih masa kamu mau menambah lagi." Gerutu Mariam kesal.


"Nanti juga hilang sendiri sayang kalau sudah seringkali dikunjungi." Tawa Rendra renyah.


"Tidak, jangan sekarang! tapi besok lagi saja. Aku lapar, kita belum makan malam." Protes Mariam.


"Astaghfirullah, maaf sayang! aku lupa. Dokter Rendra menepuk jidatnya.


Suami dari Mariam ini menghubungi restoran hotel untuk mengantar makan malam untuk mereka.


Mariam menyebutkan makanan kesukaannya, begitu pula dengan dokter Rendra meminta banyak daging panggang stik untuk mereka berdua.


"Aku sudah memesan makanan dan sambil menunggu kedatangan pelayan restoran, kita membersihkan diri dulu." Ucap dokter Rendra yang turun duluan dari tempat tidur lalu menggendong sang istrinya.


"Sayang aku bisa jalan sendiri. Jangan seperti ini." Ucap Mariam yang masih segan dengan perhatian suami.


"Aku ingin memanjakan kamu sayang, tolong jangan banyak protes, hmm!" Tubuh Mariam di letakkan di bawah shower.


Mariam berdiri dan melangkah sedikit mengambil sabun mandi dan..."Auhhhggt!" Kenapa sakit sekali?" Jerit Mariam merasa sangat perih pada bagian sensitifnya.


"Astaga!" Dia ingin memandikan aku?" Gumam Mariam yang makin terharu dengan perhatian suaminya pada dirinya.


Mariam tidak tahu niat yang terbesit dipikiran suaminya yang belum puas menggarap tubuhnya.


Tangan Rendra sudah mulai merambah ke bagian bawah perut sang istri lalu memainkan tempat sempit itu dengan busa sabun di tangannya.


"Akhhhhkkk!" Mariam mend*sah merasakan nikmat. Ia melebarkan lagi kakinya.


Rendra sudah berada di antara kedua kakinya. Mengeksplor lagi lidah dan bibirnya menggapai tempat sempit itu dengan guyuran air shower yang sudah membersihkan milik sang istri dari busa sabun tadi.


Mariam makin menekan kepala sang suami saat getaran hebat yang dirasakan nikmat mengaliri di setiap tempat sensitif miliknya.


Lenguhan panjang nan erotis lolos begitu saja dari bibir sensualnya.


"Cukup sayang, aku sudah tidak kuat!" Keluhnya manja pada sang suami.


Rendra berdiri dan mengarahkan lagi senjata laras panjangnya menuju tempat yang baru saja terbuka segel pengaman milik istrinya.


Disentak dari belakang, membuat Rendra mengusai tubuh sang istri dengan memainkan bukit kembar yang digenggamnya menambah sensasi pada permainan panas mereka dibawah guyuran air shower yang hangat.


Hentakan kasar dari milik suami yang diiringi oleh lenguhan panjang sang istri. Membuat keduanya tidak ingin menghentikan permainan mereka.


Mariam yang sudah mulai merasakan kenikmatan mencoba membalas memanjakan milik suaminya dengan keahliannya yang coba dijajakannya pada sang suami. Rendra menuntun istrinya agar Mariam tahu cara-cara yang disukai oleh suaminya.

__ADS_1


Beruntunglah Mariam yang cepat belajar mengusai permainan itu karena itu adalah bagian dari kewajiban dirinya sebagai istri untuk menyenangkan suaminya di tempat tidur selain perut suaminya melalui masakan yang akan dimasaknya nanti usai mereka bulan madu.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Setelah keduanya membuang energi yang begitu banyak dalam menggapai kenikmatan surga dunia barusan, keduanya saat ini mengisi lagi tenaga mereka dengan hidangan lezat yang sudah tersaji di atas meja kecil yang ada di dalam kamar hotel yang mereka tempati.


Makanan yang berasal dari restoran hotel tersebut, dihabiskan oleh keduanya dengan nikmat.


"Makan yang banyak sayang!" Karena malam ini kita tidak akan tidur. Aku belum puas bercinta denganmu malam ini. Kita akan melakukannya hingga tiba azan subuh." Ujar Rendra dengan mengedipkan sebelah matanya dengan mimik nakal.


"Apa ....?" Lagi?" Ini saja badanku mau remuk, apa tidak bisa di tunda besok pagi?" Protes Mariam lagi.


"Sayang, bukankah kamu sudah merasakan sensasinya yang sangat nikmat?" Lelah itu tidak akan terasa dengan berjalannya waktu." Timpal Rendra dengan rayuan dashyatnya.


"Apakah dia juga seperti itu dengan para wanitanya?"


Bisikan setan datang lagi menggoda Mariam yang mengenal suaminya yang terkenal bekas lelaki nakal.


Mariam menyuapkan setiap butir buah anggur ke dalam mulut suaminya.


Keduanya mencuci mulut mereka dengan buah-buahan yang sudah di kupas oleh pihak hotel.


Dasar dokter Rendra yang sejak mengenal Mariam, ia tidak pernah lagi bercinta dengan wanita manapun.


Entah mengapa kehadiran Mariam seakan melarangnya untuk melirik wanita lain. Hasratnya memang ada, namun ia selalu merasa bosan dengan sendirinya.


Mungkin Tuhan sudah mempersiapkan dirinya untuk mempersunting Mariam sebagai tempat penyalur syahwatnya yang kini sudah halal ia sentuh.


Dokter Rendra sudah bertekad dalam hatinya untuk mengakhiri petualangannya sejak bertemu dengan bidadarinya, Mariam.


"Mariam sayang!" Panggil dokter Rendra.


"Iya bang!"


"Apakah kamu bahagia menjadi istriku?" Tanya dokter Rendra.


"Bang, untuk menerima kamu menjadi suamiku saja, itu butuh waktu yang cukup lama ketika mengharapkan petunjuk dari Allah.


"Aku sangat takut tidak bisa membahagiakan kamu karena dunia kita yang berbeda." Ucap Mariam.


"Kita akan sama-sama belajar untuk mengenal kekurangan kita masing-masing dan kelebihan kita, jadi jangan pesimis seperti itu.


Kalau hanya melihat kelebihan semata, semua orang tidak akan sanggup menyamainya, tapi kalau kita saling mengisi satu sama lain, insya Allah, kita pasti bisa melewati semua rintangan itu." Ucap dokter Rendra.


"Insya Allah, bang!" Semoga Abang tidak cepat bosan padaku karena penampilan aku yang berbusana muslim setiap saat kecuali dirumah dan di kamar." Ucap Mariam malu-malu.


"Justru apa yang harus kamu lindungi dengan berpakaian syar'i, itulah yang membuat aku bangga karena aku satu-satunya yang mendapatkan harta Karun dalam dirimu." Ucap dokter Rendra.


Setelah keduanya ngobrol tentang apa saja, Mariam kembali terdiam dan memikirkan hal yang masih mengganjal di hatinya.


Antara rasa bangga kepada sang suami yang bisa memuaskan dirinya di atas kasur, namun rasa cemburunya pada sang suami yang mungkin memberikan kepuasan kepada wanita lain sebelum menikahi dirinya.


"Apakah aku harus menanyakan ini kepadanya?" ataukah menyimpannya saja di hatiku.

__ADS_1


Dari pada urusan kepo ku akan berakhir dengan pertengkaran dan aku harusnya sudah siap menerima semua masalalunya entah itu baik maupun buruk karena aku yakin aku bisa melawan egoku." Gumam Mariam dalam diamnya.


__ADS_2