PESONA GADIS ALIM

PESONA GADIS ALIM
29. Omelan


__ADS_3

"Ayah!"


"Mama!"


"Dasar anak tidak tahu diri!" Tangan nyonya Widya sudah hampir mendarat di pipi putrinya, namun dicegah oleh ayahnya tuan Hendra.


"Jangan menghakimi putriku atas kesalahan masalalu ibuku." Ucap tuan Hendra.


Tidak lama kemudian Ambu Lilis menegur para tamunya yang sudah berkerumun di teras rumahnya.


"Siapa kalian?" Dan mengapa tiba-tiba ingin menampar Mariam?" Tanya Ambu Lilis sambil berpangku pada tongkatnya menahan geram.


"Maafkan kami nyonya!" Ucap nyonya Andara. Kami adalah keluarga dari dokter Rendra dan Mariam.


"Oh kebenaran sekali, aku ingin tahu siapa ayah dari Mariam?" Tanya Ambu Lilis yang ingin melampiaskan amarahnya kepada tuan Hendra.


Tuan Hendra memperkenalkan dirinya kepada keluarga dari pihak Rendra.


"Maafkan atas kelakuan ibuku yang telah menyebabkan kekacauan ini. Kaki baru tahu bahwa nak, Rendra dan Mariam adalah saudara sepersusuan dan mereka sudah kami pisahkan tapi mereka nekat tetap hidup bersama." Ucap tuan Hendra menahan air matanya.


"Siapa bilang Mariam dan ponakanku Rendra saudara sepersusuan?" Tanya Ambu Lilis dengan sinis.


Semua keluarga kandung dari Mariam tercengang mendengar pengakuan Ambu Lilis barusan.


"Kenapa kalian bengong?" Dan mengapa kalian malah berkumpul di sini dan menciptakan rumor murahan agar orang semua tahu kesalahan masa lalu yang dilakukan nyonya sombong yang sekarang sudah dimakan cacing tanah." Ucap Ambu Lilis geram.


"Maafkan kami Ambu!" Ucap nyonya Andara sekali lagi mewakili keluarganya.


"Silahkan masuk ke dalam rumahku!" Kita bisa bahas masalah ini di dalam." Ucap bibi Lilis.


Keluarga besar itu menempati tubuh mereka diantara sofa tua yang ada di ruang keluarga itu.


Bibi Ijah dan bibi Luky membantu istrinya kang Acep membuat minuman dan camilan untuk para tamu.

__ADS_1


Nyonya Widya mengambil cucunya dari gendongan putrinya. Tuan Arkana ingin merasakan menggendong cucu tirinya itu. Istrinya menyerahkan kepada suaminya yang belum pernah menggendong bayi selama mereka menikah.


"Oh sayang, kamu sangat tampan!" Ucap tuan Arkana sambil menimang cucunya itu.


"Mau dengar ceritaku tentang hubungan antara Rendra dan Mariam yang tidak memiliki ikatan darah hingga pernikahan mereka harus dibatalkan secara syariat Islam." Ucap Ambu Lilis yang ingin meluruskan masalah keluarga rumit ini.


Semua menatap wajah Ambu Lilis dan memasang telinga mereka. Ambu Lilis mengulangi lagi ceritanya yang sudah ia ceritakan kepada ponakannya Rendra dan Mariam.


Keluarga itu menangis haru setelah mengetahui kebenaran dari perjalanan hidup Mariam yang memiliki dua ibu angkat.


Yang paling syok mendengar cerita itu adalah nyonya Widya mengetahui kesengsaraan putrinya. Tapi hatinya sangat bersyukur karena putrinya tetap diberikan kasih sayang oleh ayah kandung Rendra bersama istri pertamanya.


"Kami baru pulang ziarah ke makam ibu kandungnya Rendra. Sementara ayah kandung dan ibu tirinya dimakamkan dipuncak Bogor. Pasti mereka sudah ziarah ke makam itu sebelum mereka menikah.


Aku sangat bersyukur ketika abangku meninggal, justru putra kandungnya sendiri yang mengurusi jenasah ayah kandungnya. Ikatan batin antara ayah dan anak begitu terasa walaupun saat itu mereka belum mengetahui hubungan mereka." Tangis Ambu Lilis kembali pecah mengenang abangnya yang mati sebelum anaknya melakukan operasi.


Tuan Hendra ingat betul malam kejadian di mana Mariam nekat menghentikan acara pesta ulang tahun rumah sakit untuk meminta dokter Rendra agar bisa operasi ayahnya saat itu.


"Alhamdulillah terimakasih ya Allah, Engkau telah mempersatukan dua anak manusia ini dalam ikatan pernikahan yang pernah ditukar di rumah sakit yang sama ketika mereka hadir di bumi Mu ini." Ujar nyonya Andara yang sangat menyayangi Mariam, putri tirinya.


"Apa yang harus aku katakan lagi?" Orang yang harus kita adili telah meninggal dunia. Hanya pengadilan Allah yang akan menghukumnya kelak." Ucap Ambu Lilis.


Kedua keluarga itu saling memaafkan dan tidak lagi menyimpan dendam karena hubungan pernikahan antara kedua anak mereka yaitu Mariam dan dokter Rendra.


Setelah bercengkrama beberapa saat, tuan Hendra pamit pulang kembali ke Jakarta. Sementara tuan Arkana mengajak istrinya berlibur di puncak Bogor.


Rendra dan Mariam kembali ke puncak Bogor bersama bibi Ijah dan bibi Luky.


"Apakah kamu tidak ingin menginap semalam di sini Mariam?" Tanya Ambu Lilis yang merasa kehilangan keponakannya lagi.


"Kapan-kapan kami akan kembali ke sini bibi Lilis. Semoga bobo selalu sehat." Ucap Mariam seraya cipiki cipiki dengan bibi Lilis.


"Kalian selalu saja mengabaikan permintaanku seperti Abi kalian." Ucap bibi Lilis.

__ADS_1


"Bibi jangan sedih seperti itu!" Mariam merayu bibinya.


"Cepat kembali ya sayang dan jaga keponakanku yang tampan ini." Ucap bibi Lilis lalu memeluk Rendra dengan sangat erat.


"Andai saja Abi kamu masih hidup, ia tidak akan membiarkan kamu meninggalkannya lagi setelah sekian lama terpisah dengannya." Ucap bibi Lilis yang kembali menitikkan air matanya.


"Bibi terimakasih untuk semuanya. Aku sangat bahagia setelah mengetahui kebenaran ini dan memiliki bibi Lilis dan saudara sepupuku Acep." Ucap Dokter Rendra sambil merangkul pundak bibi kandungnya ini.


Rendra memeluk saudara sepupunya Acep. Aku akan menunggu kunjungan kamu ke Jakarta, bro!" Ucap dokter Rendra.


"Kamu beruntung mendapatkan Mariam karena gadis itu sangat menjaga dirinya dari kaum lelaki yang ingin mendekatinya. Jaga dia baik-baik, bro!" Bisik kang Acep yang lebih tua dua tahun dari Rendra.


"Dia adalah segalanya bagiku. Karena dia, aku mengenal Tuhanku, Allah." Ucap dokter Rendra dengan rasa bangga.


"Untuk itulah kamu bersedia datang ke sini hanya takut kehilangannya, bukan?" Goda kang Acep.


"Tepat sekali bro!" Tidak ada lagi gadis yang bisa membuat hatiku bergetar." Ucap dokter Rendra sambil membuka pintu mobilnya.


Keluarga besar itu melambaikan tangan mereka ke arah Ambu Lilis dan keluarga kecil kang Acep dengan berurai air mata.


Pertemuan yang tidak terduga itu membawa banyak hikmah.


Empat mobil bergerak keluar dari pekarangan rumah bibi Lilis.


Mariam berdoa untuk segalanya. Bayinya nampak pulas dipangkuan nyonya Andara yang ikut mobil Mariam karena dia belum puas menggendong cucunya Daffa karena saling berebut satu sama lain.


"Bunda nginap saja di puncak malam ini, daripada balik ke Jakarta lumayan macet." Pinta Mariam.


"Iya nyonya, di rumah kamar banyak untuk tamu. Lagian kami kemarin berharap kalian bisa datang bersama dan menikmati udara puncak dengan makanan kampung." Timpal bibi Luky.


"Baiklah, kalau begitu Mariam hubungi mama kamu supaya kita menginap di rumah Rendra. Sekarang pemiliknya bukan Mariam lagi." Ledek nyonya Andara pada putri tirinya ini.


Dokter Rendra melirik istrinya yang terlihat malu-malu mendengar ledekan nyonya Andara, ibu tirinya.

__ADS_1


__ADS_2