PESONA GADIS ALIM

PESONA GADIS ALIM
31. Chapter 31


__ADS_3

Keluarga besar itu segera kembali ke Jakarta. Mereka langsung menunju rumah sakit milik keluarga di mana saat ini, nona Sindy sedang dirawat.


Tuan Hendra sudah mengetahui penyebab putrinya bunuh diri namun ia tidak tega menyampaikan berita menyakitkan ini pada istrinya nyonya Andara.


"Ya Allah, apa yang terjadi dengan putriku?" Mengapa ia harus melakukan hal terkutuk itu." Ucap nyonya Andara sambil menangis.


Mariam menenangkan ibu sambungnya itu dan terus berdoa agar adik tirinya itu selamat dari maut.


Ketiga mobil itu bergerak dengan cepat. Hingga berapa menit kemudian, ketiga mobil itu sudah berada di tempat parkir rumah sakit.


Tanpa memikirkan yang lainnya, nyonya Andara berlari menemui putrinya yang saat ini sedang berada di kamar inap rumah sakit. Kebetulan seorang dokter sedang berada di kamar inap milik putrinya bersama dengan dua orang suster yang sengaja menjaga putri pemilik rumah sakit tersebut.


"Dokter apa yang terjadi dengan putriku?" Tanya nyonya Andara panik.


"Alhamdulillah nyonya Andara, kami bisa menyelamatkan janin nona Sindy." Ucap dokter Kartika hati-hati.


"Apa..?" Nyonya Andara makin syok. Dokter meminta suster untuk meninggalkan mereka berdua.


"Tidak mungkin putriku hamil dokter Kartika." Ucap nyonya Andara histeris.


Tuan Hendra sudah menyusul istrinya ke dalam kamar inap, namun Mariam dicegah oleh suaminya untuk ikut nimbrung di dalam kamar inap milik Sindy.


"Ada apa sih bang?" Aku mau lihat kondisi adikku Sindy." Ucap Mariam kesal.


"Mariam, mama dan ayah. Sekarang kita duduk di ruang kerjaku saja karena ada yang ingin aku sampaikan kepada kalian." Ucap dokter Rendra yang kelihatan sangat muram.


"Baiklah!" Ujar nyonya Widya sambil menggendong cucunya Daffa.


Mereka duduk di dalam ruang kerja milik dokter Rendra sambil menanti dokter Rendra menceritakan apa yang terjadi kepada Sindy yang saat ini sudah menjadi adik iparnya.


"Sindy ternyata saat sedang hamil dua bulan." Ucap dokter Rendra.


"Apa...?" Sindy hamil?"


Ucap nyonya Widya dan Mariam bersamaan sambil membekap mulut mereka.

__ADS_1


"Lantas, mengapa dia bunuh diri, kalau memang dia memiliki tunangan yang akan bertanggung jawab pada janin yang ia kandung saat ini." Ucap Mariam.


"Masalahnya janin yang di kandung oleh Sindy adalah hasil pemerkosaan antara tunangannya dan teman-temannya." Ucap dokter Rendra.


"Bagaimana kamu bisa mengetahui ini bang Rendra, padahal kamu belum bertemu dengan Sindy." Tanya Mariam.


"Itulah kesalahanku Mariam. Sindy sudah mengirim pesan curhat melalui email milikku tapi aku lupa membukanya.


Aku baru membukanya setelah mendengar kabar ia bunuh diri. Selama ini Sindy sangat dekat denganku. Apapun masalah yang ia hadapi selalu ia ceritakan kepadaku." Ucap dokter Rendra yang kelihatan juga syok mendengar cerita pilu pada adik iparnya itu yang awalnya dianggap adik kandungnya.


"Kalau Sindy tidak menginginkan anak itu, biarkan kami yang merawatnya." Ucap tuan Arkana yang sangat menginginkan seorang anak dalam hidupnya.


Nyonya Widya juga menyetujui perkataan suaminya. Ia tidak keberatan merawat anak yang dikandung oleh Sindy saat ini karena anak itu tidak bersalah.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan pada tunangannya yang bren*sek itu?" Tanya Mariam sangat murka kepada tunangan adiknya.


"Aku akan menjebloskan ia ke penjara." Ucap dokter Rendra sambil mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.


"Bang, aku ingin melihat keadaan Sindy." Pinta Mariam setengah memohon kepada suaminya.


"Tunggulah di sini dulu Mariam, biarkan aku terlebih dahulu menemui ayah dan bunda karena situasi ini sangat tidak memungkinkan untuk bisa ramai-ramai menemui mereka." Ucap Rendra lalu meninggalkan ruang kerjanya.


Nyonya Andara dan tuan Hendra hanya duduk diam menunggu putrinya Sindy siuman.


Dokter Rendra masuk menemui kedua mertuanya itu." Bagaimana keadaannya bunda?" Tanya dokter Rendra.


"Rendra tolong cari bajingan Reno dan bawa ia kemari untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya pada Sindy!" Titah tuan Hendra.


"Ayah, bunda tolong baca ini sebentar!" Ucap dokter Rendra seraya menyerahkan ponselnya di mana ada terdapat isi curhat dari Sindy yang dikirimkan oleh Sindy padanya sebelum gadis itu bunuh diri.


Ayah Hendra dan bunda Andara membaca isi curhatan putri mereka pada Rendra. Keduanya kelihatan makin syok membaca isi curhat itu.


"Astaghfirullah!" Pantasan putriku ingin bunuh diri karena dia diperkosa rame-rame oleh teman si bajingan Reno." Tangis nyonya Andara pecah.


"Kita bisa menguji tes DNA pada janin milik Sindy siapa ayah dari anaknya." Ucap dokter Rendra.

__ADS_1


"Aku tidak mau merawat cucu dari hasil pemerkosaan...tidak...tidak!" Teriak nyonya Andara makin menjadi.


"Sayang!" Tenangkan dirimu!" Pinta tuan Hendra.


"Nyonya Andara, kalian bisa menyerahkan bayi itu kepada kami." Ucap nyonya Widya.


"Aku ingin bayi itu tidak dilahirkan di dunia ini." Ujar nyonya Andara frustrasi.


"Bunda, bayi itu tidak bersalah. Biarkan ia lahir di dunia ini. Jangan berbuat dosa yang sama padanya." Pinta Mariam.


"Apakah adikmu mau menunggu kelahiran bayi itu sampai sembilan bulan?" Tanya nyonya Andara sedih.


"Mariam akan memberikan pengertian kepadanya, asalkan bunda tidak menghasutnya untuk membuang bayi ini." Ujar Mariam.


"Nyonya Andara, kalau anda mengijinkan biarkan aku yang mengurus nak Sindy di Turki. Dengan begitu dia bisa melupakan masa lalunya yang akan meninggalkan trauma berat dalam hidupnya.


"Ya Allah, mengapa nasibmu sangat malang sayang." Nyonya Andara mencium pipi putrinya.


Tuan Hendra keluar dari kamar putrinya. Hatinya sangat hancur setelah mengetahui pergaulan putrinya yang terlalu bebas membuat dirinya di perkosa oleh teman-teman tunangannya dan juga tunangannya sendiri.


"Dasar laki-laki biadab!" Umpat tuan Hendra.


Sementara di rumah Reno telah terjadi penangkapan oleh beberapa orang polisi untuk mengamankan pemuda itu dan juga dua orang temannya yang terlibat dalam pemerkosaan pada Sindy.


Ketiganya dibekuk oleh pihak berwajib dan di gelandang ke kantor polisi.


Dokter Rendra dan tuan Hendra menemui tunangannya Sindy yaitu Reno yang sedang tertunduk malu di ruang pemeriksaan ketika melihat kedatangan calon ayah mertuanya.


"Mengapa kamu tega menghancurkan masa depan putriku?" Tanya tuan Hendra menahan amarahnya.


"Maafkan saya om, saya akan bertanggungjawab atas Sindy dan saya harap om bisa membebaskan saya dari sini." Ucap Reno yang sangat takut jika kedua orangtuanya mengetahui kelakuannya maka, perusahaan milik ayahnya tidak akan menjadi miliknya.


Orangtuanya Reno saat ini sedang berada di Amerika karena urusan bisnis. Reno adalah anak tunggal, yang tumbuh besar dengan harta berlimpah hingga ia tidak pernah mengenal ilmu agama.


Ia sangat mencintai Sindy karena kepribadian Sindy yang sulit ditaklukkan oleh lelaki manapun. Hingga akhirnya Sindy memilih Reno menjadi pacarnya karena Reno adalah lelaki tampan dan sangat cerdas di kampusnya.

__ADS_1


Hanya karena kebodohan Reno yang saat itu sedang mengajak Sindy main ke rumahnya di saat orangtuanya tidak ada.


Dan parahnya di saat yang sama dua temannya berkunjung ke rumah Reno dan mengajak Reno meminum minuman keras.


__ADS_2