
Keduanya menyelesaikan ritual ibadah suami istri dengan menggapai kepuasan. Dokter mengecup bibir istrinya sebagai bentuk rasa cinta dan terimakasihnya karena Mariam sudah melayaninya dengan sangat memuaskan.
"Ya Allah, mana mungkin aku melepaskan bidadari ku setelah Engkau memberikan dia padaku. Dua sangat pengertian dan mengetahui seluk beluk yang menjadi kebutuhanku. Satukan kami ya Allah, jangan pernah pisahkan kami." Ucap Rendra dengan penuh ketulusan kepada Tuhan.
"Sayang, nanti kalau sampai Indonesia, kita langsung ke puncak supaya kita bisa dapat petunjuk." Ucap Mariam dalam pelukan suaminya yang sedang tafakur.
"Insya Allah sayang, semoga tidak ada halangan. Kalau bisa kita ambil ke arah Bandung supaya tidak di tungguin ayah." Ucap Rendra.
"Apakah mama sudah berkoordinasi dengan ayah tentang kita berdua?"
"Mungkin saja iya sayang, tapi saat aku mau ke Istambul, aku membohongi ayah dan bunda kalau aku ada pertemuan di jogjakarta supaya mereka tidak curiga.
"Tapi Abang sudah lama di sini bersama denganku, mana mungkin mereka akan mempercayaimu."
"Pihak rumah sakit sudah mengatur kebohongan ini sayang supaya ayah tidak curiga kalau aku menemui kamu di Istambul."
"Baiklah, kalau begitu aku akan segera berkemas dan kita akan segera ke Jakarta." Ucap Mariam lalu mengajak suaminya untuk membersihkan tubuhnya.
Keduanya berjalan beriringan sambil melihat sebentar putra mereka yang masih terlelap.
"Putraku sangat pengertian, tidak rewel saat orangtuanya sedang memadu kasih." Ucap Rendra sambil tersenyum senang.
"Dia sangat mirip denganmu sayang. Andai saja kita tidak di uji dengan petaka ini, mungkin semua keluarga sedang menantikan kelahirannya." Ucap Mariam dengan wajah muram.
"Semua akan berlalu sayang karena Allah maha mengetahui atas segala sesuatu. Kita hanya cukup berdoa dan terus ikhtiar. Jika tiba masanya kita bisa bahagia, aku yakin sayang kita akan meraih kembali kebahagiaan kita dengan restu orangtua." Timpal Rendra menghibur istrinya.
"Sayang, kita seperti buronan orangtua. Aku takut kita akan dipaksa untuk dipisahkan lagi setelah kita tiba di puncak."
"Mariam, cukuplah Allah yang menjadi pelindung kita. Jangan terlalu cemas. Kasihanilah baby kita yang tidak tahu apa-apa." Ucap Rendra menguatkan hati istrinya, walaupun ia juga merasa kecemasan yang sama seperti yang dirasakan oleh istrinya saat ini.
Dua hari kemudian, dokter Rendra memboyong keluarga kecilnya ke Jakarta. Niat awalnya adalah langsung menuju ke puncak setelah turun di bandara Soekarno Hatta, namun mengingat mereka membawa bayi, keduanya memilih menginap di hotel Jakarta.
Agar rencana mereka berjalan lancar, Mariam menghubungi salah satu pelayannya yang sangat setia untuk mendapatkan informasi tentang keluarganya yang mungkin sedang mengirim orang lain untuk mengawasi rumahnya yang berada di puncak.
"Assalamualaikum bibi Luky!" Sapa Mariam dengan penuh kerinduan.
__ADS_1
"Waalaikumuslam neng Mariam, ke mana aja?" Apa kabar!" Mengapa baru menghubungi bibi setelah hampir satu tahun tidak memberi kabar.
"Maaf bibi!" Mariam sibuk mengurus kehamilan Mariam dan sekarang Mariam sudah melahirkan seorang putra yang sangat tampan." Ucap Mariam bahagia.
"Apa...?" Ya Allah, sekali dengar kabar, neng sudah melahirkan bayi laki-laki. Alhamdulillah, bibi sangat senang mendengarnya." Ucap bibi Luky sangat terharu.
"Bibi, maaf Mariam boleh tanya nggak?" Ini sangat penting bibi dan tolong dengarkan Mariam baik-baik." Ucap Nikita setengah berbisik.
"Ada apa sih neng?" Kelihatannya serius banget. Apakah ada masalah?" Tanya bibi Luky penasaran.
"Bibi, apakah di sekitar rumah ada orang yang mencurigakan yang suka mengawasi rumah kita?" Tanya Mariam.
"Sejauh ini tidak ada orang aneh yang berseliweran di sekitar rumah kita dan tidak ada satu pun tamu yang datang ke rumah kita, neng. Emang ada apa?"
"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu, saya bisa tenang sekarang. Dua hari lagi saya dan suami akan ke puncak bibi, saya juga mau ngomong sama bibi karena ada hal penting yang ingin saya tanyakan kepada bibi." Ucap Mariam.
"Benarkah neng mau pulang kampung, aduh senangnya. Kamu akan tunggu kedatangan neng sekeluarga. Hati-hati ya neng. Jaga kesehatan semoga cepat sampai di kampung. Bibi kangen sama neng dan pingin lihat si baby ganteng." Ucap bibi Luky bahagia.
Keduanya mengakhiri percakapan mereka dengan banyak doa yang disampaikan oleh keduanya.
Dokter Rendra membawa mobil pribadinya menuju puncak bersama keluarga kecilnya. Baby Daffa tenang dalam gendongan sang ibu sambil menyedot makanannya dari sang ibu.
"Sayang, apakah setibanya kita di puncak, kita harus menyelidiki langsung orang-orang yang mengikuti perkembangan dirimu saat masih bayi dulu?" Tanya dokter Rendra sambil fokus menyetir.
"Lebih cepat lebih baik bang, dari pada urusan ini menjadi berlarut-larut." Ucap Mariam tegas.
"Syukurlah, aku tidak ingin kita hidup dalam kebimbangan tanpa tahu bagaimana kejelasan status kita sebagai anak yang di tukar oleh nenek Alya. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya." Ucap Rendra yang sudah tidak menaruh dendam kepada nenek kandung dari istrinya itu.
Bagaimana pun juga, ia harus menghargai nenek dari istrinya yang telah mendzolimi dirinya sejak bayi walaupun tidak dalam bentuk penyiksaan fisik.
Tidak terasa mobil keduanya sudah memasuki wilayah puncak. Rendra sengaja berangkat dari Jakarta selepas sholat subuh supaya tidak begitu siang tiba di puncak Bogor.
Rumah Mariam yang sangat asri menambah keindahan di sekitar area rumah itu.
Semuanya tidak ada yang berubah setelah dua tahun ditinggalkan oleh Mariam.
__ADS_1
"Bang rumah dan kebun yang semula menjadi milikku kini sudah beralih menjadi milikmu. Kita berdua hanya bertukar tempat saja. Kamu mengolah rumah sakit ku dan aku mengolah perkebunan teh dan sayuran milikmu." ujar Mariam sambil tersenyum.
"Tapi semuanya tetap menjadi milik kita sayang. Tidak ada yang berubah." Ucap dokter Rendra.
Rendra membunyikan klakson mobilnya. Pelayan Nikita mang Diman segera membukanya.
"Ya Allah, neng Mariam!" Sapa bibi Ijah begitu melihat Mariam turun dengan menggendong putranya.
"Assalamualaikum bibi Ijah!" Mariam menyalami pelayannya itu seraya cipika-cipiki.
Tidak lama kemudian, bibi Luky keluar menyambut keduanya.
Dokter Rendra membiarkan istrinya melepaskan kerinduan dengan para pelayannya yang sudah mereka anggap saudara sendiri.
Baby Daffa akhirnya terbangun mendengar Isak tangis haru di antara mereka.
"Ya Allah, tampan sekali babynya."
Bibi Luky langsung menggendong bayi milik Mariam.
"Neng, bibi sudah masak masakan kesukaan neng. Biasalah makanan Sunda. Ayam dan daging gepuk. Ada juga ikan asin peda, tahu tempe lalapan dan sambal bawang kesukaan neng Mariam." Ucap bibi Ijah.
"Sayur asam dan rujak kangkung nya ada nggak?" Tanya Mariam.
"Sudah komplit, paket lengkap. Tinggal di nikmati aja sama kalian berdua.
Silahkan masuk tuan dokter!" Titah bibi Ijah pada Dokter Rendra yang sedang duduk di teras rumah.
"Terimakasih bibi Ijah." Ucap Rendra.
"Apakah kalian bertiga saja ke sini nya?" Tanya bibi Ijah yang masih melihat ke arah halaman.
"Iya bibi kami bertiga saja yang ke sini." Ujar Mariam.
"Di kiranya tuan Hendra dan nyonya Andara juga ikut, jadi bibi Ijah masaknya banyak neng Mariam." Ucap bibi Ijah yang kelihatan kecewa.
__ADS_1